Blind Love

Blind Love
Kisah 39



Bertemu seseorang yang tidak diduga adalah yang terjadi dengan El dan kawan-kawan. Sepulang sekolah, mereka pergi jalan-jalan tak jauh dari sekolah mereka karena ada bazar di sana. El yang semangat sekali pergi kesana mendapatkan persetujuan dari Rigel dan dia bersedia untuk menemani dan akan mengantarkan gadis itu pulang. Odel juga ikut serta kesana.


“Dia dari tadi kayaknya memandangi kita terus.” Odel mengeluarkan perkiraannya tentang segerombolan empat gadis yang terus menatap ke arah mejanya. Mereka sedang menikmati es krim sekarang.


El menatap kearah segerombolan gadis itu juga dan memastikan jika apa yang Odel katakan memang benar. “Ada satu cowok di meja ini, dan bisa dipastikan jika mereka sedang mengagumi Rigel.” El yakin mengatakan hal tersebut.


Rigel sama sekali tak beraksi dengan komentar kedua temannya dan masih terus meyuapkan es krim mocca ke dalam mulutnya. El menatap Rigel yang ada di depannya untuk melihat wajah lelaki itu apakah ada perubahan ekspresi atau tidak, nyatanya nol. Lelaki itu masih memasang wajah datarnya.


“Kasihan mereka yang nggak dapat tanggapan dari yang dikagumi.” Begitu katan El miris.


Namun tak lama setelahnya, salah satu dari mereka mendekati meja El dan menyapa, “Rigel!” panggilnya yang membuat Rigel mendongak.


“Ya.” Jawabnya sambil menatap gadis tersebut.


“Boleh aku gabung?”


“Tanyakan saja pada dua orang ini.” Seolah semua keputusan itu El dan Ogel yang punya.


“Boleh?” tanpa basa-basi gadis itu menatap El dan Ogel bergantian.


“Gabung aja, meja ini bukan milik kami, lo bebas memakainya.” El tentu tak merasa perlu beramah tamah dengan gadis tersebut.


Duduk tepat di depan Rigel, gadis itu menatap Rigel dalam. “Kamu sepertinya baik-baik saja.” Kernyitan di dahi El terlihat karena merasa aneh dengan gadis itu. Siapa dia yang sepertinya mengenal sahabatnya itu.


“Tentu saja. Aku nggak mungkin merana hanya karena putus cinta.” Rigel mengatakan itu dengan ringan tanpa beban.


“Aku pikir kamu akan bersedih karena ini. Sedangkan aku berharap__, sudahlah.” Entah kalimat apa yang akan gadis itu katakan, tapi wajah gadis itu penuh dengan beban.


“Jangan memikirkan hal yang berlebihan. Masalah seperti ini nggak akan buat terlihat menyedihkan.” El dan Odel saling pandang merasa tahu siapa gadis tersebut.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Rigel, gadis itu diam sambil terus menatap Rigel dengan pandangan yang memiliki banyak arti. Setidaknya begitulah yang diduga oleh El sekarang.


“Kamu sepertinya memang nggak menganggap hubungan kita berarti selama ini.”


“Aku?” Rigel menegakkan tubuhnya dengan mimic muka serius. Rigel menggelengkan kepala dramatis, “Terserah kamu bilang apa. Tapi satu hal yang pasti, detik dimana kamu meminta putus, aku masih sayang sama kamu. Bahkan mungkin beberapa hari lalu pun sama. Dan aku sudah mulai melenyapkan rasa itu.” Kekecewaan itu terlihat nyata di mata gadis itu. Matanya memerah dan terlihat ingin menangis namun ditahannya mati-matian.


“Padahal aku masih sayang sama kamu.”


“Nggak ada orang yang masih sayang, tapi meminta putus.”


“Itu karena kamu terlalu kaku. Aku nggak boleh begini, dan begitu. Itu mengekang, Gel.” Air mata gadis itu akhirnya jatuh juga dari netranya sambil menatap Rigel dengan sedih.


“Untuk kebaikan siapa aku melakukan itu?” Rigel tak akan mengendurkan pemikirannya karena melihat gadis di depannya itu menangis.


“Aku mencoba untuk melarang kamu ketika kamu melakukan hal yang aku rasa tidak pantas.”


“Tidak pantas di bagian mana? Wajar kalau keluar dengan teman-temanku kan?”


“Kalau bukan ke bar, mungkin aku bisa mengatakan kalau itu wajar. Sayangnya kamu pergi ke tempat yang aku benci.”


“Kenapa kamu sekaku ini, Gel?”


“Karena aku ingin hidupku baik-baik saja. Aku nggak mau terlibat masalah ketika aku masih menggantungkan diri dengan orang tuaku dan akan mengecewakan mereka.” Ya, begitulah Rigel. Dia memiliki semua hal dalam hidupnya. Kasih sayang dari orang tua, didikan yang baik, uang, karenanya dia bertekad untuk tak membuat orang tuanya merasa kecewa akan tindakannya.


El yang ada di sana hanya bisa mengamati apa yang terjadi. Dia tak mungkin ikut campur dalam masalah yang sama sekali tak dimengerti.


Dan melihat gadis itu pergi begitu saja dari sana membuat Rigel memejamkan matanya seolah beban itu masih ada. Baik El dan Odel tetap diam dan belum ingin mengganggu lelaki itu.


“Kita pulang.” Rigel berdiri dan menyandang tasnya, seperti biasa, menarik tangan El dan Odel untuk mengajak mereka berjalan. Dalam pertemanan mereka, memang hanya satu lelaki. Tapi bagi kedua gadis itu satu Rigel sudah lebih dari cukup menjadi sahabat mereka.


Rigel yang tanggap, Rigel yang penyayang, Rigel yang peduli, dan Rigel yang selalu baik. Begitulah pemikiran kedua gadis tersebut.


Rigel memastikan jika Odel sudah aman masuk ke dalam taksi untuk mengantarkan gadis itu pulang ke rumah. Diam-diam memotret plat nomor taksi tersebut dan menyimpannya. Itu selalu dilakukan ketika dia membiarkan salah satu temannya pergi menggunakan kendaraan umum tersebut. Mungkin bagi orang ini terlalu berlebihan, tapi ini adalah cara Rigel menjaga teman-temannya.


“Kita pulang.” Barulah dia berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya dan dia akan mengantarkan El lebih dulu ke rumahnya.


“Lo oke?” setelah berkutat di jalan raya dengan kemacetan di mana-mana, akhirnya mereka sampai di kediaman El. Mereka duduk di teras rumah dengan semilir angin segar.


“Oke.” Jawab Rigel dengan menyangga tubuhnya menggunakan tangan. El tak lagi mengelurkan ucapannya melihat Rigel yang sepertinya memang tak ingin membahas tentang kisahnya. Dia tak ingin ikut campur dengan urusan pribadi sahabatnya itu.


*.*


‘Ini adalah wilayah kami’ meskipun tak ada tulisan seperti itu di sana, namun ketika Al dan teman-temannya sedang mengobrol di depan kelas, maka yang lain akan segan mendekati mereka. Apalagi jika gerombolan Al bertemu dengan El dan kawan-kawan, mereka yang melihat merasa kecil sekali.


Dan itulah yang terjadi sekarang. Mereka sedang membahas ulang tahun sekolah karena ketika waktu itu datang, akan ada acara secara tiga hari berturut-turut. Pertandingan-pertandingan, bazar, dan puncaknya adalah pesta pada hari ulang tahun tersebut.


Pada pesta itu, semua siswa akan total ketika berdandan. Seolah mengatakan kepada semua orang jika mereka adalah yang paling cantik.


“Tahun ini katanya akan dipilih siapa yang paling keren diantara banyaknya siswa dan akan menjadi Raja dan Ratu.” El mendengar itu dan langsung saja mengatakannya kepada yang lain.


“Nggak penting.” Al membalas, “Buat apa juga begitu-begituan. Kurang kerjaan.” Katanya dengan santai. Ya, mungkin bagi Al, semua itu sama sekali tak penting, tapi ada juga yang menyambut itu dengan antusias. Bahkan mereka sudah menebak siapa nanti yang akan menjadi Raja dan Ratu dalam ulang tahun kali ini.


Karena kabarnya, predikat itu akan disandangnya selama satu tahun sampai ulang tahun di tahun selanjutnya.


“Paling-paling yang paling kepilih yang paling cantik di sekolah ini.” Kata Odel


“Cantik kalau otaknya nggak pinter buat apa.” Al menanggapi, “Kalau memang ada predikat yang seperti itu, harusnya harus dicari yang benar-benar kompeten. Cantik pasti, tapi isi kepalanya juga berfungsi dengan baik.” Lanjutnya dengan santai.


“Datang harus berpasangan?” Odel kembali bertanya.


“Itu enggak sih. Kalau harus berpasangan, gue harus pilih orang yang berkompeten untuk damping gue.” El sungguh-sungguh mengatakan itu dan membuat dua orang yang merasa berkompeten di depannya menatap dirinya dengan serius.


“Bahkan gue lebih pantas dari siapapun.” Al berbicara.


“Kalau gue nggak pilih salah satu dari kalian, jangan sakit hati.” Tunjuknya pada Rigel dan Al yang membuat mereka mendengus geli. Namun setelahnya terkekeh karena merasa benar-benar bodoh meladeni ucapan El yang bahkan itu hanya candaannya saja.


Setelah obrolan mereka, tak ada dari mereka yang kembali membahas masalah itu. Mereka akan mempersiapkan semuanya dengan baik ketika sudah waktunya nanti.


Ares masuk ke dalam kelas El dan mendekati gadis itu membuat semua teman-teman sekelasnya menatap lelaki jangkung tersebut. Murdi baru, tentu akan selalu mendapat perhatian lebih oleh banyak orang, apalagi ditambah wajah tampannya. Dan ketika dia tiba-tiba muncul di kelas El, tentu itu membuat heran orang-orang.


“El!” El, Odel, dan Rigel sedang mengobrol sambil tertawa-tawa karena membahas hal yang tak penting namun lucu bagi mereka, dan itu membuat ketiga orang tersebut terdiam ketika salah satu dari mereka dipanggil oleh lelaki tersebut.


Dan lebih mengejutkan lagi adalah, Ares dengan santai duduk di depan El agar bisa menatap gadis itu dengan jelas.


“Ulang tahun sekolah, bisa kita berangkat bersama?” ini adalah aksi kedua setelah waktu itu. El sama sekali tak respek dengan apa yang dilakukan oleh Ares.


“Gue udah punya pasangan.” Jawabnya enteng.


“Al?”


“Rigel.” Kalau mengira Rigel akan kaget dengan hal itu maka tidak. Biarkan saja dia dijadikan tameng oleh El, tak masalah.


Ares menatap Rigel untuk bertanya. “Benar?” tanyanya.


Rigel mengangguk tanpa berkata-kata.


“Apa ini penolakan secara terang-terangan?” tanya Ares kepada El.


“Tergantung pemikiran lo, lo bebas mengartikan apa saja.”


Ares berdiri dan bersikap biasa saja. Lelaki itu tersenyum tanpa beban. “Bukan sekarang, mungkin lain kali.” katanya dengan santai seolah dia sama sekali tak ambil pusing dengan penolakan itu.


Dan setelahnya Ares permisi dari sana kemudian keluar dari kelas tersebut. Meninggalkan tatapan dari teman sekelas El.


“Dia nekat juga ya, El.” Kata Odel, “Nyalinya gede juga.”


El menyeringai. “Biarin aja.” Rigel menatap fokus kepada El tanpa mengatakan apapun. Entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan. Tapi setelahnya dia mengatakan sesuatu.


“Kalau lo bilang lo akan berangkat sama Al, mungkin dia akan baik-baik aja.”


“Kalau gue bilang berangkat sama Al, dia akan kukuh meminta gue buat sama dia. Dan kalau sama lo, itu beda lagi.”


“Kayaknya lo memang sekali-kali pacaran deh El.” Odel memberikan pendapatnya.


“Kenapa?”


“Biar lo bisa ngerasain kasih sayang lain selain keluarga dan kasih sahabat lo aja.”


El menggelengkan kepalanya dengan miris. “Nanti bisa gue coba, tapi untuk sekarang jangan dulu deh.” Katanya dengan penuh keyakinan.


“Ngomong-ngomong masalah pacar, apa kabar itu mantan lo yang brengsek?”


Odel menggeleng dan merengut. “Jangan bahas dia, gue malas.”


“Tapi gue mau denger.” Rigel memang belum sempat untuk menanyakan kejadian waktu itu kepada Odel, “Lo merahasiakan dari gue tapi lo bilang sama El. Adil banget lo.” Katanya dengan sungguh-sungguh sambil menatap Odel penuh peringatan.


“Gue nggak mau bahas ini.” Odel sepertinya masih trauma dengan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu itu.


Rigel tak mendesak namun dia berkata, “Gue nggak akan memaksa lo buat cerita, tapi lo bisa setelah ini lebih berhati-hati? Gue begini karena nggak mau sahabat-sahabat gue terjadi hal yang tidak diinginkan. Gue memang keras, dan itu demi kebaikan kalian.”


“Terharu.” El memberikan dua jempolnya kepada Rigel, “Gue kayaknya nggak perlu lagi cari pacar kalau kayak gini.” Tak ada yang mengerti apa maksud dari ucapan El, Odel menatap gadis itu dengan tanda tanya besar mengambang di matanya. Karena apa yang dikatakan oleh Rigel tak ada hubungannya dengan jawaban El.


“Gue pacarin aja lo.” Dan ini adalah kali pertama Rigel terlihat kehilangan kendali dirinya sampai harus melototi El. “Buat apa cari diluar sana yang nggak pasti kualitas otaknya. Ganteng banyak, dan gue bisa dapetin selusin orang ganteng. Tapi kalau paket komplit begini kan susah.”


Bukan hanya Rigel yang tak menyangka jika kalimat itu dikeluarkan dari bibir El, Odel pun sama terkejutnya dengan gadis itu. “Haish, kenapa gue baru kepikiran itu ya?” El menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


“Lo serius, El?” Karena Rigel hanya diam saja, Odel yang bertanya.


“Serius. Gue kenal dia, gue paham dia, gue mengerti kekakuan dia, dan gue udah terbiasa dengan semuanya. Gue bahkan udah akrab dengan orang tuanya, paling enggak gue nggak akan pusing untuk mencari cara untuk deketin calon mertua.” Kalimat itu dikatakan dengan menatap Rigel yang bahkan tak bisa berkata-kata. Dan lebih kampretnya lagi, El mengerlingkan satu matanya ke arah Rigel yang membuat lelaki itu berteriak karena benar-benar kehilangan kendali.


“HEI!” Katanya dengan sebal. Entah kenapa ketika dia digoda oleh jenis gadis seperti apapun tak berpengaruh, tapi ini adalah El. Sahabatnya. Dia bisa seperti ini.


“Apa?” tantang El dengan berani, “Lo mau nolak gue? Kalau lo berani nolak gue, gue sumpahin lo impoten.” Rigel berdiri untuk membalas El entah dengan malakukan apa, karena El lebih dulu menghindar dari Rigel.


Ketika lelaki itu berjalan cepat, El melakukan hal yang sama. “Sini lo.” Gertak Rigel.


“Nggak.” El masih memutari meja temannya untuk menghidar dari Rigel. Namun sayangnya kaki panjang Rigel melangkah dan hampir berhasil mencekal tangan El, yang membuat gadis itu histeris sendiri namun sambil terkekeh.


Berlari keluar kelas, dan Rigel tentu langsung mengejarnya. “Berhenti, El!” teriaknya.


“Nggak mau.” Jawabnya sambil masih berlari.


“Al, tangkap si El.” Dari arah depan, Al muncul dan mengernyit ketika melihat dua orang yang sedang kejar-kejaran itu. Bahkan Rigel sepertinya dendam sekali dengan El.


“Al!” Rigel memperingatkan lagi agar El ditangkapnya.


“Jangan, Al!” El tertawa lepas karena hal ini. Bahkan orang yang melihatnya saja keheranan. Tak biasanya dua orang itu bersikap kekanakan seperti itu.


*.*