Blind Love

Blind Love
BAB 7



“Lo minta gue jodohin lo sama Jono?!” seruku tak habis pikir. “Jodoh itu di tangan Tuhan, Cilla. Bukan di tangan lo apalagi gue.”


“Justru kita pacaran supaya tahu orang itu jodoh kita atau bukan. Kalau dari awal udah tahu siapa jodoh kita, ya gak akan ada orang yang gonta-ganti pasangan.” Sebuah penuturan cerdas yang tak kuduga dilontarkan seorang Cilla. Aku sampai bertanya-tanya, sejak kapan anak itu kembali menggunakan otaknya untuk berpikir logis?


Akhirnya kuungkapkan alasan yang sebenarnya. “Gue males berurusan sama Jono. Dia makhluk yang paling mungkin tega membunuh gue.”


“Dia kakak lo, Xa.” Cilla mengingatkan seolah aku lupa silsilah keluargaku sendiri. “Mau sampai kapan lo musuhin dia terus?”


Karena bukan peramal, aku mengangkat bahu tak acuh. “Selamanya, mungkin.”


“Intinya, lo mesti bantuin gue. Gue pengin mengakhiri masa jomblo gue secepatnya.”


“Usaha sendiri kalau gitu. Bukannya lo Ratu SKSD? Masa sekarang lo mendadak gak berani ngedeketin Jono tanpa bantuan gue?”


“Ratu SKSD?” Cilla memicingkan matanya. “Lo bilang gue ratu SKSD?”


Cilla mendengus dengan mata nyalang, membuatku sadar telah salah bicara. Dalam gerakan tak terduga, tangannya mulai beraksi mengobrak-abrik tempat pensilku. Pensil, bolpoin, penghapus, rautan, penggaris, pin, dan benda-benda kecil di dalam sana kini berceceran di atas lantai. Jika ia bukan Cilla, sudah kuremukkan tubuhnya tanpa ampun.


“Jahat banget sih, lo!” Ia menatap terluka. Mau tak mau hati kecilku mengiba. “Ngasih julukan sebegitu buruknya. Lo sama sekali gak ada perhatian buat gue. Apa gue gak punya arti lain di mata lo selain sebagai teman sebangku?”


Aku menggeleng. “Lo berarti buat gue kok, Cil. Maka dari itu, gue gak mungkin tega ngejerumusin lo dengan cara ngejodohin lo sama si Iblis.”


“Lo tega!” seru Cilla tak terima. Sekarang giliran buku-buku di atas meja belajar yang diobrak-abrik olehnya. Sekali lagi, jika ia bukan Cilla, sudah kucincang-cincang dagingnya.


Pintu kamar mengayun terbuka. Saat kepalaku menoleh, Jono sudah berkacak pinggang di sana. Lengkap dengan tampang angkernya.


Aku bergidik. Hafal betul jenis tatapan apa itu.


“LO BERDUA APA-APAAN NGEBERANTAKIN KAMAR!? BERESIN!”


Sudah kuduga ....


***


“Jadi lo suka sama gue?” tanya Jono ragu.


Aku, Cilla, dan Jono berkumpul di halaman belakang rumah sesaat setelah makhluk kejam itu menyelesaikan pidato kenegaraannya. Sementara dua cewek di dekatnya duduk rapi di atas rumput, Jono justru berbaring santai dialasi tikar.


Cilla mengangguk kencang. “Iya. Kakak juga suka, kan?”


Jono terdiam beberapa saat sampai akhirnya mengambil posisi duduk, lalu menatap Cilla. “Lo terlalu kecil buat gue.”


Muka Cilla kontan memerah. Rupanya ia salah mengartikan kata ‘kecil’ yang Jono maksud terhadap bagian tubuh tertentu. “Kan gue masih dalam masa pertumbuhan,” katanya nelangsa.


“Usia kita beda jauh, Cilla. Lo belum juga delapan belas, sedangkan gue? Walaupun muka plus kelakuan gue masih kayak remaja, usia gue nyaris dua puluh delapan.”


“Gue bisa dewasa, Kak!” Cilla bersikeras.


“Guenya yang gak bisa dewasa.”


Hening.


Sebagai penonton setia, aku hanya duduk bertopang dagu memperhatikan keduanya.


“Cilla, sebentar lagi gue harus balik ke Bandung. Tugas gue untuk menyelidiki pacar Alexa selesai sampai di sini. Mama udah setuju si jelek ini,” telunjuknya menudingku. “pacaran sama cowok cakep yang kemarin jemput dia ke sekolah. Lagian masa cuti gue pun hampir habis.”


Kabar gembira. Sebentar lagi Jono balik ke Bandung!


“Kalau emang itu yang mesti gue jalanin, gue rela LDR-an sama lo, Kak Jovan.” Suaranya mendekati histeris. Inilah emansipasi saat di mana justru cewek yang memperjuangkan cintanya, bukan cowok. “Gue bener-bener sayang sama lo. Lo juga kan? Gue bisa lihat dari tatapan mata lo. Lo gak bisa bohong sama gue.”


“Ya udah, deh. Terserah Kak Jovan aja.” Cilla akhirnya menyerah.


Drama keluarga hari ini berakhir menyedihkan. Cilla bangkit, lalu berjalan terhuyung-huyung ke dalam rumah. Aku mengikutinya dari belakang. Sementara Jono—makhluk kejam tanpa perasaan—hanya memperhatikan kepergian Cilla tanpa berusaha mengejar sama sekali.


“Suruh siapa suka sama Jono? Udah gue bilang dia itu kedaluwarsa. Seleranya tante-tante.” Aku mencoba menghibur Cilla begitu kami duduk tenang di dalam kamar. Sepertinya gagal, sebab ia malah semakin histeris. Oke, biarkan saja.


“Alexa, mestinya gue gak langsung jujur tadi. Mestinya jangan hari ini gue nyatain perasaan gue. Mestinya gue nunggu timing yang tepat. Mestinya gue pakai planing, gak dadakan kayak tadi. Kalau gitu, kakak lo pasti bakal jadi pacar gue. Tadi dia pasti terlalu kaget sampai-sampai gak bisa nerima gue. Padahal gue yakin dia suka sama gue.” Cilla mengoceh panjang lebar. Meratapi insiden bersama Jono beberapa menit yang lalu.


Bahkan di tengah kegalauan pun sikap optimis (baca: kegeeran) Cilla tetap melekat kuat.


“Pacaran sama tetangga gue aja, Cill.”


“Gue penginnya Kak Jovan, Alexa!” seru Cilla keukeuh.


Aku menguap lebar. Susah kalau sudah begini.


“Kak Jovan beneran belum punya cewek?” tanya Cilla di sela-sela isak tangisnya.


“Setahu gue sih, belum.”


“Kakak-kakak lo yang lain kapan balik?”


Aku mendongak. “Kakak gue yang lain? Mmm ... sayangnya gue gak tahu kapan mereka pulang.”


“Kakak kedua lo itu siapa namanya? Debi? Kelihatannya dia baik banget. Cuma sayang mukanya gak seganteng Kak Jovan.”


“Deri,” ralatku. “Dan dia seratus kali lebih tampan dari Jono.”


“Gue lihat di foto keluarga lo, Kak Jovan yang paling ganteng!”


Aku memandang Cilla lekat yang dibalasnya dengan berani. “Sekarang Jono emang ganteng. Tapi kalau tiba-tiba dia mengalami kecelakaan terus mukanya jadi cacat, apa lo bakal tetep suka sama dia? Apa lo gak malu jalan sama orang cacat?” tanyaku tegas.


“Apa salahnya pacaran sama orang yang kurang sempurna? Asalkan dia Jovano, gue baik-baik aja, kok,” jawabnya masih sambil terisak.


“Berarti lo tulus.”


***


Malamnya Cilla ikut dinner di rumahku. Ia belum mau pulang sebab orangtuanya masih di tempat kerja. “Gue gak berani sendirian di rumah,” katanya ketika kutanyai apa salahnya pulang sebelum mereka kembali.


Jono dan Cilla kembali bersikap normal seolah peristiwa siang tadi tidak pernah terjadi. Mereka bahkan sudah saling bertukar lelucon garing lagi. Kadang aku iri pada kepribadian tidak-tahu-malu mereka.


“Nanti mau pulang sama siapa? Gue anterin gimana?” tanya Jono sesaat setelah Cilla menyelesaikan suapan terakhirnya.


“Boleh juga. Kali aja pas jalan berdua hati Kakak bisa terbuka.”


Mama, Papa, serta Nenek menoleh serempak. Mereka meminta penjelasan maksud kalimat Cilla barusan kepada Jono.


Jono nyengir malu.


“Urusan anak muda.” Cilla yang menjawab, bukan Jono.


Mereka saling pandang, mengedipkan sebelah mata, tertawa, lalu kabur ke pintu depan.


Wah, mesti mikirin minta pajak jadian macam apa, nih!