
Virgo sudah keluar dari rumah sakit. Lebam di wajahnya memang jelas masih ada dan butuh waktu pemulihan agar lebam itu benar-benar hilang sama sekali. Bukan hanya orang tuanya yang menjemputnya, kakek dan neneknya juga datang sebagai dukungan penuh dari mereka dan merasakan kebahagiaan karena cucu kesayangan mereka dinyatakan sembuh dan tak ada hal yang serius yang dialaminya.
“Kakek masih ada keperluan. Kalian pulang lah dulu. Nenek pulang dulu bersama mereka.” Katanya memberi tahu.
“Papa mau kemana?” Firman merasakan firasat yang kurang enak ketika ayahnya mengatakan jika beliau memiliki keperluan.
Tatapan yang diberikan Wondo kepada Firman begitu jelas mengatakan semuanya. Firman paham akan hal itu. “Kita pulang sama-sama saja. Bisa?”
“Iya. Lagian kakek itu mau apa? Udah tahu cucunya mau pulang dari rumah sakit, masih mikir kerja aja.” Begitu tambah nenek yang tak mengetahui apapun.
“Urusan kakek nggak akan lama. Setelah itu langsung ke rumah kalian.” Penjelasan itu dirasa cukup untuk menjelaskan jika dia tak akan meninggalkan ‘perayaan’ atas keluarnya Virgo dari tempat itu.
Setelah mereka semua menyetujui apa yang dikatakan oleh Wondo, maka lelaki tua itu masuk ke dalam kamar nomor 307 tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dahulu setelah memastikan jika keluarganya sudah hilang di balik dinding dan tak terlihat sama sekali.
“Ehem.” Deheman itu dikeluarkan ketika Ardi sama sekali tak menyadari kedatangannya. Jelas saja bukan hanya ayah Libra yang terkaget ketika melihat pak Wondo berdiri di depan pintu dan sedang menatap lelaki itu dengan tatapan datar, Jihan dan Libra juga mengalami hal yang sama.
“Pak!” Ardi berdiri dan menyambut kedatangan kakek Virgo tersebut. Namun setelahnya yang terjadi adalah sebuah tonjokan pak Wondo diberikan kepada Ardi. Seketika darah itu keluar dari sudut bibirnya. Libra yang tadinya sedang duduk di atas kasur lantas meloncat turun karena melihat kejadian itu.
“Sakit?” begitu pak Wondo bertanya. Ardi mencoba untuk mengusap sudut bibirnya sejak tadi tapi darah itu terus keluar meskipun bukan dalam jumlah yang banyak.
“Iya, Pak.” Jawab Ardi.
“Hanya satu pukulan saja, tak akan sebanding dengan apa yang kamu berikan kepada Virgo.” Tatapan Pak Wondo tajam melihat lelaki itu.
“Mungkin selama ini saya selalu diam ketika kamu selalu merendahkan cucu saya seolah dia adalah lelaki tak berguna sama sekali. Saya membiarkan saja kamu bersikap seenaknya sendiri dengan dia, karena saya merasa jika Virgo memang sesekali harus mendapatkan hal seperti itu dalam hidupnya. Sayangnya keterdiaman saya benar-benar tak membuat kamu mengakhiri semuanya. Dan karena ketidak sukaan kamu kepada Virgo lah yang membuat saya mencabut kembali perjanjian yang saya buat bersama ayah kamu tentang perjodohan ini.” Ardi sama sekali tak berkutik ketika mendengar pak Wondo berbicara panjang.
“Tapi sayangnya, mereka lebih dulu menjalin hubungan satu sama lain. Dan kamu pun tak merestui mereka, ini akan menjadi sulit, Ardi.”
“Maafkan saya, Pak.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf,” jawab Wondo dengan nada datar, “Karena memang di sinilah cinta mereka yang salah.” Wondo menghela napas panjang dan kembali melanjutkan ucapannya. “Libra juga tidak perlu lagi mendekat kepada Virgo. Saya akan mengatakan kepada Virgo agar dia juga tak lagi mendekati kamu. Kalau memang perlu, saya akan mengirim Virgo ke tempat dimana kalian tidak bisa lagi bertemu.”
“Jangan lakukan itu, Kek.” Libra dengan cepat memegang lengan Wondo dengan air mata yang sudah mengalir. “Tolong! Libra tidak bisa kalau harus kembali berpisah dengan Virgo.” Ada rasa kasihan yang dirasakan oleh Wondo, tapi lelaki tua itu tak menunjukkannya kepada gadis di depannya itu.
“Saya nggak bisa melakukan apapun kecuali melakukan yang tadi saya katakan. Kecuali kamu mau menjadi bagian dari keluarga kami. Menikah dengan Virgo, mungkin itu akan merubah semuanya. Kalian bisa meninggalkan negara ini berdua.”
“Saya tidak akan melepaskan putri saya untuk cucu anda, Pak.” Meskipun masih merasa segan, tapi Ardi memberanikan diri untuk mengatakan itu.
“Kalau begitu nikahkan saya sama Virgo, Kek.” Bukan sebuah tantangan apa yang dikatakan oleh Libra, tapi kesungguhan yang keluar dari hatinya.
“Libra!” suara peringatan itu kembali terdengar marah di telinga orang yang mendengarkan. Dan itu pula yang terdengar di telinga oleh Wondo.
“Kalau begitu lupakan, Libra.” kata Wondo, “Saya akan mencarikan perempuan lain untuk Virgo untuk membantu dia melupakan kamu. Kamu juga lakukanlah hal yang sama. Ayahmu pasti akan mendapatkan lelaki yang lebih segala-galanya dari cucu saya yang beradalan.”
Wondo mengelus rambut Libra dengan lembut, “Kakek ingin sekali menjadikan kamu sebagai cucu menantu, tapi saya tidak mungkin bersikap seolah saya memiliki kekuasan seperti di film-film yang akan menculik kamu demi kebahagiaan Virgo.” Hanya mencoba untuk membuat lelucon yang sama sekali tak mempan bagi gadis itu.
Wondo menjauh dari Libra dan bersiap pergi dari sana, namun sebelumnya lelaki itu menambahkan ucapannya, “Mulai sekarang, saya tidak akan ikut campur dalam semua urusanmu. Kalau suatu saat nanti kamu memiliki masalah, maka carilah cara untuk menyelesaikannya sendiri. Tapi saya akan tetap mengundang kamu dan keluargamu kalau nanti Virgo menikah.” Kemudian barulah lelaki itu keluar dari kamar Libra yang berusaha dikejar oleh Libra, sayangnya semua itu tak terealisasi dengan baik karena Libra lebih dulu tumbang karena pingsan.
Seandainya Ardi tak cepat, maka sudah dipastikan jika kepala Libra akan terbentur lantai kamar inap tersebut.
*.*
“Dia mengalami stress.” Begitu kata dokter setelah memeriksa kondisi Libra. “Buat dia menghilangkan pikiran berat yang sekarang ini sedang menjadi beban pikirannya, karena kalau sampai dia terus tertekan, bukan tak mungkin dia bisa depresi akut.”
Jihan menangis mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Kenapa harus separah itu kondisi Libra saat ini.
“Apa bisa disembuhkan dokter?” tanya Jihan dengan suara parau.
“Semua bisa disembuhkan, Bu. Tapi kami minta kerjasamanya agar pengobatan ini bisa berhasil.”
“Kami akan melakukan apapun, Dokter, demi kesembuhan putri kami.”
Dokter tersebut tersenyum, dan mengangguk. Mengatakan apa yang harus dilakukan oleh Jihan sebagai dukungan. Kemudian pergi dan meninggalkan kamar Libra.
Setelah kepergian dokter tersebut, Jihan menatap dengan tajam Ardi yang berada di sana. “Kamu lihat kan?” katanya dengan berapi-api, “Karena keegoisan kamu, anakmu terancam depresi.” Berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang terengah akibat amarahnya, Jihan kembali bersuara, “Sekarang terserahmu, mau kamu menyetujui hubungannya dengan Virgo atau tidak, aku akan memberikan ijin mereka untuk menjalin hubungan. Kalau memang keduanya mau menikah di usia muda, aku akan memberikan restu itu.” Kemudian meninggalkan Ardi yang sama sekali tak membuka bibirnya.
Tak ada yang mengetahui keadaan Libra yang sebenarnya sekarang. Bahkan Virgo. Meskipun lelaki itu memikirkan kekasihnya, tapi tak sekalipun dia menunjukkan itu di depan orang-orang disekitarnya. Masalah memang belum tuntas diselesaikan, tapi seolah terjadi apapun.
“wajahmu sudah lebih baik,” pagi ini Virgo datang ke kantor kakeknya. Lelaki itu mendapat panggilan dari Wondo untuk membicarakan sesuatu katanya.
“Mama belikan aku cream biar lukanya nggak berbekas, Kek. Mama nggak mau kalau anaknya nggak ganteng lagi.” Wondo terkekeh.
“Ibumu memang yang terbaik. Karena itu ayahmu tergila-gila padanya.” Virgo tersenyum, namun mencoba untuk mengorek informasi dari lelaki itu.
“Kakek tahu tentang Mama, Papa, dan Om Ardi? Maksudku, kisah mereka bertiga.”
Mungkin iya, Ardi memang brengsek, tapi dia juga bisa menghakimi lelaki itu begitu saja. Karena memang begitulah cinta. Buta akan hal apapun.
“Jadi, Kakek kenapa memanggil aku ke sini?” sepertinya memang tak perlu lagi membahas bagaimana masa lalu ketiga orang tersebut dan fokus saja pada masalahnya sendiri.
“Kamu mau meninggalkan Jakarta?” kernyitan pada dahi Virgo memang terlihat, jantungnya pun tiba-tiba berdetak dengan cepat. Sayangnya dia bersikap tenang menunggu kelanjutan ucapan kakeknya.
“Tempat dimana kamu bisa mengembangkan kemampuan kamu, tempat di mana kamu bisa focus dengan apa yang ingin kamu gapai__”
“Kakek ingin aku ke tempat dimana aku nggak bisa lagi bertemu dengan Libra?”
“Hanya untuk sementara.” Virgo bukanlah lelaki bodoh sampai tak tahu apa rencana dari kakeknya.
“Bagaimana dengan pernikahannya?”
“Kamu lupa kalau kamu di tolak sama Ardi?’ Wondo mencoba menyadarkan cucunya, “Tamparan paling menyakitkan buat lelaki seperti dia adalah menjadi yang lebih hebat. Karena itu kamu belajarlah. Jadilah lelaki yang tidak dipandang sebelah mata olehnya. Jadilah lelaki yang bisa berdiri tegak di depan Ardi ketika kamu melamar Libra ketika kamu sudah menjadi lelaki hebat.”
“Aku nggak mau menyakiti Libra, Kek.”
“Tapi kamu tersakiti oleh perlakukan Ardi kepadamu.”
“Bisa aku memperjuangkan Libra, Kek?”
“Perjuangan seperti apa?” Virgo berfikir. Perjuangan seperti apa yang akan dia lakukan untuk mendapatkan restu itu. Virgo pun tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk hubungannya dengan Libra berjalan dengan sempurna.
“Kalau aku bisa meyakinkan Ardi dan membiarkan Libra menikah denganku, apa aku bisa menghidupi dia?”
“Anak nakal,” pelototan itu diberikan Wondo untuk Virgo. “Memangnya saham yang kakek berikan atas nama kamu yang setiap bulannya menghasilkan uang itu nggak bisa menghidupi Libra?”
Senyum kecil Virgo terlihat ketika, namun dia tak puas, “Itu kan pemberian Kakek. Bukan hasil aku sendiri.”
“Kamu bisa bekerja di kantor menjadi asisten Nino.” Masih ingat Nino? Dia adalah lelaki yang bekerja di bagian IT di kantor kakek Virgo.
“Jadi kakek memberikan izin aku buat menikah dengan Libra bahkan kami masih di semester pertama?”
“Kenapa tidak?” katanya dengan santai, “Kalau kamu belum puas, kamu bisa berjuang lagi untuk mendapatkan Libra dengan restu ayahnya.” Virgo senang bukan kepalang. Seolah mendapatkan semangat untuk memperjuangkan apa yang harus dia perjuangkan.
*.*
“Libra mau makan apa?” masih di rumah sakit, Libra benar-benar hanya diam tanpa mengatakan apapun. Setelah pingsan dua hari lalu, gadis itu benar-benar seperti kehilangan jiwanya. Jika memang waktunya makan, Jihan akan menyuapi Libra dan sama sekali tak mendapatkan penolakan dari gadis itu.
Namun ketika dia diajak berbicara, tak akan ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
Bahkan ketika teman-temannya menjenguknya pun, gadis itu hanya diam saja. Matanya tetap menatap mereka, matanya tiba-tiba memuntahkan isinya. Riska, Ule, dan Ersya bahkan ikut menangis melihat kondisi sahabatnya yang seperti itu.
Tak jauh beda dengan Riska dan teman-temannya, Tere ketika datang bersama Shila, Zidan, dan Rion pun menangis sampai sesenggukan.
Satu-satunya orang yang bisa membuat Libra bebicara sepertinya hanya Virgo. Tapi lelaki itu tak muncul sejak tiga hari yang lau, sejak lelaki itu keluar dari rumah sakit.
“Saya atas nama pribadi meminta maaf.” Jihan datang ke rumah Virgo malam ini untuk berbicara kepada keluarga tersebut.
“Kenapa kamu datang?” Sintya yang merasa masih geram dengan siapapun orang yang berkaitan dengan Ardi bertanya denga malas-malasan. Jihan tak menjawab pertanyaan perempuan itu dan lebih memilih untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
Virgo juga sudah berada di sana bersama kedua orang tuanya. Menatap ibu kekasihnya itu kasihan. Ini kali kedua beliau mendatangi Virgo untuk meminta agar lelaki itu bersedia menemui Libra. Bukannya Virgo menolak, karena dia juga ingin sekali bertemu dengan gadis itu, tapi apalah daya.
Jihan menangis namun langsung diusapnya air mata itu yang menetes di pipinya. “Saya akan melakukan apapun yang terpenting Libra bisa bahagia. Kalau memang Virgo bisa membuat Libra bahagia, maka saya tidak pernah melarang mereka untuk bersama.” Perempuan itu menatap Virgo dan terlihat kesungguhan di dalam tatapan matanya.
“Kami tidak pernah memaksa kamu untuk melakukan itu, Jihan.” Firman berbicara, “Penawaran yang kami berikan waktu itu kalau memang kalian bersedia__”
“Saya bersedia. Restu dari saya apa tidak cukup? Saya yang mengandung Libra, saya yang melahirkan dia, saya yang mendidik dia.” Diiringi dengan isakan karena mengingat Libra yang mungkin di rumah sakit sekarang ini sedang melamun sambil menatap ke arah luar jendela kamarnya di temani oleh asisten rumah tangganya.
Sintya juga seorang biu, dia tahu dan paham sekali apa yang dirasakan oleh Jihan kali ini. Maka perempuan itu berdiri dan duduk di sofa yang sama dengan perempuan itu lalu memeluknya. Tanpa kata sebagai penghiburan. Tapi Sintya melakukannya dengan tulus.
“Saya paham apa yang kamu rasakan sekarang,” setelah pelukan kedua perempuan itu terurai, Sintya bersuara, “Hal yang sama juga saya rasakan ketika melihat betapa menyedihkannya putra saya ketika pulang dengan wajah babak belur karena Ardi. Sebab itulah saya langsung datang ke rumah kamu untuk meluapkan rasa kesal kami.”
“Saya benar-benar meminta maaf atas apa yang suami saya lakukan kepada Virgo. Saya tidak menyangka sebegitu bencinya dia dengan Virgo padahal saya tahu Virgo tulus mencintai putri kami.”
“Karena Ardi sudah dibutakan oleh amarahnya.” Firman berkata terus terang, “saya yakin, melihat putrinya seperti itu pun dia akan tetap pada pendiriannya.” Firman memang paham betul siapa Ardi. “Kalau tidak, tidak mungkin hubungan kita sekarang ini menjadi seperti ini kan?” semua orang diam karena merasa jika apa yang dikatakan oleh Firman memang benar.
“Kalau begitu, izinkan saya untuk menemui Libra, Tante.” Dan Jihan mengangguk sambil tersenyum. Jenis senyum kelegaan.
*.*