Blind Love

Blind Love
Kisah 21



Virgo mencium istri dan kedua anaknya ketika akan pergi bekerja. “Ayah kerja dulu ya, di rumah baik-baik, jangan rewel.” Lelaki itu menatap anak-anaknya dengan senyum lembut penuh kasih. Usia mereka sudah satu bulan. Libra juga belum menyelesaikan cuti kuliahnya, jadi masih bisa menemani anak-anaknya.


“Ayah hati-hati.” Begitu jawab Libra dan mengantar suaminya sampai ke depan rumah.


“Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.” Kalimat itu selalu saja dikatakan Virgo tanpa bosan jika dia akan pergi kemanapun. Libra bahkan sudah sangat hafal dengan hal itu.


“Aku mengerti, Sayang.” Jawab Libra, “Ayah berangkat gih, makan siang jangan sembarangan.” Mereka berpelukan sebentar sebelum Virgo benar-benar berangkat ke kantor. Libra masih selalu ditemani oleh keluarganya. Dan kali ini adalah nenek Virgo yang memiliki jadwal untuk ke rumahnya.


“Udah berangkat?” tanya nenek kepada Libra ketika perempuan itu baru saja masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di dekat neneknya.


“Udah, Nek,” katanya, “Nenek nggak istirahat? Sejak pagi tadi Nenek kerja terus lho.” Setelah Libra bangun subuh tadi, dia sudah melihat neneknya itu berada di dapur. Ketika Libra bertanya apa yang dilakukan sepagi itu, perempuan itu menjawab mempersiapkan untuk dimasak sarapan nanti, katanya.


“Ini kan masih pagi, Nak, nggak baik tidur pagi-pagi.” Perempuan yang memakai hijab panjang itu memang terlihat sehat meskipun usianya jelas sudah senja.


Awalnya, Libra merasa tak nyaman jika perempuan itu yang menemaninya di rumah. Tapi setelah dia terbiasa dengan itu, kenyamana itu terasa di hatinya. Beliau benar-benar sosok yang luar biasa bagi Libra. Bahkan banyak nasehat yang diberikannya kepadanya yang akan selalu dia ingat dan menerapkannya di dalam rumah tangganya.


“Udah minum jamunya kan?” selain obat yang masih harus diminumnya, nenek itu juga membuatkan jamu untuknya. Entah berbahan dasar apa jamu-jamu itu, tapi Libra menikmati jamu tersebut. Meskipun terkadang ada jamu yang terasa pahit, tapi selalu ada penawarnya.


“Udah, Nek.” Jawabnya, “Nenek udah sarapan?”


“Nenek belum lapar, Kamu sarapan duluan saja.” Perintahnya, dan hanya mendapatkan gelengan dari Libra.


“Libra udah sarapan tadi, Nek. Kalau Virgo nggak ditemani makan, mana mau makan.” Memang terkadang Virgo menyadari dengan kondisi istrinya yang sedang menyusui anak-anaknya, tapi kalau memang sedang lenggang, Virgo pasti meminta istrinya untuk ditemani ketika makan.


“Dia sebenarnya memang manja,” kekeh nenek, “Tapi keadaan yang mengharuskan dia bersikap dewasa. Dulu dia yang selalu ditinggal sendirian di rumah bersama asisten rumah tangganya memang terlihat menyedihkan. Tapi setelah nenek mengomeli Firman dan Sintya, akhirnya mereka mengerti jika Virgo butuh kehadiran orang tuanya, bukan hanya dilimpahi dengan materi saja.” Libra juga pernah mengalami hal yang seperti itu. Namun sejalannya waktu, hal itu tak lagi terjadi.


“Kalian masih muda. Baik kamu maupun Virgo memiliki cita-cita yang mungkin akan kalian kejar. Tapi kalian harus ingat, jika kalian memiliki sesuatu yang lebih penting, dan harta yang sangat berharga, yaitu anak-anak kalian. Jangan pernah berfikir jika kebahagiaan mereka itu hanya dengan limpahan materi saja. Karena kehadiran kalian itu lebih penting dari apapun.”


Libra tahu hal itu. Dia pernah mengalami bagaimana rasanya yang selalu ditingal oleh orang tuanya bekerja. Dan dia berharap jika anak-anaknya tak pernah mengalami hal yang pernah dia rasakan.


“Libra akan selalu mengingatnya, Nek. Terima kasih karena Nenek selalu memberikan Libra semangat, nasehat-nasehat yang bisa Libra terapkan dalam rumah tangga Libra dan Virgo. Libra merasa bersyukur karena mendapatkan keluarga yang luar biasa seperti kalian.” Nenek menggenggam tangan Libra sambil tersenyum.


“Itu sudah kewajiban nenek. Kalau menurut nenek kamu salah, nenek nggak akan bilang kalau itu benar, nenek akan tetap menegur kamu. Jadi kamu jangan tersinggung kalau nenek melakukan itu.”


“Nggak, Nek. Libra pasti akan menerima disalahkan kalau memang salah.” Perbincangan mereka berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan. Sampai keduanya lelah dan beristirahat. Libra yang harus memberikan asi kepada Al El karena memang sudah waktunya mereka mendapatkan asupannya.


*.*


Virgo tahu jika ada yang tidak beres dengan orang-orang kantor sekarang ini. Bagaimana tidak jika mereka menatap Virgo dengan pandangan yang tak biasa. Virgo memang sama sekali tak menanggapi, tapi dia paham akan situasinya.


“Kita memang tidak pernah menutupi siapa istri kamu. Jadi biarlah mereka berspekulasi sesuai keinginan mereka.’’ Bahkan Wondo harus mengatakan itu kepada Virgo atas slentingan yang didapatnya karena karyawannya sekarang ini sedang heboh membicarakan Virgo yang menikah tak direstui oleh Ardi.


“Aku juga nggak peduli dengan ini kok, Kek. Tapi bukan hanya karyawan sini saja yang heboh, tapi rekan bisnis Kakek juga sama hebohnya.” Jawab Virgo.


“Biarkan saja. Mereka akan diam sendiri kalau memang sudah lelah.” Wondo tenang menghadapi ini. Pernikahan mereka memang tak dipublikasikan karena alasan ini, tak mengundang banyak orang karena Ardi berbuat ulah, tapi jika sekarang semua orang tahu, maka mereka sama sekali tak peduli.


Virgo dan Libra sudah bahagia dengan kehidupannya. Meskipun ada yang menganggap jika pernikahan itu karena Libra yang hamil terlebih dulu, tapi berita itu tak mempengaruhi Virgo.


Lelaki itu kembali ke ruangannya ketika selesai dengan obolannya bersama dengan sang kakek. Tapi dia harus mendengarkan obrolan antar karyawan yang melukai harga dirinya.


“Gue serius Virgo itu memang suka sekali berbuat ulah. Gue memang nggak denger kalau dia suka gonta-ganti pasangan, tapi kita semua tahulah sekarang gimana tabiat dia.” Sebuah suara terdengar, kemudian disambut dengan suara lain.


“Tapi gue nggak yakin kalau mereka menikah karna MBA, sih. Gue rasa ada hal lain yang memang mengharuskan dia menikahi Libra.” Virgo bertahan tetap mendengarkan obrolan itu tanpa ingin lebih dulu muncul dan mengagetkan mereka.


“Kesimpulannya adalah, dia ganteng, punya duit, semua cewek pasti akan dengan suka rela melemparkan tubuh mereka ke pelukan Virgo. Dan gue yakin, wajah dia yang terlihat polos itu nggak sama dengan kelakuannya.” Virgo menghela napas ketika mendengar hal itu.


Memijat pelipsnya, kemudian keluar dari persembunyiannya dan benar-benar mengagetkan mereka. Semua diam dengan wajah merah padam. Virgo menatap mereka dengan santai tapi menyimpan kejengkelan yang luar biasa.


“Saya sama sekali tak peduli kalian menganggap saya sepeti itu, dan sebenarnya saya juga tidak perlu memberi konfirmasi atas apa yang terjadi kenapa saya harus menikah diusia muda. Saya mencintai istri saya karena itu saya menikahi dia. Saya masih perjaka ketika saya menikah sama dia, dan dia juga masih perawan ketika saya harus mengambilnya di malam pertama.” Mereka semua terpaku di sana tanpa berani melakukan apapun.


Selama ini Virgo selalu tersenyum dengan semua orang di kantor, dan kini dia harus memasang wajah seriusnya dan tanpa senyum.


“Kalian silahkan menggunjingkan saya, tapi jangan sampai saya kembali mendengarnya.” Setelah mengatakan hal itu, Virgo pergi dari sana tanpa lagi mengatakan kalimat tambahan. Sedangkan orang-orang yang ada di sana masih terpaku dengan jantung bertalu-talu.


*.*


Ada banyak pertanyaan yang diberikan kepada Ardi. Tentu saja rekan kerjanya yang berani menanyakan hal itu. Bukankah ketika ulang tahum pernikahan Wondo dah istrinya waktu itu, memang sudah diumumkan jika memang Virgo dan Libra akan dijodohkan. Tapi kenapa sekarang pernikahan itu tiba-tiba tak mendapat restu dari Ardi? Kira-kira seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka.


Ardi hanya menjawabnya lugas, jika ada sesuatu yang membuatnya berubah fikiran. Dan semua orang memang akan mengaitkan itu dengan ‘kecelakaan’ sebelum pernikahan. Bukankah seharusnya itu melukai harga diri Ardi sebagai seorang ayah.


Bahkan ketika dia pulang ke rumah dan mengatakannya kepada sang istri, Jihan sama sekali tak menanggapi dengan serius.


“Bukankah itu urusanmu? Kamu yang membuat semua ini menjadi sulit. Dan lagi pula itu bukan sesuatu yang harus urusi.” Pertengkaran yang terakhir itu memang membuat Jihan tak lagi terlalu mempedulikan Ardi.


Perannya sebagai istri memang masih dia jalankan dengan baik, tapi jika obrolan mereka sudah beralih pada hubungan anak dan menantunya, maka perempuan itu sama sekali tak peduli.


“Jadi, hanya aku disini yang salah?” tanya Ardi merasa tak terima disalahkan oleh sang istri.


“Memang siapa lagi? Sejak awal kan aku memang sudah merestui mereka, kamu aja kan yang nggak merestui. Kalau sekarang banyak orang yang bertanya, kamu sendiri yang memiliki jawabannya.” Enteng Jihan mengatakan.


“Memangnya kamu sama sekali tidak peduli jika Libra dianggap hamil duluan sebelum menikah?”


“Kenapa harus peduli omongan orang? Yang terpenting faktanya tidak begitu, omongan orang bukan jadi masalah. Menjelaskan sampai mulut berbusa pun kalau di otak mereka masih memikirkan hal buruk tentang kita, maka penjelasan itu tak akan ada artinya sama sekali.” Dan jika sudah begitu, Ardi sama sekali tak berkutik.


Sedangkan di rumah Virgo, lelaki itu juga membahas masalah ini dengan sang istri dan juga kedua orang tuanya. “Kok tiba-tiba jadi kayak artis aja sih kita, Yang?” tanya Virgo setelah menceritakan apa yang terjadi.


Libra tak menjawab dan hanya menghela nafas panjang. Sepertinya dia memang tak terlalu mempedulikan, tapi juga memikirkan hal tersebut. Entahlah bagaimana perasaan perempuan itu sekarang.


Sepertinya hidupnya selalu saja mendapatkan masalah. Ketika satu masalah terselesaikan, muncul lagi permasalahan yang baru. Dan itu sangat membuatnya lelah. ‘Jangan ngeluh, Li.’ Itu dikatakan untuk dirinya sendiri. Mengingatkan kepada dirinya agar tak melupakan setiap anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya.


“Libra sedang memikirkan apa?” Firman yang melihat menantunya itu hanya terbengong tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh sang suami, membuat fokus lelaki itu tertuju pada menantunya.


“Bukan apa-apa, Pa. Hanya mikir aja, kenapa selalu saja ada masalah dalam kehidupan Libra.” Libra menjawab terus terang.


“Memang begitulah hidup, akan selalu ada masalah yang datang silih berganti. Tak ada kehidupan yang lancar-lancar saja, Nak. Karena itu kamu harus bisa belajar dari hal-hal seperti ini. Banyaknya ujian, akan membuat kamu banyak belajar, dan akan membuat kamu semakin pintar. Itu dinamakan kehidupan.”


*.*


Ardi mencoba mengunjungi Wondo terkait berita yang sekarang ini sedang menjadi perbincangan. “Apa yang harus kita lakukan agar ini tidak menyebar kemana-mana, Pak?”


Bukannya menjawab, Wondo malah terkekeh. “Ini bukanlah masalah besar, Ardi. Untuk apa orang sibuk seperti kamu ini mengurusi hal yang tak penting?” Wondo menggelengkan kepalanya dengan heran, “Dengan kedatangan kamu kesini, akan memunculkan tanggapan yang tidak baik,” Wondo kini menatap lelaki itu dengan serius sebelum melanjtukan, “Saya tidak memikirkan hal ini, kalau kamu ingin memikirkan masalah ini, maka pikirkanlah jalan keluarnya sendiri, saya tidak mau ikut campur.” Wondo sudah pernah memperingatkan kepada Ardi jika kalau memang ada masalah, lelaki itu tak perlu meminta bantuan kepada kakek Virgo.


Meskipun kabar heboh ini melibatkan keluarga Wondo, tapi lelaki tua itu jelas sama sekali tak peduli. Hak orang lain berfikir yang tidak-tidak tentang keluarganya, kata pepatah, kita hanya memiliki dua tangan. Tak cukup untuk menutup mulut semua orang yang mencibir kita, maka yang bisa kita lakukan hanyalah menutup kedua telinga kita agar cibiran itu tak perlu kita dengar.


Dan masalah ini pun sama.


Ardi benar-benar tertekan dengan banyaknya pertanyaan yang diberikan kepadanya tentang dirinya yang tak merestui Virgo menjadi menantunya. Dan dia lelah dengan semua ini karena harus memikirkan ini seorang diri.


Entah ini adalah sebuah balasan atau apa, tapi dia merasa seolah semesta telah bekerja sama untuk memojokkannya. Sampai dia merasa sakit di kepalanya karena beban pikiran tersebut. Bahkan ketika ke dokter keluarga di sebuah rumah sakit, dokter tersebut pun menanyakan hal yang sama.


“Aku dengar Libra sudah menikah dan sekarang sudah punya anak-anak. Aku sudah pernah melihatnya.” Begitu kata dokter laki-laki yang memang sudah menjadi dokter keluarga sejak beberapa tahun yang lalu.


“Jangan bahas masalah itu. Aku datang kesini karena kepalaku sakit memikirkan pertanyaan rekan kerjaku tentang Libra yang menikah, bagaiman bisa diusia muda dia bisa memutuskan menikah, dan hal-hal lain yang membuat aku sakit kepala.” Ardi tak acuh mengatakan itu.


Setelah keluar dari ruangan dokter, ketika dia melewati ruangan bayi, hatinya seolah bergejolak mengingat bayi yang pernah dilihatnya di postingan Libra. Dia menatap bayi-bayi di ruangan bayi itu dengan dalam. Pergerakan kecil dari bayi-bayi itu membuat getaran jantunganya tak biasa.


Tak terasa bibirnya tersenyum ketika melihat itu, dia berfikir mungkin seperti itulah cucu-cucunya. Kalau Jihan mendengar apa yang dikatakan oleh pikirannya dan mengatakan cucu-cucunya, sudah bisa dipastikan perempuan itu akan mencibirnya habis-habisan.


Maka tak ingin terlarut dalam kegalauan, dia pergi dari sana. Lama-lama di sana, keinginan untuk melihat anak-anak Libra semakin banyak. Dan jelas harga dirinya tak akan mengijinkan.


‘”Iya, Yang. Aku nggak papa. Cuma konsultasi aja nggak perlu khawatir.” Ardi sangat mengenal suara tersebut, dan langkah kakinya terhenti dan tanpa diperintah dia membalikkan tubuhnya dan mendapati Libra yang terkaget melihatnya.


Ardi bisa melihat Libra memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan dengan langkah pelan, perempuan itu mendekatinya. “Yah!” panggilnya dan mengambil tangan lelaki itu untuk diciumnya. Ardi bahkan hanya menatap Libra dengan datar dan Libra merasa jika pertemuan ini adalah hal yang buruk bagi dirinya, dia yakin jika ayahnya pasti marah sekali kepadanya karena masalah yang datang kahir-akhir ini.


*.*