Blind Love

Blind Love
Lajutan 21



Aksa dan Love melihat perkembangan putra mereka setelah les private yang dilakukan oleh Avez selama satu tahun ini. Dan hasilnya, bocah itu benar-benar menyerap semua ilmu yang diberikan oleh gurunya kepadanya. Bukan hanya dance sekarang tapi juga beberapa alat musik dan vocal juga dipelajarinya.


Kedua orang tua Avez itu memang tak akan tanggung-tanggung untuk membuat anak-anak mereka menjadi yang jempolan. Waktu yang dimiliki Avez bahkan hanya sedikit sekali untuk bermain. Tapi bocah itu menikmatinya.


Guru-guru yang mengajarinya benar-benar bisa membuat anak itu nyaman untuk belajar.


“Kasihan juga sebenernya dia itu.” ketika Avez sudah terlelap dengan kedua orang tuanya menatapnya, Love berkomentar. “Tapi dia harus melakukan ini. Ke depan nanti, pasti saingannya sangat banyak untuk dia menjadi unggul, jadi persiapannya harus mulai dari sekarang.”


“Memang belajar itu harus dilakukannya sejak kecil.” Tanggap Aksa. “Kamu tahu, kalau dulu Ayah sudah belajar tentang perusahaan sejak masih SMA. Masih lumayan aku kan?” Sepertinya Aksa ingin bercerita.


“Mas kan sejak kuliah kerjanya.”


Aksa mengangguk. “Kamu pasti pernah baca cerita CEO yang umurnya delapan belas tahun.” Tatapan Aksa bahkan seperti mencibir.


“Nggak pernah. Ngaco aja, Mas ini.” Elak Love.


“Kla aja pernah. Terus dia nyumpahin buku itu.” Aksa terkekeh mengingat kejadian di mana Kla sepanjang membaca buku yang dibelinya itu dengan suara-suara mengejek ala perempuan.


“Kok bisa?” Love sepertinya belum nyambung sama sekali.


“Ya bisa lah, Kla itu kan orangnya terlalu blak-blakan, kalau sesuatu yang menurutnya nggak masuk akal, langsung lah tu ngomel sendri.


Bukan hanya Aksa yang tertawa, Love pun ikut terkekeh karena hal itu. Sebenarnya dia pernah membaca cerita seperti itu dulu, tapi bukunya bukan dia yang membeli. Seorang temannya yang meminjamkannya untuknya.


“Eh, tapi di luar negeri ada bocah yang IQ nya tinggi bisa lulus kuliah umurnya sebelas tahun loh. Bisa aja kan mereka terinspirasi dari itu.” Love memang pernah menonton acara yang memberitakan tentang hal tersebut.


Dan menurutnya tak ada yang tak mungkin.


“Semua itu mungkin aja sih. Tapi juga nggak mudah. Dan di cerita itu, menggambarkan kalau semuanya serba mudah.”


“Kok, Mas tahu? Ikut baca juga?”


“Iya.” Jawaban Aksa itu seolah dia tak malu mengatakannya. Yang membuat Love mecibir ke arahnya.


“Kenapa? Mas juga terinspirasi kalau mau CEO di usia muda?” Aksa menggelengkan, kemudian menyentil dahi perempuan itu.


“Aku umur segitu aja masih belum ngerti apa-apa. Apalagi jadi CEO, bisa-bisa karyawannya pusing ngajarin aku.”


“Tapi yang nulis kisah kita ini kok nggak buat kayak gitu ya, Mas?” Aksa hanya mengedikkan bahunya tak acuh.


“Mana nyampek otaknya si Yoelfu buat kisah CEO macem begitu, orang amatiran begitu.” Tanggapan yang luar biasa sekali si Aksa ini. Ahli sekali dalam mencemooh. Bahkan dia menggelengkan kepalanya mendramatisir.


“Dia itu bisanya ya yang begini ini lah, yang aman-aman aja buatnya. Kalau orang masak, dia itu mau masak tapi jangan masak yang pakai menggoreng, takut nyiprat minyaknya.” Masih saja orang satu itu berkomentar negative tentang pemilik nama tersebut. Tapi apalah daya, karena itu adalah sebuah kebenaran, maka Love mengangguk dan menyetujui.


*.*


Sepertinya waktu memang berlalu terlalu cepat. Paling tidak begitu menurut Love. Bagaimana tidak, jika dia merasa jika dia baru saja hamil, kemudian melahirkan Avez, tapi sekarang bocah itu sudah tumbuh besar. Ya, Avez sudah kelas empat sekolah dasar, sedangkan Ixy duduk di kelas satu SD.


Jika di lihat perangai Avez, dia benar-benar bisa menjaga adiknya dengan sangat baik. Dia menjadi orang pertama yang akan membuat siapapun kapok jika berani membuat adiknya menangis. Untungnya, itu hanya terjadi satu kali saja. Dan siapapun tak ada yang berani menggaggu Ixy.


Melihat anaknya seperti sekarang ini, membuat Love lega sekaligus senang. Ketika sore datang, Avez memakai baju muslimnya, tas di sandang di belakang, dengan peci di kepalanya, membonceng Ixy yang juga menggunakan gamis dan kerudung serta tak lupa tasnya, untuk pergi mengaji di masjid.


Keakraban kedua anak itu menjadi primadona di komplek perumahannya. Jika ada dari tetangganya yang melihat kedua kakak beradik itu pergi mengaji, sapaan itu selalu saja di dapatkannya.


“Kata Bu Ustad, kita dosa kalau nggak sholat, Bunda.” Ixy sekarang memang suka sekali bercerita. Apapun kegiatan ataupun apapun yang diajarkan dan dikatakan oleh gurunya selalu dipatuhinya.


“Iya dong. Allah marah kalau kita nggak sholat. Adek nggak mau kan Adek di marah sama Allah?” gelengan itu langsung terlihat dari kepala Ixy setelah ibunya mengatakan hal itu.


“Adek rajin kok, Bunda.” Bagitunya katanya sambil nyengir dan melihatkan gigi-giginya yang rapi. “Kak Alya pasti akan dimarahi Allah ya, Bunda. Kemarin Kak Alya sholatnya main-main.” Adunya lagi pada sang bunda. “Dia


bilang cinta-cinta sama Bang Avez.” Mata Love sontak melebar ketika mendengarkan hal itu.


“Adek nggak boleh bilang kaya gitu ya. Allah juga nggak suka.” Kepala Ixy mengangguk semangat.


“Dosa ya, Bunda?” Tanyanya untuk memastikan. “Tapi Bu Ustad nggak bilang.” Kepala Love pening seketika mendengar banyak sekali pertanyaan dari putrinya.


Belum satu di jawab, muncul lagi pertanyaan baru. “Bunda, Allah itu ada di mana?” Love menatap putrinya itu dengan serius. Dia tak menyangka jika Ixy akan sesensitif ini.


Tersenyum, Love menjawab. “Allah itu ada di hati kita, Sayang. Hati adalah tempat kita mengenal Allah, tempat kita mengingat Allah. Karena itu, ketika kita melakukan kesalahan, hati kita tak akan pernah mengatakan itu benar, hati tidak bisa berbohong.” Bukan hanya Ixy yang mendengarkan, Avez pun tiba-tiba berada di dekat sang bunda ikut mendengarkan juga.


Ixy mungkin sekarang belum mengerti sepenuhnya apa yang ibunya katakan, tapi pertanyaan yang dia berikan secara spontan kepada ibunya, adalah tanda jika dia memang memiliki keingiinan yang besar untuk mengetahui Tuhannya.


“Sekarang, Adik dan Kakak tidur ya, udah malam.” Ixy langsung berbaring di kasurnya dan memeluk guling miliknya.


“Good night, Bunda.” Begitu katanya sambil memejamkan matanya.


“Good night, Sayang.” Dikecupnya rambut Ixy, menyelimutinya, kemudian beralih melakukan hal yang sama kepada Avez. Barulah dia pergi dari kamar anak-anaknya untuk masuk ke kamarnya sendiri.


Sedangkan di kamar, suaminya masih duduk dengan tenang di atas kasur sambil memangku laptop miliknya. “Udah tidur, anak-anak?” begitu tanyanya masih fokus dengan apa yang dikerjakan.


“Udah.” Jawabnya pelan. Ikut duduk di samping Aksa, kemudian menyenderkan kepalanya di pundak sang suami.


“Ixy makin pinter aja sih, Mas.” Adunya.


“Bagus dong, tandanya dia menyerap semua ilmu yang gurunya berikan kepada dia.”


“Tapi dia tadi tanya yang buat aku bingung jawabnya. Untung aku dengerin ceramah ustad-ustad.” Tidak selalu memang, tapi Love sering menonton ceramah atau menonton berita tentang keislamian.


“Apa pertanyaannya?” Kepo Aksa.


“Allah itu ada di mana.” Aksa seketika menatap Love yang berada di sampingnya.


“Kamu jawab apa?”


“Bagus. Kamu nggak salah. Dan kamu juga harus tahu, kalau banyak anak yang memiliki ke sensitifan yang luar biasa seperti itu, jadi semakin umur Ixy bertambah, maka dia akan memiliki pertanyaan lain yang mungkin


akan lebih sulit. Karena itu, kamu harus terus belajar agar kamu bisa menjawab pertanyaan dia.” Petuah Aksa.


“Hem.” Love juga sadar jika ilmunya memang tak sebanyak itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh putrinya. Tapi paling tidak, dia tak akan terlalu bodoh di depan anak-anaknya nanti.


*.*


Minggu seperti ini memang lebih asyik jika berjalan-jalan bersama keluarga. Itulah yang Aksa dan Love lakukan sekarang. Mereka mengajak anak-anak mereka ke tempat-tempat yang bukan hanya mengadalkan hiburan semata, tapi juga edukasi.


“Abang, itu bagus.” Tunjuk Love ketika dia melihat secara langsung anak-anak muda yang dengan ahlinya berdiri di atas papan. Bahkan Ixy juga bertepuk tangan dengan heboh ketika melihat hal tersebut.


“Adek seneng?” begitu Aksa bertanya kepada putrinya itu.


“Iya, Yah.” Begitu katanya dengan riang. Sedangkan Avez tak banyak berkomentar, tapi matanya begitu fokus melihat orang-orang tersebut. Begitulah Avez jika memiliki ketertarikan pada sesuatu. Matanya tak bisa berbohong.


“Abang pengen main?” Aksa menatap putranya dari samping.


“Iya, Yah.” Jawaban itu disertai anggukan. Dan matanya terlihat berbinar.


“Nanti kita beli papan yang kaya itu ya. Abang tahu nggak itu papan namanya apa?”


“Nggak, Yah.”


“Itu namanya papan sketboard, Bang. Keren kan?”


Avez mengangguk dengan semangat. “Iya, Yah.” Kemudian kembali menatap ke depan dengan senyum mengembang.


Setelahnya, keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan. Berjalan kaki di bawah pohon yang rindang benar-benar membuat suasana menjadi lebih santai. Ada bekal yang sudah Love persiapkan untuk mereka, dan piknik ini


di mulai. Dengan menggelar tikar, semua bekal makanan di letakkan di atasnya, mereka duduk melingkar.


“Bunda, anggur.” Ixy menunjuk anggut yang berada di kotak bekal dengan semangat. Bocah itu memang suka sekali dengan buah tersebut. Bukan, memang mereka sekeluarga sangat menyukai buah-buahan.


“Makan nasi dulu.” Love sudah mengambilkan makanan di atas piring plastik, serta lauknya, dan menyodorkannya ke arah Ixy.


“Mau anggur, Bunda.” Rengeknya keras kepala. Bibirnya manyun karena keinginanya belum terpenuhi.


“Makan dulu, nanti baru makan buahnya. Adek mau sakit perut?” begitu katanya yang membuat Ixy memanyunkan bibirnya. Bukan Love tak mau memberikan buah itu kepada putrinya, tapi kalau Ixy sudah memakan buah, dia tak akan minat lagi sama nasi.


“Kata Bu Ustad kan anak pintar nggak boleh manyun.” Itu yang dikatakan oleh Avez ketika melihat sang adik merajuk. Bukannya Avez tak pernah merajuk, tapi memang begitulah anak-anak, akan mengingatkan orang lain untuk tak merajuk tapi dirinya sendiri pun melakukan hal yang sama.


Dan tentu saja berhasil. Entah kenapa, Ixy manut sekali dengan kakanya itu. “Adek kan nggak merajuk, iya kan, Bunda?” dengan melebarkan bibirnya membentuk senyuman, Ixy membuat seolah tak terjadi apapun. Dia bahkan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan lahap.


“Nggak, dong. Adek kan anak pintar.” Love dan Aksa saling pandang dan keduanya tersenyum satu sama lain.


“Ampuh sekali obat satu ini.” Aksa membelai puncak kepala Avez dengan sayang karena ucapan bocah itu benar-benar bisa membuat adiknya nurut.


Bahkan Love terkekeh melihat interaksi kakak beradik itu. Dia merasa bersyukur karena Ixy memiliki kakak yang bisa menjadi teman bagi bocah itu. Sedangkan dirinya tak pernah merasakan bagaimana memiliki seorang kakak kandung. Memang dia memiliki Biya, kakak sepupunya, tapi mungkin akan lebih bahagia jika dia memiliki saudara kandung. Bersyukurlah orang-orang yang memiliki saudara dalam hidupnya.


“Udah, Bunda.” Ixy memberikan piring kotor bekas makannya kepada Love. Piring itu sudah tak menampung makanan lagi diatasnya, dan itu membuat bocah itu mendapatkan jempol dari kedua orang tuanya.


“Adek hebat. Jempol pokoknya.” Kemudian disodorkan anggur yang sejak tadi di tunggunya oleh bocah itu. “Adek boleh makan anggur sekarang.” Tentu saja itu membuat Izy melebarkan senyum yang dimilikinya.


“Makan banyak-banyak ya, Bunda.” Begitu dia bilang sambil memangku kotak kecil berisi anggur kesukaannya. Dan hari itu dihabiskan mereka untuk bertamasya. Mengenal hal-hal baru, sekaligus melepas kepenatan.


Mereka kembali pulang ke rumah ketika sudah pukul delapan malam. Ixy tak mau turun dari gendongan ibunya dan merengek kakinya pegal. Love bahkan yang juga kelelahan menghela napas berkali-kali mengulur kesabarannya.


“Mandi ya.” Memang sudah malam, tapi tubuh mereka sudah berkeringat karena seharian berada di luar ruangan. Dan kalau dua bocah itu tak membersihkan badannya, sudah dipastikan jika mereka tak akan nyenyak tidur.


“Abang mandi dulu.” Perintah Love kepada putra pertamanya itu. Avez yang sedang berbaring di sofa ruang keluarga menjawab.


“Nanti, Bunda.” Begitu katanya dengan lelah.


“Habis mandi langsung tidur. Ayo, Bang.” Mata Avez bahkan sudah merek melek karena kantuk sudah benar-benar menderanya.


“Bang!” Jika suara Aksa sudah bernada rendah dan memperingatkan, Avez akan melakukannya meskipun badannya ingin sekali berbaring dan memeluk guling miliknya. “Mandi dulu, Nak. Biar seger.” Begitu tambah Aksa.


Avez berjalan lunglai dan naik ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya. Lemas sekali bocah itu. Tak lama kedua orang tuanya dan juga Ixy yang masih tak mau berjalan karena kelelahan berada di gendongan sang ayah. Kedua


lengannya di lingkarakan di leher Aksa dan kepalanya menyandar di pundak lelaki itu. Matanya sudah hampir terpejam dan kesadarannya hampir terseret ke alam mimpi.


Pintu kedua anaknya itu dibuka oleh Love, dan hembusan napas kembali terdengar. “Coba lihat, Yah.” Tunjuk Love di kasur Avez. Bocah itu tertidur dengan badan di kasur, sedangkan kakinya bergelantung. Tidurnya terlihat nyenyak sekali membuat Aksa maupun Love tak tega membangunkannya.


“Kamu mandiin Ixy sebelum dia juga ketiduran.” Dan ternyata ketika Ixy akan di turunkan dari gendongannya, bocah itu sudah lunglai karena tidur. Jadi untuk malam ini bisa dipastikan jika kedua anak Aksa itu tak akan mandi.


Aksa memperbaiki tidur Avez dan Ixy barulah mereka keluar dari kamar anak-anaknya.


“Ayah mandi dulu lah.” Perintah Love kepada suaminya.


“Kamu dulu aja, entar kamu ketiduran kaya anak-anak.” Mereka sudah berada di dalam kamar miliknya dan duduk di sofa dengan menyelonjorkan kakinya di atas meja.


“Di kira aku Ixy. Udah, Ayah dulu.” Tolak Love.


“Susah sekali kamu di suruh mandi.” Aksa memejamkan matanya dengan bersender di kepala sofa. “Mandi bareng aja kalau gitu.” Itu bukan usul semata tentu saja, karena Aksa sudah menarik Love untuk ke kamar mandi bersama.


Kelakukan Aksa yang tak terduga.


*.*