
Makanan yang di bawa oleh Libra sudah tersaji di depan Virgo. Kalau mau tahu apa saja makanan yang di bawa oleh Libra, maka jawabannya adalah bakso, soto, sop buntut, dan tak lupa kolak kacang hijau. “Aku bingung mau beliin apa, jadi aku asal aja belinya.” Ketika Virgo tak kunjung menyantap makanan yang ada di depannya sambil terus menatapnya, Libra langsung saja bersuara. Keempat tempat lelaki itu hanya menikmati saja interaksi yang ditunjukkan oleh Libra dan Virgo.
“Dan asal lo tahu, sop buntut adalah makanan kesukaan Virgo. Bakso, adalah makanan yang paling dicari dia kalau kemana-mana, soto?” Sam mengusap janggutnya seolah berpikir tentang satu makanan berkuah itu dimata Virgo.
“Soto adalah makanan yang akan Virgo pilih ketika dia tak memiliki ide ingin memakan makanan apa.” Edo yang melanjutkan. Mereka semua tahu sekali tabiat Virgo tentang makanan.
“Jadi kalau lo bawa semua ini buat Virgo, mungkin dia sanggup melahap semuanya.” Rai ikut nimbrung bicara.
“Jadi, Vir, diantara makanan itu, mana yang akan lo makan duluan? Kalau lo nggak mau salah satu dari mereka, gue mau kok nampung untuk perut gue.” Baro dengan santainya mengatakan hal itu sambil memainkan ponselnya.
Kali ini Libra memang tak banyak bicara karena merasa kikuk dengan mereka. Dia belum terbiasa dengan perkumpulan teman-teman Virgo dan karena itu dia tak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Ehm, kayaknya gue harus pulang dulu.” Setelah sejak tadi hanya menjadi pihak pendengar, maka Libra memberanikan diri untuk bicara. “Vir, kamu makan aja, aku harus pulang.” Memang Libra belum berdiri dari sofa yang di dudukinya, tapi pandangannya ’memohon’ agar Virgo memahami apa yang sedang dia rasakan sekarang.
“Di sini aja dulu, kalau kamu nggak nyaman dengan mereka ada di sini, biar mereka ke kamar.” Kalimat itu sebetulnya adalah kode agar teman-temannya itu paham dengan apa yang sedang diinginkannya. Matanya menatap satu per satu dengan tegas seolah mengatakan, ‘Lo cepat enyah dari sini atau lo mau gue gorok’ seperti itulah yang dikatakan Virgo meskipun secara tak langsung.
“Oke.” Baro menyadari dan memahami ‘jeritan’ hati seorang Virgo. “Kita ke atas, Guys. Kalau nanti kamar lo berantakan, artinya kami sedang bermain pedang-pedangan.” Semua lelaki itu benar-benar ke kamar dan meninggalkan Virgo dan Libra berdua saja di ruang keluarga.
“Aku makan ya.” Barulah setelah keempat temannya tak ada di sana, Virgo menyendokkan makanan itu dan dimasukkan ke dalam mulut. Sup daging, adalah makanan yang lebih dulu disantapnya sebelum merambah ke makanan yang lainnya. Virgo menyodorkan sesendok dan di dekatkan ke mulut Libra agar gadis itu bisa menikmati makanan yang dibelinya.
“Aku nggak mau.” Tolaknya halus. “Aku diet.” Seketika kunyahan Virgo berhenti mendengar apa yang dikatakan oleh Libra.
“Diet?” Itu untuk memastikan jika apa yang di dengarkan telinganya adalah benar. Kemudian matanya melihat tubuh Libra yang tak terlihat gemuk sama sekali.
“Nggak gemuk.” Tanggapannya. “Apa yang mau kamu hilangkan dari badan kamu?” Virgo bahkan tak meneruskan acara makanannya. “Kamu lihat itu.” Tunjuknya pada sebuah papan. “Kalau kamu teruskan acara dietmu, kamu akan kelihat seperti papan yang tebalnya hanya Sembilan cm. Mau?” Lupa kalau Virgo sedang tak enak badan, Libra menggeplak punggung lelaki itu.
“Sembarangan banget.” Virgo terkekeh. Kemudian kembali menyendokkan makanan itu dan menyodorkan ke depan mulut Libra. “Coba dulu, kalau enak kita kongsi.” Virgo sedikit memaksa agar Libra mau membuka bibirnya dan melahap suapan darinya.
Maka yang dilakukan oleh Libra adalah menerimanya tanpa sanggahan. Mengunyah pelan dan menganggukkan kepalanya. “Enak. Tapi aku nggak mau lanjut.” Bilangnya kepada Virgo. “Aku beliin ini buat kamu, lagian aku juga kenyang. Kamu makan aja.” Katanya ‘mempersilahkan’ untuk lelaki itu melanjutkan acara makan ‘kelewat’ malamnya.
“Oke.” Virgo tak akan menunda untuk segera melanjutkan kegiatan makannya, maka dengan santai dia melahap kembali makanan tersebut.
Libra memperhatikan itu dengan hati yang lega luar biasa. Entah karena makanan yang dibawanya dimakan oleh Virgo atau karena hal lain.
Virgo mengusap bibirnya setelah menyelesaikan makannya. Meminum segelas air sampai habis, kemudian menyenderkan punggungnya ke senderan sofa sambil mengusap perutnya. “Kamu terlalu kenyang, Nak.” Begitu katanya berbicara dengan perutnya. “Makasih, Li. Udah jauh-jauh datang, bawakan makanan pula. Aku terharu sekali.” Sambil tersenyum mengatakan itu, dan apa yang dilakukan oleh Virgo tersebut membuat Libra ikut tersenyum.
“Sama-sama.” Hanya begitu saja jawaban yang diberikan oleh Libra untuk Virgo. Masih dengan pose yang sama, Virgo masih setia menatap Libra di sebelahnya. Lelaki itu terus menatap gadis disampingnya itu seolah detik ini adalah detik terakhir mereka bertemu.
“Kenapa sih?” Karena tak tahan diperhatikan seperti itu, akhirnya gadis itu bertanya. “Ada yang salah sama wajah aku ya?” Dengan salah tingkah, Libra mengusap wajahnya.
“Nggak ada.” Virgo beralih menatap depan dengan kedua tangan terjalin diatas perutnya. “Aku Cuma pengen lihatin kamu aja.” Entengnya. “Sorry kalau buat kamu nggak nyaman.” Senyum Virgo terbit kembali.
“By the way,” Kini Virgo duduk dengan tegak, kaki kirinya ditekuk dan dinaikkan ke atas sofa, sedangkan kaki kanannya masih tergantung. Menatap Libra sungguh-sungguh. “Kamu berani pulang sendirian?” Ada rasa khawatir yang dirakan oleh Virgo. “Kalau memang nggak berani, biar diantar supir.” Lanjutnya. “Sebenernya minta tolong anak-anak juga nggak masalah sih, tapi aku kira mereka beneran udah tidur sekarang.”
Libra menatap jam dinding dan waktu memang sudah lumayan malam. “Kayaknya memang aku harus segera pulang deh. Udah malem, besok aku ada kuis juga.” Katanya sambil bermamitan. Gadis itu berdiri dan menatap Virgo yang masih duduk dengan tenang.
“Kamu istirahat aja. Semoga cepet sembuh.” Virgo ikut berdiri.
“Aku antar sampai depan.” Katanya, dan mempersilahkan Libra untuk berjalan lebih dulu.
Keduanya tak ada yang bersuara ketika berjalan sampai ke depan. Seolah interaksi keduanya kali ini dilingkupi dengan kecanggungan yang luar biasa.
“Kamu masuk aja, aku balik dulu.” Ada senyum tipis yang diberikan kepada Libra untuk Virgo. “Jangan tidur larut malam.” Pesannya. Kemudian berbalik untuk segera pulang dan mengambil mobilnya terlebih dulu, namun langkahnya tertahan karena tangannya di cekal oleh Virgo.
Mau tak mau Libra berbalik untuk melihat ekspresi Virgo meskipun dengan rasa kaget karena tiba-tiba langkahnya terhalang oleh seseorang. “Kenapa, Vir? Membutuhkan sesuatu?”
Jika dunia bisa mendiskripsikan apa yang dirasakan oleh Libra kali ini, maka dunia akan mengatakan dengan lantang jika jantung gadis itu mungkin terasa akan meledak ketika melihat dan merakm aksi Virgo yang diluar dugaan.
Bagaimana tidak, jika tanpa komando, Virgo menarik tangan Libra yang dipegangnya dan menarik gadis itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Dan mengeratkan pelukannya itu setelah beberapa saat keduanya berpelukan.
“Aku nggak tahu kenapa merasa jika aku pengen sama kamu dan deket sama kamu terus.” Virgo bukan orang yang akan membuang waktu untuk mengulur waktu hanya mengatakan apa yang dirasakan di dalam hatinya. Dia bahkan tak memikirkan dampak akan keterus terangan yang dikatakan kepada gadis itu.
Tubuh Libra terasa kaku di pelukan Virgo. Virgo bisa merasakan itu namun abai dan melanjutkan aksi heroiknya itu mengatasnamakan kenyamanan yang dirasakannya. “Kamu keberatan nggak dengan hal itu?” Melepas pelukannya dengan Libra, lelaki itu menatap Libra terang-terangan.
“Aku nggak akan menghabiskan waktuku untuk memendam apa yang aku rasakan dengan sesuatu hal yang aku rasakan di dalam hati. Itu buatku nggak adil dengan diriku sendiri.” Entah kemana perginya flu yang tadi dirasakannya karena meskipun suaranya masih bindeng, tapi dia mampu membuat seorang Libra kelabakan.
“Kamu membuat aku bingung, Vir.” Libra sejak tadi diam karena tak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya berdiri dengan kaku seolah sebentar lagi dunia dia akan ditembak mati oleh seorang penjahat. “Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Aku yang dulu merasa tak adil dengan apa yang direncanakan oleh keluarga kita, tapi kenapa sekarang hubungan kita jadi seperti ini?” Mengungkapkan apa yang mengganjal di dalam hatinya dirasa adalah yang baik bagi Libra.
“Aku nggak pernah berpikir tentang masalah rencana itu. Nggak pernah sekalipun. Tapi untuk saat ini, aku merasa jika sama kamu adalah sebuah hal baik dan diriku merasa lengkap. Aku nggak akan paksa kamu buat melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan ke kamu sekarang. Aku hanya ingin mengatakan apa yang memang aku rasakan saja.” Cara Virgo menatap Libra sepertinya sudah tak lagi sama seperti sebelumnya.
“Maaf sudah buat kamu bingung dengan apa yang aku katakan. Udah malam, biar ku antar kamu pulang.”
“Nggak usah.” Virgo masih sakit dan Libra tidak ingin lelaki itu semakin sakit nanti. “Aku pulang sendiri aja.”
“Tapi ini udah malam, Li. Jam sepuluh malam.”
“Nggak papa, bahkan di jam segini jalanan Jakarta masih macet. Aku juga nggak lewati jalan di tengah hutan. It’s oke.” Libra merasa jika dia tak ingin merepotkan Virgo.
“Masuk aja. Kamu masih sakit.” Ucapnya penuh perhatian. Terlihat jika Virgo merasa tak tenang mengijinkan Libra pulang lebih sendirian.
“Aku nggak papa, Vir. Kamu nggak perlu pasang wajah kaya gitu. Semua akan baik-baik saja.” Libra merasa perlu menjelaskan agar Virgo tak perlu mengkhawatirkannya. “Aku pulang dulu ya.” Pamitnya namun masih berdiri berhadapan dengan Virgo.
Setelah mendapatkan anggukan dari lelaki di depannya, dia berjalan menuju mobilnya dengan jantung yang masih berdetak kencang. Ucapan Virgo memang tak biasa. Dan itu membuat Libra merasa tak bisa meraba perasaannya sendiri.
Masuk ke dalam mobilnya, Libra menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Mencengkram erat stirnya, kemudian dengan memantapkan hati dia mulai menyalakan mesin mobilnya. Melirik di depan pintu rumah Virgo, ternyata lelaki itu masih setia berdiri di sana. Menjalankan mobilnya, memencet klakson untuk berpamitan kepada Virgo, kemudian dia keluar dari halaman rumah Virgo untuk kembali pulang ke rumahnya. Dia akan memikirkan lagi apa yang Virgo katakan kepadanya barusan.
*.*
Virgo masuk ke dalam kamarnya dan langsung mendapatkan sorakan dari teman-temannya. Padahal Virgo menganggap jika mereka sudah tidur dan mungkin saja dia tak akan mendapatkan pertanyaan tentang Libra. Sayangnya semua itu tak terwujud karena mereka semua masih terjaga dan bahkan mata mereka tak menunjukkan rasa kantuk sama sekali.
“Gue kira kalian udah tidur.” Virgo berjalan santai ke arah ranjangnya dan naik ke atas sana. “Gue ngantuk sumpah. Kalau kalian mau tidur sini, jangan berisik. Paling enggak hargai orang yang sedang sakit.” Sok sekali memang manusia satu itu. Jika teman-temannya tak mengingat jika tadi Virgo mengeluh jika kepalanya terasa sakit, maka entah barang apa yang akan melayang ke kepala lelaki itu.
“Harusnya lo kasih tahu tentang lo sama Libra.” Sam tak sabar untuk megetahui apa yang sebenarnya terjadi antar Virgo dan Libra. Karena dia juga sedang mendekati teman Libra juga.
“Gue serius ngantuk. Kepala gue masih agak berat. Besok kapan-kapan gue cerita, tapi jangan sekarang.” Penolakan halus itu diberikan Virgo untuk mengelak. Kepalanya memang masih sakit, itu memang benar, tapi untuk menceritakan kronologi kejadian apa yang melatar belakangi terjadinya hubungannya dengan Libra yang tiba-tiba dekat, mungkin itu tak akan terjadi.
Tanpa merasa perlu berbicara panjang lebar lagi kepada teman-temannya, dia menarik selimut, memeluk guling, kemudian dia memejamkan matanya. Membuat semua temannya mendengus dan menyumpah serapahi Virgo.
“Kalau nggak ingat kalau dia temen gue, sahabat kita, udah gue lempar dia dari lantai atas sini ke bawah.” Sam sudah mulai tak sabar sepertinya dengan sikap seenaknya Virgo. Sedangkan Virgo yang mendengar itu hanya tersenyum dalam diam tanpa ada yang mengetahuinya.
Tak lama, teman-temannya ikut tidur tak beraturan yang terpenting mereka berada di atas ranjang dan tak tidur di bawah. Mengetahui jika teman-temannya sudah tidur, Virgo membuka matanya dan tersenyum melihat itu. Mereka sudah berteman sejak kelas satu dan mereka sudah seperti keluarga satu sama lain.
Masih dengan berbaring, lelaki itu mengambil ponselnya dan menyalakan benda itu. Mengetikkan sesuatu di layar ponsel tersebut dan mengirimkannya kepada Libra.
Virgo – Udah sampai rumah? Jika di hitung waktu tempuh antar rumahnya dan rumah Libra yang memang tak terlalu jauh itu seharusnya gadis itu sudah sampai dengan selamat di rumahnya.
Menunggu balasan chat dari Libra, Virgo menatap langit-langit kamar sambil pikirannya melayang kemana-mana. Entah apa saja yang dia pikirkan, tapi sepertinya dia asyik sekali dengan itu. Suara notifikasi chatnya terdengar dan dia langsung membukanya.
Libra – Baru sampai. Baru mau masuk ke rumah. Virgo tersenyum membaca itu, dan dia kembali membalas pesan tersebut.
Virgo – Masuk! Tanda seru itu menandakan jika balasan yang diberikan itu adalah perintah. Hal itu membuat Libra di sana mendengus, namun sedetik kemudian dia tersenyum. Tak langsung membalas chat itu, Libra lebih dulu masuk ke dalam rumah, dan langsung naik ke lantai dua rumahnya untuk ke kamarnya.
Libra – Aku udah di dalam kamar, kenapa kamu belum tidur? Udah malam, dan kamu sakit pula. Harusnya kamu udah menikmati alam mimpi.
Mereka saling membalas pesan bahkan sampai larut malam. Tak menyadari jika waktu sudah mengharuskan jika seharusnya mereka harusnya sudah beristirahat.
*.*