Blind Love

Blind Love
Seri 14



“Menurut Abang, aku ini gimana sih sama Libra?” Di suatu sore, Virgo datang ke rumah Aksa seperti biasa dan dia mencoba mencetakan apapun yang terjadi dengan dirinya dan Libra sekarang ini. Merasa jika Aksa adalah orang yang pasti tahu tentang apa yang sekarang di rasakannya, karena itu dia mengatakan isi hatinya.


“Gimana maksudnya?” Jelas saja Aksa bingung ketika tiba-tiba dia ditanyai seperti itu sedangkan Virgo saja tak mengatakan apa yang sedang terjadi selama ini antara dirinya dan juga Libra.


“Aku bingung sama hati ku, Bang. Kira-kira aku ini sayang, cinta, atau sekedar suka aja sama dia?” Kening Aksa mengernyit ketika Virgo benar-benar mengatakan kebimbanganya tentang hatinya kepada Aksa.


“Kamu tahu nggak kalau mengatakan inti pembicaraan tanpa lebih dulu memberikan penjelasan di awal itu membingungkan? Dan itu lah aku sekarang.” Aksa bahkan menatap lurus-lurus ke mata Virgo untuk mengatakan keseriusannya mengenai apa yang dikatakan. “Kalau mau cerita jangan tanggung-tanggung. Jangan sampai aku beri kamu nasehat yang salah.” Bijak sekali Bapak Aksa ini sekarang.


Maka dengan sabar, Virgo akhirnya menceritakan apapun yang selama ini terjadi antara dirinya dan juga Libra. Mulai dari awal sampai akhir. Dan Aksa pun mendengarkan dengan seksama.


“Abang dulu sama kakak kaya gitu juga nggak?” Akhir ceritanya, Virgo bertanya kepada Aksa.


“Kamu seingin tahu itu tentang perasaan kamu sendiri kepada Libra?” Aksa menanggapi serius.


Virgo mengangguk. “Iya, Bang. Aku mau tahu, ini itu perasaan apa sih sebenernya.” Curhatan ini sepertinya akan memakan waktu yang agak lama.


“Kalau itu cinta, kamu mau apa?” Tantang Aksa. “Mencintai orang itu tanggung jawabanya besar, Vir.”


“Sebesar apa?” Sepertinya rasa penasaran seorang Virgo sudah tak main-main lagi sekarang.


“Besar.” Yakinkan Aksa dengan ucapannya. “Menjaga dia dari diri kamu sendiri, itu adalah salah satunya.” Menyamankan duduknya, Aksa benar-benar menatap Virgo dan siap memberikan wejangan.


“Orang yang berpotensi menyakiti seseorang yang kita cintai adalah kita sendiri.” Terlihat sungguh-sungguh mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aksa, Virgo sama sekali tak menyela.


“Contoh kecilnya adalah, ketika kita mencintai seseorang, tapi orang itu nggak suka sama kita. Keputusan apa yang kita ambil? Terus mendekati dia tapi dia mengaggap kita hanya teman, berusaha biasa saja melihat dia sama orang lain sedangkan hati rasanya cenat-cenut, atau ‘memaksa’ dia mau sama kita, sedangkan perasaan seseorang itu nggak bisa di paksa.” Aksa diam sejenak untuk melihat reaksi yang akan diberikan oleh Virgo.


Namun hanya diam saja, maka yang Aksa lakukan adalah dengan melanjutkan khotbahnya. “Itu adalah contoh kecilnya saja Virgo. Ada banyak konsekuensi yang akan kamu dapatkan ketika kamu mencintai seseorang.”


“Jadi aku harus gimana sekarang, Bang?” Virgo masih tak paham apa yang seharusnya dia lakukan untuk hal-hal picisan seperti ini.


“Ikuti saja apa kata hatimu.” Entengnya ucapan Aksa. “Apapun yang diinginkan hati, itulah yang harus kamu lakukan, karena kata hati itu tak pernah salah.” Begitulah enaknya ketika kita mengatakan curahan hati kepada seorang lelaki, mereka tak perlu menceramahi kita dengan bertanya ini dan itu, dan ada jawaban dari kegundahan yang dirasakan.


Berbeda ketika mengatakan curahan hati kepada seorang perempuan. Akan ada banyak hal yang ditanyakan, dan ujung-ujungnya kadang makian yang keluar.


*.*


Hari sabtu, artinya Aksa libur bekerja, dan berarti jadwal lelaki harus mengantarkan anak-anaknya pergi ke sekolah. “Pulang nanti, Ayah sama Bunda yang jemput ya.” Ixy yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya kini sedang melakukan rutinitas paginya, yaitu sarapan. Bukan hanya Ixy, Avez dan kedua orang tuanya juga melakukan hal yang sama.


“Kenapa harus ayah sama bunda? Ayah aja kan nggak papa.” Love membersihkan nasi yang ada di sudut bibir Ixy. “Bunda kan banyak kerjaan.” Begitu kata Love. Sedangkan kenyataanya adalah nol besar. Pekerjaan apa yang dimaksud peremuan itu? jelas-jelas dia tak memiliki kesibukan apapun kecuali ngantuk di rumah.


“Benar, Dek. Bunda itu banyak sekali pekerjaannya, sampai nggak tahu mau mana dulu yang dikerjakan dia sampai memutuskan untuk mengantuk saja dibandingkan menyelesaikan pekerjaannya.” Sindirian halus diberikan Aksa untuk istrinya.


“Kalau aku diinjinka, aku may loh Yah bekerja. Mungkin merasa jika dia tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh suami. “Makanya kasih aku kerjaan.”


“Mana ada lowongan pekerjaan buat kamu. Mana berani orang kasih kerjaan ke kamu. Kerjaan kamu yang hakiki adalah menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Nggak ada pekerjaan yang cocok buat kamu. Jadi terimalah apa yang sudah digariskan Tuhan buat kamu.”


“Gombalan pagi ya?” Love tak bisa untuk tak tersenyum mendengar bualan Aksa. Bisa sekali ucapan lelaki itu.


“Untuk hari ini, berangkat dan pulang sekolah ayah sama bunda yang antar jemput. Adek nggak perlu khawatir. Toh biasanya juga kaya gitu kan?” Setiap sabtu memang itulah rutinitas yang dilakukan Aksa. Karena dia ingin menjadi ayah yang baik buat kedua anak-anaknya. Selama lima hari dia bekerja seharian, ketika waktu libur kerja seperti ini, rasanya memang harus digunakan waktunya untuk keluarganya.


Selesai sarapan, mereka berangkat agar tidak terlambat masuk sekolah Avez dan juga Ixy.


“Assalamu alaikum Yah, Bun.” Avez nengambil tangan kedua orang tuanya untuk bersalaman dan mencium tangan mereka. Begitupun juga Ixy. “Abang sama adek masuk dulu.”


“Yang pinter ya belajarnya.” Nasehat harian yang selalu dikatakan oleh Aksa maupun Love, karena ucapan orang tua adalah doa, maka mereka harus mengatakan hal-hal bagus untuk anak-anak mereka.


Melihat kedua anaknya yang tak terasa sudah tumbuh besar, Aksa merasa baru kemarin Avez lahir ke duania dengan tangis yang keras dan masih merah. Dan sekarang mereka sudah menjadi anak-anak yang luar biasa sekali di matanya.


“Apa yang sedang Mas pikirkan sekarang?” Love sepertinya penasaran dengan Aksa yang menatap kedua anaknya yang sudah tak terlihat lagi itu dengan tatapan yang, entahlah, tak bisa di deskripsikan.


“Kita balik.” Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Aksa justru mengatakan sesuatu di luar pertanyaan itu. Love melirik malas dan berjalan malas pula untuk masuk ke dalam mobil. Memakai sabuk pengamannya, kemudian Aksa menjalankan mobilnya untuk keluar dari pelataran sekolah anak-anaknya.


“Nggak terasa kita udah tua, Yang.” Sepertinya Aksa ingin memulai percakapan. “Aku mau nostalgia.” Entah ide dari mana, tapi tiba-tiba Aksa mengatakan itu sambil menatap sang istri. “Ke sekolah. Kita habiskan hari ini untuk mengingat masa-masa dulu ketika kita masih sekolah.”


Itu bukanlah ide yang buruk tentu saja, bahkan Love merasa senang dengan ide sang suami. “Tapi hari ini kan sekolah masih masuk?”


“Dan mereka pasti ada di ruangan kelas. Kita bisa sambil bertemu dengan guru-guru kita yang masih mengajar di sana.” Lagi-lagi Aksa merasa excited dengan pemikiran itu.


“Anak-anak?” Pasalnya tadi anak-anak mereka menginginkan hari ini kedua orang tuanya bisa mengantar dan menjemput ke sekolah. Dan Aksa pun menyetujuinya, dan tentu saja itu akan membuat Ixy merajuk kalau sampai Aksa melanggar.


“Sebelum mereka pulang, kita harus udah sampai ke sekolah mereka lagi.” Itu seperti janji yang diucapkan seorang pujangga cinta yang sedang mengatakan janji cintanya.


“Yakin?” Love melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannnya, pukul 07.30 dan tentu itu masih pagi. “Emang masih pagi sih, tapi kan kalau macet nanti gimana?”


Bahkan selama di perjalanan, Aksa terlihat sumringah sekali. Sesekali menarik tangan Love dan menggenggamnya penuh sayang. Suasana hati Aksa benar-benar berada di singgasana kebahagian yang luar biasa.


*.*


“Kita sampai.” Mobil mereka sudah masuk ke dalam pelataran parkir sekolahnya dulu, dan senyum Aksa mengembang bak sebuah bunga.


“Masuk kita?” berada di tempat itu membuat Love juga merasakan perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bibirnya terbentuk kurva senyum bahagianya.


“Ayo!” Setelah mengatakan itu Aksa langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana diikuti oleh Love. Seperti berada di sebuah drama, Aksa menghirup udara di sana sambil memejamkan mata beserta senyum kecil di bibirnya. Love melihat itu sambil teresenyum. Di dekatinya sang suami dan di genggamnya tangan lelaki itu.


“Ayo.” Begitu ajaknya agar mereka segera masuk ke dalam sekolah tersebut dan memulai ‘aksinya’ melihat-lihat apakah masih seperti dulu ataukah sudah ada perubahan besar-besaran.


Mereka berjalan bergandengan tangan, dan lebih dulu menuju ruang guru. Satpan yang menjaga sekolah sudah digantikan oleh satpam yang baru, dan artinya baik Aksa maupun Love tak mengenal beliau.


“Permisi!” Aksa lebih dulu masuk ke dalam ruang guru dan berdiri di depan pintu, sedangkan Love belum masuk dan berdiri saja di belakang sang suami.


“Ya?” Salah satu guru menjawab dan mendekati Aksa. “Ada yang bisa di bantu, Pak?” Ada rasa tak yakin yang dikeluarkan dari ekspresi guru tersebut. Aksa masih mengingat beliau dengan baik, sedangkan guru tersebut tidak.


“Ibu.” Aksa mengambil tangan ibu guru tersebut dan menciumnya. Yang jelas membuat wanita itu kebingungan. Namun ketika mata beliau melihat Love di belakang Aksa sambil tersenyum, beliau malah langsung tahu.


“Lovela?” Begitu katanya dengan mata melebar. “Lovela kan?” Ucapnya meyakinkan bahwa apa yang di kenalinya itu tidak salah.


“Iya, Bu.” Kini Love mendekat dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh sang suami. Yaitu mencium tangan beliau.


“Ya Allah, Nak.” Ibu guru tersebut memeluk Love dan menepuk punggung perempuan itu pelan. “Nggak nyangka kalau ibu bisa bertemu kamu lagi.” Entah kenapa guru tersebut seolah begitu menyayangi Love sampai beliau masih mengingat Love yang bahkan sudah sangat lama sekali mereka tak bertemu.


“Ibu apa kabar, baik kan?”


“Alhamdulillah, ibu sehat sekali.” Katanya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian menarik lagi Love ke dalam pelukannya. “Semua berkat Love.” Suaranya seperti bisikan, tapi Aksa bahkan mendengar apa yang dikatakan oleh ibu guru tersebut.


“Ayo, kalian masuk lah.” Digandenganya Love untuk mendekati guru-guru di sana yang dulunya mengajar Aksa dan Love.


“Masih ingat anak-anak kita ini, Bu, Pak?” Beliau menatap guru-guru di sana sambil menyunggingkan senyumannya.


Ada beberapa yang masih mengingat ada juga yang sudah lupa. Mereka memang sudah lama sekali tak bertemu, tak ada sekalipun baik Aksa maupun Love sesekali ke sekolahnya untuk bersilturrahmi kepada guru-gurunya.


“Duduk, Nak.” Mereka berdua kini sudah duduk di sofa ruang guru yang memang di sediakan untuk menerima tamu. Ada beberapa guru yang ikut mengobrol bersama guru.


“Aksa Arion Ganendra.” Seorang guru lelaki menatap lelaki itu dengan senyum lebar. “Murid bapak yang hebat.” Pak guru tersebut menepuk-nepuk tangan Aksa pelan. “Nggak pernah dapat nilai jelek, anak hebat, dan tentu saja kecintaan semua gadis. Sayangnya, Love sekarang yang mampu meluluhkan hati Aksa.” Love yang duduk di dekat Aksa merona karena godaan tersebut.


“Bapak masih inget aja sih.” Love benar-benar malu sepertinya.


“Jelas saja ingat, kisah kamu yang gigih dan pantang menyerah. Dan tak ada usaha yang menghianati hasil kan? Buktinya kamu sekarang menikah dengan Aksa.” Guru-guru di sana yang mendengarkan ikut terkekeh. Meskipun mereka tak duduk tempat yang sama, tapi suara pak guru tersebut memang bisa di dengarkan oleh orang-orang di ruangan itu.


“Kamu tahu, Love? Bapak pernah memergoki kamu yang berdebat sama kakak kelas karena rebutan Aksa.” Astaga, entah berapa banyak lagi rasa malu yang akan Love tanggung tentang semua ini. “Jadi, gimana caranya kalian bisa bersatu sekarang?” Tanya pak guru tersebut lagi. Sepertinya beliau terlalu ingin tahu kisah asmara dua mantan muridnya itu.


“Takdir yang mempertemukan kami, Pak.” Aksa yang menjawab. “Ehm, Pak, sebetulnya kami ingin meminta izin Bapak untuk melihat-lihat sekolah ini.” Permbicaraan tentang kisah mereka di masa lalu memang harus segera di akhiri.


“Tapi Love adalah orang yang hebat.” Ibu guru yang menyambut kedatangan Love dan Aksa tadi tiba-tiba berceletuk. “Bahkan sampai saat ini, ibu bisa melanjutkan hidup ibu dan masih bisa bersama kelurga juga karena Love.”


“Ibu.” Inginnya Love mengatakan jika beliau tak perlu mengatakan apapun, tapi sepertinya ibu itu ingin menceritakan sesuatu. Bahkan beliau menggenggam tangan Love dan mengatakan terima kasih.


“Kenapa, Bu?” Aksa jelas penasaran dengan kisah sang istri dan gurunya, kerena sebelumnya tak pernah sekalipun Aksa mendengar masalah ini.


“Dia adalah satu yang berjuang agar ibu di oprasi ketika kami sudah putus asa dengan keuangan kami waktu itu.” Perempuan tersebut berkaca-kaca ketika mengatakan itu.


“Ibu nggak usah ingat-ingat lagi kejadian itu.” Love balik menggenggam tangan gurunya tersebut dan mengatakan tidak secara verbal jika semua itu sudah berlalu.


Meskipun Aksa masih belum mengerti tentang semua itu, tapi dia berusaha untuk mengerti dan mengangguk. Nanti, dia akan meminta istrinya itu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa itu.


“Sudah mulai siang, Bu. Seperti kami harus segera memulai ‘perjalanan’ kami.” Love tak ingin tertahan di sana lebih lama lagi. “Kami permisi dulu ya, Pak, Bu.” Lanjutnya.


“Kalian ingin bernostalgia?” Seorang ibu guru menceletuk.


“Seperti itu lah, Bu. Kami ingin mengenang masa lalu kami di sini.” Aksa menjawab dengan santai sambil tersenyum.


“Silahkan.” Bapak guru yang mengetahui kisah asmara Love itu menjawab. “Kalian bisa melihat-liihat sekolah kalian.” Ijinnya. “Memang ada perubahan dari sekolah ini, tapi bapak rasa kalian masih bisa menikmati suasana baru di sini.”


Love dan Aksa kemudian berdiri. “Kalau begitu kami permisi dulu, Pak.” Pamit Aksa. “Terima kasih sudah mengijinkan.” Mereka berjabat tangan untuk berpamitan. Dan berbasa-basi sebentar, kemudian pasangan itu keluar dari ruang guru untuk memulai ‘petualangannya’.


*.*