Blind Love

Blind Love
BAB 24



Gelap.


Di mana ini? Apa aku masih berada di alam bawah sadar?


Ah, sepertinya bukan. Aku sudah terjaga meski pusing di kepalaku belum benar-benar hilang.


Aku mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba melihat di tengah kegelapan. Nihil. Seberapa keras pun berusaha, kegelapan ini tak tertembus. Semua tetap serba hitam meski rasanya mataku sudah melotot maksimal.


Kucoba menggerakkan badan. Sulit. Sangat kaku.


Tiba-tiba aku terenyak. Menyadari kejanggalan dari posisi dudukku. Mengapa tanganku ada di belakang? Mungkinkah ….


Ya Tuhan, ternyata benar!


Seseorang telah mengikatku di atas kursi kayu, dan mengurungku di tempat gelap gulita!


Jangan-jangan aku ada di gudang, pikirku ngeri.


Menyadari kemungkinan tersebut, udara di sekitarku mendadak menguap, berganti kepengapan berbau jamur basah yang biasa menempel di dinding. Bau anyir menyusul masuk ke dalam hidung, membuat perutku bergejolak.


Aku tidak yakin apakah bau-bauan ini nyata atau hasil sugesti semata. Yang jelas, terperangkap di sini sungguh menyiksaku!


Tuk, tuk, tuk …


Seperti ada suara di kejauhan sana. Suara ketukan sepatu.


Tuk, tuk, tuk, tuk …


Benar, itu memang suara langkah orang bersepatu. Langkah itu mengarah kemari. Suaranya terdengar semakin jelas.


Siapa pun ia, aku sadar ada dua kemungkinan dari kedatangan orang tersebut. Pertama, ia malaikat penolongku. Dan kedua, ia—aku menelan ludah—penjahat yang mengikat tubuhku di sini.


Kemungkinan nomor dua membuat bulu kudukku meremang.


Suara langkah itu menghilang, membuatku kian waspada. Aku yakin ia berada di sekitar sini sekarang. Dekat denganku.


Ctrek!


Kegelapan lenyap seketika dikalahkan cahaya lampu. Aku mesti mengerjapakan mata beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya.


Dalam keadaan terang benderang, aku pun tahu tempat ini bukanlah sebuah gudang. Melainkan ruang kosong bercat putih yang cukup luas. Bau-bauan tak jelas sumbernya tadi menguap bersamaan dengan hadirnya cahaya.


“Alexa!” seru seseorang.


Aku terkejut dan baru ingat ada orang lain yang baru saja masuk ke tempat ini. Tapi rasanya aku mengenal suara tadi.


“Andre?!” seruku lega luar biasa. Ya, ia Andre! Berarti ia malaikat penolongku, bukan si penjahat.


Andre berlari menghampiriku dengan raut cemas. “Lo baik-baik aja, Xa?” tanyanya sambil berjongkok di depanku.


“Kecuali kebingungan, gue rasa gue baik-baik aja.”


“….”


Aku mengernyit saat menyadari Andre tak kunjung melepas ikatanku. Akhirnya aku menunduk dan mendapati anak itu tengah menatap lantai dengan wajah kosong. “Dre?”


Hening.


“Andre? Bisa tolong lepas ikatan gue?”


Ia masih tetap diam, membuatku jengkel bukan main.


“Gak seru lo, ah! Gue pegel, nih.”


Akhirnya Andre mendongak. Namun air mukanya tak beriak. Membuatku merinding tanpa sadar. Ada apa dengan Andre?


“Lo .…”


“Buat apa?” potong Andre tiba-tiba.


“Hah?! Apanya?” tanyaku tak mengerti.


“Buat apa gue lepas ikatan lo?”


Aku mengernyit bingung. “Ya supaya gue bebas.”


“Buat apa gue lepas ikatan lo?” Andre bangkit berdiri. Menarik bibirnya ke kanan, tersenyum sinis. “Toh gue yang masang ikatan itu.”


Yang benar saja! Ia tidak serius, kan?


“Lo pasti bercanda, kan?” tanyaku memaksakan senyum.


“Enaknya lo diapain, ya?” gumam Andre, mengabaikan pertanyaanku. “Di rumah ini ada banyak cowok. Kayaknya seru kalau kita ‘mengeksekusi’ lo di atas ranjang.”


Mataku membelalak selebar-lebarnya. Sekarang aku sadar ia tidak sedang bercanda. Andre memang pelakunya. Ia yang mengikatku!


Aku langsung ketar-ketir tak keruan membayangkan jika Andre benar-benar merealisasikan ucapannya. Hancur sudah masa depanku. Dan, apa katanya tadi? Ada banyak cowok di rumah ini? Apa jadinya aku nanti?


“Gak usah ketakutan gitu, lo udah biasa sama Rifa, kan?” Ia tertawa mencemooh. Tawa yang membuatku muak. “Bedanya sekarang lo main sama banyak cowok. Tapi tetep satu-satu, kok. Gak sekaligus. Cuma kalau lo mau rame-rame, boleh juga.”


“Biadab lo, Dre!” jeritku emosi.


Andre melotot. “Jaga ucapan lo!”


“Justru lo yang harus jaga ucapan!”


“Cukup!” betaknya. “Lo bukan urusan gue, jadi gue gak akan mengeksekusi lo. Lagian lo pasti pasif, sama sekali bukan selera gue.”


Aku tidak tersinggung. Justru bersyukur jika memang itu yang ada di pikirannya. Setidaknya masa depanku masih bisa terselamatkan. Itu pun jika nyawaku tidak berakhir di tempat ini.


“Lo bukan urusan gue,” bisik Andre sinis. “Tapi lo urusan bos gue.”


Setelah mengatakan itu, Andre melengang pergi. Aku terpaku hingga seseorang dengan jubah hitam dan topeng voodoo datang menghampiri.


Dia kah ‘bos’ yang Andre maksud? Dia kah Unknown yang selama ini menerorku dan Rifa?


Sang voodoo datang mendekat. Ia berhenti tepat di depanku. Kepalanya bergerak dari atas ke bawah seolah menilai penampilanku. Tak lama, ia mengangguk-angguk puas.


Masih sambil memperhatikanku, satu tangannya menyentuh ujung topeng yang ia kenakan. Perlahan, ditariknya topeng tersebut ke atas. Tubuhku bergetar hebat kala inci demi inci bagian wajahnya terkuak hingga menampakkan garis bibir yang rasanya tak asing lagi.


Demi Tuhan, bukan kah itu bentuk bibir dia!?


***


Sepertinya aku pingsan lagi. Sebab begitu mataku terbuka, makhluk itu sudah tidak ada di tempatnya semula.


Aku menatap sekeliling dengan linglung. Tidak ada apa-apa dan siapa-siapa di tempat ini selain aku, si kursi dan tali sialan, serta sebuah pintu terbuka yang menampakkan lorong-lorong gelap.


Aku terdiam. Memelototi langit-lagit dengan pikiran kosong.


Semua ini bagai lelucon yang terlalu menyedihkan. Sungguh miris saat orang yang kita percayai justru menusuk dari belakang. Aku tidak mengerti, mengapa harus diciptakan orang munafik di dunia ini? Mengapa mereka tidak berbuat jahat secara terang-terangan saja? Toh tujuannya tetap sama: mencelakakan orang lain.


Lamunanku terpotong saat seseorang memanggil namaku. “Hai, Alexa?”


Kepalaku menoleh dengan mulut terkatup rapat. Bukan apa-apa, sebuah lem perekat telah membungkamku.


Ia berjongkok di antara kedua kakiku persis seperti yang Andre lakukan sebelum cowok itu membongkar kejahatannya sendiri. Tatapannya begitu lembut. Hingga detik ini aku masih bingung mengapa ia menculikku—katakanlah demikian karena aku tidak berada di tempat ini atas kehendak pribadi—seperti ini.


“Alexa,” bisiknya lembut.


“….”


Ia tersenyum. “Cantik. Kamu benar-benar cantik.”


“….”


“Di mataku, kamulah gadis terbaik di dunia ini. Kesederhanaanmu mampu membuatku bertekuk lutut. Tiada hal yang lebih menyenangkan selain menatap potretmu setiap waktu.


“Aku selalu memikirkan bagaimana masa depan kita kelak. Dalam khayalanku, di usia dua puluh tujuh tahun kita akan menikah. Lalu tinggal bersama di pedesaan yang jauh dari polusi. Aku ingin kamu melahirkan keturunanku di sana, sebanyak mungkin.


“Dan saat itu tiba, bukan hanya foto, melainkan kamulah yang pertama kulihat begitu terjaga. Menyiapkan sarapan untukku, memasangkan dasi di kemejaku, merawat ketika aku sakit, menyemangati ketika aku putus asa, membesarkan anak-anak kita berdua. Sesederhana itu.”


Tiba-tiba ia memeluk lututku erat. Tubuhnya bergetar hebat. Samar-samar terdengar isakan lirih dari bibirnya. Demi Tuhan, apa yang harus kurasakan sekarang? Sedih, terharu, atau malah ketakutan?


Sesaat kemudian—ketika aku masih bingung bagaimana harus bereaksi—ia kembali berdiri. Dirapikannya bagian baju yang kusut dengan kedua telapak tangan. Tak lupa ia hapus sisa air yang masih menggenang di sudut-sudut matanya.


Lalu semua berubah drastis. Tatapan lembut itu lenyap. Senyum manis itu musnah. Berbalik 180 derajat.


“Itu harapan gue,” ia mengangkat sebelah alisnya. “… dulu!”


Aku dapat mencium aroma bahaya saat ia menatapku dengan rahang mengeras. Ingin mundur, tidak bisa. Ingin lari, apalagi. Tubuhku terikat kuat. Benar-benar tak ada kesempatan untuk melarikan diri.


“Dulu gue emang cinta mati sama lo.” Suaranya sarat akan emosi. “Tapi semua berubah sejak lo pacaran sama si banci itu!


“Oh oke, sejujurnya gue emang masih sayang sama lo, bahkan sampai detik ini. Tapi untuk melihat lo bahagia dengan cowok lain …?” Ia menggeleng. “Ini bukan sinetron, Alexa. Kalau bukan sama gue, lo gak boleh jadi milik siapa pun! Dan lo tahu apa artinya itu?”


Aku tahu, aku tahu, aku tahu. Akan tetapi … Ya, Tuhan! Sulit dibayangkan jika ia sampai tega melakukan hal sebejat itu!


Aku tak dapat menahan pekikan saat ia mengeluarkan sesuatu berwarna hitam dari saku belakang celananya. Sepucuk pistol!


“Santai, Alexa,” ujarnya mencemooh. “Sebelum lo tewas, gue akan berbaik hati menceritakan semuanya supaya lo gak mati penasaran.”


Lantaran tak bisa menjawab, tatapanku terpaku pada si pistol yang siap ditembakkan kapan saja.


“Semua ide gila ini berawal dari kecemburuan gue melihat kedekatan lo sama Rifaldi. Suatu perasaan menyakitkan yang akhirnya membuat gue gelap mata.


“Sebenarnya gue cuma pengin misahin lo sama Rifa. Udah, gitu doang. Tapi rupanya cowok lo punya banyak musuh di luar sana. Mereka bersedia terlibat dalam misi ini asalkan gue mau membiayai seluruh rencana pembalasan dendam mereka. Gue tentu setuju. Apa salahnya membuat orang yang kita benci menderita?


“Dan pada akhirnya, tujuan gue pun tercapai. Lo pisah sama si Rifa. Tapi sayang, setelah putus dari cowok itu pun, lo gak pernah melirik gue. Gue tetap maya di mata lo. Lo justru lebih melihat Andre, yang gue suruh jadi teman pura-pura lo. Padahal kalau lo tahu seberapa besar pengorbanan gue buat kembali ke Indonesia, lo pasti bakal—ah—menjerit.”


“Mmmm…” Aku berontak. Setengah mati ingin pergi dari tempat ini dan mencari Rifa. Ia pasti sedang berada dalam bahaya sekarang. Bahaya besar!


“Kamu mau bicara, Sayang?” Tiba-tiba ia kembali bersikap manis, membuatku ingin muntah di wajahnya.


“Gila lo, Ka!” seruku begitu Raka melepas perekat di bibirku.


“Santai, santai ….”


Wajah Raka menegang. “Cowok lo itu,” ujarnya. “Dia emang pantas mendapat balasan setimpal untuk semua dosa-dosanya!”


“Ngaco lo!”


“Oh ya, hampir lupa. Lo mesti lihat sebuah pertunjukan menarik, Xa.”


Raka tergesa membuka ikatan yang melilit kaki dan perutku. Sampai di bagian tangan, ia merenung sejenak. Mungkin pikirnya jika semua ikatan ini dilepas, sama saja ia bunuh diri. Tapi tak ayal dibukanya juga simpul terakhir itu, membuatku bebas sebebas-bebasnya.


Namun kebebasan tersebut tak berlangsung lama. Setelah menarik paksa tubuhku hingga si kursi sialan terjengkang jauh, ia kembali memasang belenggu di kedua tanganku. Kali ini jauh lebih kencang. Aku sampai meringis menahan nyeri.


Begitu semua dirasa beres, ia mulai menggiringku ke luar bak tahanan.


Lorong-lorong yang kami lewati gelap-gulita tanpa cahaya. Jika bukan berkat senter yang menempel di kepala Raka, mungkin hanya kepekatan yang tampak.


Bulu kudukku meremang saat mendadak Raka mematikan senternya. Bukan kondisi gelap itu yang mengganggu, melainkan jeritan-jeritan pilu di kejauhan sana. Seberapa keras pun menyangkal, aku tahu pasti itu suara lolongan manusia. Manusia berjenis kelamin laki-laki tepatnya.


“Lo denger itu?” bisik Raka. Selain suara jeritan, tempat ini benar-benar sunyi. Aku sampai bisa mendengar deru napasku sendiri.


“Itu suara jeritan manusia yang sedang disiksa di alam kubur,” katanya lagi, bernada rendah. “Kayaknya dia gak bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.”


Ia terbahak-bahak sendiri. Walau tak bisa melihat wajahnya, aku yakin ada raut puas tergambar di sana.


Tiba-tiba aku menyadari sesuatu—tempat ini sunyi dan gelap. Mungkin sebenarnya aku punya peluang untuk melarikan diri. Hanya butuh sedikit tekad dan keberanian, aku yakin bisa kabur dari Raka saat ini juga. Peduli amat seberapa rumit seluk-beluk tempat ini. Aku pasti bisa mengatasinya sendiri nanti.


Wajah Raka berada tepat di depan mataku saat ia menyalakan senternya kembali. Mau tak mau aku terenyak melihatnya muncul tiba-tiba begitu.


“Berniat buat kabur, eh?” terkanya. “Sayang sekali Tuan Muda Raka nggak mudah dikelabui. Ia punya banyak anak buah di tempat ini yang bisa menangkap lo dalam waktu kurang dari satu menit. Lagian, lo belum lihat Rifaldi, kan?”


Ya, ampun! Mengapa aku sampai melupakan Rifa? “Di mana Rifa, Ka?”


Raka mundur beberapa langkah. “Lo yakin pengin lihat dia?”


Aku mengangguk. “Lo pikir apa tujuan gue bolos sekolah sampai berakhir di tempat seperti ini sama lo kalau bukan demi Rifa?”


“Dan lo pikir apa tujuan gue ikut-ikutan bolos sekolah kalau bukan buat menangkap lo?” Raka terkekeh.


“Raka, di mana Rifa?” tanyaku sekali lagi.


“Oh, oke. Sebelum mengirim lo ke surga, ada baiknya gue mempertemukan kalian berdua terlebih dahulu.”


Aku hanya membisu seraya membuntutinya kembali. Beruntung kali ini ia tidak menarik paksa lagi. Kakiku melangkah bebas walau kedua tangan masih terbelenggu erat.


Semakin jauh berjalan, suara jeritan tadi terdengar kian lirih. Lalu menghilang sama sekali. Mungkin, ia sudah tak sadarkan diri.


Raka berhenti tepat di depan sebuah pintu raksasa. Kutebak dari dalam sanalah jeritan tadi berasal.


Kupejamkan mata rapat meresapi suasana sekitar. Suara-suara lain mulai berdatangan mengisi kepala. Suara yang mengerikan. Tak sabar, kudobrak pintu di depanku sekuat tenaga. Tidak ada reaksi. Pintu itu tetap bergeming. Tapi aku tak ingin menyerah. Kucoba sekali lagi, lagi, dan lagi hingga akhirnya Raka memutarkan engsel untukku.


Pintu tersebut kini terkuak lebar dan menampilkan apa yang—tak ingin kulihat.


Aku terpaku sejenak di ambang pintu. Menatap nanar pemandangan mengerikan di depan sana.


Tepat di arah jam dua belasku, tergantung sesosok tubuh tanpa busana. Rantai membelenggu kedua pergelangan tangannya, dengan kaki menggantung bebas tak menyentuh lantai. Deru napasnya tak lagi beraturan. Tubuh itu telah rusak. Penuh lebam, luka, dan berdarah-darah. Ia benar-benar tak berdaya.


“Biadab lo semua!” Tatapanku menuding kumpulan manusia ‘bejat’ tersebut. Dalam situasi normal, aku pasti terkejut melihat keberadaan mereka di tempat ini. Tapi sekarang tidak lagi. Pengkhianatan Andre dan Raka sudah cukup membuktikan kemunafikan itu nyata adanya.


Mereka saling menatap satu sama lain, kemudian memutuskan untuk mencurahkan seluruh perhatiannya padaku.


“Hai, Alexa.”


Aku bergerak maju. “Kalian apa-apaan, hah!?” sentakku mengabaikan sapaan sok manis mereka.


“Alexa, tolong hargai para malaikat gue ini,” ujar Raka yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku lagi. “Ingat, salah satu dari mereka adalah malaikat pencabut nyawa. Apa lo mau mati di sini saat ini juga?”


“Lo gila, Ka!”


“Sssttt ….” Ia berdesis. “Ya. Lo bener. Mereka gak akan bisa menyakiti lo. Karena nyawa lo ada di tangan gue. Jadi cuma gue yang berhak menghabisi nyawa lo.”


“Lo emang psycho!?”


“Eh, kalian kenalan dulu sama dia, gih.” Lagi-lagi nada ringan Raka memancing emosiku naik.


Andre tersenyum sinis, lalu maju selangkah. “Hai, Alexa. Gue Andre. Dan ini abang gue, Kevin,” katanya. “Kami berdua adalah anak orang kaya yang jatuh miskin gara-gara bokap cowok-lemah-yang-lagi-meregang-nyawa di belakang kita ini menjebloskan ayah kita ke penjara tiga tahun silam, saat gue masih kelas sembilan SMP.”


Anak lain maju. “Lo masih inget gue? Gue Jonathan. Gue anak malang yang kehilangan ayah tercintanya setelah kasus DO yang disebabkan cowok tengil itu.”


“Gue Nadine.” Giliran cewek itu yang mendekat dua langkah. “Gue cewek paling cantik di sekolah, tapi Rifa selalu mencampakan gue dan malah dengan bodohnya memilih cewek aneh kayak lo! Atau bahkan lebih bodoh lagi karena menjadi penyebab dikeluarkannya Jo dari sekolah.”


Aku tertawa hambar. Perkenalan macam apa ini? “Terus lo siapa? Vera-si-kutu-buku? Dendam macam apa yang lo punya, hah? Atau jangan-jangan lo mantan pacar Rifa?” tudingku pada Vera, satu-satunya manusia yang belum memperlihatkan jadi diri ia sesungguhnya.


“Gue Vera,” katanya. “Anak dari musuh ayah Rifa yang selalu disiksa kalau sampai nilai gue satu poin di bawah Rifa. Sialnya, nilai gue selalu di bawah anak itu. Oh ya, apa lo tahu siapa pengonsep semua ini? Ya, gue. Gue yang mencetuskan ide, Raka yang membiayai, sisanya yang menjalakan. Dan kalau lo pengin tahu, gue menyimpan seluruh konsep tersebut di buku hitam besar yang sering lo lihat.


“Andre, berperan sebagai penyalur surat yang ditulis Raka. Jonathan, berperan sebagai koordinator orang-orang suruhan kami. Nadine, berperan sebagai provokator Rifa Maniac. Kevin, berperan sebagai mata-mata keluarga Rifa. Raka, selain sebagai pemimpin, juga memata-matai keluarga lo di rumah. Dan gue, mengkhususkan diri sebagai stalker lo. Jadi jangan heran kalau gue tahu semua tentang lo.


“Lo mungkin heran kenapa kami bisa bersatu. Tentu bukan cuma kebetulan. Gue kenal Andre dan Kevin sebab dulu Bokap pernah jadi pengacara ayah mereka. Juga, kami sekolah di tempat ini bukan tanpa alasan.


“Andre bilang, dia sengaja sekolah di tempat yang sama kayak Rifa supaya suatu saat nanti bisa membalaskan dendam keluarganya. Sementara gue, gue terpaksa sekolah di sini karena Bokap terobsesi buat mengalahkan ayah Rifa lewat gue. Dan sialnya, kami sekelas tiga tahun berturut-turut.


“Cambukan dan tamparan udah bukan hal aneh bagi gue. Nyaris setiap akhir pekan—saat Bokap pulang ke Purwakarta—gue menerimanya hanya gara-gara masalah sepele: nilai Rifa sembilan enam, sedangkan gue sembilan empat.


“Bokap gue emang gila. Dia gila karena kekalahannya di sidang saat itu membuat Bokap sepi klien. Maka, mengingat gue punya dendam yang sama, gue pun menawarkan kerja sama pada Andre dan Kevin.


“Tapi rasanya bertiga gak cukup. Misi kami terlalu berisiko hanya untuk dilakukan tiga orang pelajar ingusan. Alhasil, kerja sama kami pending selama satu tahun.


“Suatu hari, tersiar kabar tentang orangtua murid yang mati terkena serangan jantung gara-gara anaknya di-DO dan wajib direhabilitasi. Andre pun langsung mencari tahu siapa dia dan apa penyebabnya. Saat tahu peristiwa tersebut berhubungan dengan Rifa, Andre mencoba mendekati Jo. Pendekatan yang begitu mudah, sebab Jo langsung tertarik untuk ikut serta dalam misi kami.


“Kekuatan semakin terkumpul begitu pacar Jo—Nadine—memutuskan untuk berpartisipasi. Akan tetapi, aksi kami mentok. Antara rencana dan dana benar-benar berbanding terbalik. Keluarga gue dan Nadine emang kaya raya, tapi orangtua kami pelit. Mana mau mereka memberikan uang cuma-cuma?


“Akhirnya, gue teringat teman Bokap yang katanya punya anak cowok seusia gue dan sekolah di tempat yang sama kayak gue. Gue pun mulai mencari tahu tentang dia. Namanya Setya Prakarsa, dari kelas XII IPS 2. Tetangga kelas Nadine.


“Karena saat itu gue belum mengenal Raka, gue pun minta Nadine buat deketin dia. Setelah dikorek, ternyata Raka cinta mati sama lo. Dia bener-bener gak rela lo jadian sama Rifa. Ketika ditawari kerja sama untuk menghancurkan Rifa, gak disangka dia langsung setuju. Di situ, kami mulai menemukan titik terang untuk masalah dana.


“Yang mengejutkan, tiba-tiba Raka memutuskan untuk ikut mencelakakan lo. Dia bilang, hati lo udah tertutup buat dia. Membiarkan lo hidup cuma menambah penderitaannya. Sejak itulah, sedikit demi sedikit rencana mulai dijalankan. Bahkan gak jarang kami membayar mahal orang lain demi memuluskan segalanya.”


Hening. Tak ada sanggahan yang keluar dari mulutku. Pengakuan Vera benar-benar mengejutkan. Terlebih saat kudapati wajah-sok-ramah di depanku telah lenyap. Menyisakan tatapan haus darah di mata kelimanya.


Kevin yang pertama mengambil tindakan. Ia memungut alat cambuknya lalu berjalan menghampiriku. Insting bertahan hidup membuatku refleks melangkah mundur. Berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin darinya. Namun dinginnya tembok yang mulai terasa di punggung menyadarkanku akan sesuatu: aku tidak bisa lagi menghindar.


Mataku terpejam saat Kevin mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah suara berteriak lantang, “Jangan!”


Mataku kembali terbuka lebar demi mendapati Raka telah berdiri di samping Kevin. Perintahnya terlihat begitu ampuh. Jelas sudah siapa bos di sini.


“Sekali lagi gue ingetin sama lo semua, cuma gue yang berhak mengirim Alexa ke surga.” Si gila kembali meracau. “Sekarang lebih baik kalian lanjutkan tugas kalian masing-masing.”


Tiada bantahan. Kevin dan yang lain menurut begitu saja. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya.


Kala melihat wajah-wajah haus darah itu beramai-ramai menghampiri tubuh tak berdaya Rifa, kekuatan dalam diriku perlahan meradang. Bahkan tanpa pikir panjang aku berlari untuk melidunginya. Namun gagal. Seseorang keburu mengadang langkahku. Ia mendorong keras hingga membuatku terbanting cukup jauh. Bukan main sakitnya. Tapi aku berusaha mengabaikan. Yang ada di pikiranku saat ini hanya Rifa serta bagaimana harus menyelamatkannya.


Walau tak mudah, akhirnya aku berhasil bangkit kembali. Belenggu di tangan takkan kubiarkan menjadi penghalang.


Lagi-lagi usahaku terancam gagal. Belum apa-apa Raka kembali datang mengadang. Ia menghalangi kemana pun aku melangkah. Aku ke kanan, ia ikut ke kanan. Aku ke kiri, ia ikut ke kiri. Kami terus melakukan kekonyolan tersebut hingga kesabaran Raka mulai habis. Lalu sekonyong-konyong kakinya menendang tepat di ulu hatiku sampai terdengar suara ‘buk!’ yang cukup keras.


Aku menjerit nyeri. Tubuhku terhuyung-huyung, menabrak tembok, lalu ambruk hingga seluruh isi perutku termuntahkan.


Ya, Tuhan. Ini benar-benar sakit!


Aku meringkuk dengan kedua lutut menekan perut, mencoba mengatasi rasa mual yang tak kunjung reda. Mulutku terbatuk-batuk tanpa henti. Dan demi Tuhan, tenggorokanku mulai mengeluarkan cairan asin berwarna merah!


Saat itulah bayang-bayang kematian serasa mendekat. Hatiku merintih dengan linangan air mata. Terisak lirih, meratapi kemalangan mengerikan ini.


Di saat rohku nyaris menyerah pada maut, sayup-sayup terdengar erangan lain di kejauhan sana. Perlahan kesadaran mulai menyusup kembali. Entah mengapa aku yakin suara tadi berasal dari Rifa. Seolah teguran agar aku tidak menyerah.


Semangatku mulai tersulut. Kembali, aku berusaha bangkit. Dari celah kaki Raka, dapat kulihat aksi penyiksaan terhadap Rifa semakin menggila. Kevin terus mengayun-ayunkan cambuknya di sekujur tubuh Rifa yang tak tertutup sehelai benang pun. Andre dan Jo menendang-nendang perut Rifa layaknya bola sepak. Nadine naik ke atas kursi lalu menggunting rambut Rifa asal-asalan. Dan Vera dengan teganya mengabadikan semua kegilaan itu dalam sebuah handy-cam.


Tubuhku ambruk untuk yang ketiga kalinya saat sebuah kaki menginjak tulang punggungku kuat-kuat. Terasa ada yang remuk di sana. Sekali lagi, aku tak ingin menyerah. Kuliukkan tubuhku hingga keseimbangan Raka goyah, lalu kutendang kakinya sekuat tenaga. Ia tersungkur tepat di genangan muntahanku. Menjijikan. Sialnya, ia tak terlalu mempermasalahkan itu.


Kami saling tatap sejenak. Tak melakukan serangan apa pun untuk waktu yang cukup lama. Namun pertempuran tetap tak terhindarkan. Kami mulai bergumul di atas lantai. Saling menendang, mengelak, tak lelah menyakiti satu sama lain. Mungkin ia lebih unggul karena kedua tangannya bisa bergerak bebas. Tapi ia tidak tahu aku punya jurus jitu untuk mengalahkannya.


Di sisa penghabisan tenaga, kutendang alat vitalnya keras-keras. Tak ayal Raka melolong kesakitan. Kegaduhan kami membuat para penyiksa Rifa menghentikan kegilaannya kemudian berbondong-bondong menghampiri Raka.


Selagi mereka sibuk mengurusi Raka, aku berusaha menyeret tubuhku menuju Rifa. Walau terseok-seok dan tampak seperti Suster Ngesot tanpa tangan, akhirnya aku berada tepat di bawah kaki Rifa yang menggantung. Melihatnya dari jarak dekat membuatku tak kuasa menahan tangis. Ini benar-benar tragis. Tubuh itu sudah tak berbentuk lagi: lebam di mana-mana. Darah menetes ke mana-mana. Rambut pun sudah tak keruan. Oh, Tuhan ….


Aku berusaha bangkit dengan merapatkan punggung ke tembok. Meliuk-liuk seperti ular hingga sedikit demi sedikit usahaku mulai membuahkan hasil. Namun, sebelum aku sempat berdiri seratus persen, Raka berteriak dari tempatnya, “Mati lo Rifaldi!”


Sementara tangan kiri Raka menekan bagian atas celananya yang pasti masih terasa ngilu, tangan yang lain mengacungkan sebuah benda yang membuatku kaget setengah mati: pistol!


“Raka!” Cowok itu beserta kelima anak buahnya menoleh padaku. Kesempatan itu kugunakan untuk menyempurnakan posisi berdiriku. “Lo gak akan tega ngelakuin itu, kan?”


“Siapa bilang?” tanyanya ketus.


“Gue yang bilang!” seruku. “Lo orang baik, Ka. Lo gak mungkin tega membunuh!”


Raka tertawa mencemooh. “Lo keliru. Lo pikir nenek gue meninggal secara wajar?”


“M, maksud lo?” Suaraku bergetar.


“Alexa, nenek gue sama sekali gak sakit. Diagnosa dokter sialan itu cuma tipuan supaya gue mau tinggal sama Nenek di sana. Nenek gue selalu segar bugar. Bahkan dia meninggal dalam keadaan sehat wal’afiat.


“Lo tahu, andai malam itu gue gak baca novel detektif tentang pembunuhan, dan andai pagi harinya gak gue praktikin ke gelas minum Nenek. Mungkin saat ini gue masih berada di luar negeri. Mungkin gue gak akan pernah balik ke Indonesia. Mungkin gue gak akan pernah ketemu lo lagi. DAN MUNGKIN GUE GAK AKAN PERNAH LIHAT LO PACARAN SAMA COWOK LAIN!


“KALAU UDAH BEGINI, PENGORBANAN GUE JADI SIA-SIA, ALEXA!!!”


Lalu semua berjalan begitu cepat. Secepat ayunan langkahku saat Raka menarik pelatuk pistolnya ke belakang hingga meloloskan sebuah peluru ke udara. Aku tersenyum kala berhasil melindungi tubuh Rifa tepat sebelum peluru tersebut mendarat.


Tak lama, aku pun merasakannya. Rasa sakit dan perih saat timah panas itu menerobos kulit punggungku.


Seolah menyadari kehadiranku, Rifa membuka matanya perlahan. Bibirnya tersenyum antara sadar dan tidak sadar. Kami pun saling bertatapan dalam diam sesaat.


Untuk sejenak bagian punggungku yang terkena peluru mengalami mati rasa. Namun akhirnya kembali menjadi rasa sakit luar biasa.


Aku mengerang keras dan tak ingat apa-apa lagi.


Mungkin, aku sudah mati.