
“Masa dia bilang dia nerima aja kalau dia dijodokan, Mas.” Love sudah menatap Aksa sepenuhnya dan dia ingin mendapatkan timbal balik dari apa yang dia katakan. Kali ini Love tak ingin suaminya mengabaikannya seperti sebelumnya.
“Lalu?”
“Ya kalau dia nggak mau ya bilang aja nggak mau, kan begitu memang hukum alamnya. Mana bisa dia diam tanpa perlawanan begitu.” Kini Aksa menatapi strinya dengan kening mengkerut mungkin merasa tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan tersebut.
Menempelkan telapak tangannya di dahi Love seolah mengukur suhu tubuhnya, Aksa berkomentar. “Nggak panas.” Katanya. “Tapi kok kamu ngaco sih, Yang?” Dan ucapan itu belum berakhir karena dia masih melanjutkan. “Ada apa dengan, Love?” Dan reaksi Love sungguh sangat berlebihan denganitu, karena perempuan itu langsung menggigit tangan Aksa yang mendapatkan desisan dari lelaki itu.
“Kamubeneran KDRT ya, Yang?” Bukanpelototantajam yang diberikan, hanyalirikansebal yang Aksaberikankepadaistrinya.
“Makanya, bisanggaksihkamuituresponnyabagusandikit, akuiniseriusloh.”
“Lah emang aku nggak serius? Aku serius banget loh ini.” Begituringan sekali jawaban lelaki itu. “Udahlah, ayo tidur, ngantuk pula aku.” Logat Medan keluar dari bibirnya dan langsung membaringkan tubuhnya ke Kasur.
Keinginan Love untuk membicarakan masalah Virgo sepertinya harus terpending terlebih dahulu karena suaminya yang tak mau diajak kompromi sama sekali. Tapi tentu saja itu hanya terpending, bukan failed. Love akan mencari cara lain untuk membahas masalah ini lagi nanti jika suaminya sudah menemukan keberadaan keseriusan yang dimilikinya.
Matahari kembali menampakkan kegagahannya di atas sana. Artinya siang sudah kembali menggantikan tugas sang malam. Masih seperti sebelumnya, suasana rumah Love yang begitu lengang terdengar suara-suara kedua anaknya yang entah sedang membahas sesuatu. Love sedang asyik dengan dunianya sendiri dan hanya melihat kedua anaknya sedang bermain bersama.
Tak lama setelahnya Virgo datang masih dengan tas yang disandang di pundaknya. “Hai, adik-adik abang.” Begitu sapanya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Love melihat itu hanya mendengus saja tanpa mengatakan apapun.
Melihat saja tingkah Virgo yang langsung ikut duduk di dekat Ixy dan menggoda bocah itu. “Adek, gambar abang coba.” Ixy yang sedang mencoret-coret tinta di atas kertas bergambar oran-orang itu menatap Virgo tanpa menjawab.
“Nggak.” Setelahnya jawaban itu keluar. Kembali menekuni pekerjaannya tanpa lagi mempedulikan Virgo.
“Vez, pengen jalan-jalan nggak?” kini beralih menatapa Avez yang sedang asyik dengan robot mainannya.
“Nggak, Bang.” Berbeda dengan Ixy yang hanya menjawab seadanya, Avez lebih ramah. Keinginan untuk menggoda Ixy seolah begitu besar. Maka dengan tangan jailnya, Virgo menyembunyikan pensil warna tanpa sepengetahuan pemiliknya.
“Yang warna hijau kemana?” itu adalah pertanyaan yang ditujukan oleh Ixy untuk dirinya sendiri. “Abang tahu pensil warnaku nggak?” Bukan Virgo yang ditanyai oleh Ixy, tapi Avez.
“Nggak, kan ada di sana tadi.” Avez mecoba untuk ‘menyadarkan’ adiknya jika sedari tadi tak ada yang bergerak seincipun dari meja barang-barang Izy tersebut.
“Tapi nggak ada, Bang.” Ixy meyakinkan Avez jika barang yang dicarinya memang tidak ada di tempatnya.
“Bang Virgo tahu?” Kini Avez yang bertanya kepada Virgo yang sok tak mengerti apapun.
“Kok Avez tanya abang, abang kan baru datang. Ya nggak tahu lah.” Namun hal itu dipatahkan oleh Ixy.
“Pasti Abang yang sembunyiin,” Ixy sudah menatap sempurna ke sampingnya dimana dia bisa melihat Virgo dengan jelas.
“Kok nuduh abang sih, Dek?” Drama Virgo sepertinya benar-benar maksimal diperankannya. “Itu namanya pencemaran nama baik, Dek.” Dan Love yang tahu semuanya hanya mendengus. Perempuan itu sudah hapal sekali dengan kelakuan Virgo, mana mungkin Ixy tahu masalah pencemaran nama baik kan?
“Tapi nggak ada, Bang.” Keluhan Ixy kembali keluar karena dia tak bisa melanjutkan mewarnai.
“Mau beli sama abang?” Penawaran itu kembali keluar dari bibir Virgo. Dia memang kalau mengajak ‘adik-adiknya’ itu pergi ke luar tak pernah ke tempat yang jauh. Paling-paling ke mini market di depan komplek atau ke toserba besar tak jauh dari sana.
“Nggak mau.” Penolakan itu tak main-main dikatakan oleh Ixy. “Bunda!” Ixy berdiri dan bermaksud mengadu kepada ibunya. Bocah itu berlari untuk segera mengatakan apapun yang disimpannya di dalam hati.
“Pensil warna adek nggak ada Bunda yang warna hijau.” Duduk di dekat Love dan menyenderkan tubuhnya di sana. “Tadi ada padahal.” Adunya lagi dengan nada sedih.
“Pakai crayon aja kalau nggak ada, Dek. Kan Adek ada crayon.”
“Nggak mau, Bunda.” Tolaknya. “Crayon jelek.” Ixy memang memilih pencil warna dibandingkan crayon jika mewarnai, karena hasil dari pensil warna lebih bagus menurutnya.
Mata Love melototi Virgo yang cengengesan, karena Ixy bisa saja mengangis jika barang yang dimilikinya hilang. Tapi dasarnya Virgo yang bebal atau cenderung tak peduli, hanya mengedikkan bahunya tak acuh.
“Bunda.” Rengek Ixy. “Mau pensil warna yang hijau.” Begitu katanya.
“Coba Adek cari lagi.” Hibur Love dengan sabar. “Siapa tahu sudah ada lagi kan di kotak pensil Adek.” Karena Ixy tahu benda itu tak ada di tempatnya, maka dia hanya menggelengkan kepalanya. Dan tak lama menangis sesenggukan. Dan sekali lagi, pelakunya adalah Virgo.
Maka dengan sebal, Love berkacak pinggang dan melototi Virgo. “Balikin!” Titahnya kepada remaja tersebut. Perempuan itu menahan lidahnya agar tak mengatakan hal buruk meskipun dia kata-kata itu sudah berada di ujung lidahnya. Dia hanya tak ingin anak-anaknya mendengarkan kata-kata buruk. Bisa dibantai Aksa dia kalau sampai itu terjadi.
“Udah, Adek balik lagi mewarnainya ya. Pensil Adek udah kembali.” Virgo sudah mengembalikan pensil tersebut dan Love melihatnya. “Jangan nangis lagi ya. Adek itu nggak boleh cengeng, nanti orang jadi suka godain Adek.” Love memeluk putrinya dan menghapus air mata Ixy yang masih ‘membanjiri’ wajahnya.
Setelahnya Ixy kembali ke kegiatannya semula meskipun masih cemberut. Tapi melihat pensil warna yang dicarinya kembali ke tempatnya, dia melebarkan matanya. “Iya, Bunda, udah ada lagi.” Sambil dengan senyum lebarnya.
“Kalau gitu ayo jalan-jalan sama abang.” Melihat senyum Ixy yang lebar membuat Virgo mencoba peruntungannya.
“Mau es krim.” Ixy menatap pria itu dan sepertinya hatinya sudah menerima permintaan Virgo.
“Oke.” Virgo semangat. “Ayo.” Ajaknya dengan suka cita. “Vez, ayo kita jalan-jalan.” Virgo tentu tak akan melupakan adiknya yang satu itu. Tak ada dari mereka yang melupakan tugasnya setelah melakukan aktifitas mereka, kedua anak-anak itu membereskan apapun yang baru saja dipakainya.
Virgo menunggu dengan duduk di dekat Love. “Kakak mau apa?” Itu adalah penawaran, dan Virgo akan membelikan yang diminta oleh Love.
“Apa ajalah yang penting kamu iklas beliinnya.” Jawaban itu membuar Virgo mencibir.
“Bahasa Kakak berat sekali untuk ku cerna, ada kalimat yang lebih ringan nggak? Biar aku nggak pusing mengartikannya.” Dan geplakan itu langsung didapatkan Virgo di kepalanya.
“Udah sana pergi, jaga adiknya baik-baik.” Itu adalah kalimat yang sama yang diucapkan oleh Love ketika Virgo mengajak kedua anaknya.
“Hem.” Sambil menjawab, pria itu berdiri dan segera keluar bersama Avez dan Ixy setelah kedua bocah cilik itu berpamitan kepada ibunya.
*.*
Bukannya Ixy dan Avez tak pernah ke sana, tapi bagi anak-anak seperti mereka, wahana permain seperti itu adalah kebahagiaan. Virgo memotret gambar mereka sebagai kenangan. Nanti akan dicetaknya dan di tempel ke sebuah album foto.
Zaman kuno? Tentu tidak, hal seperti itu memang masih dilakukan oleh Virgo, bahkan Love juga melakukannya. Dokumentasi itu perlu.
“Abang, mau naik itu.” Ixy yang meminta dengan menunjuk ke sebuah kolam yang ada kapal-kapal di dalamnya. “Boleh?” Inilah yang membuat Virgo tergila-gila dengan Ixy, bocah itu pintar sekali mengambil hati orang lain dengan tatapan matanya. Jika dia memiliki keinginan, dia tak akan sungkan memberikan tatapan super lembut dengan banyak harapan di sana. Setidaknya begitulah apa yang di pikirkan oleh Virgo.
“Sama Bang Avez ya?” Tak mungkin Ixy dibiarkan naik wahana itu seorang diri. Meskipun kolam itu tak dalam, tapi didampingi oleh orang yang lebih besar dirasa penting baginya.
“Vez!” Avez yang baru saja menaiki mobil kecil mendekati kedua orang tersebut. “Avez temeni adek naik perahu ya?” Avez tak langsung mengangguk sebagai jawaban karena dia menginginkan yang lain juga.
“Vez!”
“Avez mau naik itu, Bang.” Bocah itu menunjuk motor balap berukuran kecil. “Boleh, Bang?”
“Temeni adek dulu, baru nanti Avez boleh naik itu.” Senyuman lebar langsung terlihat di bibir bocah itu.
“Oke. “ Katanya sambil membuat bentuk O dengan jarinya. “Ayo, Dek.” Avez menggandek adiknya dan diikuti oleh Virgo di belakang untuk membeli tiketnya.
Inilah yang disukai oleh Virgo ketika dia keluar dengan kedua bocah itu. Meskipun kadang repot dengan permintaan keduanya, tapi dia sangat menikmati. Dia belum pernah merasakan hal tersebut sebelumnya. Selalu berkumpul dengan sahabat-sahabatnya dan merasakan kesenangan untuk dirinya sendiri.
“Hati-hati ya, Avez jaga adiknya.” Virgo benar-benar berperan seperti kakak yang sesungguhnya dan itu sangat menyenangkan sekali menurutnya.
Dengan menunggu mereka selesai menaiki perahu, dia lebih memilih pergi sebentar untuk membelikan kedua anak itu minuman. Sebelumnya dia menitipkan penjaga di sana untuk mengawasi dan disetujui oleh orang tersebut.
Memilih membelikan Thai tea dengan banyak topping dan rela mengantri, Virgo benar-benar ingin sekali membuat kedua anak Aksa itu bahagia dengan keberadaanya sepertinya. Bahkan dia yang selalu malas mengantri sebelumnya dan lebih memilih untuk berpindah ke tempat lain saja kini dia melakukan hal tersebut.
“Virgo!” Itu jelas panggilan dirinya, tapi otaknya memilih mengabaikannya dan mengatakan jika mungkin saja itu adalah Virgo lain, bukan dirinya. Apalagi setelah tak ada panggilan kedua untuk dirinya, dia benar-benar mengabaikan hal tersebut.
“Virgo!” Kini si pemanggil menghalangi jalannya ketika Virgo sudah berada di luar antrian dan mendapatkan pesanannya. “Aku tadi panggilin kamu.” Virgo menatap orang di depannya dengan santai.
“Libra?” Seolah dengan menyebutkan nama tersebut ada keraguan besar. Kemudian matanya menatap ke samping gadis itu. Ada teman-teman gadis itu juga.
“Iya. Kamu sama siapa?” Pertanyaan itu di layangkan oleh Libra setelah melihat tangan Virgo yang membawa tiga gelas Thai tea.
“Sama adek.” Dan jawaban itu menimbulkan kernyitan dahi oleh Libra.
“Adek?” Keheranan tentu saja.
“Iya. Aku pergi dulu, mereka pasti akan cari aku nanti.” Menganggukan kepalanya sebagai sapaan kepada Libra dan teman-temannya, dia pergi dari sana. Tak mempedulikan jika kalau seandainya di kepala Libra penuh dengan tanda tanya besar dan banyak.
Virgo tahu jika ketika dia sampai di sana nanti, kedua anak tersebut pasti belum turun dari kapal. Tapi dia harus sampai di sana sebelum mereka mencari dirinya. Dia bertanggung jawab dengan apapun yang terjadi dengan Avez dan Ixy.
Dia tak menyadari jika Libra dan gerombolannya mengikuti dirinya dari belakang dengan diam-diam. Mungkin mereka, khususnya Libra ingin tahu siapa teman yang di bawa oleh Virgo.
Virgo menunggu Avez dan Ixy selesai dan memberikan minuman yang tadi dibelinya kepada kedua anak tersebut. “Gimana, seru nggak?”
“Seru, Bang.” Semangat Ixy menjawab dan mendapatkan kekehan dari Virgo. “Habis ini giliran Bang Avez yang naik, adek sama bang Virgo ya?” Lagi-lagi Ixy mengangguk.
“Iya, Bang.” Sepertinya Ixy jug sudah kelelahan karena sedari tadi begitu aktif naik wahana satu ke wahana yang lain.
Mengantarkan Avez menaiki motor yang sedari tadi ingin di jajalnya, Virgo dan Ixy hanya menunggu di luar garis. Motor yang dinaiki Avez tentu dengan keamanan yang cukup tinggi, jadi Virgo tak terlalu khawatir.
“Adek capek ya?” Melihat Ixy tak mengatakan apapun sejak mereka duduk, membuat Virgo merasa jika perlu mengajak bocah itu mengobrol agar tak tertidur di sana.
“Iya.” Jawaban itu bahkan terdengar lemah sekali. Elusan di kepala Ixy diberikan oleh Virgo.
“Tahan dulu ya, tunggu abang selesai, setelah itu kita pulang.” Kemudian Virgo mencoba terus mengajak Ixy berbicara agar bocah itu tetap terjaga. Tapi sayangnya itu tak terjadi, karena nyatanya Ixy tetap menutup kedua matanya karena tak bisa menahan kantuk.
Virgo menghela napas dan menggelengkan kepalanya. “ Pasti.” Gumamnya seorang diri. Karena tak ingin melihat Ixy yang terjatuh dari kursi, dia berdiri dan mengangkat adiknya itu ke dalam gendonganya. Mengecup rambur Ixy dengan sayang dan menunggu Avez selesai bermain. Membawa bocah itu berjalan dengan pelan kesana kemari, terkadang menggoyangkan tubuhnya agar Ixy tak terbangun.
“Udah, Bang.” Avez datang dengan raut puas di wajahnya. Bocah itu menatap di dalam gendongan Virgo kemudian berkomentar. “Adek tidur, Bang?”
“Iya, kita pulang ya.” Avez jelas tak akan menolak. Apalagi melihat adiknya yang sudah kelelahan seperti itu. Dan waktu juga semakin sore, mereka harus segera pulang kalau tidak mau mendapatkan omelan dari Love.
Sampai di pelataran parkir, Virgo kebingungan dengan situasi yang dialaminya sekarang. Dia tak mungkin membawa Ixy dalam keadaan tidur dengan motor besarnya. Sedangkan jika dia membiarkan Ixy duduk di tengah dengan diapit oleh dirinya dan Avez pun ada kemungkinan-kemungkinan yang dia takutkan.
*.*
Hai, Ges. I’m back. Yoopo kabare, Rek?
Untuk percobaan seri 1 diluncurkan, berarti saya masih melanjutkan ngetik seri-seri lainnya. Dan sekedar informasi aja, kalau di part ‘seri’ ini bukan melulu tentang Aksa dan Love, tapi tentang Virgo dan Libra. Sebenarnya kisah mereka itu kan emang udah end, kalau saya teruskan dan mencari problem, konflik, atau apapun itu istilahnya, endingnya jadi nggak bagus dan ‘rasa’ dari kisah mereka menjadi nggak menarik lagi.
So, kalau memang berkenan silahkan di baca, kalau tidak, silahkan di tinggalkan.