
Virgo menghubungi Libra agar istrinya bisa menyusulnya di restoran tempatnya makan. Virgo sudah bekerja di markas yang pernah dia katakan waktu itu. Mereka semua sudah bekerja di tempat yang memang seharusnya digunakan untuk bekerja.
Virgo dan teman-temannya memang sekarang masih kuliah dan sudah mengajukan skripsi. Memang kesibukan itu bertambah tapi semuanya menikmati kegiatan mereka. Obrolan mereka sekarang bahkan selalu berakhir membicarakan tentang pekerjaan. Sepertinya memang tak ada lagi main-main. Virgo dan teman-temannya fokus dengan perusahaan yang diciptakan Virgo dan dimana mereka juga sedang bekerja di sana.
Libra memang kadang juga masuk bekerja, namun kadang juga tidak harus hadir jika tak ada hal yang harus diurus. Tere sudah ikut bergabung karena memang semakin banyak ide untuk menciptakan sebuah aplikasi, maka hal itu akan semakin baik.
Libra datang di restoran dengan si kembar. Perempuan itu sudah terbiasa dengan membawa kedua anaknya sendirian ketika keluar. Dan sekarang pun begitu, dia tak mengajak baby sitternya.
“Udah aku pesankan.” Virgo menarik kursi yang ada di sampingnya karena di depannya ada teman-temannya yang juga sedang makan.
“Kalian sama Uncle.” Sam berdiri dan menggandeng si kembar. Untuk sekarang ini, kedua bocah itu sudah akrab dengan sahabat-sahabat ayah dan ibunya. Restoran seafood yang didatangi mereka memiliki aquarium besar dan di dalamnya ada banyak sekali jenis ikan. Bukan untuk di masak tentu saja, tapi untuk menjadikan sebagai hiasan saja.
Sam menunjukkan berbagai jenis ikan itu kepada si kembar dan disambut dengan tatapan antusias dari keduanya. Sam terkekeh ketika Al El terlihat bersemangat ketika menunjuk ikan-ikan dengan telunjuk kecilnya.
“Ucle, itaan.” El dengan menggemaskannya menunjukkan salah satu ikan berwarna merah sambil terpekik.
“Warna apa, Dek, ikannya?” tanya Sam
“Bilu.” Dengan sok tahu Al yang menjawab.
“Tuning.” El ikut menjawab. Dan itu benar-benar membuat yang melihatnya gemas dibuatnya. Bahkan ada seorang ibu-ibu yang sambil makan menggoda bocah-bocah itu.
“Itu warnanya merah.” Sam ikut berjongkok dengan kedua tangannya memeluk pinggang dua anak tersebut.
“Melah.” Jawab keduanya bersamaan. Mereka kembali menelusuri aquarium besar itu. Sam tak menghentikan langkah kaki El yang berlari. Selama dia masih bisa memantau, dia tak akan menghalau pergerakan bocah itu.
Senyumnya terlihat ketika sepertinya bocah itu sedang mengobrol sok asyik dengan salah satu pengunjung. El memang sering seperti itu. Karenanya Sam membiarkan saja.
“Kemana El?” Virgo yang datang dan bertanya kepada Sam yang sedang menunggu Al.
“Biasa, ngobrol sok asyik sama bapa-bapak itu.” Katanya menunjuk El yang tak jauh dari mereka, “Tenang aja, udah gue pantau.” Katanya sambil mengerling kepada Virgo.
“Gue juga mantau,” menunjukkan ponselnya dan mendengarkan apa yang sedang diobrolkan oleh El dan orang asing tersebut. Al El memang sudah terhubung dengan ayah dan ibunya selama dua puluh empat jam penuh lewat sebuah jam tangan kecil yang dipakai oleh dua bocah itu.
Mungkin sekilas akan terlihat jika jam tersebut adalah hanya sebuah aksesoris saja, tapi tentu tidak.
“Biar gue ambil, kita udah mau balik.” Virgo meninggalkan Sam.
“Adek!” panggilnya kepada El yang kini sudah duduk di dekat lelaki yang sejak tadi mengajaknya mengobrol.
Senyum bocah itu terlihat, “Ayah!” katanya sambil merentangkan tangannya untuk meminta gendong.
Virgo ikut tersenyum kepada salah satu bapak-bapak yang ditatapnya, “Maaf, putri saya mengganggu pertemuan anda.” Mendengar suara Virgo, lelaki yang sejak tadi menanggapi El lebih banyak dari yang lainnya memutar tubuhnya sambil tersenyum, namun senyum itu langsung hilang ketika melihat Virgo.
Virgo juga tak menyangka jika hari ini dia akan bertemu dengan lelaki yang selama tiga tahun ini tak pernah dikunjunginya lagi. Tapi tentu saja suami Libra itu tak akan menutup mata dan mengabaikannya begitu saja.
“Om,” sapanya, dan berekspresi seolah tak terjadi apapun, “Adek tadi ngobrol sama siapa?” beralih kepada putrinya, Virgo bertanya kepada putrinya.
“Tatek.” Jawab El menyebut panggilan kepada Ardi, kakek, karena memang bocah itu belum jelas pelafalannya, jadilah terdengar aneh di telinga orang.
“Cantik sekali lho anaknya.” Orang yang satu meja dengan Ardi berbicara, “Saya juga sudah pengen cucu, tapi anak saya masih belum menikah.” Lelaki itu terkekeh. Mengabaikan Virgo yang tadi memanggil Ardi dengan panggilan, Om.
“Terima kasih, Pak.” Virgo menjawab.
“Tapi sepertinya kamu masih muda.” Lanjut yang lain melihat wajah Virgo yang memang tak bisa berbohong.
“Iya, Pak, saya memang menikah muda.” Jawabnya, “Dan tak perlu menunggu lama, Allah sudah kami rezeki yang luar biasa.” Sambil mengedikkan kepalanya ke arah Al yang masih sibuk melihat ikan, “Disana itu abangnya,” jelas Virgo lagi yang membuat semua orang tak terkecuali Ardi juga menoleh.
“Kembar?” tanyanya dengan mata melebar.
“Iya, satu paket komplit.” Dan lelaki yang bertanya tadi menggelengkan kepalanya.
“Luar biasa.” Bahkan senyum kebanggaan juga diperlihatkan. Sedangkan Ardi sejak tadi memang hanya diam saja terpaku melihat hal itu.
Lalu kenapa dia tak mengenali jika El adalah cucunya? Maka pertanyaannya adalah karena selama beberapa tahun ini dia tak lagi bisa menjadi stalker. Dia sama sekali tak bisa mengakses social media dari Libra maupun Virgo. Lalu dia kemudian tak peduli dengan mereka, dan kembali bertemu hari ini.
“Pak Ardi kok diam saja sejak tadi, bukannya yang paling semangat tadi Pak Ardi waktu lihat si cantik ini?” celetukan temannya, membuat Ardi terdiam. Dikeluarkannya senyum canggung.
“Enggak, tiba-tiba badannya nggak enak.” Diliriknya El yang nyaman sekali di gendongan ayahnya.
“Kalau begitu kami pamit dulu, Pak. Harus balik bekerja.” Kata Virgo dengan sopan, “Salim dulu sama kakek, Dek.” Dan El yang tanpa diminta dua kali langsung menyodorkan tangan kecilnya ke depan Ardi. Virgo menyadari jika mertuanya itu gemetar. Dan bukan hanya Virgo saja yang melihat Ardi gemetar karena teman-temannya juga melihatnya, bahkan salah satunya berceletuk,
“Pak Ardi sepertinya memang sedang tak enak badan, tangannya gemetar lho,” dan dikatakan dengan wajah yang serius.
“Sepertinya Bapak memang butuh istirahat,” tangkap Virgo. Dia tak lagi memanggil Ardi dengan sebutan Om.
“Tatek istilahat.” Dan entah kenapa El juga mengatakan itu dengan mata bulatnya dan wajah yang menggemaskan menirukan ucapan sang ayah. Membuat orang-orang yang ada di satu meja dengan Ardi terkekeh gemas.
Melanjutkan berpamitan dengan yang lainnya, El berjabat tangan. Kemudian diakhiri dengan ‘bye-bye, Tatek’ sambil memberi ciuman jarak jauh kepada semuanya. Barulah Virgo benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan Ardi yang terpaku tak bisa berkutik.
*.*
Keluar dari ruang kerjanya, dia berjalan menuju ruang keluarga dan mendapati sang istri di sana sambil melakukan panggilan video terlihat dari ponsel perempuan itu yang diletakkan di depannya agar wajahnya bisa terlihat.
Samar-samar terdengar panggilan cadel dari seseorang. Duduk di samping Jihan, barulah dia mendengar percakapan antara istrinya itu dengan seseorang.
“Memang adek udah makan?” pertanyaan istrinya itu diberikan tanggapan dari seberang sana berupa jawaban,
“Cudah, Oma. El, mamam sama telul.” Ardi meneguk ludahnya pelan mendengar suara bocah yang dia duga pasti cucunya.
“Abang Al mamam sama telul juga?” jihan kembali bertanya namun pertanyaan itu ditujukan pada Al yang ada di sebelah adiknya. Menirukan bahasa cadel cucunya.
“Iya, Oma.” Jawabnya dengan sibuk dengan mainan di tangannya. Agak lama Jihan melakukan sambungan panggilan video, dan Ardi diam-diam mendengarkan dengan seksama. Bahkan ketika sang istri sudah selesai saja dia tak menyadarinya.
“Kenapa belum tidur?” Jihan bertanya ketika melihat sang suami yang duduk dengan tenang namun pandangannya terlalu kosong.
“Belum ngantuk.” Jawabnya sambil menoleh kepada sang istri, “Telpon sama siapa?” hanya berpura-pura saja sebetulnya lelaki itu bertanya.
“Oh, biasa, sama cucu-cucuku. Kangen.” Jawaban itu keluar begitu saja dari bibir Jihan, “Aku ke dalam dulu, ngantuk.” Tanpa menunggu Ardi menjawab, Jihan pergi dari ruang keluarga. Meninggalkan Ardi yang masih terpaku dalam diam.
Dalam diam pikiran Ardi melayang memikirkan sesuatu. Tentang bagaimana Virgo yang sekarang ini sudah berhasil dalam usahanya menciptakan sebuah aplikasi baru yang sedang digandrungi oleh masyarakat. Dia sama sekali tak pernah mencari tahu tentang rumah tangga putrinya bersama Virgo dan memilih abai saja.
Tapi setelah kembali dipertemukan selama beberapa tahun ini tak bertemu, rasa penasaran itu muncul tak tanggung-tanggung di dalam hatinya. Keinginan kuat untuk mengetahui hal itu begitu besar.
‘Ini tidak benar,’ itu adalah kata hatinya menolak pemikiran untuk mengetahui lebih banyak tentang rumah tangga Virgo dan Libra.
Yang pernah dikatakan Virgo kepada Libra waktu itu memang benar, Ardi bisa menolak Virgo berkali-kali, tapi lelaki itu sama sekali tak bisa menolak cucu-cucunya. Dan sekarang terbukti jika pertemuan pertama setelah beberapa tahun tak bertemu membuat Ardi kelimpungan dibuatnya.
Kembali pada rumah tangga kecil Libra dan Virgo. Setelah Al dan El bertatap muka melalui layar ponsel bersama Oma nya, dua bocah itu menguap berkali-kali karena kantuk. El naik ke pangkuan ibunya sedangkan Al hanya memberengut karena adiknya lebih dulu mendapatkan pelukan Libra.
“Adek! Sini, Nak.” Libra sudah tahu tabiat dua anaknya itu. Mereka akan iri satu sama lain jika tak sama-sama mendapatkan pelukan yang sama baik dari ayah atau ibunya.
Tak banyak kata, Virgo yang tahu pasti sebentar lagi putranya akan merajuk, maka dia mengangkat Al dalam gendongannya dan menepuk-nepuk punggung bocah itu dengan pelan. “Al ini abang apa adek sih?” membawa Al agak menjauh dari Libra dan El, ketika dia memberi pertanyaan itu kepada Al.
“Aban.” Jawabnya. Baik Virgo dan Libra memang selalu memanggil dua bocah itu dengan panggilan adek karena tak ingin keduanya merasa dibedakan.
“Abang? Jadi adeknya abang siapa?”
“El.” Begitulah cara Virgo menghibur putranya untuk melupakan rasa iri yang mungkin sekarang ini masih tersimpan di dalam hatinya.
“Oke, sekarang abang Al bobok ya,” diajaknya Al kesana-kemari agar bisa segera tertidur karena memang waktu sudah malam. Dan memang sepertinya pelukan seorang ayah adalah salah satu kenyamanan yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun.
Bahkan Al saja langsung tertidur dengan nyaman di pelukan Virgo.
Virgo tak membahas masalah pertemuannya dengan ayah mertuanya lagi dengan Libra. Mereka membiarkan saja semua berjalan sesuai dengan ketentuan yang sudah Tuhan tetapkan untuk mereka terkait dengan hubungan mereka bersama sang ayah.
Libra memang sudah tahu tentang pertemuan tersebut setelah Virgo menceritakan kepada perempuan tersebut. Tapi Libra tak terlalu mengambil pusing akan hal tersebut. Apalagi di tengah padatnya jadwalnya yang membuatnya harus lebih fokus pada apa yang ada di depannya.
“Laper banget ya?” seperti sekarang ini misalnya, banyak tugas yang harus dikerjakan sampai dia merasa lapar di perutnya begitu luar biasa. Belum lagi kalau memikirkan anak-anak dan suaminya, dan rasanya dia seperti tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
“Iya. Rasanya pengen makan banyak aku, Yang.” Ditemani Virgo makan di kantin kampus, Libra benar-benar berselera sekali makannya.
“Tambah kalau gitu.” Kedua anaknya sekarang sudah tak lagi meminum asi karena usia mereka memang sudah dua tahun lebih, karenanya Libra menghetikan asupan asinya dan digantikan dengan susu formula.
“Tapi rasanya udah rada penuh lho, Yang.” Sifat kekanakan Libra seperti sekarang ini sepertinya masih melekat di diri perempuan itu. Dia memang kalau sudah berhadapan dengan kedua anaknya terlihat dewasa sekali, tapi jika berhadapan dengan suaminya, seolah sifat bocahnya muncul semua ke permukaan.
“Mau makan apa lagi? cilok?”
Libra seketika menatap Virgo dan setelahnya tersenyum, “Mau.” Tak perlu menyogok Libra dengan makanan mahal, karena Virgo hanya perlu mengiming-imingi perempuan itu dengan cilok dan kawan-kawannya saja sudah luar biasa senangnya.
Hari ini mereka memang bisa berpacaran kembali di kampus tanpa gugup pulang karena anak-anaknya. Karena kedua anaknya memang sudah berada di tangan Sintya dan itu membuatnya lega.
Virgo dan Libra duduk di bawah pohon sambil memakan jajanan yang baru saja dibelinya di minimarket kampus. Angin yang bertiup membuat kedua orang itu menikmati kebersamaan mereka.
“Nggak ada laporan apa-apa sih, Yang, dari Mama.” Disela mengunyahnya, Libra memainkan ponselnya dan mengungkapkan keheranannya.
“Berarti mereka baik-baik aja. Nggak perlu khawatir.” Virgo dengan santai menyenderkan punggungnya ke pohon sambil menatap Libra yang sejak tadi tak hentinya mengunya.
“Kamu memang harusnya butuh waktu menikmati hari kamu kok, Yang.” Virgo yang melihat Libra sekarang seperti melihat Libra yang seperti tak pernah menikmati hidup saja.
“Aku udah menikmati hidupku, kok. Emang dinikmati kayak apa lagi,” lirikan Libra yang menyebalkan seperti itu membuat Virgo terkekeh.
“Me time. Belanja, salon, jalan-jalan sama temen-temen, apa aja yang bisa bikin kamu keluar sebentar dari rutinitas kamu.” Libra menelan makanan yang dikunyah, meminum minumannya, dan kemudian menatap Virgo.
“Nanti kalau kamu udah punya banyak duit. Usaha aja masih belajar, udah mikirin habisin duit suami. Nggak baik, dosa nanti aku.” Entengnya berbicara. Yang mendapatkan elusan sayang di pipinya dari Virgo.
*.*