Blind Love

Blind Love
Kisah 19



Virgo datang dan langsung mendekati Libra yang masih sedang membereskan alat tulisnya. “Udah?” tanyanya sambil duduk di kursi di depan Libra dan menatap istrinya.


“Kok cepat kamu, Yang?” bisa diperkirakan Virgo selesai sebelum jam ujian habis.


“Ngapain juga lama-lama kan?” Virgo kembali berdiri dan mendorong kursi roda Libra ketika perempuan itu sudah selesai membereskan barang bawaannya. Menyapa teman-teman yang lain yang sedang menatap mereka untuk pamit. Di belakang diikuti oleh Shila dan Rion.


“Li!” Zidah datang membawa jus jeruk, “Buat lo.” Katanya mengangsurkan jus tersebut di depan Libra dan diterima oleh perempuan itu. Zidan bukanlah lelaki yang banyak bicara, tapi tindakannya patut diacungi jempol.


“Thanks, Dan.” Mereka sudah sepenuhnya keluar dari kelas dan akan segera pulang.


“Sama-sama. Vir, lo kalau membutuhkan bantuan barangkali ada sesuatu yang gue lakukan lo chat aja.” Katanya kepada Virgo.


“Sip. Thanks, Bro.” Membukakan pintu mobil, Virgo mengangkat Libra dan mendudukkan di kursi penumpang, kemudian dia menyusul. Kursi roda yang dipakai Libra sudah dimasukkan oleh sopir dan setelahnya mereka berlalu dari sana.


“Kok nggak diminum?” Libra yang menyandarkan kepalanya di dada Virgo sambil memutar-mutar gelas jus yang tadi diberikan oleh Zidan. Karenanya Virgo bertanya.


“Belum haus. Kamu mau?” bahkan ditawarkan kepada suaminya.


“Kamu aja yang minum. Zidan udah repot-repot beliin ini buat kamu.” Dan karena dihinggapi rasa penasaran, Virgo akhirnya bertanya, “Dia emang kaya gitu perhatiannya? Inisiatifnya juga bisa dibilang oke.”


Libra mengangguk, “Iya. Jangankan sama kami yang para cewek. Sama Rion aja kayak gitu. Dia itu emang baik, Yang, royal anaknya. Sering juga traktir kami makan.” Virgo memang belum terlalu mengenal Zidan dengan baik. Dan betemu hanya sebentar-sebentar jadi belum paham karakter lelaki itu.


Libra memejamkan matanya ketika tak ada lagi obrolan diatara mereka. Dia bersiap untuk tidur ketika dia menginginkan sesuatu.


“Yang!” panggilnya kepada Virgo untuk memastikan jika lelaki itu belum terlelap.


“Ya?”


“Aku mau makan masakan Korea lho.” Entah kenapa Libra tiba-tiba menginginkan makanan tersebut.


“Makanan Korea apa?” banyak jenis makanan Korea, jadi Virgo harus memastikan terlebih dulu.


“Jajangmyun.” Pikiran Libra membayangkan dia memakan itu sambil menonton boy grup kesuakannya, sepertinya memang benar-benar lezat.


“Kalau gitu kita pulang dulu, biar nanti aku yang belikan. Kamu harus istirahat. Nggak boleh kecapekan.” Libra manut. Perempuan itu kembali ke rumah sedangkan Virgo pergi membelikan apa yang diinginkan oleh istrinya.


Dan restoran korea ‘Masitta’ adalah pilihan Virgo untuk membelikan jajangmyun untuk Libra. Masuk ke dalam sana, lagu Kpop langsung menyapa pendengarannya. Karyawannya menggunakan kostum ala orang Korea, dan banyak anak-anak muda maupun keluarga-keluarga yang menikmati hidangan disana.


Virgo berfikir, mungkin suatu saat nanti, ketika anak-anak mereka sudah lahir, dia akan mengajak mereka untuk makan di tempat ini. Tempatnya sangat nyaman dan memiliki banyak mainan untuk anak-anak. Senyumnya merekah ketika dia melihat banyak anak kecil yang sedang bermain ayunan, prosotan, atau mandi bola yang disediakan di tempat tersebut.


“Maaf, Oppa mau pesan apa?”


Kening Virgo mengernyit ketika mendengar dia dipanggil Oppa oleh gadis yang ada di kasir tersebut. Di dalam fikirannya, dia masih muda dan seharusnya panggilan itu tak cocok dengan dirinya.


“Opa?” tanyanya, “Saya setua itu?” mata Virgo yang melebar dengan wajah kaget serta jarinya yang menunjuk dirinya sendiri itu benar-benar membuat si kasir terkekeh.


“Oppa dalam bahasa kita artinya kakak, mas, abang, seperti itulah yang kami maksud.”


“Aaaa,” Lelaki itu bukan pertama kalinya makan makanan Korea. Hanya saja setiap dia ke restoran Korea, tak sekalipun dia menghadapi pegawainya langsung. Entah itu Sam, Edo, atau teman yang lainnya yang memesankan untuknya.


Dan kenapa pula dia tak paham masalah sepele seperti ini? Ayolah, dia sama sekali tak peduli dengan hal-hal berbau Korea seperti ini. Dia suka masakan Korea, tapi diluar itu sama sekali tak paham.


“Oke.” Katanya dengan kepala mengangguk-angguk tanda dia mengerti, “Saya pesan jjajangmyun dua porsi, tteokbokki dua porsi.” Matanya masih menjelajah menu yang tertempel di dinding, “Dan kimbab, satu porsi. Semua dibungkus.” Katanya memutuskan makanan yang dirasanya akan Libra makan.


“Baik, Oppa, tunggu sebentar. Bisa duduk di kursi kosong, nanti kami antar.” Dan Virgo langsung duduk di kursi tak jauh dari kasir sambil memainkan ponselnya. Gadis-gadis kasir itu bahkan harus merumpikan Virgo karena lelaki itu terlihat tampan sekali.


Setelah menunggu, makanan pesanannya akhirnya datang. Dia menenteng paper bag dan kembali lagi ke kasir. “Jus mangga, satu.” Pesannya sambil memberikan uang untuk membayar. Dan dengan cekatan pula, pesanan itu dibuatkan oleh mereka.


“Iya, Bang. Gue kerja nanti. Istri gue pengen masakan Korea. Ngidam nggak ya, Bang itu kira-kira? Selama ini dia kan nggak pernah minta apapun sama gue sama sekali.” Obrolan ringan tak akan pernah luput dari telinga dari kasir. “Oke.” Panggilan terputus dan Virgo mengambil minuman yang dipesannya itu sambil tersenyum. “Terima kasih.” Ucapnya kepada kasir tersebut dan kemudian berlalu dari sana.


“Udah punya istri?” Mbak kasir berbicara kepada temannya karena merasa kaget dengan apa yang di dengarnya. “Orang ganteng selalu menjadi label milik orang lain.” Jawab yang lainnya.


Yang membuat dua orang itu menghela nafas bersamaan. Dunia ini sungguh tak adil bagi mereka. Mungkin seperti itulah pemikiran dua orang tersebut.


*.*


Langkah Virgo memelan ketika melihat sosok yang lama tak dia temui. Sosok keras kepala yang sekarang ini juga tengah menyadari keberadaannya. Virgo tak mungkin bersikap tak acuh dengan mengabaikan keberadaan lelaki itu, karenanya dia mendekat untuk menyapa beliau.


“Om!” katanya. Tak ada jabat tangan, hanya mereka saling berhadapan dan saling menatap saja.


“Libra sekarang hanya bisa di atas ranjang, sedang mengandung cucu, Om. Tapi, Om sama sekali tak peduli, apa Om tidak merasa bersalah dengan hal itu?” bukannya menanggapi Ardi dengan jawaban, Virgo justru bertanya balik untuk menyindir ayah mertuanya.


Rahang Ardi mengetat mendengar sindiran itu, “Semua ini gara-gara kamu. Kalau kamu tidak menikahinya dan membuat dia sekarang hamil, tidak mungkin ini terjadi.” Tuduh Ardi kepada Virgo.


“Bukankah saya sedang bertanggung jawab sekarang? suami Libra tidak akan merasa jika Libra adalah ‘sisa’ seperti yang Om katakan waktu itu. Jadi Om nggak perlu menyalahkan saya.” Semakin lama Virgo semakin berani menghadapi ayah mertuanya meskipun itu sama sekali dianggap tak memiliki sopan santun.


“Kami berusaha membangun hubungan yang baik dengan Om. Tapi Om sama sekali tak peduli dengan hal itu. Percayalah, Om. Keras kepala Om itu sama sekali tak ada pengaruhnya dengan kehidupan Om menjadi lebih baik. Sebelum semua orang pergi dari hidup Om cobalah untuk sedikit memikirkan ini.” Virgo tahu dia sedang memancing di air keruh sekarang, tapi dia sudah memulai, jadi dia tak akan menyelesaikan dengan cepat.


“Saya tak akan merasa dendam sama sekali dengan, Om. Saya akan berusaha membuat Om menerima saya. Dengan catatan saya belum merubah keputusan itu. Karena saya pun memiliki sifat keras kepala yang susah untuk diubah. Maka jangan pernah saya berubah dengan tidak peduli dengan keberadaan Om.”


“Kamu fikir saya peduli?” jawab Ardi seolah tak peduli. Sayangnya ketika Virgo akan kembali berbicara, deringan ponsel Virgo terdengar.


“Ya, Yang? Astagfirullah, iya-iya aku pulang. Aku ketemu temen lama,” mata Virgo menatap Ardi ketika mengatakan kalimat akhir. Tak mungkin dia mengatakan dengan jujur bertemu dengan ayah istrinya kan, karena dia yakin Libra akan memikirkan hal itu.


“Iya. Sebentar lagi aku pulang. Iya, aku lagi jalan,” Ardi sama sekali tak melepaskan pandangannya ketika melihat Virgo sedang berbicara denga istrinya di line telfon. Virgo meloudspeaker agar Ardi bisa mendengar suara Libra.


“Nanti kalau udah dingin nggak enak, Yang. Aku udah pengen banget. Kamu suruh mampir aja teman kamu ke rumah, kalian bisa ngobrol,” suara Libra langsung terdengar dan Ardi bisa dengan jelas mendengar suara putrinya.


“Udah cepet pulang. Aku mau makan itu sama kamu.” Panggilan langsung dimatian tanpa basa-basi sama sekali, Virgo tahu jika istrinya itu pastilah sedang merajuk sekarang.


“Saya harus pulang sekarang. Mampirlah ke rumah kami kalau Om punya waktu luang. Libra mengatakan itu kan tadi?” kemudian Virgo berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil dan sopir langsung menjalankan mobil tersebut dengan cepat.


Sedangkan Ardi terpaku di sana. Mungkin dia tak menyangka jika Virgo akan berani mengatakan hal itu kepadanya.


Dan di lain tempat, dimana Libra berada, perempuan itu memanyunkan bibirnya karena Virgo tak kunjung datang. Sedangkan perutnya sudah lapar sekali. Ditemani dengan ibunya, dia duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi yang sedang menayangkan boyband Korea sedang menari. Itu adalah hiburan Libra selama ini.


“Maaf, Yang, aku lama.” Virgo datang mencium pipi sang istri dan disaksikan oleh ibu mertuanya. Meskipun perempuan itu sudah sering melihat adegan tersebut, tapi masih saja tersenyum ketika melihatnya.


“Ketemu sama siapa sih?”


“Temen SMA, kebetulan dia juga sedang makan di sana. Jadi ngobrol-ngobrol aja tadi mengenang masa lalu.” Dusta itu dosa, Vir, apalagi dengan istri. Begitulah sisi hati baik Virgo berkata, tapi mau bagaimana lagi, dia tak mungkin berterus terang kepada istrinya.


“Mama mau yang mana?” semua makanan sudah ada di atas meja, “Aku tadi emang cuma beli ini, Ma.”


“Mama mau tteokbokki nya.” Makanan tersebut memang menggunggah selera, bahkan Libra saja semangat sekali. Virgo juga tadi sudah berkonsultasi dengan dokter apakah tak masalah jika Libra memakan makanan tersebut, dan dokter mengijinkannya.


Jadilah mereka makan bersama di ruang keluarga. Libra lahap sekali makannya dan itu membuat ibu dan suaminya senang melihatnya. “Kalau kamu makan banyak begini kan aku seneng, Yang.” Komentar Virgo, “Kalau kamu mau makan sesuatu, kamu bilang aja. Jangan pernah di tahan.” Lanjutnya.


“Hemm.” Tanggap Libra masih dengan mengunyah makanan. Hanya focus saja pada makanan yang ada di depannya. Bagi Libra ini adalah pepaduan yang luar biasa. Makan makanan Korea, sambil melihat boyband kesukaannya.


“Nak, apapun jenis kelamin kalian, kalau kalian cowok, gantenglah kayak Sehun, keren kayak Chanyoel, cool kayak D.O” Bukan sebuah gumaman yang dikeluarkan oleh Libra tapi benar-benar bisa didengar oleh ibu dan suaminya.


“Amin.” Virgo menjawab dengan santai, toh itu adalah doa baik. Tanpa merasa iri doa istrinya itu tak menyangkut untuk dirinya. “Kalau cewek?” tanya Virgo.


“Aku nggak terlalu tahu girl grup, Yang.” Jawabnya, “Tapi aku fikir, Irene juga cantik.” Virgo yang sama sekali tak paham dengan itu hanya mengangguk saja. Mengamini di dalam hati.


Makan selesai, Virgo bersiap berangkat ke kantor. “Aku kerja dulu biar bisa buat susu adek ya,” Virgo berjongkok di bawah Libra sambil mengelus perut perempuan itu dengan lebut. “Adek baik-baik sama bunda.” Pamitnya kepada janin dan juga istrinya. “Aku kerja dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.” Setiap akan berangkat ke kantor, selalu seperti inilah Virgo. Akan mengatakan banyak hal seperti sekarang ini.


“Kami paham, Ayah.” Libra mengelus kepala suaminya yang masih berjongkok di bawahnya, “Ayah berangkat, gih, kerja apa coba kayak gini, berangkat siang, pulang bareng sama yang berangkat pagi, gajinya penuh.” Sindir Libra namun justru membuat Virgo terkekeh.


“Itulah kelebihan dari Virgo, Yang. Nikmat mana lagi yang aku dustakan.” Sombongnya yang membuat Libra memanyunkan bibirnya.


“Aku berangkat dulu.” Tak lupa kecupan di wajah istrinya diberikan kepada Virgo. Menunggangi motor kesayangnnya yang hanya bisa digunakan seorang diri karena sudah tentu Virgo sama sekali tak diperbolehkan untuk naik ke sana. Mengklakson sekali tanda pamit dan meninggalkan rumah, menyisakan asap yang mengepul.


Seperginya Virgo, Libra kembali masuk ke dalam rumah dengan bantuan dari ibunya. “Istirahat ya.” Jihan mendorong kursi roda itu untuk masuk ke dalam kamar, membantu Libra untuk naik ke atas ranjang.


“Terima kasih, Ma.” Libra tak berbaring, dia duduk berselonjor dengan bersandar di sandaran tempat tidur. “Aku terus saja ngrepotin Mama.” Ibu Libra belum menanggapi apa yang dikatakan oleh putrinya karena sibuk menata kursi roda di dalam ruangan tersebut agar terlihat rapi.


“Mama selalu berdoa agar kehamilan kamu ini tidak bermasalah. Bukan karena mama merasa kamu merepotkan mama, tapi melihat kamu seperti ini membuat mama sedih. Mama sama sekali tak merasa direpotkan oleh putri mama sendiri. Tapi mama juga mau kamu bisa segera sehat kembali. Sayangnya kandungan lemah itu memang seperti ini. Kamu harus bersabar menjalaninya.”


“Aku ngerti, Ma. Siapa yang mau seperti ini? Kalau aku bisa minta, aku juga nggak mau. Tapi Allah sudah menggariskan seperti ini, Virgo bilang kalau manusia itu nggak pantas mengeluh,” Libra tersenyum, “Jadi karena itulah sesakit apapun rasanya, aku nggak akan pernah mengeluh. Dibandingkan kesakitan yang aku rasakan sekarang, kebabagiaan yang diberikan lebih banyak. Benar kan, Ma?”


Jihan mengangguk dan tersenyum mendengar hal itu. Virgo, yang selalu dikatakan sebagai lelaki pembuat onar, lebih bisa memahami kehidupan dibandingkan orang-orang yang berlabel baik.


*.*