Blind Love

Blind Love
BAB 20



“Xa, tunggu, Xa!”


Untuk kesekian kalinya sejak lima belas menit terakhir, cowok itu terus berusaha mencekal lenganku. Untung aku selalu berhasil menghindar, walau mesti lelah berlari-lari mengelilingi gedung sekolah. Belum lagi banyak mulut nyinyir yang ribut menyoraki kami. Semua gara-gara dia. Cowok sialan itu!


Set!


Sial, kali ini ia berhasil. Tangannya mencekal lenganku erat. Aku mencoba melepaskan diri, namun gagal. Ia benar-benar kuat.


“Apa mau lo? Udah cukup sandiwara lo selama ini!”


“Gue gak ngerti apa maksud lo, Xa!” Ia mencicit pasrah. “Gue heran kenapa tiba-tiba lo ngejauhin gue? Kenapa lo menatap gue penuh kebencian kayak gitu? Kenapa, Xa, kenapa? Lo ilfeel karena gue terlalu genit? Ya, sorry, Xa, sorry. Lo boleh gak suka sama gue, tapi jangan kayak gini caranya!”


Mulutku bungkam. Mataku menatap nanar.


“Lalu sandiwara apa yang lo maksud?”


“Unknown.”


Cowok itu mengangkat alisnya, bingung. Atau PURA-PURA BINGUNG. “Apanya yang tidak diketahui?”


“Lo antek-anteknya Unknown, kan?!” desisku dengan napas memburu. Sepertinya hanya tinggal menghitung detik sampai emosiku meledak.


Andre masih menunjukkan wajah yang sama. Sok polos.


“Lo terlibat dalam aksi meneror Rifa, kan?”


“Lho, kok jadi gue, sih? Ada masalah sama Rifa aja nggak.”


Nada tanpa dosanya membuat hatiku jengkel bukan main. “Gak usah pura-pura deh, lo! Lo pikir gue gak tahu otak dari semua teror Rifa itu siapa?”


“Emangnya siapa?”


Aku memejamkan mata. Menghadirkan kembali kilasan percakapanku dengan Rifa tempo hari.


“Siapa dia, Fa?”


“Itu Kevin,” jawab Rifa, menurunkan telunjuknya. “Sepertinya dia punya dendam sama keluargaku. Ini bukan kali pertama aku lihat dia tiba-tiba muncul di sekitarku.”


“Dendam?” tanyaku bingung. “Tapi Andre bilang dia udah lama …,”


“Siapa yang bilang?” potong Rifa cepat.


“Andre.”


“Andre cowok yang sering sama kamu itu?” Nadanya mulai meninggi.


Aku mengangguk. “Andre dan Kevin itu kan, adik-kakak? Terus mereka baru aja bangkrut. Jadi Kevin dapet uang dari mana untuk...”


“Jauhi Andre!” potong Rifa cepat.


“K-kenapa?”


“Kalau Kevin berbuat jahat, besar kemungkinan adiknya terlibat.”


Suaraku bergetar. “Mu … mungkinkah?”


“Kamu tahu kenapa Kevin ada di sini?” Aku menggeleng. “Tentu aja karena dia lagi membuntuti kita. Berdoa aja semoga kali ini nggak terjadi sesuatu yang buruk pada kita.”


“Kevin!” seruku, kembali membuka mata. “Tunggu aja, cepat atau lambat gue pasti bakal dapetin buktinya. Lalu lo, juga kakak lo, akan berakhir di penjara dengan hukuman setimpal.”


Ketersimaan membuat cengkeraman Andre di lenganku mengendur. Ini kesempatan. Tanpa menunggu lama, kutarik tanganku kemudian bergegas meninggalkannya.


***


Mungkin kemarin tidak terjadi apa-apa padaku dan Rifa. Tapi hari ini pasti terjadi sesuatu padanya. Sesuatu yang sampai membuat ia absen. Bahkan tasnya masih tersimpan di ruang BK—Cilla gagal menjalankan misi dariku—setelah peristiwa kabur kami tempo hari.


Sepanjang waktu, hatiku terus dilanda gundah-gulana. Dan itu bukan lantaran diriku dimarahi habis-habisan saat mengambil tas di ruang BK tadi. Aku hanya terlalu paranoid, takut Rifa kembali disakiti Kevin—sekarang ia sudah known—juga antek-anteknya.


Huh! Baru saja kemarin hidupku kembali berwarna, kenapa sekarang malah mendung lagi?


Jangankan mengerjakan latihan soal, diajak mengobrol pun otakku takkan sanggup.


“Kamu sakit, Alexa?” Tahu-tahu Bu Grace sudah berdiri di samping mejaku.


Aku melamun sejenak, lalu menggeleng lemah.


“Alexa galau gara-gara Rifanya gak masuk, Bu!” Laki-laki di pojok kanan kelas, Dena, berseru nyaring, membuat anak-anak IPA 5 tertawa kompak.


Dan otakku masih belum bisa digunakan sebagaimana mestinya.


Ya, harusnya aku menyanggah. Bukan hanya diam saat ditertawakan seperti ini. Tapi … please, God, dalam benakku hanya ada bayangan buruk tentang Rifa!


Cilla menatap prihatin. Setelah Bu Grace kembali ke mejanya, cewek itu menyodorkan buku tulisnya padaku.


“Kenapa?” tanyaku linglung.


“Nih, lo contek punya gue aja. Gue udah selesai.” Melihatku masih tetap melongo, Cilla menambahkan, “Jawaban gue pasti bener, kok. Lo kira Rifa satu-satunya orang yang bisa lo cotek?”


***


Menghabiskan waktu sendirian di dalam kamar memang bukan ide yang bagus. Khayalanku mulai melantur ke mana-mana, menciptakan berbagai skenario paling mengerikan di alam bawah sadar.


Bagaimana kalau Rifa diculik?


Bagaimana kalau Rifa disiksa?


Bagaimana kalau Rifa... dibunuh?


Aku menelan ludah, lalu menggeleng kencang.


Tidak mungkin! Rifa tidak selemah itu!


Lantas aku turun dari ranjang, berjalan bolak-balik di area kamar dengan pikiran mengelana. Kurasa, satu-satunya orang yang bisa menolong Rifa hanya diriku seorang. Aku harus mencari tahu segala sesuatu tentang kelanjutan teror yang diterima Rifa, kemudian melapor pada polisi.


Lamunanku terhenti saat panggilan di gawaiku terhubung dengan Cilla. Entah bagaimana, aku langsung mengutarakan maksudku meneleponnya. Semua terjadi di luar kendali. Seolah ada orang lain yang melakukannya untukku .


“Gue bisa bantu, Xa,” kata Cilla di telepon.


Aku tidak langsung menjawab.


“Emangnya lo butuh bantuan apa? Lo butuh gue sebagai intel, detektif, atau apa?” tanya Cilla setelah aku tak kunjung merespons.


“Entahlah. Kasus ini adalah sesuatu yang …,” aku berpikir. “sangat penting juga berbahaya.”


“Gue siap menentang maut, Xa!” serunya membuatku menjauhkan gawai dari telinga. “Dan gue yakin Andre pun bersedia membantu lo.”


Andre?


Deg!


Cilla belum tahu aku dan Andre tengah berselisih. Tapi aku bingung bagaimana cara memberitahunya. Maksudku, cara meyakinkan anak itu bahwa sesungguhnya Andre berada di pihak lawan. Tentu Cilla takkan percaya begitu saja.


“Begini, Cill ….”


Tok, tok, tok!


Suara ketukan dari luar kamar menginterupsi ucapanku. Aku menutup speaker gawai dengan tangan kanan, lalu berteriak, “Siapa?”


“Ini Mama.” Mama balas berteriak. “Ada teman kamu di luar.”


“Teman?” Sebelah alisku terangkat. “Siapa, Ma?”


“Pokoknya temui temanmu dulu, sana!” Setelah itu Mama berderap pergi, membuatku tak bisa bertanya lebih lanjut.


Terpaksa kusudahi obrolan dengan Cilla dan memutuskan untuk menceritakan perihal Andre esok hari di sekolah.


Tanpa merapikan penampilanku yang amburadul, aku melangkah gontai menuju ruang tamu.


Kira-kira siapa temanku yang berkunjung sore-sore begini? Pasti bukan Rifa, kan? Haha, tidak mungkin Rifa. Mustahil.


“Semoga Rifa,” bisik hati kecilku jujur.


Namun sayang sungguh sayang, ia memang bukan Rifa.


“Andre?” sapaku dengan nada tanya. Tentu saja aku heran mengapa ia masih berani menampakkan batang hidungnya di depan mataku sesaat setelah kebusukannya terbongkar? Datang ke rumahku pula!


Andre bangkit dari posisi duduknya. “Alexa!”


Aku menengok ke kanan dan kiri, memastikan Mama tidak berada di ruangan yang sama dengan kami. Begitu dirasa aman, kembali kufokuskan pandangan pada cowok tengil di depanku itu.


“Duduk,” kataku dingin seraya mendaratkan pantat di kursi terjauh darinya. Bersikeras menahan hasrat ingin mengusir cowok tersebut detik ini juga.


Andre mematuhi perintahku. Ia duduk tegak. Balas menatapku tajam.


"Dari mana lo tahu rumah gue?" selidikku.


"Dari wali kelas lo. Gue mesti meluruskan tuduhan lo tadi,” katanya to the point.


“Gak! Gue mesti jelasin!”


“Gak usah! Pulang aja lo!”


Pertentangan ‘harus’ dan ‘gak usah’ terus bergulir bagai lingkaran setan. Sebenarnya aku sudah muak. Namun kucoba menahan diri agar tidak lepas kontrol dan histeris. Aku tidak ingin Mama sampai menguping pembicaraan kami.


“Gue dan Kevin itu beda, Xa!” Nada Andre naik satu oktaf. Tangannya memukul meja di antara kami, membuatku melonjak kaget. “Lo boleh ngatain gue sesuka hati lo. Terserah! Tapi kalau lo menyama-nyamakan gue sama Kevin, gue gak terima! Karena gue gak sebejat dia!”


“Haha.” Aku tertawa hambar. “Gak sebejat dia berarti lo tetep bejat, kan?”


“Yang jelas gue gak mungkin terlibat dengan teror berdarah seperti itu. Sebejat-bejatnya gue, gue masih punya batasan.”


Aku menjulingkan mata dengan bibir nyinyir. “Lalu apa alibi lo tentang surat yang Kevin titipin ke lo itu?”


“Surat?” Andre berpikir sejenak. “Oh, oke. Seperti yang pernah gue bilang, gue cuma dititipin tuh surat sama Kevin. Gak lebih.”


“Oke, oke.” Aku manggut-manggut. Mataku kini tak lagi mengarah pada Andre, melainkan pada lukisan dinding di belakang cowok itu.


Raut Andre berubah sumringah. “Jadi lo percaya sama gue?”


“Tentu aja gue percaya …,” ujarku. “kalau gue ****! Sayangnya gue gak sebego itu, Dre!”


Gejolak dalam dadaku sudah tak tertahankan lagi. “Lo pikir masuk akal sepasang kakak-beradik yang udah lama berpisah—bahkan dikabarkan kakaknya telah lama menghilang tanpa jejak—cuma ketemu beberapa detik, melakukan serah-terima sepucuk surat, lalu berpisah kembali gitu aja?”


Hening.


“Itu gak masuk akal, Dre.” Kepalaku menggeleng-geleng. “Bahkan dalam standar kaum terbejat sekalipun!”


“Tapi, Xa ….”


“Lebih baik lo pulang sekarang.”


“Alexa ….”


“Keluar!”


***


Aku terus bergerak gelisah di pembaringan. Berusaha mendapatkan posisi ternyaman. Menghadap kanan, kiri, telentang, telungkup, begitu berganti-ganti sampai aku capek sendiri. Belum lagi mataku sulit sekali terpejam. Menyebalkan.


Tiba-tiba gawai yang kuletakkan di meja belajar berdering nyaring. Kuraih benda berisik—mengingat ini sudah larut malam—tersebut dan melihat tulisan ‘no id caller’ di display.


Entah mengapa wajah Kevin langsung membayang di benakku. Apa mungkin ia yang menelepon? Penasaran, segera kugeser simbol hijau.


“Halo,” sapaku parau, sebisa mungkin tak menimbulkan kegaduhan di tengah malam. Namun orang di seberang sana tak kunjung menyahut. Bahkan hingga sepuluh detik berlalu ia tak jua bersuara.


Lama-lama aku jengkel dan memutuskan mengakhiri panggilan tersebut. Tepat saat bibirku berdecak kesal, akhirnya ia berkata, “Alexa …”


Suara cowok!


Aku bangkit dari pembaringan, mendengarkan suara si penelepon lebih saksama. “Ya, siapa?”


“Ini gue …”


“Lo punya nama, kan?” tanyaku tak sabar, lalu memicingkan mata sinis. “Coba gue tebak. Nama lo pasti … mmm … Andre?”


“Kok lo tahu?” tanyanya takjub yang—tentu saja—kutanggapi dengan dengusan. Ia mendesah kemudian berkata, “Lo masih gak percaya sama gue?”


Aku hanya bergumam. “Emm ….”


“Apa yang mesti gue lakuin supaya lo percaya lagi sama gue?” tanyanya putus asa. “Apa perlu gue bersujud di atas kaki lo, lalu memohon-mohon supaya lo yakin gue gak terlibat sama sekali dalam teror itu?


“Oke, mungkin Kevin emang terlibat. Tapi gue nggak, Xa. Jangankan terlibat, tahu masalahnya pun nggak!”


“Terus gue percaya, gitu?”


“Ayolah, Xa … jangan egois gini, dong,” bujuknya. “Gue tahu di hati kecil lo masih menyimpan kepercayaan buat gue, kan?”


Kali ini aku bungkam. Aku memang masih berada dalam posisi antara yakin dan tidak yakin. Hati kecilku selalu ingin memercayainya, sekuat apa pun egoku berkata ‘ia bersalah’.


“Seumur hidup gue belum pernah punya teman, Xa,” ujar Andre lirih. “Lo tahu, dulu orang-orang ngedeketin gue cuma buat manfaatin gue doang karena kekayaan Bokap yang berlimpah. Tapi begitu bokap gue ditangkap dan kami jatuh miskin, semua orang langsung menjauhi gue, menganggap gue sebagai virus berbahaya. Bahkan cewek-cewek yang pada awalnya memuja-muja gue, berbalik jijik. Padahal, biarpun miskin, gue tetep ganteng, kan?”


Mau tak mau bibirku melengkung mendengar kalimat terakhirnya. Andre sendiri terkekeh ringan di seberang sana.


“Sejak saat itu, gue mulai berpikir sebenarnya gak ada pertemanan yang benar-benar tulus di dunia ini. Manusia berteman atas dasar saling membutuhkan. Dan saat seseorang yang lo anggap sebagai teman gak bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan lo lagi, maka lo bakal memutuskan untuk mencari teman lain yang jauh lebih menguntungkan.


“Tapi sejak ketemu lo, lalu menjadi bagian kecil dalam hidup lo, gue menemukan arti pertemanan yang sesungguhnya. Ya … akhirnya ketulusan itu gue dapat dari lo. Lo adalah orang pertama yang bisa membuat gue blak-blakan, menjadi diri gue apa adanya. Lo adalah orang pertama yang gue sayangi sebagai sahabat. Menyayangi lo itu mudah. Dan sebaliknya, melupakan lo itu susahnya minta ampun.


“Dan apa lo tahu, waktu-waktu yang kita lalui berdua, bertiga, atau berempat sama Raka, adalah waktu paling berharga dalam hidup gue?”


“Xa,” bisiknya parau. “Coba lo ingat kembali saat-saat kebersamaan kita yang singkat namun berkesan bagi gue. Dan silakan lo berpikir, masih pantaskah gue dipercaya? Masih ingin kah lo berteman sama gue, atau malah meninggalkan gue seperti teman-teman gue yang lain? Lalu ….”


Pecahlah tangisnya. Ia terisak lirih dengan napas memburu. Kesedihan yang perlahan menular padaku. Susah payah Andre meredam kembali tangisnya, dan mencoba menyelesaikan perkataannya dengan terbata, “La-lalu … m-masih berharga kah gue di mata lo …?”


Tidak. Aku tidak bisa menjawab. Bagaimana bisa aku berkata-kata di saat rasa sesak dalam dadaku kian menjadi? Membuka mulut hanya akan membuat pertahananku roboh, hingga berakhir seperti yang tengah Andre alami.


“Xa, gue punya lagu buat lo.” Andre mengubah nadanya menjadi lebih ceria, meski tak mampu menutupi suara paraunya. “Dengerin, ya?”


Aku membisu, masih belum sanggup berujar.


Untuk sesaat, suara Andre menguap. Digantikan suara bag-big-bug yang cukup mengganggu. Kujauhkan gawai sejenak seraya menunggu cowok itu kembali berbicara.


Di tengah penantian yang rasanya tak berkesudahan, tiba-tiba muncul suara petikan gitar dari seberang telepon. “Gue persembahkan lagu ini untuk sahabat tersayang gue—Maryam Alexandria.”


Intro sebuah lagu dimainkan dengan lancarnya. Tanpa sadar darahku berdesir, mengetahui lagu yang akan dinyanyikannya adalah lagu itu!


Entah telah berapa lama …


Mungkin telah cukup lama waktu yang terlewati …


Kupun tak menyadari … sejauh manakah kumegenal dirimu?


Kucoba melacak (jejak)mu dalam peta hidupku,


Tak membuatku beranjak


Kusadari kesedihanmu meski coba kau sembunyikan …


Seakan berpacu dengan hari esok yang ‘kan berlalu,


Meski kucoba berlari menghidar …


Sungguh aneh kurasakan, hatiku tetap melukiskan dirimu


Kuingin selalu, melihat senyumanmu di sini, selama-lamanya,


Kuingin hadir dalam setiap kisah, yang terlintas di matamu.


Kendati berusaha keras, Andre tak mampu menjaga kekonsistenan nadanya. Suaranya memarau, lalu menghilang sama sekali, digantikan isak lirih dari bibirnya. Susah payah ia mempertahankan agar permainan gitarnya tetap stabil, membuatku tak kuasa menahan pilu yang telah ditularkan sejak tadi.


Gue bodoh!


Hanya kata itu yang bisa kuteriakkan dalam hati.


Aku tak mampu bersuara. Tenggorokanku serasa disumbat sesuatu. Bibirku nyaris mengeluarkan darah andai aku tak segera sadar telah menggigitnya sejak lima menit terakhir, sekuat tenaga menahan tangis yang sudah di ujung lidah.


“Ku-ingin selalu me-li-hat se-nyuman-mu di sini, se-lama-lamanya …”


“Stop Andre, stop!” pintaku susah payah. Tapi Andre seolah tak mendengar. Ia terus bernyanyi tanpa memedulikan iramanya yang kian tak keruan.


“Kui-ngin ha-dir da-lam se-tiap ki-sah, yang ter-lin-tas di ma-ta-mu …”


“Oke gue percaya sama lo. Tapi please, Dre, stop! Gue gak kuat dengernya,” seruku akhirnya dengan napas tercekat, merasakan bendungan di kedua mataku jebol hingga tumpah ruah membentuk dua aliran sungai.


Andre langsung menghentikan nyanyian dan pertikan gitarnya. Untuk beberapa saat kami sama-sama membisu, kemudian kembali hanyut dalam isakan masing-masing.


“Maafin gue, Dre .…”


“Nggak!” sela Andre. “Gue yang harus minta maaf, Xa. Gue.”


“Tetep jadi teman gue, ya?”


“Xa …”


Aku tersenyum. “Gue sayang sama lo, Dre.”


“Gue juga, Xa,” ujar Andre lembut. “Kita sama-sama selidiki kasus Rifaldi, ya? Kalau bener abang gue bersalah, gue sendiri yang bakal seret dia ke penjara.”


“Thanks, Dre.”


Bahkan ia masih sudi menawarkan bantuan setelah kusakiti sedemikian rupa.


Tapi, dari mana ia tahu niatanku untuk menyelidiki Rifa?