Blind Love

Blind Love
Episode 47



Ini adalah babak baru dalam hubungan Virgo dan juga Libra. Memutuskan kembali bersama ketika tak lagi bisa membendung perasaan cinta yang mereka miliki, adalah keputusan yang benar. Sudah terlalu lama mereka menahan perasaan satu sama lain. Saling menghindar, salah satu dari mereka menyakiti, dan hal-hal yang tak terduga lainnya terjadi.


Sekarang halangan mereka mungkin bukan hanya Ardi, bisa saja dari pihak lain. Tapi jika mereka bisa melewati semua itu, maka hubungan mereka akan semakin kuat karena tempaan dari ujian yang mereka dapatkan.


“Masuk dulu,” Virgo memerintah Libra agar gadis itu lebih dulu ke kamarnya dan baru nanti bisa keluar kembali. Libra seperti tak ingin sekali pisah barang sebentar saja dengan Virgo.


“Nggak akan pulang dulu kan?”


“Enggak. Aku nungguin kamu. Setelah ini kita makan.” Libra tak bisa menyembunyikan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh Virgo.


“Oke!” barulah setelah itu dia naik ke lantai dua untuk meletakkan tas miliknya. Suasana hati Libra kali ini benar-benar sangat bagus sepertinya. Bahkan ketika dia sudah berada di dalam kamar, dia berdiri di depan kaca dan melihat wajahnya di sana. Senyumnya mengembang dan kemudian memegang bibirnya yang beberapa saat tadi mendapatkan ‘musuhnya’.


Namun tak mau terlalu lama merayakan euforia di dalam hatinya, karena Virgo sudah menunggu dirinya di bawah. Maka dia membawa ponselnya dan mengambil uang di dalam dompetnya, kemudian memasukkan ke dalam saku celananya, barulah dia keluar dari kamarnya.


Tak langsung menemui Virgo, Libra malah melihat Virgo dari kejauhan. Lelaki itu yang sedang memainkan ponselnya sedang duduk di kursi ruang tamu kosnya, wajahnya serius entah sedang melihat apa, dan Libra sungguh suka sekali melihat hal itu.


“Berangkat sekarang?” Libra tak akan lama-lama dengan aksinya mengintip kekasihnya di balik dinding, maka dia segera menemui Virgo.


Virgo mengalihkan tatapannya dari ponselnya dan melihat ke arah Libra, “Mau makan apa?” tanyanya meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku pengen makan pizza,” katanya mengungkapkan keinginannya kepada Libra.


“Ya udah, pizza aja. Nanti bisa pilih makanan lain di sana,” Libra juga menyukai makanan itu, jadi tak ada masalah bagi dirinya.


Mereka berangkat, dengan Libra berada di boncengan Virgo. Mereka sudah merasakan lapar di perut mereka karena memang hanya menyantap makanan sedikit ketika di acara ulang tahun Edo beberapa saat lalu.


Libra sepertinya masih canggung jikalau harus memeluk pinggang sang kekasih setelah lama tak melakukannya. Tapi Virgo jelas tak paham akan hal itu. “Yang, pegangan lah.” Panggilan itu otomatis saja terlontar begitu saja dari mulut Virgo.


“Iya.” Begitu kata Libra mengurai rasa canggungnya. Jantungnya benar-benar seperti ingin keluar saja dari rongga dadanya saking luar biasanya cara kerja dan detakannya.


Saat-saat di perjalanan seperti ini yang membuat kemesraan itu terjadi. Pun dengan dua orang tersebut. Libra sudah memeluk Virgo dari belakang dan terkadang ada yang mereka obrolkan entah tentang apa. Ada tawa renyah dari keduanya seolah putusnya mereka beberapa bulan lalu itu tak ada pengaruhnya sama sekali dengan keadaan mereka saat ini.


Mereka sampai di restoran yang dituju. Masuk ke dalam, kemudian memesan apa saja yang ingin mereka makan tak peduli jika nanti tagihannya akan membuat dompetnya berteriak.


Pizza jumbo, kentang goreng, minuman bersoda, dan salad buah yang juga berukuran besar karena satu porsi untuk berdua. Benar-benar makan besar sekali kali ini. “Untuk merayakan kebersamaan kita dan bersatunya hubungan kita.” Virgo mengangkat gelas dan mengajak tos Libra, “Bersulang.” Katanya.


Libra melakukan apa yang diminta oleh Virgo dengan suka cita. Kemudian meneguk minuman mereka bersama. Dan melanjutkan makannya.


Libra beralih memakan salad buah yang dipesannya dan menyuapi Virgo. “Enak kan?” tanyanya setelah satu sendok salad itu berpindah ke mulut kekasihnya.


“Enak.” Virgo mengangguk-anggukkan kepalanya meresapi rasa asam dan manis di dalam mulutnya.


Pukul tiga sore, mereka kembali ke rumah kosnya Libra. Virgo lebih dulu di sana dan tak langsung pulang setelah mengantarkan Libra. “Jarak antara kampus dan juga rumah kamu nggak terlalu lama, tapi kenapa memilih kos?” Virgo mulai mengintrogasi.


“Aku denger dulu kamu mau kuliah di luar kota kan?” pertanyaan lanjutan.


Libra menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Virgo. Memainkan kedua tangannya dengan meremas satu sama lain. “Aku nggak diizinkan ayah buat kuliah di luar kota.” Mulainya, “Karena itu aku meminta agar aku diijinkan tinggal di rumah kos.”


“Alasannya?”


“Karena jujur saja aku merasa terpuruk setelah pisah sama kamu. Aku merasa hancur karena dua orang lelaki yang sama-sama aku sayangi.” Virgo menatap Libra dan mendengarkan apapun yang dikatakan oleh gadis di depannya itu.


Libra melanjutkan ceritanya bagaimana dia beberapa bulan yang lalu terpuruk. Libra yang rasanya tak ingin lagi tinggal di Jakarta untuk sementara waktu karena kota yang ditinggalinya ini begitu meninggalkan bekas luka yang dalam kepada dirinya.


*.*


Suara berisik datang dari gerombolan mahasiswa yang baru saja datang dari perayaan ulang tahun salah satu teman mereka. Ada tawa cekikikan, ada juga yang mengumpat karena merasa kesal dengan kelakuan teman-temannya.


Mereka masuk melewati pagar dan seketika tawa dan umpatan itu terhenti melihat dua orang yang duduk di kursi tamu. “Li! Lo nggak papa?” bahkan tanpa basa-basi lagi Tere – satu-satunya perempuan di dalam gerombolan tersebut mendekat ke arah kursi yang diduduki oleh dua orang tersebut.


“Gue nggak papa, Re.” Disekanya air mata di wajahnya dan memberikan senyum kepada gadis itu.


Tere tentu saja tak tinggal diam melihat hal tersebut. “Lo apain lagi sih, Vir, Libra ini?” tanyanya dengan pandangan lelah. Namun seketika matanya melebar ketika melihat tangan Virgo yang menggenggam erat tangan Libra.


“Kalian?” tunjuknya pada Virgo dan Libra secara bergantian. Menelan ludahnya berkali-kali karena merasa heran dengan dua orang di depannya.


Benang kusut yang membelit otak Tere itu kemudian sedikit demi sedikit terurai ketika dia menyadari sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. “Baikan?” lanjutnya dengan suara rendah.


Di Belakangnya sudah ada Edo dan yang lainnya untuk melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi. Kemudian Sam, menyeringai sambil bertepuk tangan. “Wohooo! Umpan Baro berhasil,” katanya, “Dua orang bodoh ini sekarang sudah baikan dan pacaran lagi.” Begitu teriaknya sampai orang-orang yang berada di tempat yang sama namun di meja yang berbeda dengan Virgo menatap ke arah mereka.


Virgo bahkan harus mendesis dan kalau bisa dia ingin sekali mengumpati mereka karena dengan hebohnya mereka bersorak seolah sedang melihat seseorang yang terlalu aneh di muka bumi ini.


“Suara lo bisa dikecilin nggak? Gue tampol tahu rasa lo!” yang mana mungkin dipedulikan oleh teman-temannya.


Rai bahkan bilang, “Karena hari ini kita udah dapat jatah traktiran, jadi besok aja kalian traktir kami. Kami siap menunggu.” Katanya dengan wajah yang menyebalkan dan juga tatapan menggoda untuk Libra dan juga Virgo.


Sorakan langsung terdengar karena hal itu. “Gandeng terus, Mas. Jangan kasih kendor.” Begitu kata Edo dengan kampretnya. Virgo hanya berusaha menyabarkan dirinya dari sorakan teman-temannya dan hanya fokus pada gadis yang tangannya sedang digenggamnya.


“Aku pulang dulu ya. Nanti malam aku datang lagi. Kita makan di luar.” Itu bukan sebuah janji. Virgo hanya ingin mengganti sakit hati yang telah diberikan kepada Libra berkali-kali dengan memberinya kebahagiaan yang mungkin tak seberapa itu.


“Oke!” Libra tersenyum dan menggenggam tangan Virgo dengan kedua tanganya. Menggoyang-goyangkan tangan itu. “Beneran ya, aku tungguin pokoknya nanti,” beruntungnya Virgo memarkirkan motornya agak jauh dari keberadaan teman-temannya, kalau tidak, sudah menjadi bulan-bulanan para bedebah itu pastinya.


Libra melepaskan genggaman tangannya dan Virgo menjalankan motornya meninggalkan rumah kos kekasihnya itu. Bahkan gadis itu tak langsung kembali ke dalam sebelum Virgo benar-benar tak bisa tertangkap oleh netranya.


“Udah kali, Li. Udah nggak kelihatan pangerannya.” Tere mendekati Libra dan menggandeng tangan gadis itu ketika menyadarkan Libra.


Entah kenapa Tere tersenyum lebar sekali sekarang. “Gue seneng banget tahu, Li.” Katanya dengan semangat. “Akhirnya apa yang gue inginkan sekarang menjadi kenyataan. Emang gue nggak perlu comblangin elo, tapi itu bukan masalah karena toh akhirnya lo sama Virgo kembali bersatu.” Libra tahu jika Tere mengatakan itu dengan tulus.


“Thanks ya, Re!” tak ada kata yang sanggup Libra katakan selain ucapan terima kasih. “Lo udah jadi teman, sahabat, yang baik buat gue.”


“Lo nggak perlu berterima kasih kepada gue. Karena lo itu adalah sahabat yang super baik buat gue.” Tere menarik Libra dan mengajak masuk ke dalam kos mereka karena tentu saja akan ada banyak pertanyaan dari para pria di dalam sana.


Bahkan ketika Libra masuk ke dalam sana, pandangan menggoda itu diberikan kepada Libra dari Sam dan yang lainnya. Dan untuk menghindari dirinya dari pertanyaan-pertanyaan itu, Libra pamit kepada mereka.


“Gue naik dulu ya. Mau istirahat.” Katanya.


“Istirahat lah, Li. Paling gue nanyanya kalau lo udah seger nanti.” Kata Sam dengan lembut. Tahu saja kalau Libra sekarang memang sedang menghindari dari pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan mereka berikan kepadanya.


Libra mendengus kesal, napasnya dikeluarkan dengan keras, dan tak urung duduk bersama mereka dan mendapatkan kekehan geli dari yang lain.


“Jadi, apa yang mau kalian tanyakan ke gue?” katanya dengan malas, “Gue akan dengan baik hati menjawab semua pertanyaan kalian dengan baik dan benar.” Setelah Libra mengatakan itu, semua mulut teman-temannya itu terbuka ingin mengajukan pertanyaan yang dengan otomatis dicegah oleh Libra.


“Satu-satu.” Peringatnya kepada teman-temannya. Dia tak ingin ‘dikeroyok’ dengan pertanyaan.


“Gue dulu,” Sam mengangkat tangannya memberi tanda. Libra mengangguk.


“Lo kok bisa maafin Virgo gitu aja sedangkan dia nggak mau usaha sama sekali dengan hubungan kalian? maksud gue, dia manut aja dengan apa yang dikatakan oleh ayah lo dan nggak peduli sama perasaan lo.”


Libra memikirkan kata yang pas dengan pertanyaan yang diajukan oleh Sam. Otaknya seolah tak bisa bekerja dengan cepat sekarang. “Li!” Sam memanggil gadis itu karena dia ingin segera mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


“Gue marah itu pasti ketika keputusan yang Virgo menyakiti gue.” jawabnya. “Tapi rasa sayang gue ke dia lebih besar. Seribu kali gue berpikir, seribu kali juga hati gue bilang jika dia tidak melakukan kesalahan. Hati gue yang bilang begitu. Jadi gue bisa apa?”


“Cinta buta.” Begitu celetuk Edo. “Lo udah dibutakan oleh cinta sampai kesalahan yang Virgo buat sama sekali nggak berarti apapun ke elo.”


Libra menggeleng, “Itu bukan cinta buta. Karena hati gue tahu jika memang yang dilakukan oleh Virgo bukanlah sebuah kesalahan. Dia nggak mau lebih menyakiti gue ketika harus terus berada di sisi gue sedangkan ayah sama sekali nggak suka.”


“Dan apa bedanya dengan sekarang, Li?” Baro berbicara, “Kalian sekarang balikan lagi kan juga nggak ada persetujuan dari ayah lo. Kalau endingnya kalian sekarang bersama tanpa sepengetahuan bokap lo kenapa nggak dari dulu aja kalian backstreet.” Lanjut Virgo.


Libra mencerna perkataan Baro dengan serius. Tapi Tere bersuara, “Kenapa kalian mendesak Libra sih?” tanyanya, “Kaliang nggak suka Virgo sama Libra kembali bersatu?”


Sam menghela nafas berat ketika mendengar perkataan Tere, kemudian dia membuka suaranya, “Kami peduli sama mereka, Re.” katanya, “Kalau gue pribadi, gue nggak mau suatu saat nanti Libra akan mendapatkan perlakuan yang sama dari Virgo terkait hal ini. Kalau sekarang Virgo sudah berani ‘menentang’ ayah Libra dengan terang-terangan memacari putrinya, maka seharusnya dia harus berjuang lebih keras lagi untuk tetap bersama.”


“Gue nggak tahu,” sepertinya Libra kini mulai terpengaruh dengan ucapan teman-teman Virgo. Maka dengan itu, dia berdiri dan meninggalkan gerombolannya dan naik ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya.


Hatinya goyah. Merasa jika apa yang dikatakan oleh Sam adalah benar. Apa dia akan menanyakan ini kepada Virgo ketika mereka bertemu nanti? atau dia akan memendamnya saja? Libra jelas-jelas merasa dilema dengan ini semua. Dia ingin mengetahui apakah Virgo akan memperjuangkannya sampai akhir atau tidak.


Libra berbaring di atas kasur ketika pikirannya semakin penat. Memeluk gulingnya dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal sampai dia tertidur.


seandainya dia tidak mendengarkan panggilan masuk ke ponselnya, mungkin dia akan tidur sampai pagi tiba.


“Halo!” sapanya dengan suara serak.


“Kamu tidur?” Libra melihat si pemanggil yang tertulis di layar ponselnya, ‘Virgo’ begitu tulisan yang terbaca di sana.


Kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya, Libra berbicara. “Iya. Aku ngantuk banget tadi.” Gadis itu menguap tanpa repot-repot menutupinya.


“Udah jam setengah tujuh, kamu mandi sana, aku jemput sebentar lagi.” Libra melupakan rasa galaunya yang beberapa jam lalu menguasainya. Gadis itu tersenyum seorang diri sambil menatap langit-langit kamar.


“Oke!” jawabnya dengan suka cita, “Nggak perlu dandan cantik kan?”


“Enggak, kamu udah cantik dari lahir, jadi nggak perlu khawatir.” Libra lagi-lagi tersenyum sambil menggigit bibirnya agar suara kebahagiaannya tidak keluar dan terdengar oleh Virgo.


“Terima kasih pujiannya. Aku mandi dulu, dan aku tunggu kamu di sini.”


“Bukan kamu yang akan nunggu aku, nanti pasti aku yang akan nunggu kamu.” Virgo pasti paham betapa lamanya seorang perempuan berdandan meskipun hanya menggunakan lipstik saja. Mereka pasti akan kebingungan lipstik warna apa yang akan dipakai.


*.*