
“Kasih balonnya ke kakak, Dek.” Aksa meminta putranya yang sejak tadi asyik dengan balon pinjaman itu untuk mengembalikan kepada
pemiliknya. Matahari sudah semakin panas dan keluarga kecil itu akan segera meninggalkan taman.
“Ndak!” penolakan itu memang sudah Avez katakan sejak tadi karena begitu asyiknya bocah itu bermain.
“Kita beli sendiri nanti di sana.” Bujuk Love kepada bocah itu. Yang tak mendapatkan jawaban dari putranya. “Dek!” tegas Love. Sayangnya, Avez justru membawa balon itu berlari sambil tertawa seolah dia tak sedang
ditegur.
Dan itu membuat orang tua muda itu menghela napas panjang bebarengan. “Keras kepala.” Begitu kata Aksa. Lelaki itu berdiri dan melangkah untuk menggendong bocah itu secara ‘paksa’.
“Kasih ke kakaknya, Dek.”
“Ndaaaak.” Suara itu lantang sekali terdengar di telinga Aksa yang membuat lelaki itu menggelengkan kepalanya.
“Udah, Mas, bawa aja. Lagian kakaknya masih ada lagi kok.” Itu adalah suara ibu dari anak yang meminjami Avez balon.
“Tidak, Bu. Dia harus mengembalikan barang yang sudah dipinjamnya.” Tolak Aksa tegas. Dia tak ingin putranya nanti menjadi lelaki
yang tak bertanggung jawab. Mungkin untuk sebagian orang, hal itu wajar dilakukan oleh anak-anak seusia Avez ini, tapi bagi Aksa dan Love hal itu bukan hal benar.
“Kita beli, Oke.” Ditatapnya mata bocah itu dengan tegas oleh ayahnya. “Kasihkan ke kakak.” Meskipun tangis itu sebentar lagi akan
keluar karena peringatan itu, tapi dia tetap memberikan balon tersebut kepada pemiliknya.
“Terima kasih, Kakak. Bilang!” Love yang berbicara.
“Acih.” Bilang Avez menuruti sang bunda, yang mau tak mau membuat orang tuanya tersenyum, pun dengan ibu-ibu di sana yang sedang menjaga anak-anak mereka.
“Umur berapa, Mbak?” itu pertanyaan dari salah satu ibu-ibu.
“Dua tahun, Bu.” Tak lupa Love memberikan senyum kepada mereka.
“Aduh, gantengnya itu loh.” Komentar ibu yang lainnya. Yang ditanggapi biasa oleh Love.
“Kami permisi dulu ya, Ibu-ibu.” Pamitnya kepada mereka. Avez sudah tak mood lagi untuk tertawa karena mainannya ‘diambil’ paksa oleh
ayahnya. Kedua tangannya sudah melingkari leher Aksa sedangkan wajahnya cemberut. Bahkan ketika orang tuanya meminta Avez untuk melambaikan tangannya saja, bocah itu menolak dan menimbulkan kekehan dari ibu-ibu di sana.
Aksa dan Love kemudian berjalan untuk meninggalkan taman tersebut dengan Avez yang masih berada di gendongan ayahnya.
“Mau sarapan nggak?” Love yang menawarkan. Di luar taman memang tak sedikit pedagang yang berjualan di sana.
“Beliin balon Avez dulu.” Tanggap Aksa. Lelaki itu tak mau putranya itu murung. “Adek mau balon?” Aksa mendongakkan kepala Avez untuk bisa melihat wajah putranya itu. Memberikan tatapan lembut agar dia tahu jika ayahnya tak lagi ‘memarahinya’.
Anggukan itu diberikannya untuk sang ayah. “Cium dulu kalau begitu.” Begitu ‘tantang’ Aksa.
Avez mecium pipi sang ayah dengan memanyunkan bibirnya. Setelah itu dahi, hidung, dan bibir sang ayah. Dan terakhir, bocah itu tersenyum sambil mengatakah, “tdah.” Seperti yang selalu dia lakukan ketika
selesai mencium orang tuanya.
“Avez anak baik kan?”
“Ya.”
“Avez anak sholeh kan?”
“Ya.”
“Avez anak pintar kan?”
“Ya.”
“Avez anak siapa?”
“Nda.” Dan seketika bola mata Aksa berputar ketika mendengar jawaban anak itu. Bahkan Love menyeringai karenanya. Avez memang selalu menjawab hal yang sama ketika ditanyai seperti itu.
“Kalau nggak ada ayah, mana bisa Nda mu itu hamil.” Gumamnya yang membuat Love terkekeh geli.
“Balonnya satu, Mang.” Mereka sudah berada di depan penjual balon keliling dan membelikan balon bergambar tayo untuk Avez. Avez yang
melihat itu bahkan meronta dari gendongan ayahnya agar lelaki itu bisa menurunkannya.
“Yayo, Yah.” Begitu kata Avez sambil menatap ke atas di mana balon itu melayang-melayang. Dia memegangi talinya dengan erat sambil tertawa senang.
Gigi-gigi susunya terlihat rapi ketika tersenyum. Tampan sekali.
“Siapa yang beliin, Dek?”
“Ayah.” Kini giliran Aksa yang menyeringai di depan istrinya.
“Padahal itu kan bunda yang beliin, Dek.” Love tak terima dengan jawaban putranya. “Pakai duit bunda.” Lanjutnya lagi.
“Adek mau jalan ya?” Aksa menggandeng bocah itu dan berjalan lambat untuk melanjutkan perjalanan. Tak menghiraukan Love yang mendumel. Seperti ada hukum tak kasat mata yang Avez ciptakan untuk menjawab pertanyaan. Seperti itu tadi contohnya.
*.*
Acara libur kerja kali ini dilanjutkan keluarga kecil itu untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Meminta Aksa untuk menemani
istrinya ke mall adalah hal yang sangat sulit, karena itu, ketika Aksa menawarkan diri untuk pergi ke sana, tanpa berpikir Love langsung mengiyakan.
“Kamu mau makan apa?” mereka sampai di mall tersebut sekitar pukul dua siang, jadi mereka memilih mengisi perut mereka terlebih dahulu baru nanti akan berbelanja.
“Ayam bakar, sambelnya halus sama sambel iris ya, Mbak.” Jawab Love dengan mata masih meneliti buku menu. “Kentang goreng, bakso bakar, cah kangkung. Minumnya jus jeruk dua sama air mineralnya jangan lupa. Oh, iya,
ayam bakarnya dua porsi.”
“Ayam bakarnya ini satu ekor loh, Buk.”
“Kalau begitu satu porsi saja.” Senyum Love muncul sedikit
untuk pramusaji yang melayaninya sebelum dia pergi untuk membawakan pesanannya.
“Adek makan kentang goreng ya.” Love memainkan jari-jari Avez yang berada di depannya dengan dipangku oleh Aksa. Restoran tersebut memang menyediakan kursi untuk anak-anak, tapi Aksa belum mulai makan, jadi
membiarkan Avez tetap berada di pangkuannya.
“Silahkan.” Makanan yang dipesan tengah diantarkan oleh pramusaji.
“Terima kasih.” Jawab Love. Avez sudah dipindahkan ke kursi anak, dan mereka mulai menyuapkan makanan ke mulut mereka, menikmati makanan tersebut dengan suka cita.
Sesekali Love mengambilkan lauk itu untuk Aksa dan mengobrolkan hal-hal ringan. “Enak mana sama masakanku, Yang?” Love bertanya dengan ringan sambil menatap lelaki di depannya itu serius.
“Aku lebih memfavoritkan masakan kamu.” Aksa lugas sekali mengatakan itu.
“Aku tanya enak mana?” selalu melenceng dari pertanyaan, begitulah Aksa.
makannya tanpa bertanya banyak hal.
Suara bisik-bisik tak jauh dari kursi Love dan Aksa terdengar oleh istri Aksa tersebut. Mencoba memasang pendengarannya dengan
baik, Love mencoba mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
“Aku aja mau jadi yang ketiga.” Telinga Love memang cukup tajam untuk masalah yang seperti itu. Love paham siapa yang sedang gerombolan perempuan itu bicarakan.
“Gue kayaknya pernah lihat istrinya deh.” Sahut salah satu dari mereka. Love menatap kearah suaminya dan mendapati lelaki itu tengah asyik menyantap makananya. Dengan berpura-pura menatap sekeliiling, Love mencoba mencari tahu siapa yang mereka bicarakan.
Dan tepat, gerombolan perempuan itu sedang membicarakan suaminya. Terlihat dari tatapan mata mereka mengarah di mana suaminya berada. Bahkan ketika salah satu dari mereka tak sengaja menatap Love, mereka langsung
berpura-pura menunjuk kea rah lain.
Dengan menampilkan seringaiannya yang jelas tak diketahui oleh siapapun, Love sudah memantapkan tekatnya untuk melabrak mereka jika mereka berani maju mendekat. Baginya ini adalah sebuah peperangan. Dan tak ada
kalah di kamusnya, begitulah pikirnya.
“Ayah mau tambah lagi?” selain memanasi mereka, Love juga memang serius menanyakan itu kepada sang suami. Karena lelaki itu terlihat sekali menikmati makanannya.
“Kenyang, tapi kok pengen lagi, Yang.” Begitu jawab Aksa dengan santai. “Takutnya nanti nggak enak lagi kalau tambah lagi.” Lanjutnya.
“Dibungkus aja kalau gitu, nanti kalau pengen lagi tinggal diangeti.” Tawar Love. Aksa menatap putranya yang sedang asyik dengan kentang gorengnya. Kemudian beralih menatap istrinya kembali.
“Nggak lah, habis ini masih muter lagi. Berat-beratin aja.” Putusnya. Dan telinga Love masih mendengar jika meja di sampingnya itu sedang ‘mengomentari’ Aksa.
“Avez udah selesai, kita bayar.” Otak Love sebenarnya sudah berasap karena perempuan-perempuan itu, tapi dia berusaha bersikap elegan seperti biasanya. ‘Aku kan bukan kaleng-kaleng’ begitulah isi otaknya.
“Biar aku yang bayar, kamu bersihin wajah Avez, sekalian aku mau ke toilet.” Aksa langsung berdiri dan berjalan menuju kasir, dan diikuti salah satu dari perempuan yang sedari tadi merumpikan lelaki itu. Mata Love
menatap, namun pura-pura tak tahu. Dia mengambil ancang-ancang untuk bisa melompat
lebih jauh, dan perempuan itu akan tahu siapa istri dari lelaki yang di incarnya itu.
*.*
“Meja nomor lima.” Aksa menjawab ketika kasir restoran tersebut bertanya akan membayar makanan untuk meja nomor berapa. Dan lelaki itu memberikan kartu debitnya kepada kasir
dan menunggu selesai melakukan transaksi.
Selesai dengan itu, Aksa berbalik untuk meninggalkan kasir untuk pergi ke toilet ketika dia dengan tak sengaja menabrak orang. “Maaf.” Katanya sambil mencoba menolong perempuan tersebut. Dan tentu saja itu disengaja.
“Hati-hati dong, Mas jalannya. Saya jatuh ini.” Perempuan itu seolah berdesis karena kesakitan. Perempuan itu memang menabrakkan diri di meja tak jauh darinya.
Dan atas dasar kemanusiaan, Aksa kembali meminta maaf meskipun dia merasa tabrakannya tak terlalu keras. “Saya benar-benar minta maaf.” Aksa menatap perempuan itu dengan tulus dan bersungguh-sungguh meminta maaf.
Tapi sayangnya perempuan itu bersi keras untuk tetap tak mengatakan penerimaan maaf Aksa dan memandangi lelaki itu dengan pandangan jengkel. Dan semua itu hanya alibinya saja, karena dia memang sedang menikmati wajah tampan di depannya.
“Kalau memang ada yang terluka, akan saya bawa anda ke rumah sakit untuk berobat.” Aksa ingin segera menyelesaikan masalah ini.
Kembali berpura-pura menatap Aksa sinis, perempuan itu berbalik untuk meninggalkan Aksa dan menjalankan rencana keduanya. “Aduh,” kembali berdesis dan memegangi kepalanya.
“Mari saya antar ke rumah sakit.” Meskipun tak semua orang pengunjung memperhatikan adegan tersebut, tapi tak sedikit juga hal itu menjadi perhatian.
“Mata saya berkunang-kunang dan kepala saya berat. Kenapa dada anda keras sekali sampai berdenyut sekali kepala saya.” Acting yang luar
biasa sekali memang.
Aksa bukannya bodoh dengan apa yang terjadi sekarang, tapi dia tak ingin dianggap brengsek dan membiarkan orang terluka karena ‘ulahnya’. Dia ingin kembali bersuara ketika istrinya sudah berdiri di depan perempuan itu
dengan menggendong Avez.
“Jadi apa mau anda sekarang?” Love menatap perempuan itu dengan santai namun tak main-main. “Suami saya sudah meminta maaf dan beretikat baik untuk membawa anda ke rumah sakit untuk berobat jika memang tabrakan suami saya yang tak seberapa itu membuat anda sakit kepala.” Perempuan itu meneguk ludahnya ketika Love ‘menantangnya’.
“Anda memerlukan tandu, atau mau saya panggilkan ambulance?” Love jelas tak akan berhenti sampai di sana. “Atau sekarang anda sedang menghayal jika anda di gendong oleh
suami saya seperti yang ada di film-film?” sinis Love.
“Saya bukan orang yang suka bertele-tele. Katakan keinginan anda dan kita sudahi saja masalah ini sampai di sini.” Aksa belum ingin
mengatakan sesuatu dan membiarkan istrinya itu berbuat sesukanya.
“Saya tidak memerlukan itu semua.” Jawab perempuan itu. “Tapi lain kali, tolong jangan sembarangan kalau berjalan agar tidak ada orang lain yang mengalami seperti saya.”
“Apa perlu saya putar rekaman yang saya ambil tadi?”
Diserahkan Avez ke gendongan ayahnya dan dia siap ‘berperang’.
“Sejak tadi anda sedang membicarakan suami saya dengan gerombolan anda. Anda pikir saya tidak tahu? Setelah suami saya berdiri untuk
membayar, anda ikut berdiri dan menabrakkan diri anda ke suami saya ketika dia akan berbalik. Mata saya masih cukup bagus hanya untuk melihat drama murahan anda.” Rahang Love mengetat dan menatap perempuan itu tajam.
“Anda salah mangsa, Nona. Karena saya nggak akan tinggal diam kalau suami saya mendapatkan masalah hanya karena masalah receh seperti ini.” Love membuka dompetnya dan mengeluarkan lembaran-lembaran uang merah.
“Apa ini cukup?” katanya mengangkat uang itu di depan wajah perempuan tersebut. “Saya rasa, kepala anda memang membutuhkan rumah sakit untuk diperiksa, kalaupun bukan karena benturan dari dada suami saya, mungkin
saja kepala anda perlu di perbaiki. Otak anda sepertinya memang sudah bergeser dari tempatnya.” Di letakkan uang tersebut di atas meja dan menarik Aksa untuk segera keluar dari restoran tersebut. Meninggalkan suasana riuh dari orang-orang di sana.
Dan juga perempuan tersebut yang sedang mengepalkan tangannya. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, perempuan itu ikut keluar untuk
mengejar Love yang belum berjalan lebih jauh. Setelah dekat, dicekalnya tangan Love sampai ibu Avez itu berbalik dengan paksa.
“Anda benar-benar keterlaluan.” Uang itu dilemparkan di lantai oleh perempuan itu dan membuat Love tak kalah geram. Dia sudah berusaha untuk meredam kekesalannya, dan perempuan itu ternyata memiliki nyali yang
cukup tinggi.
“Saya bukan orang serendah itu, Nona.” Lanjut perempuan itu. “Ya, saya memang menyukai suami anda. Awalnya saya hanya akan menarik
perhatiannya saja, tapi sayangnya anda bertindak menyebalkan. Jadi saya
putuskan, saya akan membuat semua ini menjadi rumit.” Perempuan itu menatap
Aksa dengan terang-terangan. Kemudian pergi begitu saja dari hadapan Love sebelum Love kembali berbicara dan mendebatnya.
Seperti halnya perempuan tadi yang ditinggalkan dengan menahan malu dan sakit hati, pun dengan Love sekarang. Dia juga merasakan hal yang sama. Jengkel dan juga sakit hati. Perempuan mana yang tak merasa marah jika suami yang dicintainya dengan terang-terangan diincar oleh perempuan lain.
“Nggak perlu dipikirkan.” Aksa mencoba untuk meredam kemarahan Love dengan memeluk pinggang istrinya dan mencium pelipis wanita itu. “Mencintai kamu adalah mutlak. Dia, atau siapapun yang akan membuat kerumitan
dalam kehidupan kita, perlu berusaha keras untuk itu. Dan sekeras apapun usaha mereka, tak akan mampu memisahkan kita.”
“Itu adalah nyata.” Bisiknya di telinga Love. Kemudian pergi dari sana setelum seseorang memberikan uang yang di ambilnya dari lantai dan menerimanya.
*.*