Blind Love

Blind Love
Seri 25



Acara ulang tahun Love seperti biasa, memberi santunan kepada anak-anak yatim, makan-makan bersama keluarga. Dengan Aksa yang meluangkan sehari itu tak bekerja untuk menemani sang istri. "Karena aku nggak di kasih hadiah, aku mau waktu seharian bersama, Mas, besok. Nggak mau tahu." Begitu katanya setelah selesai melampiaskan rasa kesalnya kepada sang suami.


"Kalau aku nggak kerja terus bayar lemari yang kamu pesan kemarin pakai apa?" Drama sekali mereka ini. "Bahkan uang di dompet tinggal seratus ribu lagi." Keluhnya kepada Love. Maka dengan itu, Love mengambil dompet Aksa dan melihat isinya.


"Ih, serius lho tinggal seratus ribu aja," Mata Love melebar mendramatisir. "Aku besok belanja pakai apa? Belum lagi jajan anak-anak." Ekspresi Love dibuat semenyedihkan mungkin.


"Makanya, besok aku tetap akan kerja. Buat bayar lemari yang kamu pesan, buat belanja untuk dapur biar terus mengepul itu asap dapurnya, buat bayar sekolah sama jajan anak-anak." Aksa berbaring di sofa dengan menggunakan lengannya untuk bantal. Kaki kanannya di tekuk, dan kaki kirinya berselonjor. Sedangkan Love duduk diantra kaki sang suami dengan santai.


"Nggak papa, nanti biar pakai uang simpenan aku aja, Yang, bayarnya." Sok yes sekali perempuan satu ini. Membuat sang suami gemas saja. "Serius lah, Yang, jangan kerja hari ini, ya. Besok kerja nggak papa, kan besok udah nggak hari ulang tahun aku lagi." Dengan tidak tahu diri tengkurap di atas tubuh Aksa. Memeluk badan lelaki itu posesif.


Dan lebih kurang ajar lagi, dia tertidur di sana. Bahkan ketika Aksa membangunkannya, tak ada seinci pun matanya terbuka. Membuat Aksa bernapas panjang dan menggendong perempuan itu untuk ke kasur mereka.


Kembali ke saat sekarang, Aksa memang sedang menyiapkan sesuatu hal romantic untuk Love. Setelah semua kegiatan hari ini selesai, dan ketika malam datang, mereka pergi untuk melakukan sesi akhir dari acara yang dibuat oleh Aksa dan itu hanya ada Aksa dan Love. Bahkan kedua anaknya pun tak ikut serta.


Hotel milik keluarga GN grup berdiri dengan megah dan mewah. Dan di sanalah Aksa membuat acara akhir ini berakhir. "Silahkan masuk, Queen." Dia sendiri yang membuka pintu lobi alih-alih petugas di sana.


"Terima kasih." Senyumnya menguar dengan indah dan Aksa menyikai hal itu. Tangannya di tarik pelan oleh Aksa dan di genggamnya.


Seseorang yang bertugas mempersiapkan kejutan untuk Love sudah berada di sana menunggu kedatangan Aksa dan Love. "Selamat malam, Pak, Bu." Sapanya dengan sopan.


"Selamat malam, Pak," Jawab Aksa. "Udah semua? Nggak ada yang terlewatkan kan?"


"Semua aman, Pak." Yang dijawab anggukan dari Aksa.


Mereka langsung naik ke lantai paling atas. Love yang memeluk lengan Aksa ikut berjalan santai. Kaki jenjangnya tertutup dengan gaun panjang dengan heels 10cm. Cantik! sangat. Apalagi rambutnya di ikat sederhana membentuk seperti sebuah sanggul. Kesan menawan jelas terlihat tanpa tanggung-tanggung.


"Waw!" Terpaan angin tak membuat Love ragu untuk melangkah. Aksa membawanya di atas gedung hotel miliknya. Tempat itu sudah dihias dengan begitu cantik dengan lampu kerlap-kerlip yang indah. Ada meja di tengah dengan kursi yang saling berhadapan.


Meja itu hanya ada sebuah lampu kecil sebagai ganti lilin. Tak mungkin mereka menggunakan lilin karena hanya hitungan detik apinya pasti akan padam.


"Yang!" Love berbalik dan menatap Aksa dengan rasa haru yang luar biasa. "Thank you." Kemudian langkahnya lebar mendekat ke arah sang suami dan memeluknya. "Gimana aku nggak terus-terusan jatuh ke pelukan kamu kalau kamu tingkahnya kaya gini." Bukan kata-kata yang cukup baik untuk menunjukkan terima kasihnya, tapi hanya 'kekonyolan' yang keluar dari bibir Love.


"Tingkahku menyebalkan atau menyenangkan?" Dibalasnya pelukan itu untuk sang istri dan mengecupi bagian tubuh Love yang bisa dijangkau.


Aksa melepaskan tubuh Love dan menatap mata peremuan itu penuh dengan keseriusan. "Selamat ulang tahun cintaku," Katanya, "Tetaplah menjadi istriku yang apa adanya. Jadilah ibu yang mampu membimbing anak-anak dengan karaktermu. Jadilah seorang anak dan menatu yang luar biasa. Dan, marilah kita menghabiskan sisa hidup kita bersama-sama. Aku mencintai kamu, dan itu sudah di tetapkan Tuhan."


Senyuman bercampur tangis keluar dari mata Love dengan kebahagiaan yang luar biasa. "Kamu tahu kalau aku nggak mungkin menolak semua permintaan kamu." Love kembali mengenggelamkan wajahnya di dada Aksa dan sesenggukan di sana.


"Kalau gitu kita makan. Jangan sampai kita pingsan di sini karena kesenengan." Kemudian mereka bedua berjalan ke meja yang sudah disediakan dan duduk berhadapan. Aksa memberikan isyarat kepada seoarang chef untuk menyelesaikan makanan yang diolahnya.


Pelayan masuk satu per satu untuk mengantarkan makanan tersebut. "Bunganya!" Mata Love kembali melebar ketika melihat bucket bunga, bukan, tepatnya adalah bucket uang. Karena sebucket bunga digantikan dengan uang lembaran seratus ribuan. Love tak bisa tak menganga melihat surprise yang diberikan kepadanya kali ini.


"Yang!" Panggilnya, "Serius kamu buat ini?"


"Buat bayar lemari." Jawab Aksa ringan tanpa beban. Kekehan Love terdengar namun matanya masih terpukau dengan bucket uang yang diberikan kepadanya. Sedangkan ukuran bucket itu tak kecil. Bahkan dia saja harus memeluk bucket tersebut.


"Yang!" Kini Aksa yang memanggil, "Makan dulu lah. Jangan di pelototin itu duit, aku nggak bakalan ambil lagi kok." Katanya karena sejak tadi tak ada pergerakan dari Love untuk meletakkan hadiah pertamanya itu.


Love berdiri dan memajukan wajahnya untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Aksa. Aksa yang tanpa persiapan itu hanya menerima saja. Sayangnya Love tak kunjung melepaskan. Kemudian dia berkomentar, "Jangan mulai, kalau aku nggak bisa berhenti urusannya jadi panjang." Sontak saja itu ampuh membuat Love kembali duduk dan mulai menyantap makanannya.


"Ngomong-ngomong, ini isinya berapa juta, Yang?" Rasa penasaran Love sepertinya tak bisa terbendung, maka dia mengutarakan apa yang di pikirkan.


"Kan nanti bisa di hitung."


"Tapi aku penasarannya sekarang." Kukuh sekali betina satu itu.


"Tapi aku nggak mau jawab." Bukan hanya Love saja yang memiliki kekukuhan yang tinggi, Aksa pun memilikinya. Mau bagaimana lagi selain diam saja ketika sang suami sudah memutuskan.


Makan malam sudah selesai, hadiah pertama sudah diberikan, maka sesi terkahirnya adalah sesuatu yang mungkin tak perlah Love pikirkan sebelumnya.


Sebuah kendaraan yang bernama helicopter datang dan menjemput mereka. Love mengerjap ketika melihat itu. "Kamu tarok dulu bucketnya di sini kita ke sana." Bahkan Aksa tak perlu meminta persetujuan dari sang istri untuk melakukannya.


Love memang tak berontak ataupun mendebat Aksa. Dia ikuti saja kemanapun lelaki itu membawanya. "Untuk mengakhiri ulang tahun kamu hari ini, aku mau ajak kamu melihat keindahan Jakarta lewat udara," Sebelum mereka masuk ke dalam helicopter, Aksa mengatakan itu. "Kamu bersedian kan?" Begitulah tabiat Aksa, selalu bertindak duluan ketimbang meminta ijin. Dan hal itu selalu membuat orang-orang menolak apalagi Love.


Perempuan itu mengangguk. Mereka masuk ke dalam helicopter, duduk di sana, menggunakan apapun itu perlengkapan di dalam helicopter dan kemudian terbang di atas gedung-gedung tinggi. Rasa bahagia tak bisa diungkapkan oleh Love kali ini. Ulang tahun paling menyenangkan yang dia rasakan.


Tangis Love pecah mendengarkan ucapan Aksa untuknya. Ini adalah kata-kata pertama yang tak menggunakan teori akuntansi yang diberikan suaminya itu kepadanya. Maka kalimat itu sangat berharga untuk Love dan Love megakui jika mencintai Aksa adalah sebuah petaka karena tak mungkin bisa lepas dari lelaki itu.


Tapi memang siapa yang akan melepas lelaki seperti Aksa? Bahkan jika diminta untuk memilih, lelaki yang lebih dari segalanya dibandingkan Aksa Love akan tetap memilih suaminya itu.


"Terima kasih." Tak ada kata lagi yang bisa Love ucapkan selain kata itu. Selama memutari kota Jakarta, genggaman tangan keduanya tak pernah lepas. Ini bukan hanya sebuah kado, tapi sebuah keberkahan yang luar biasa.


*.*


Tak sampai di situ, setelah turun dari helicopter dan memeluk bucket uang yang diberikan oleh Aksa untuk istri tercintanya, lelaki itu mengajak Love untuk menginap satu malam di hotel tersebut.


Seperti pengantin baru, mulai dari pintu, kelopak bunga memenuhi tempat kakinya berbijak. Tak tega rasanya menginjak bunga-bunga cantik itu, tapi apa boleh buat. Memang itu yang harus dilakukan.


"Katanya yang tadi itu adalah sesi terakhir." Begitu komentarnya kepada sang suami. "Kok masih ada lagi?"


"Karena kurang greget rasanya kalau nggak berakhir di kamar. Aku malas buat nyetir malam-malam begini, jadi aku putuskan untuk tidur di sini saja." Jawabnya seperti memesan kamar hotel itu memesan sebungkus rempeyek.


"Aku kan nggak bawa baju ganti." Dalam pikiran Love mungkin dia akan memakai gaun yang dipakainya itu, pasti sangat tak nyaman.


"Masa pernah sih aku kalau buat planning itu setengah-setengah?" Aksa duduk di sofa menatap Love yang masih berdiri di depannya. Mengedikkan kepalanya di lemari besar hotel tersebut, Aksa melanjutkan. "Disana udah ada baju ganti buat aku sama kamu, nggak perlu khawatir kalau ada abang Aksa di sini." Pongahnya berlebihan.


Love ikut duduk dan menyenderkan kepalanya di bahu Aksa. "Terima kasih untuk hari ya sayangku, aku nggak akan pernah melupakan semua ini," Katanya dengan sungguh-sungguh. "Kamu yang terbaik."


Aksa mendongakkan wajah Love dan mencari bibir istrinya itu. Mengecupnya lama. "Love you." Katanya sambil menggigit bibir bawah Love pelan. Namun setelahnya mendumel, "Ini kenapa masih di peluk aja sih?" Ucapan Aksa itu merujuk pada bucket yang di bawa Love. "Kan akhirnya menghalangi." Love tertawa dan mengelus bucket itu penuh sayang dan kelembuatan.


"Karena aku sayang dia," Membuat Aksa semakin berasap ubun-ubunnya. Berdiri dan meninggalkan Love seorang diri di sana karena Aksa memilih masuk ke dalam kamar mandi.


Otak Love berjalan untuk memamerkan semua hal itu ke media sosilanya. Memasukkan foto-foto yang diambilnya mulai dari makan malam sampai detik ini ke sana. Sebetulnya bukan maksudnya untuk pamer sih, hanya saja mengabadikan moment bahagianya saja.


Atau itu hanya alibinya saja? Entahlah, hanya Love yang tahu jalan pikirannya sendiri.


Lovela Shavela Ganendra


Terima kasih untuk semua kejutannya my King.


Itulah kata sederhana yang ditulis di social media dengan disertai gambar-gambar kegiatannya seharian ini. Senyumnya melebar ketika langsung mendapat sambutan yang baik dari pengikutnya. Ada yang mengatakan kekagumannya dan mengatakan jika mereka merasa iri dengan apa yang dilakaukan oleh Aksa untuk Love. Benar-benar romantic, katanya.


Senyumnya bahkan merekah ketika membaca semua komentar dari mereka. Bahkan tak sadar dengan Aksa yang sudah berkacak pinggang di depannya dengan wajah datarnya.


Menyadari itu, Love nyengir kemudian meletakkan ponselnya di meja. Dan yang lebih tak terduga lagi adalah ketika Love masih saja memeluk bucket itu di tangannya. Meskipun dengan tak rela, Love juga meletakkan bucket tersebut di meja melihat tampang tak bersahabat suaminya.


"Aku mandi dulu." Katanya sambil berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya. Meskipun tak berkeringat, tapi terasa tak nyaman di tubuhnya.


Aksa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang seperti remaja tujuh belas tahun. Tak ubahnya dengan Love bertahun-tahun lalu yang sering mengekorinya dan mengatakan terang-terangan jika dia menyukai Aksa.


Kan, Aksa jadi tersenyum-senyum sendiri sekarang mengingat kejadian masa SMA nya.


"Sekarang kenapa jadi Ayang yang senyum-senyum sendiri?" Pakaian yang dipakai oleh Love sungguh tak biasa. Love yang selalu memakai daster-daster selutut, kini menggunakan celana sangat pendek yang hanya sejengkal di bawah pantat dengan baju tepat di pusarnya, sehingga kalau dia mengangkat tangannya akan terlihat pusar tersebut.


Membuat Aksa benar-benar tak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan tersebut. Sudah tahu kalau dia menggunakan baju super mininya, malah membuat seolah menantang sang suami. Tak mengatakan apapaun, duduk tepat di samping suaminya dan kembali mengoatak-atik bucketnya.


"Wanginya duit itu beda dengan wangi bunga lho, Yang. Dan wangi ini lebih nikmat." Bahkan matanya melirik sambil mengerling ke arah suaminya yang terjerat pesona sang istri.


"Siapa yang menyiapkan baju ini?" Aksa berkomentar setelah menghelas napas Panjang frustasi dengan 'ulah' Love.


Love menyerongkan tubuhnya untuk melihat sang suami secara langsung. Merasa posisinya tak nyaman, Love menaikkan kaki kirinya ke atas sofa kemudian menekuknya. Dan itu tentu saja membuat paha putih Love terlihat tanpa filter. Aksa menatap itu dengan datar.


"Yang pesan hotel ini siapa?" Love bertanya. "Ayang," Di jawab sendiri pertanyaannya. "Yang nyiapin baju ini siapa? Mas juga kan?"


"Aku cuma bilang minta siapkan baju yang berbeda manis, dan__" Ucapan Aksa tak dilanjutkan entah karena apa. Sepertinya dia kebingungan seorang sendiri.


Love tak mampu menahan senyumnya melihat Aksa yang seolah kehilangan kendali dirinya. Bahkan sepertinya dia harus menanyakan siapa yang memiliki ide seperti ini, dia harus memberinya tips untuk hadiah buat orang tersebut.


*.*