
Virgo masuk ke dalam kamar rawat inap Libra dengan langkah pelan. Menatap gadis itu yang duduk di ranjang dan menatap ke jendela. Tak ada kata yang terucap dari lelaki itu ketika melihat betapa menyedihkannya gadisnya itu. Ini sungguh menyakiti hatinya.
Virgo berdiri di depan Libra dan menghalangi sinar siang yang menyorot ke wajah Virgo. “Yang!” panggilnya dengan pelan. Mengelus rambut gadis itu dengan pelan dan merasakan halus surai hitam itu di tangannya.
Libra mendongak dengan pelan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia dengar adalah benar-benar suara Virgo, dan yang dilihat adalah benar-benar sosok yang dirindukannya.
“Ini beneran aku,” ucap Virgo. “Aku datang buat kamu. Aku kangen sama kamu. Kamu nggak kangen aku ya?” pertama-tama, Libra meneteskan air matanya. Kedua, tangannya melayang untuk mengelus wajah Virgo di bagian pipi, dan yang ketiga, dia bergumam,
“Mimpi waktu itu juga aku merasakan hal seperti ini. Aku juga merasakan kamu ada di depanku seperti ini, tapi akhirnya ketika aku meminta kamu buat peluk aku, kamu hilang begitu saja.” Jihan menutup bibirnya karena tak ingin suara tangisnya itu mengganggu suasana haru yang sekarang ini sedang terjadi. Sintya mengelus punggung Jihan sedangkan dia sendiri juga mengeluarkan air matanya.
“Kalau kamu bukan ilusi, bukan mimpi, tolong peluk aku agar aku percaya.” Dan tanpa diminta untuk kedua kali Virgo mendekap erat Libra dan mengecup puncak kepala gadis itu.
“Kamu bisa merasakannya kalau aku ini bukan ilusi kan? Aku benar-benar ada di sini.” Ucapan Virgo itu membuat tangis Libra pecah. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di perut Virgo dan meraung di sana.
“Bawa aku pergi dari sini, Yang. Aku nggak mau disini. Kakek kamu bilang, kita nggak bisa lagi bersama. Dia bilang dia akan mengirim kamu ke tempat di mana kita nggak akan bisa bertemu.” Kalimat itu dikatakan ketika sambil menatap mata Virgo.
Virgo menghela napas panjang ketika mendengar raungan yang Libra katakan kepadanya. Kakeknya memang mengatakan jika dia sudah menemui Libra namun tak menceritakan apa yang mereka bicarakan.
“Aku nggak akan pergi tanpa kamu. Kita akan pergi sama-sama. Dan menaklukkan dunia ini berdua.” Anggukan semangat itu diberikan kepada Virgo.
“Iya. Aku mau. Aku akan menemani kamu sampai akhir. Aku yang akan melakukan itu, bukan orang lain.” Katanya dengan penuh keyakinan.
“Kalau begitu, kamu harus segera sembuh. Tetaplah kuat meskipun kamu ditempa oleh benda berat dan menyakitkan. Itu akan membuat kamu menjadi perempuan yang hebat.”
“Aku akan melakukannya.” Katanya dengan pasti, dan kembali memeluk pinggang Virgo ketika selesai mengatakan hal itu.
Virgo mendekap erat Libra dan menenggelamkan wajah di perutnya. Lelaki itu menatap tiga orang yang berdiri di dekat sofa yang juga sedang menatap ke arahnya. Terlihat ekspresi kelegaan Jihan melihat itu. Kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang, dan mengelus rambut putrinya.
“Syukurlah kamu sudah mau bicara,” begitu kata JIhan yang masih setia dengan tangisnya, “Mama khawatir sama kamu.” Libra melepaskan belitan tangannya di perut Virgo dan berganti memeluk ibunya.
Keharuan itu masih berlanjut di ruang inap tersebut. “Makasih, Mama.” Katanya dengan menangis sesenggukan, “dan maaf karena Libra membuat Mama bersedih.” Libra semakin mengeratkan pelukannya merasa bersalah karena bertingka konyol.
Jihan mendongakkan kepala putrinya dan mencium kening Libra sayang. “Apapun akan mama lakukan demi kebahagiaan kamu,” jawabnya, “Karena itu, kamu harus terus bahagia. Mengerti?” perempuan itu mengelus kepala putrinya sambil tersenyum lega karena putrinya telah kembali. Fisik gadis itu memang tidak pergi kemanapun, tapi jiwanya melayang kemana-mana.
*.*
Ardi ditatap lima orang dengan ekspresi berbeda-beda. Masih di dalam ruangan rawat inap Libra, ketika kejadian itu terjadi.
“Kami akan menikah, Yah.” Begitu Libra meminta izin.
“Jadi karena Virgo datang ke sini lantas kamu baru mau berbicara?” sepertinya Ardi memang merasa tak suka dengan perubahan Libra dan Virgo adalah penyebab anak gadisnya sembuh.
“Iya.” Terus terang Virgo, “Ayah tahu sendiri, beberapa hari ini rasanya aku sama sekali tak ingin melakukan hal lain selain diam saja.”
Ardi berdecih sinis, “Kamu benar-benar dibutakan oleh cinta, Libra.” katanya dengan menatap Libra seolah tengah menatap musuhnya.
“Kalau memang kamu memutuskan untuk menikah dengan Virgo, maka kamu tak akan pernah menginjakkan kakimu di rumah.” Libra melebarkan matanya ketika mendengar perkataan ayahnya yang dengan jelas mengusirnya.
“Ayah membuangku?”
“Bukankah kamu sendiri yang ingin melepaskan diri dari ayah?”
“Kenapa Ayah seperti ini?” entah berapa kali Libra menangis seharian ini. Seakan stok air matanya tak pernah habis.
“Jangan melakukan hal yang akan membuat kamu menyesal, Di.” Firman bersuara, “Libra adalah putrimu satu-satunya. Dan karena keegoisanmu kamu mengatakan kalimat yang menyakitinya?”
“Saya punya aturan main sendiri dalam hidup ini, jadi kalau keluargaku sendiri tak mau mematuhinya, maka saya tidak bisa mempertahankan dia dalam kehidupan saya.” Genggaman tangan Virgo di tangan Libra menguat ketika getaran tubuh Libra terlihat jelas. Entah dosa apa yang dilakukan Libra di masa lalu sampai dia mengalami kesedihan yang seolah tak pernah ada akhirnya.
“Kalau kamu melakukan itu kepada Libra, maka aku akan melakukan hal yang sama kepadamu.” Jihan memberontak, “Kalau kamu tak mengizinkan Libra untuk datang ke rumah, artinya kamu juga mengusir aku dalam kehidupanmu.”
“Aku tidak menerima pendapatmu.” Pedas sekali perkataan Ardi kepada istrinya. Ingin mengeluarkan semua unek-uneknya, namun Ardi melanjutkan ucapannya.
“Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Kalau kamu ingin menikah, menikahlah. Tapi saya tidak akan datang ke sana.”
“Yah!” Libra tersedak oleh tangisnya sendiri, “Kenapa Ayah harus melakukan ini? Kenapa Ayah tega sekali sama aku?”
“Karena kamu juga tega sekali denganku.” Ardi membalik kata. Lelaki itu berdiri dan keluar dari kamar Libra dan dikejar oleh sang istri. Meninggalkan Libra yang menangis keras. Virgo dengan cekatan membawa gadis itu ke dalam pelukannya dan mencoba untuk menenangkannya. Sedangkan Libra juga memeluk erat Virgo takut jika lelaki itu meninggalkannya jika sampai pelukan itu terurai.
Dan setelah kejadian itu, Libra tak pulang ke rumah ayahnya. Jihan lah yang membawa putrinya untuk tinggal di apartemen mewah miliknya. Ibu Libra hanya takut jika mereka tinggal di rumah mereka, kondisi Libra semakin memburuk.
Perempuan itu hanya khawatir jika mental Libra terjun bebas akibat perlakuan ayahnya sendiri. Maka tanpa memberi tahu suaminya, ketika pulang dari rumah sakit, dia memutuskan untuk membawa putrinya ke tempat tersebut.
Meskipun sudah keluar dari rumah sakit, tapi Libra tetap di dalam rumah tanpa pergi kemanapun. Hanya Virgo yang akan sering datang kesana untuk menemani gadis itu. Tentu saja bukan hanya berdua saja di sana karena ibu Libra tetap memantau mereka berdua. Memang belum ada pembicaraan kembali tentang pernikahan yang akan dilakukan, karena kesembuhan Libra adalah yang terpenting sekarang.
“Kamu bawa apa?” Libra bergelayut manja di lengan Virgo ketika lelaki itu datang. Ada tentengan yang selalu lelaki itu bawa untuk Libra.
“Bakso bakar ya?” tanyanya dengan antusias. Libra memang sudah hafal sekali dengan makanan-makanan yang disukainya.
“Kalau begitu makanlah.” Virgo memberikan bungkusan itu kepada Libra dan diterima dengan suka cita. Libra menarik tangan Virgo untuk diajaknya duduk di depan televisi sambil menikmati bakso bakar yang masih hangat itu.
“Tante kemana?” di ruangan itu sepertinya tak ada kehidupan lain selain ada Libra, karenanya Virgo bertanya.
“Mama ada di kamar. Mau tidur katanya, ngantuk.” Libra sudah membuka bungkusan kertas minyak dan matanya melebar ketika tusukan bakso itu mengeluarkan aroma yang semakin tajam.
“Terima kasih.” Katanya dengan wajah sumringah, kemudian mengambil setusuk bakso bakar dan memasukkan ke dalam mulutnya. Senyumnya merekah ketika rasa pedas manis itu bercampur menjadi perpaduan yang luar biasa di dalam sana.
“Enak, Yang.” Gadis itu menoleh ke arah Virgo dan tersenyum kembali, “Aaaa,” satu tusuk bakso didekatkan ke mulut Virgo untuk menyuapi lelaki itu. Virgo menerima dengan senang hati. Bakso yang sekarang ini sedan dimakan adalah bakso langganannya jika bersama Libra, dan jika boleh menilai, maka Virgo juga akan memberikan nilai yang tinggi untuk makanan ini.
Virgo mengangguk untuk menjawab dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Libra. Menatap gadis itu dalam dan merasa sedikit kasihan karena situasi sulit yang dilalui oleh Libra.
“Kenapa, Yang?” Libra menyadari jika dirinya sejak tadi diperhatikan oleh kekasihnya.
Bukannya menjawab, Virgo justru mendekatkan dirinya untuk memeluk gadis itu. Menenggelamkan wajahnya di leher Libra, tangannya mengelus punggung Libra penuh sayang.
“Kenapa sih, Yang?” dengan pelan Libra menjauhkan tubuhnya dari Virgo dan melanjutkan, “kamu nggak ada niatan untuk ninggalin aku kan?” wajah Libra berubah ekspresinya mengatakan itu, “Kamu nakutin aku.”
Virgo menggelengkan kepalanya dengan miris, “Kamu itu ngomong apa sih, Yang?” Virgo menarik tangan Libra agar gadisnya itu kembali mendekat. “Aku cuma mau lihatin kamu aja, nggak boleh emangnya?”
“Tapi kamu nakutin aku.”
“Nggak ada yang perlu ditakutkan.” Virgo sudah memeluk Libra dan mendekapnya dengan erat. “Kalau aku mau ninggalin kamu, rencana pernikahan kita gimana? Kamu mau mempelai laki-lakinya digantikan sama lelaki lain?” gelengan jelas saja langsung diberikan Libra sebagai jawaban.
“Enggak!” masih dalam pelukan Virgo, Libra mendongak, “Jangan,” katanya dengan manja.
“Kalau begitu nggak usah mikir yang anek-aneh.” Kata Virgo memberi peringatan. Dan mendapat persetujuan dari Libra.
*.*
Libra berdiri di depan ruangan kantor ayahnya dan keraguan kembali datang ketika akan masuk ke dalam sana. Kondisi badan dan pikirannya sudah sangat baik, karena itu dia memutuskan untuk menemui ayahnya. Sayangnya kenekatan itu tidak sejalan dengan nyalinya yang seketika menciut ketika sampai di tempat tujuan.
“Mbak, mau masuk?” sekretaris ayahnya mendekati Libra dan menyadarkan gadis itu karena sejak beberapa menit lalu, dia hanya berdiri saja di sana.
“Mau, Kak. Tapi, saya sedang memikirkan sesuatu.” Libra tersenyum kecil tanpa menutupi apa yang sedang dia lakukan sekarang.
“Mbak mau duduk dulu? Sejak tadi Mbak berdiri terus.”
“Nggak, Kak. Aku masuk aja sekarang.” Katanya namun tak langsung merealisasikan apa yang dikatakan. Sekretaris itu mengangguk dan memberikan senyum kepada putri dari atasannya itu.
Libra melangkah pendek penuh dengan keraguan. Detakan jantungnya bahkan sangat cepat. Telapak tangannya basah karena keringat dingin.
Ketika dia memegang knop pintu, helaan nafas panjang dia keluarkan untuk mencoba mengurai rasa sesak di dalam hatinya. Tapi dia tahu jika dia tak bisa lagi mundur. Karena jika itu terjadi, maka keberanian itu akan lama dia dapatkan kembali.
Membuka pintu ruangan sang ayah, gadis itu langsung masuk ke dalam sana dan sosok ayahnya langsung terlihat di singgasananya. Ardi sama sekali tak terpengaruh dengan adanya orang yang masuk ke dalam ruangannya, karena selama ini yang berani melakukan itu hanyalah sekertarisnya.
“Bukannya meeting akan diadakan setelah makan siang?” masih dengan menekuni dokumen yang tertumpuk di atas meja, Ardi berbicara. “Apa ada jadwal lain sekarang? Bukannya tadi pagi kamu sudah membacakan jadwal saya__” seketika ucapannya terhenti ketika mendongak dan mendapati Libra di depannya.
Ardi memasang wajah datarnya ketika menatap putrinya. Tak ada yang dikatakan, dan kembali menekuni pekerjaannya.
“Yah!”
“Pulanglah!” usirnya, “Kita sudah tidak memiliki urusan lagi sekarang.” Sinisnya ketika mengatakan itu.
“Darah Ayah masih mengalir di tubuh Libra, daging Ayah juga masih ada di dalam tubuh Libra, apa itu nggak cukup untuk kita memiliki urusan?” Libra mencoba untuk tenang dan tak gentar sama sekali. Karena kalau dia merasa takut, ayahnya pasti akan merasa menang mengintimidasi dirinya.
“Yah!” panggilnya lagi, “Bisa kan semua ini kita bahas lagi dengan cara keluarga? Berdiskusi tanpa menggunakan otot? Dan mencari__”
“Tidak!” tolak Ardi tanpa berfikir. Bahkan Libra belum juga menyelesaikan ucapannya, “Pemberontakan kamu sudah kamu tunjukan dengan lantang, dan itu artinya tak akan ada lagi diskusi. Dan kedatangan kamu di sini tak akan menghasilkan apapun.” Ardi sudah meletakkan pena-nya, kedua tangannya saling bertaut dan mata menatap Libra tajam.
Libra tak bisa mengatakan apapun. Tangannya erat memegang tali tasnya, pikirannya memikirkan kalimat apa yang harus dikatakan kepada ayahnya. Matanya memejam dan nafanya diatur setenang mungkin agar dia bisa membalas ucapan ayahnya. Ketika menemukan kata-kata dan terangkai menjadi sebuah kalimat, maka dia bersuara. “Pernikahan kami memang belum ada pembahasan lagi karena mereka focus dengan kesembuhanku terlebih dahulu karena tekanan yang aku rasakan beberapa waktu lalu.” Ucap Libra.
“Sebelum pembahasan itu terjadi, bisakah Ayah kembali mempertimbangkan keputusan Ayah?” Libra seolah tak mendengarkan pertentangan yang diberikan oleh Ayahnya yang terjadi berkali-kali.
“Kalau aku ditanya apakah aku siap menikah diusia muda, aku nggak tahu jawabannya. Aku nggak mau kehilangan Virgo, aku mencintai dia. Ayah pasti sangat tahu hal itu.” Mata Libra berkaca-kaca tapi senyumnya merekah di bibirnya.
“Di mata Ayah mungkin dia adalah seorang ********, tapi Ayah harus memahami, jika dia adalah ******** kampret yang mampu membuat aku tergila-gila sama dia.” Ardi menatap Libra dengan datar dan sepertinya memang tak rela jika Libra sedang memuji lelaki itu.
*.*