
“Kita sudah menjalin hubungan selama beberapa bulan ini, awalnya hubungan kami baik-baik saja, tapi istrinya tahu dan Aksa mengelak kalau kami punya hubungan.” Kegeraman yang di rasakan Love sudah sampai ubun-ubun rasanya. Ingin sekali dia benar-benar membunuh perempuan ular tersebut dan memberikannya ke sarang buaya.
Inginnya dia mengumpat tapi ditahannya mati-matian karena sang suami ada di sebelahnya. Love tak ingin Aksa geram kepadanya dan memarahinya, meskipun sekarang dia adalah orang yang paling ingin marah dibandingkan siapapun.
Tak ada lagi yang ikut campur masalah mereka kali ini, karena para orang tua sudah angkat tangan ‘membujuk’ seorang Aksa.
“Kami, maksudku, aku dan Love bertemu di kantor Aksa dan perempuan itu menganiaya saya.” Ditujuknya wajahnya dengan jarinya. “Aku ditamparnya sampai sakit sekali rasanya.” Entah berapa chanel televisi yang
menayangkan masalah tersebut. Karena ketika Love mengganti chanel, pasti wajah Windy yang terlihat dengan wajah sok tersakitinya.
Layar televisi tiba-tiba gelap. “Kalau menonton itu menjadi kamu naik darah, lebih baik dimatikan.” Aksa santai sekali dengan pemberitaan yang menjadikan nama baiknya tercemar. Bahkan ketika banyak orang menghujatnya
dan mengatakan jika dia adalah lelaki brengsek dan tak tahu malu, atau kata-kata lain yang benar-benar buruk melayang untuk dirinya, dia sama sekali tak mengambil pusing.
Love pergi begitu saja tanpa menjawab ucapan sang suami. Dia benar-benar terbakar sekali rasanya di kepalanya. Apalagi melihat Aksa yang tak peduli sama sekali, dia semakin geram saja dibuatnya.
“Tidur.” Aksa ikut naik ke atas kasur dan menarik tangan Love agar perempuan itu bisa dipeluknya.
Love menolak dan menatap lelaki itu marah. “Jadi sampai kapan berita busuk ini akan, Mas, biarkan bergulir begitu saja?” Aksa tak jadi berbaring dan balas menatap istrinya dengan tajam.
“Jangan buat pertengkaran ketika aku sedang capek, Yang.” Itu adalah peringatan yang biasanya akan dipatuhi oleh sang Love. Tapi kali ini berbeda, karena Love justru mengeluarkan semua unek-uneknya.
Diawali dengan mengalinya air mata kelemahan Aksa yang di keluarkan oleh netranya, dia terus menatap suaminya dan berbicara. “Aku sedih, kamu tahu itu. Aku benci ketika kamu harus mendapatkan nama buruk hanya karena
perempuan tak berharga seperti dia.” Air mata itu terus mengalir dan diusapnya dengan kasar.
“Kenapa tidak kita akhiri saja semua ini, Yang. Kita nggak pernah tahu apa yang akan perempuan itu lakukan lagi kepada keluarga kita. Jadi bisakah Mas segera keluar ke public dan membalas perempuan itu?” Aksa memejamkan matanya dan menarik napas dalam. Dia benci dengan air mata yang keluar dari mata sang istri.
“Oke.” Katanya mengalah. Diusapnya air mata Love dengan kedua ibu jarinya. “Kamu mau menemui media lebih dulu?” kening Love mengkerut menandakan jika dia belum paham. Kemudian Aksa mengatakan apa saja yang harus dilakukan oleh istrinya itu esok hari. Dan ketika perempuan itu setuju, keduanya tersenyum dan menunggu esok hari untuk mulai membereskan masalah tersebut.
*.*
Dengan ditemani oleh Damar, Love berjalan dengan pasti di Akeda’s Palace. Di sana sudah ada wartawan yang menunggu. Mereka langsung menghujaninya dengan flash kamera. Avez tentu tak bersamanya. Dia tak ingin
putranya masuk ke dalam media dengan pemberitaan yang tidak-tidak.
“Terima kasih sudah mau menunggu.” Awalnya dengan duduk cantik dengan wartawan mengelilinginya. “Saya ditemani oleh sekertaris suami saya. Dan jangan diberitakan yang tidak-tidak. Karena suami saya yang meminta
sendiri kepada beliau untuk menemani saya.” Lanjutnya lagi. “Saya akan berbicara terlebih dahulu dan kalian boleh bertanya setelah saya selesai bicara. Bisa dimengerti?” semua wartawan mengangguk dan mengatakan iya sebagai persetujuan.
“Jika ucapan saya terpotong karena pertanyaan kalian, saya akan sudahi semuanya.” Itu adalah aturan yang tidak boleh ada yang melanggarnya. Love sudah menunjukkan penguasaannya terhadap situasi ini, dan mereka harus menyetujui. Itu adalah mutlak.
“Saya akan mengkonfirmasi dan menanggapi tentang masalah yang sekarang ini sedang terjadi dan menjadikan heboh. Kami ini bukan selebritis, suami saya juga bukan actor yang seharusnya masalah seperti ini tak harus diberitakan di televisi, karena nggak ada faedahnya sama sekali.” Semua wartawan yang menyorot Love mendengarkan dengan seksama.
“Kenapa saya tidak ditemani oleh suami saya? Karena suami saya harus bekerja. Waktunya terlalu berharga hanya untuk masalah sepele seperti ini.” Wajah Love yang terlihat sangat cantik itu seolah membius semua orang. Mereka benar-benar memfokuskan kamera mereka di mana Love berada.
“Aksa Arion Ganendra, tidak pernah berselingkuh atau bermain wanita di belakang saya. Tidak pernah.” Ucapan itu tegas dan tajam sekali di lontarkan oleh Love. “Saya mengenal lama suami saya. Tidak hanya satu atau dua tahun saja, tapi sudah bertahun-tahu. Saya paham bagaimana karakternya dan bagaimana tipe perempuan yang disukainya.” Seringaian itu tercetak jelas di wajah cantik Love setelah mengatakan kalimat itu.
“Dan dalam kasus ini, seorang perempuan yang bernama Windy, sudah mengaku tengah menjalin hubungan dengan suami saya? Sepertinya dia sedang bermimpi di siang bolong. Tidak ada bibit buruk dari diri Aksa, meskipun saya sudah nggak lagi cantik, Aksa tetap akan menerima saya.” Berhenti sejenak.
“Jadi, kejadian di kantor suami saya waktu itu adalah rekayasa dia saja. Dia yang melemparkan dirinya untuk mendapatkan luka itu. Karena maaf saja, suami saya tak akan mengijinkan saya untuk mengotori tangan
saya hanya untuk perempuan seperti dia.” Setiap kalimat yang Love keluarkan seolah sangat berharga dan berbobot menurut si pemburu berita.
“Penjelasan saya selesai, dan silahkan jika mau bertanya.” Dan kemudian semua orang itu seolah berlomba-lomba untuk menanyakan apapaun yang membuat rasa penasaran mereka terjawab.
“Jadi, sebenarnya apa modus dari Mbak Windy melakukan ini?” pertanyaan dimulai
“Anda salah alamat kalau menanyakan itu ke saya. Tanyakan langsung ke orangnya.”
“Anda percaya sekali dengan suami anda, bagaimana kalau dia benar-benar berselingkuh?”
“Saya percaya karena dia adalah suami saya. Seperti yang saya bilang tadi, saya sudah mengenal lama suami saya.” Love sebenarnya malas meladeni orang-orang itu, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah memutuskan untuk
segera menyelesaikan masalah ini.
“Bagaimana tanggapan suami anda dengan masalah ini?”
“Santai saja. Suami saya tidak pernah menanggapi hal-hal receh seperti ini dan dijadikan beban hidupnya.”
“Bagaimana hubungan anda dengan PaK Aksa setelah ada masalah seperti ini?”
“Kenapa anda mempertanyakan hal pribadi seperti itu kepada saya?” Tatapan Love tak biasa dan mata perempuan itu menatap tajam. Mengendalikan emosinya, Love melanjutkan ucapannya.
“Hubungan kami baik-baik saja. Tidak ada yang berubah.” Dia tak ingin terpancing emosi. “Saya kira sudah cukup konfiramasinya. Terima kasih.” Kemudian tanpa menunggu mendapatkan persetujuan dari siapapun, dia berdiri dan meninggalkan tempat itu untuk masuk ke dalam ruangan lain di mana dia sudah ditunggu oleh seseorang.
Love langsung melemperkan dirinya di tubuh sang suami ketika sudah masuk ke dalam ruangan tersebut. Iya, Aksa memang berada di sana namun tak ada dari para wartawan yang tahu.
“Aku butuh di sayang-sayang sekarang.” Katanya manja dan benar-benar menempelkan wajahnya di dada Aksa.
Tak banyak kata, Aksa memeluk lebih erat lagi dan mengecuk pelipis istrinya itu. “Love sekali kalau ngomong kayak gitu.” Seolah akan ditinggal lama oleh sang suami, Love semakin menengelamkan wajahnya di dada suaminya, semakin erat.
Aksa mendongakkan wajah istrinya dan langsung mencium perempuan itu dalam. Merasa jika memang dia benar-benar merindukan perempuan itu. Mereka memang berada di dalam satu tempat, satu rumah, setiap hari pun
bertemu, tapi karena masalah itu mereka menjadi renggang beberapa hari ini.
“Aku kangen sama kamu.” Mereka kembali berpelukan dan Aksa menenggelamkan wajahnya di pundak istrinya.
“Tapi Ayang harus segera ke kantor. Damar udah nunggu. Si kampret itu minta hadiah jalan-jalan ke Batam katanya.”
“Nggak usah dengerin. Minta di kepret emang itu orang.” Begitu kata Aksa tak mempedulikan apa yang temannya itu inginkan. Bukannya dia tak mau menuruti permintaan Damar, tapi lelaki itu tahu jika Damar memang mudah
sekali di sogok dengan hal lain.
*.*
Konfirmasi yang diberikan oleh Love tak serta merta langsung membuat media dan pandangan orang lain terhadap ‘kasus’ ini semakin meredam. Justru karena Love keluar dan memberikan konfirmasi tersebut, berita itu semakin melebar dan mengkotak-kotakkan untuk membentuk kubu. Ada yang mengatakan jika Love terlalu sombong, ada yang mengatakan jika Love terlalu percaya diri, namun lebih banyak yang membelanya. Hei, disini Windy dan Aksa lah yang salah seandainya gossip itu memang benar, karena itu, Love mendapatkan pembelaan terbanyak dari orang-orang melalu komentar-komentar netizen tentu saja.
Bahkan sebuah media memunculkan berita tentang orang tuanya beberapa tahun yang lalu, dimana sang ayah yang digoda oleh perempuan lain dan sang ibu yang dengan santainya ‘membabat’ habis perempuan tersebut dengan caranya sendiri.
“Kalau dia masih bersi keras mengatakan yang tidak-tidak, aku yang akan menghadapi mereka.” Aksa tentu tak mau jika Love terus memikirkan masalah ini. Karena perempuan itu bahkan makan tak teratur. Pasca Love muncul
ke public, Windy gencar mengatakan jika apa yang dikatakan oleh Love adalah kebohongan.
“Aku tegar kok.” Dalihnya kepada sang suami. “Sebenarnya di sini aku yang menjadi korban, kenapa dia yang seolah tersakiti. Bangga banget jadi pelakor.” Begitu jawabnya dengan santai. Aksa menggelengkan kepalanya
mendengar ucapan sang istri tanpa menanggapi kembali.
Windy memang tak pernah lagi muncul di kantor Aksa, tapi seolah dia adalah selebriti papan atas, dia selalu berseliweran di layar televisi. Dan itu membuat Love malas untuk menyalakan televisi miliknya. Dia mengatakan yang tidak-tidak dan terus berkoar jika dia adalah pihak yang tersakiti.
Dan sayangnya, Windy tak hanya melibatkan Aksa dan Love. Dia membawa-bawa nama Avez dalam masalah mereka. “Aku tahu kalau ini memang nggak adil buat Love, tapi aku pun udah deket sama Avez. Dia akan menjadi korban untuk masalah ini.” Aksa mencengkram ponsel yang digenggamnya membaca tulisan di berita online yang tak sengaja muncul di ponselnya.
Itu adalah ucapan Windy beberapa saat lalu ketika seorang wartawan meminta komentarnya terkait berita perselingkuhan antara dirinya dengan Aksa. Dan mungkin inilah yang akan membuat lelaki itu murka. Dia akan diam saja ketika dia yang mendapatkan umpatan dari orang lain karena berita bohong tersebut, tapi tidak dengan membawa putranya yang bahkan tak tahu apa-apa.
Dengan memberi tahu istrinya untuk datang ke kantornya, dia akan menyelesaikan ini sampai ke akar-akarnya. Dia tak akan lagi mengampuni perempuan itu meskipun Windy bersujud di kakinya.
Bukan hanya Love saja yang datang, tetapi orang tuanya dan mertuanya juga datang ke sana. Mereka semua memang diam, tapi tetap memantau berita tersebut.
“Aku akan menyelesaikan masalah ini.” Aksa menatap satu per satu orang-orang di sana. Dan menatap lama ayahnya. “Ayah, maaf, karena aku mengulur waktu untuk masalah ini. Aku mungkin akan membiarkan ini tetap
bergulir seandainya dia nggak membawa nama Avez.” Aksa merasa tak enak hati kepada ayahnya karena dirinya, perusahaan mengalami penurunan.
“Ayah selalu mendukungmu sejak dulu dan selalu mempercaiyaimu. Ayah tahu jika kamu memiliki caramu sendiri untuk menyelesaikan masalahmu. Kalau memang kamu ingin membuat masalah ini segera selesai, selessaikan
lah sampai tak ada yang tersisa. Begitu kan cara mainnya?”
Aksa mengangguk. “Iya, aku paham.” Kemudian dia beralih menatap mertuanya. “Saya benar-benar meminta maaf kepada Papa sudah membuat Love bersedih.” Marvel tak mengatakan apapun.
“Bukan karena saya tidak peduli dengan masalah yang timbul dan tak memikirkan hati Love, tapi saya merasa hal seperti ini memang bukan hal yang sebenarnya perlu dipikirkan. Nyatanya saya salah, saya diam justru membuat
perempuan itu senang dan terus mengatakan yang tidak-tidak.” Aksa menumpahkan isi hatinya dan merasa menyesal dengan semua hal yang terjadi.
Setelahnya, Aksa di temani dengan Love memberikan konfirmasi lewat video yang dibuatnya sendiri melalui social media.
“Selama ini saya diam dan memilih untuk tak menanggapi apapun yang sedang perempuan itu tuduhkan kepada saya, tapi sepertinya keterdiaman saya disalah gunakan. Anda bisa menghujat saya dan memfitnah saya.
Tapi tidak dengan putra saya yang bahkan tidak mengerti apapun. Tolong tarik kembali ucapan anda, atau saya akan benar-benar membalas apa yang anda lakukan kepada saya dan keluarga saya. Saya tunggu permintaan maaf anda satu kali dua puluh empat jam.”
Hanya seperti itu saja Aksa berbicara, tak banyak tapi mengena. Tipe Aksa sekali. Dia memang memilih untuk mengatakan itu lewat video karena dia tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi hanya karena perempuan
yang bahkan dia hanya mengenalnya sekilas saja.
“Ayang yakin dia akan meminta maaf?” Ruangan Aksa hanya tinggal Love saja karena para orang tua sudah meninggalkan tempat itu. Avez sudah tertidur dengan pulas di ranjang kecil yang disiapkan oleh Aksa jika
putranya ke kantor.
“Kalau memang dia nggak mau minta maaf, apa yang akan Ayang lakukan untuk membalas perempuan itu? Membuat keluarganya bangkrut kah?” Aksa mencubit hidung istrinya.
“Kebanyakan baca buku CEO sang penguasa begitu tuh.” Katanya yang mendapatkan kekehan dari Love.
“Mana ada, aku bacanya hot CEO menarik hatiku.” Bual Love. Tapi sayangnya Aksa percaya saja.
“Ada ya judul begitu?” dengan ekspresi yang sangat serius.
“Bercanda elah. Jadi, Ayang mau balas dia kayak apa?” Aksa menatap depan dengan bibir tertutup rapat.
“Biasa aja sih balasnya, nggak sespektakuler yang dibayangkan kok.” Jawabnya yang mendapatkan dengusan dari sang istri.
*.*