Blind Love

Blind Love
Seri 28



Hubungan antara Virgo dan Libra memang tak ada perubahan. Beberapa kali mereka berkencan dan Virgo juga selalu datang ke rumah Libra untuk meminta ijin kepada orang tua Libra untuk membawa anak gadis mereka untuk pergi bersamanya. Tak ada yang berlebihan dari sikap kedua orang tua Libra terhadap Virgo. Mereka baik dan hanya sebatas itu.


Namun ketika Edzard yang datang ke sana dan entah apa yang lelaki itu obrolkan kepada ayah Libra dan entah keseruan seprti apa pembahasan mereka, nyatanya Virgo kalah telak dalam mengambil hati ayah Libra.


Virgo memang apa adanya. Dia tak pernah berlebihan dalam berinteraksi kepada ayah dari kekasihnya hanya untuk menarik perhatian lelaki paruh baya tersebut. Virgo wajar-wajar saja seperti apa adanya dirinya.


Seperti hari ini misalnya, Edzard dengan senyum cerianya menemui Libra dan seperti biasa mengobrol ringan kepada gadis itu. "Aku nanti boleh ke rumah kamu, Li?" Awal Edzard datang ke rumah Libra adalah ketika mereka sedang mengerjakan tugas bersama. Dia satu-satunya lelaki yang di tengah teman-teman Libra yang berjenis kelamin perempuan.


Entah apa yang membuat ayah Libra kemudian tertarik untuk mengobrol dengan lelaki itu, karena selanjutnya mereka 'klik' dan dengan terang-terangan mengatakan jika beliau lebih menyukai Edzard, meskipun tak ada bandingan yang di katakan oleh Ardi.


"Mau ngapain, Ed? Ayah nggak ada di rumah. Udah pergi lagi tadi pagi." Setelah obrolan antara Edzard dan Ardi cocok, ayah Libra itu meminta Edzard untuk datang ke rumahnya. Dan yang dilakukan kedua orang lelaki beda generasi itu adalah mengobrol, sambil bermain catur, dan tertawa-tawa. Bahkan Libra pun tak tahu apa yang mereka obrolkan, karena dia sama sekali tak berminat untuk tahu apalagi mencari tahu.


"Main aja, kata om Ardi kalau beliau pergi kerja, gue boleh main di rumah lo, sanbil jagain elo." Libra tak bisa untuk bersikap santai. Tapi dia juga tak mungkin kasar dengan lelaki itu.


"Gue nggak perlu di jagaian lho, Ed. Gue udah gede. Di rumah juga ada banyak orang. Bibi, sopir, dan satpam. Jadi kekhawatiran ayah itu berlebihan deh kayanya." Jawaban Edzard membuat Edzard terdiam. Dia tahu itu adalah sebuah penolakan yang dilemparkan secara terang-terangan di depan wajahnya.


"Lo nggak enak sama Virgo kalau gue ke rumah elo?" Edzard tentu sudah tahu kalau Libra dan Virgo sudah menjadi sepasang kekasih.


"Nggak juga sih, Virgo kan orangnya santai. Dia juga bukan tipe pencemburu." Libra mengulum senyumnya ketika mengigat Virgo. Jadi rindu kan akhirnya.


Di keluarkannya ponsel yang ada di saku baju seragamnya dan mengirimi chat lelaki itu yang entah sekarang sedang melakukan apa di sekolahnya itu.


Libra – Aku inget kamu, makanya aku chat kamu


Pesan terkirim dan bibirnya tersenyum lebar. Melupakan jika Edzard ada di sampingnya. Jengkel tentu saja di abaikan begitu saja sedangkan fisiknya masih nyata di dekatnya.


Edzard berdehem untuk mengatakan kepada Libra jika dirinya masih ada di sana dengan kondisi yang baik-baik saja. "Eh! maaf, Ed." Ada senyum canggung yang keluar dari bibirnya. Hanya di balas Edzard dengan tarikan napas panjang.


"Lo punya pacar nggak, Ed?" Sebenarnya Libra ini bodoh atau apa? Jelas-jelas lelaki yang ada di sampingnya itu sedang berusaha menarik hatinya, malah dia menanyakan hal yang seperti itu.


"Serius, punya pacar itu enak, lho. Gue aja suka." Senyum dari bibir Libra itu merekah penuh kebahagiaan. Entah karena ingin memansi Edzard atau memang itu adalah ungkapan dari dalam hati Libra sendiri.


Sebuah notifikasi terdengar dan itu membuat Libra langsung membuka layar ponselnya


Virgo – Manisnya... Nanti pulangnya aku jemput. Kita makan mie ayam biasanya.


Otomatis, senyum Libra merekah membaca itu, dan langsung membalas.


Libra – Mauuuuuuuuuuu.


Dan membuat Virgo terkekeh di seberang sana. Mereka sudah terjerat oleh yang namanya cinta. Baik Virgo maupun Libra sama-sama menikmati kebahagiaan itu.


*.*


Tidak terasa, hubungan mereka sudah berjalan setengah tahun. Meskipun ada pertengkara-pertengkaran kecil, tapi semua itu adalah bumbu penyedap untuk mengeratkan tali diantara mereka. Keduanya semakin sibuk untuk mempersiapkan ujian yang akan di laksanakan beberapa bulan lagi. Baik Libra maupun Virgo benar-benar melakukan semuanya dengan baik. Try out, Les, atau apapun yang diadakan oleh sekolah tak pernah sekalipun mereka asal-asala.


"Kamu mau kuliah di jurusan apa?" Sore ini setelah mereka pulang sekolah menyempatkan untuk berkencan karena entah sudah berapa hari mereka di sibukkan dengan try out. 'Kangen' begitu kata Libra tadi kepada Virgo, sebagi kode agar menyempatkan untuk bertemu meskipun hanya sebentar.


"Aku belum tahu. Aku bisa ambil jurusan apa aja kan? Aku jurusan Ipa sekarang." Virgo memang belum memiliki planning untuk kuliahnya nanti. "Kamu?"


"Antar hukum dan ekonomi." Libra sudah memikirkan tentang keinginannya menjadi seoarang pengacara tapi dia juga ingin mahir dalam hal bisnis.


"Mau kuliah satu kampus?" Tawar Virgo, "Mungkin itu lebih menyenangkan."


"Kamu mau kuliah di mana?" Virgo menjawab kampus yang sudah di pilihnya. Sedangkan Libra memilih kuliah di tempat lain.


"Nggak masalah kalau memang itu pilihan kamu, lagian kan kita bisa sering ketemu." Hibur Aksa agar Libra tak berkecil hati.


"Tapi, nanti jangan sampai kamu jelalatan ya matanya. Nanti tahu cewek cantik, terus di suit-suit, nggak mau aku." Kekhawatiran Libra diungkapkan kepada Virgo.


"Nggak lah, paling cuma di godain," Dan pelototan itu di berikan kepada Libra sebagai tanda jika dia tak suka.


Virgo tertawa dan merangkul gadis itu. "Selama aku punya pacar, aku nggak akan lakuin itu lah, Yang. Aku kan setia tiada tara." Katanya dengan keyakinan yang sangat tinggi.


"Bener ya?" Libra mengacungkan kelingkingnya sebagai janji jika lelaki itu tak akan pernah mengingkarinya. Seperti bocah memang, tapi apa boleh buat, Virgo hanya menurut saja.


Mereka kemudian belajar bersama meskipun keduanya berbeda jurusan. Yang terpenting adalah kebersamaan keduanya, perbedaan itu indah. Meskipun begit, kadang Libra meminta bantuan Virgo untuk mengerjakan soal yang menurutnya susah. Dan Virgo bisa melakukannya meskipun membutuhkan waktu yang agak lama.


"Virgo!" Duduk di ruang tamu Libra dengan ayah Libra di depannya adalah hal yang tidak baik. Perasaannya tidak baik namun hanya berusaha di abaikan saja.


"Kalian sebentar lagi ujian,"


"Masih empat bulan lagi, Om." Ardi mendengus karena ucapannya di potong oleh kekasih putrinya itu.


"Untuk mempersiapkan semuanya, kalian lebih baik jangan bertemu dulu." Libra yang mengambilkan minum untuk Virgo sontak saja langsung membantah.


Di letakkan minuman itu terlebih dahulu di depan Virgo, kemudian dia menjawab. "Kami bahkan selalu belajar bersama,Yah." Libra tak setuju ayahnya membuat keputusan sesuka hatinya. Selama ini dia menjadi anak yang baik dan dia tak pernah membangkang perintahnya. Toh Virgo juga tak pernah melakukan hal yang berdampak buruk bagi dirinya.


"Kamu bisa belajar sama Edzard yang satu jurusan sama kamu. Kamu bisa menanyakan apapun yang nggak kamu pahami. Virgo kan beda jurusan sama kamu." Bahkan hal kecil seperti ini saja dipermasalahkan oleh bapak satu ini.


"Ayah pada keputusan ayah," Katanya dengan tegas. "Kalian untuk sementara harus menjaga jarak. Ujian kalian lebih peting di bandingkan perasaan cinta-citaan kalian."


"Saya tahu, Om, tidak menyukai saya." Virgo tak ingin lagi menahan apapun yang di pendamnya.


Perubahan wajah Ardi kaget terlihat jelas di mata Virgo. Dia santai melanjutkan, "Saya memang bukan laki-laki baik, Om, saya juga bukan orang yang akan menutupi kekurangan saya di depan orang-orang tentang keburukan saya. Selama saya sama Libra, saya tidak pernah sekalipun melakukan hal yang akan berdampak buruk buat dia." Hanya napas yang terdengar dari ketiga orang itu.


Virgo tak lagi bersuara sedangkan Ardi seperti kepergok mengambil mangga orang lain tanpa ijin. Virgo mengangkat gelas minuman yang disajikan oleh Libra. Meminum isinya sampai habis. Meletakkan kembali setelah semua isinya berpindah ke dalam perutnya.


"Sudah malam, saya permisi dulu." Menyodrokan tangannya untuk bersalaman. Ardi menyambut tangan Virgo sehingga Virgo bisa mencium tangan lelaki itu sebagai tanda kesopanan.


Tanpa banyak kata Virgo keluar dan diikuti oleh Libra dari belakang. Melihat perdebatan kedua orang yang di sayanginya membuat gadis itu ingin sekali menangis. Tapi nanti saja mengangiskan setelah Virgo pulang. Dia tak ingin membuat Virgo terbebani.


"Aku pulang dulu ya," Virgo memakai helmnya. "Kamu masuk gih. Istirahat."


"Maaf atas apa yang ayah lakukan sama kamu." Wajah lelah gadis itu terlihat jelas dan membuat Virgo tak tega melihatnya.


"Nggak apa. Itu adalah bentuk sayang beliau ke kamu. Beliau mau kamu belajar sungguh-sungguh dan bisa lulus ujian dengan nilai yang memuaskan." Hibur Virgo. Tak mungkin juga kan dia ikut memojokkan Libra karena masalah tersebut.


"Aku pulang ya!" Menyalakan mesin motornya, kemudian meninggalkan kediaman Libra. Sedangkan Libra langsung masuk ke dalam rumah dan berbicara dengan ayahnya untuk meluruskan semuanya.


"Kenapa Ayah lakuin ini ke aku?" Mata Libra sudah berkaca-kaca. "Virgo itu bukan cowok yang buruk, Yah." Satu tetes air matanya turun. "Karena Ayah nggak mau kenal lebih dekat sama dia, makanya Ayah antipati sama dia. Ayah nggak mau memberi kesempatan diri Ayah untuk mendekat kea rah Virgo." Kini bukan lagi tetesan demi tetesan, tapi air mata itu benar-benar keluar deras dan menganak sungai di pipi gadis itu.


"Ayah sudah menyelidiki dia jauh-jauh hari," Ungkapnya terang-terangan. "Dan ayah tahu karakter dia seperti apa. Dia pembuat ulah meskipun dia pintar. Itu benar-benar sudah mengurangi penilaian di mata ayah." Libra sangat tak menyangka jika ayahnya sudah melangkah sejauh itu.


"Jadi buat Ayah Edzard yang pantas buat aku?"


"Paling tidak begitu lah penilaian ayah sekarang." Libra benar-benar tercenung dengan ucapan blak-blakan ayahnya. Dia tak mampu lagi berkata-kata.


Meninggalkan ayahnya seorang diri di ruang makan, dia pergi ke kamarnya. Otaknya tak lagi bisa mencerna apapun sekarang. Virgo pasti masih berada di jalan sekarang, dan tak mungkin dia menghubungi lelaki itu.


Bahkan kalau bisa, dia akan memendam seorang diri hal ini.


*.*


Apa yang dikatakan oleh ayah Libra waktu itu masih terngiang di telinga Virgo. Berdiri di balkon kamarnya dengan coklat hangat di tangannya dia menatap langit gelap yang tak ada satu biji pun bintang yang menghiasi. Entah kenapa dia selalu tak pernah melihat bintang ketika dia menginginkannya.


Edo – Nongkrong, GES!!!


Grup chatnya berbunyi. Mungkin teman-temannya juga sama pusingnya memikirkan ujian mereka yang bahkan masih beberapa bulan lagi itu. bukan karena memang mereka benar-benar peduli, hanya saja mereka di kejar oleh orang-orang yang mempedulikan kelangsungan kehidupan mereka. Siapa lagi kalau bukan orang tua mereka.


Rai – Lo tahu? Otak gue rasanya udah kaya Mie Sedaap. Kiriting.


Sam – Bisa nggak kita pindah ke Mars? Paling enggak di sana nggak ada ujian.


Baro – dari tadi emak gue udah kaya satpam rumah sakit, siaga 24 jam. Hebat sekali.


Sam – gue pengen nongkrong, di angkringan nggak papa deh, yang penting cari angin dulu. Otak gue butuh sate telur puyuh


Virgo tak masuk ke dalam obrolan mereka. Namun tak melewatkan satu pun chat yang terkirim untuk di baca.


Rai – Lo baca chat kita tapi nggak ikut nimbrung, MINTA DI SLEDING KOCAR –KACIR LO!


Virgo terkekeh membaca itu namun.


Virgo – mau ke angkringan? Gue traktir sampai puas


Dan tentu saja itu membuat teman-temannya berteriak kegirangan di rumah mereka masing-masing. Dan setelahnya mereka berangkat untuk melepas lelah di angkringan biasa yang sering mereka datangi. Tempat sederhana lesehan tapi nikmat dunia, makanan murah, tepat nyaman, AC alami yang segar.


Bahkan ketika teriakan membahana dari ibu mereka yang suaranya sampai ke Mars saja tak dihiraukannya.


Otak mereka benar-benar sudah panas sekali sekarang, mereka butuh hiburan. Biarlah nanti mereka akan menjelaskan semuanya kepada ibu mereka, yang penting sekarang adalah melepas penat lebih dulu.


Buku-buku yang tertumpuk di atas meja belajar mereka itu butuh sentuhan semuanya. Tulisan-tulisan beserta angka-angka di dalamnya itu akan menyerangnya nanti. Dan untuk menangkal penyerangan itu mereka butuh otak tenang dan pikiran dingin.


"Gue kangen kalian, wahai sahabat-sahabatku yang budiman." Rai datang terakhir sedangkan keempat temannya sudah menikmati sate usus ayam. Di tenggaknya bandrek entah punya siapa, wajahnya terlihat puas, "Gue akhirnya bisa sampai sini dengan selamat wal afiat. Meskipun teriakan emak gue bisa menjungkir balikkan dunia."


"Lo nggak sendirian kalau masalah itu, gue terkurung di kamar dengan buku-buku yang kalau di lemparkan ke anjing aja bisa teller." Itu kata Baro.


"Yang penting kita cari angin segar dulu, biar kita bisa melanjutkan lagi." Sam nikmat sekali makan sate telur pyuh. Entah sudah tusukan ke berapa sekarang. "Ini enak banget sih." Tanpa menghiraukan kekacauan teman-temannya dia santai saja melahap terlur tersebut.


Virgo menatap teman-temannya dalam diam. Kemudian otaknya mencerna sesuatu. Mereka saja sekarang sibuk dengan urusan sekolah, lalu kenapa dia harus galau karena sebuah percintaan? Meskipun apa yang dilakukan itu bukan kesalahan, harusnya dia bisa lebih mementingkan hal yang lebih penting.


*.*