
Ayah dan anak itu masih saling diam dengan posisi yang sama. Ardi masih menatap Libra dalam diam dan Libra hanya menunduk sedari tadi.
Mengehala nafas panjang, barulah Libra berani untuk mengatakan sesuatu. “Ayah sakit?” tanyanya dengan nada pelan dan memberanikan diri untuk menatap lelaki di depannya.
“Ayah jaga Kesehatan, kalau memang terjadi sesuatu, bilanglah sama mama biar mama tahu,” lanjutnya, “Maaf, tapi aku nggak bisa lama-lama di sini, Ayah kalau ada waktu mampirlah ke rumah.” Diakhiri dengan senyum, Libra kemudian pergi dari hadapan ayahnya. Dia tahu jika lelaki itu akan bereaksi biasa saja melihat dirinya.
Libra tak mungkin bisa memaksa ayahnya untuk kembali menyayanginya ketika dia mengacaukan semuanya. Jadi dengan menerima perlakuan lelaki itu dengan kesabaran adalah yang harus dilakukan sekarang.
Waktu memang cepat sekali berlalu. Kini Libra sudah mulai kembali kuliah dan meninggalkan anak-anaknya di rumah bersama ibunya. Ada baby sitter yang hanya membantu untuk memandikan atau hal-hal kecil lainnya, selebihnya semua Jihan atau Sintya yang menangani.
Dan saat ditinggal oleh ibu mereka, susu sudah ada di kulkas untuk persediaan. Libra sangat bersyukur ketika asinya begitu lancar keluar sampai dia tak perlu kembali pusing karena asupan untuk anak-anaknya.
Meskipun sekarang dia masih duduk di semester tiga dan teman-temannya sudah ada di semerter lima, tapi Shila masih menjadi teman sejatinya. Bahkan ketika jadwal mereka sama dan jeda kelas seperti ini, mereka masih menjadi teman bagi Libra. shila, Zidan, dan Rion, benar-benar teman yang sangat baik.
“Al El kok imut banget sih, Li,” Shila memuji twins karena baru saja melihat dua bocah itu di dalam sebuah Video bersama ayahnya. Usia mereka memang sudah enam bulan dan sudah bisa diajak bercanda. Tawa renyah mereka benar-benar menggemaskan. Memiliki tubuh yang gendut, Al El selalu membuat orang yang melihatnya pasti geram karena gemas.
“Iya. Gue aja rasanya pengen gigitin mereka lho.” Kekeh Libra ketika mengatakan itu, “Apalagi Virgo. Kalau udah melihat anak-anaknya, malas ngapa-ngapain dia. Kalau nggak kewajiban, udah malas dia pergi kuliah.” Virgo memang kalau sudah bermain dengan anak-anaknya sama sekali malas melakukan hal lain.
Apalagi ketika mereka baru saja dimandikan, wangi minyak telon dan parfum bayi begitu melekat tambah membuat Virgo betah di rumah. Libra sudah bisa memandikan anak-anaknya sendiri. Dia benar-benar mudah sekali belajar. Tak ingin terus bergantung pada ibu-ibunya dan juga baby sitternya.
Baik Libra maupun Virgo belum sekalipun mengajak anak-anak mereka menginap ke tempat nenek-nenek mereka. Maka weekend kali ini Virgo merencanakan untuk menginap di tempat salah satu ibunya.
“Serius, Yang?” Libra meyakinkan suaminya dengan apa yang didengarnya. Pasalnya rencana lelaki itu adalah akan menginap di rumah Ardi selama dua malam. Bagi Libra itu adalah ide yang sangat buruk, karenanya kalau memang bisa, dia ingin agar Virgo tak melanjutkan rencana tersebut.
“Aku serius. Inilah saatnya kita pamer kepada ayah bagaimana menggemaskannya anak-anak kita. Karena aku tahu satu hal, kalau ayah diam-diam penasaran dengan twins.” Seringai Virgo, “Aku mencoba untuk melacak kegiatan ayah di media sosialnya, dan Riwayat pencariannya hanyalah melihat anak-anak kita saja.” Mungkin bagi orang lain, media social itu adalah privacy, tapi bagi Virgo, dia bisa melacak sampai ke akar-akarnya siapa saja yang menjadi stalker di social media miliknya dan juga sang istri. Itu bukanlah yang sulit. Otaknya terlalu berjalan cepat jika berkaitan dengan hal ini.
“Kamu yakin?” Libra sepertinya memang tak memiliki keyakinan yang berlebihan terkait hal tersebut,
“Yakin tentang apa dulu ini? Tentang ayah yang menjadi stalker kita, atau kita yang akan menginap ke rumah ayah?” Virgo bertanya detail.
“Dua-duanya. Aku nggak yakin kalau ayah akan menjadi stalker kita.” Gumam Libra dengan nada yang tak terlalu yakin, tapi juga dia mempercayai apa yang suaminya itu katakan.
“Kamu tenang aja, aku pernah bilang kan? Beliau bisa marah dan nggak nerima aku, tapi beliau akan luluh jika sudah cucu-cucunya yang berperan.” Virgo menarik Libra ke dalam pelukannya, dan meyakinkan sang istri jika dia sama sekali tak membual dengan apa yang dia ucapkan, sedangkan Libra hanya butuh meyakinkan dirinya jika apa yang sedang mereka rencanakan ini adalah hal yang baik.
Maka ketika mereka benar-benar datang ke kediaman Ardi siang ini, maka yang Jihan yang merasa bahagia, Ardi justru tak bisa melakukan apapun.
“Kami akan menginap, Ma.” Itu adalah kalimat yang dikatakan oleh Virgo kepada Jihan ketika perempuan itu sibuk dengan kedua cucunya. Al El yang ada di atas stroller tertawa-tawa ketika neneknya itu mengajaknya bermain.
“Bagus,” kata Jihan dengan suka cita, “Kalian mau tinggal disini pun mama akan lebih bahagia.” Ardi yang ada di sana sama sekali tak mengatakan apapun kecuali hanya menatap cucu-cucunya.
“Nanti rumah kami kosong kasihan, Ma.” Jawab Virgo dengan santai. Lelaki itu sambil sesekali melirik ayah mertuanya yang sejak tadi tak fokus dengan tatapannya. Di tangan Ardi ada majalah bisnis, tapi matanya tak bisa berbohong jika sejak tadi lebih memilih untuk menatap dua balita yang begitu menggemaskan itu.
Virgo diam-diam memberi tahu Libra dengant tatapannya sebagi kode agar istrinya itu menatap ke arah ayahnya. Dan ketika Libra melihatnya dia ikut tersenyum sambil saling menatap dengan suaminya.
“Altair, cucu Oma yang ganteng,” Jihan masih saja asyik dengan bocah-bocah menggemaskan itu tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya. Karena El menggapai-gapai untuk minta diturunkan dari stroller, maka Jihan melakukannya. Dan melihat El tak ada disampingnya, membuat Al menjerit dan minta ikut diturunkan. Maka jika sudah seperti itu, Virgo bertindak. Lelaki itu menggendong putranya dan Jihan menggendong El.
“Adek haus?” Virgo menangkat AL tinggi dan membuat balita itu terkikik, “Mau asi?” Virgo menggoyang-goyangkan putranya dengan gemas dan kemudian mencium perut Al sampai tertawa-tawa bocah itu.
“Al kayaknya ngantuk lho, Yang.” Libra yang masih setia duduk di sofa memang melihat mata putranya sudah sayu. Dan yang membuat Virgo terkekeh adalah, ketika Al selesai tertawa langsung terkantuk-kantuk. Matanya memejam namun sesekali terbuka.
“Aduh, putra ayah,” menurunkan Al yang tadinya diangkat tinggi, kini dia sendiri yang menidurkan dengan membopong di tangan kirinya dan tangan kanannya menepuk pantat bocah itu dengan pelan. Dan hal itu langsung memuat Al tertidur.
Semua itu sama sekali tak luput dari tatapan Ardi. Lelaki itu ada di sana, tapi tak ada yang menganggapnya ada. Hanya ketika Libra dan Virgo yang tadi baru saja datang, menyapanya. Setelahnya sama sekali tak dihiraukan oleh orang-orang itu.
“Bawa ke kamar, mereka pasti juga kelelahan. Kalian juga istirahatlah.” El juga sudah tertidur di dekapannya. Dan mereka langsung ke lantai dua untuk ke kamar Libra. Ini adalah kali pertama Virgo masuk ke dalam kamar istrinya, sedangkan Libra yang sudah lama tak masuk ke dalam kamarnya itu merasa ada yang aneh di dalam hatinya.
“Kalian istirahatlah,” Jihan yang mengantarkan mereka keluar dari kamar Libra dan meninggalkan empat orang itu untuk merilekskan badannya. Sedangkan Jihan yang sejak tadi memendam keinginannya untuk berbicara dengan Ardi akhirnya teralisasikan.
“Bagaimana rasanya diabaikan?” seringaian itu muncul di bibir Jihan, “Diabaikan oleh anak sendiri.” Jelas Jihan.
“Aku sama sekali tak terpengaruh.” Sombong Ardi,
“Tapi kenapa sejak tadi terus menatap bocah-bocah kecil itu? Kenapa, kamu pengen mengendongnya?” tanyanya.
Ardi hanya diam saja tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh istrinya. “Kamu boleh mengelak kepada hatimu kalau sama sekali tak terpengaruh dengan kedatangan Libra dan Virgo, tapi mata kamu terlihat jelas jika kamu mengingkan dua bocah itu,” Ardi menatap Jihan seolah istrinya itu adalah musuh bebuyutannya, namun sama sekali tak berpengaruh pada Jihan.
“Jangan sampai kamu menyesal ketika nanti bocah itu tak mengenalmu.” Setelah mengatakan itu, Jihan meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam kamar lantai bawah. Tak lagi mempedulikan suaminya dan sebal setengah mati.
Malam datang. Virgo yang terbangun turun ke lantai bawah untuk mengambil minum. Suasana rumah memang sepi. Lampu juga hanya nyala dengan temaram. Virgo memang sambil menenteng laptopnya dan membuka benda itu di ruang keluarga. Dia lebih suka suasana sepi seperti ini ketika harus melakukan aktifitasnya dengan komputernya.
waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Mulutnya juga berkali-kali terbuka karena menguap. Melihat beberapa kode yang dibuatnya dan berfikir kenapa apa yang sekarang ini sedang dikerjakan tak kunjung berhasil. Bertanya pada dirinya sendiri ketika tak tahu apa yang sebenarnya kurang benar dalam program tersebut.
Namun tak lama setelah itu ponselnya berdering, “Aku di bawah,” Libra yang menghubunginya. “Aku nanti ganggu kamu kalau aku kerja di kamar. Kamu istirahat aja.” Jawabnya,
Kekehan terdengar karena Virgo merasa ucapan istrinya itu terdengar berlebihan, “Kamu terlalu berlebihan, Yang. Sebencinya ayah sama aku mana mungkin beliau nyelakain aku,” kekhawatiran yang diberikan oleh Libra memang terlalu tak masuk akal sepertinya, dan Virgo kembali menjawab, “Ayah juga bakalan mikir berulang kali kalau mau nyelakain aku, beliau pasti mikir kalau kamu akan menjadi janda ketika masih muda. Meskipun bukan sayang sama aku, pasti tetap memikirkan kamu. Nggak usah memikirkan yang tidak-tidak.” Padahal mereka berada di rumah yang sama, tapi terlalu kurang kerjaan karena harus menggunakan line telpon ketika mengobrol.
Panggilan terputus ketika Virgo meminta agar istrinya segera melanjutkan tidurnya. “Saya masih tidak paham apa yang sedang kamu lakukan di rumah ini.” Virgo terkaget ketika mendengar kalimat tersebut. Dia berfikir jika sejak tadi seorang diri di sana, tapi ternyata tidak.
Ardi mendekati Virgo dan dia muncul dari balik lemari besar. Yang memang di sana ada beberapa buku yang tersusun milik lelaki itu. Virgo menatap lelaki itu dalam diam setelah mengetahui jika ayah mertuanya lah yang berbicara.
“Kamu terlalu kolot dengan tak mendengarkan apa yang saya katakan.” Ardi duduk di sofa single dan menatap Virgo dengan tajam. Entah apa yang dilakukan oleh Ardi sampai selarut ini belum istirahat.
“Dan kamu tahu akibatnya dengan apa yang kamu lakukan sekarang ini? Kamu membuat semuanya menjadi berantakan.”
“Maafkan saya,” Mungkin Virgo pernah mengatakan permintaan maaf kepada Ardi di waktu sebelumya, tapi kali ini Virgo kembali mengatakannya lagi, “Itu adalah untuk kesalahan yang tidak bisa saya rubah dan sesali, yaitu karena saya Virgo yang adalah putra dari Firman dan Sintya.” Virgo memang tak menunjukkan jika dia takut dengan ayah mertuanya.
Kalau Ardi bisa sekeras itu kepadanya, dia juga bisa melakukan hal yang sama. Dia tak akan berada di bawah Ardi dan menjadi orang yang terus disalahkan oleh lelaki itu.
“Kalau kisah Om begitu menghantui Om sampai sekarang, maka itu bukan kuasa saya untuk mengusir hal itu dari fikiran Om. Bukankah itu tidak adil bagi saya jika saya diikut sertakan dalam masalah ini?” Virgo tak melepaskan tatapannya dari Ardi.
Virgo menghela nafas ketika Ardi dengan keras kepala tetap diam tanpa mengatakan apapun, “Saya juga punya batas kesabaran, Om,” ucapnya lagi, “Jangan sampai saya menjadi orang jahat dengan tak mengizinkan Libra dan anak-anak saya mendekati Om,” dan ternyata itu memepengarui Ardi.
Lelaki itu semakin memicing menatap Virgo ketika kalimat terakhit yang Virgo katakan. “Saya memiliki hak penuh atas mereka. Saya tidak perlu mengatakan banyak hal kepada Libra untuk semakin menjauh dari Om karena justru dialah yang ketakutan jika berada di dekat ayahnya sendiri. Tapi saya tidak ingin melakukan itu. Ikatan anak dan orang tua tidak boleh berakhir berseturu hanya karena orang lain masuk ke dalam keluarga kalian. Itu yang saya inginkan.” Virgo tak melanjutkan pekerjaannya dan memutuskan mematikan laptopnya.
“Sudah malam. Om istirahatlah.” Setelah mengatakan itu, Virgo naik ke lantai atas untuk kembali ke kamarnya. Libra mungkin sudah kembali tertidur, tapi nyatanya perempuan itu justru masih setia dengan mata terbuka meskipun sambil berbaring.
“Kok masih terjaga?” tanya Virgo ketika melihat itu, “Nungguin aku?” Virgo meletakkan laptopnya di atas meja belajar Libra dan ikut bergabung di atas kasur.
“Aku sempat ngintip kamu sama ayah.” Adunya kepada sang suami, “Kalian berdebat?” tanyanya dengan rasa penasaran. Dia tak berani menemui dua orang itu tadi dan menyembunyikan dirinya di kamar dengan kekhawatiran yang luar biasa.
“Lebih tepatnya aku banyak bicara,” Virgo terkekeh, “Sepertinya ini memang sulit, Yang.” Mata Virgo menatap sang istri dengan serius. Libra semakin mendekat dan menarik kepala Virgo dengan lembut agar lelaki itu bisa menyenderkan kepalanya di dadanya.
“Kamu berusaha terlalu keras, Yang.” Libra memainkan rambut Virgo dengan jari-jarinya, “Setelah ini, bisa kita nggak perlu lagi kesini dan merayu ayah?” sepertinya Libra juga sudah lelah dengan perlakuan ayahnya terhadap dirinya dan keluarga kecilnya.
“Biar saja waktu yang menjawab semuanya. Kalau waktunya ayah luluh, beliau pasti akan luluh.” Virgo memikirkan perkataan istrinya, tapi dia masih belum puas dengah hal itu, dan kembali berucap,
“Tapi kan kita harus berusaha, Yang.” Jawabnya.
“Sejauh ini apa kamu ngerasa nggak berusaha, Yang? Kamu selalu berusaha. Tapi yang kamu hadapi itu terlalu keras kepala.” Virgo hanya mengangguk dan kali ini menyetujui apa yang dikatakan oleh sang istri.
*.*