Blind Love

Blind Love
Kisah 56



El tersenyum ketika melihat sebuah botol yang berisi kunang-kunang hasil dari dirinya dan Orion menangkapnya. Tak jauh dari tempat tersebut memang ada lahan yang tak digunakan namun masih terjaga. Dan di sanalah kunang-kunang itu berterbangan dengan indah dengan cahaya yang dimilikinya.


Di jaman sekarang ini serangga itu memang sudah jarang didapati, sedangkan di tempat tersebut yang memang adalah tempatnya agak terpencil dan lahan tersebut juga lahan basah, karenanya serangga tersebut masih bisa hidup dengan baik di sana.


“Hanya dikasih kaya gitu aja udah seneng lo, El.” Mereka sudah pulang ke rumah dan El membawa oleh-oleh satu botol kunang-kunang. Bukan satu botol penuh tentu saja, tapi hanya beberapa ekor yang bisa ditangkap oleh Orion dan di masukkan ke dalam botol. Dan botolnya pun tentu saja bukan botol kaca yang cantik seperti di film-film, tapi hanya botol plastik bekas minuman yang mereka beli tadi.


Bahagia itu memang tak harus mahal.


“Gue suka seneng.” El tersenyum, “Thanks, karena lo udah susah payah nangkep mereka sampai hampir kepleset di rawa-rawa.” Orion ketika beraksi tadi memang sempat hampir terjerembat dan jatuh, tapi sayangnya El menariknya dan lelaki itu ‘selamat’.


“Sama-sama.” Orion balas tersenyum. Mereka memang hanya di tempat itu saja tanpa pergi kemananpun lagi karena memang waktu yang mereka miliki hanya sedikit. Perjalanan mereka pulang pun membutuhkan waktu yang tak sebentar.


“Lo emang kayak gini, Yon?” El menyenderkan punggungnya, melihat kunang-kunang itu terperangkap di dalam botol dan terbang membawa keindahan.


“Kayak gini gimana?”


“Lo itu lain daripada yang lain.” Pandangan El fokus kepada lelaki itu dan kembali berbicara. Sepertinya El memang sudah merasakan nyaman dengan lelaki itu.


“Lo lebih memilih mengajak cewek pergi ke tempat yang jarang di datangi oleh kebanyakan orang. Memberi kesan lain yang bagi gue itu menyenangkan.” Blak-blakan El.


Mobil berhenti karena lampu merah. Lelaki itu ikut menyerongkan tubuhnya ke arah kiri di mana El berada. “Kalau lo tulus mengakatan itu, gue akan lebih seneng.” Orion benar-benar menatap El penuh dengan kekaguman. Gadis itu disampingnya itu hanya menggunakan pakaian ala kadarnya, wajahnya hanya dibalut make up tipis, yang mungkin juga sudah luntur, tapi tetap saja masih cantik sekali di mata Orion.


Lelaki itu berharap lampu hijau tak segera menyala agar dia bisa menikmati wajah gadis yang sedang bersamanya ini.


“Kenapa lo?” El tiba-tiba bersuara karena di tatap sebegitu dalamnya oleh Orion. Sejujurnya, orion ingin sekali menyentuh wajah gadis itu, tapi dia berusaha menahannya mati-matian atau kalau tidak, pertemuan ini akan menjadi pertemuan yang terakhir karena El yang murka.


“Lo pernah merasa kalau lo itu cantik nggak?” pertanyaan itu akhirnya terlontar dari bibir Orion. Karena sepengetahuan lelaki itu, ada perempuan cantik yang sadar dirinya cantik, cantik tapi tak sadar jika dirinya cantik, dan ada juga yang tidak cantik tapi dia merasa dirinya cantik.


Jadi, El entah ada di tipe yang mana dia mencoba mencari tahu.


“Gue kadang ngelihat Al dan kagum sama si tengik itu. Kenapa dia menjadi popular di sekolah, kenapa dia bahkan menjadi idola dan memiliki fans padahal dia bukan selebriti.” Mobil sudah kembali berjalan, “Dan ketika gue lihat, dia memang ganteng. Ganteng banget malah,”


“Gue setuju.” Orion menimpali, “Gue bukan orang yang munafik yang nggak mau menilai cowok dan bilang orang itu ganteng hanya karena gue juga cowok. Dan gue akui kalau kembaran elo itu emang ganteng.”


El tersenyum, “Dan kemudian gue bandingkan dengan diri gue, yang memang gue adalah versi cewek dari Al. Entah karena keseringan gue ngelihat dia atau apa, gue ngerasa beda aja sama dia. Ada kalanya gue ngerasa gue cantik di waktu tertentu.”


“Contohnya?”


“Waktu bangun tidur, dan wajah gue meproduksi kilang minyak.” Ucapan El itu benar-benar memancing tawa Orion.


“Kok gue jadi penasaran lo kalau bangun tidur kayak apa ya?”


Kini El yang tertawa. “Gue serius,” jawab El lagi, “Gue kalau bangun tidur, hal yang gue lakuin adalah melihat wajah minyakan gue dan mengaguminya. Sebetulnya, berapa orang yang ngebor minyak di dalam pori-pori wajah gue, sampai hasilnya semenakjubkan ini.”


Orion tak lagi mengendalikan tawanya karena ucapan absurd dari El. El tak ikut tertawa, tapi ini adalah kali pertama dia mengobrolkan hal-hal yang tak penting dengan seseorang.


Nyamankah dia dengan Orion? Kenapa dia bisa sekali mengatakan rahasia itu kepada lelaki tersebut.


“Tapi gue yakin lo tetap cantik.” Hanya meninggalakan senyum dari tertawanya tadi, Orion kembali bersuara.


“Ya, kan gue udah bilang kalau gue merasa cantik di saat itu.” Jawab El dengan santai.


Mobil Orion sudah samapi di kediaman El pukul sepuluh kurang. Mereka turun dari mobil dengan El tak lupa membawa botol berisi kunang-kunang, diikuti oleh Orion di belakangnya. Lelaki itu jelas harus berpamitan kepada orang tua El dan mengembalikan putri mereka dengan selamat.


“Terima kasih, Om, sudah ijinkan saya buat jalan sama El.” Katanya ketika Virgo duduk di depannya.


“Iya. Om juga terima kasih karena kamu sudah mengantarkan El tepat waktu. Artinya kamu bisa menepati janji kamu.” Begitu kata Virgo.


“Sama-sama, Om. Sudah tanggung jawab saya menepati janji.” Orion melihat jam yang ada di dinding rumah El dan kemudian berpamitan, “Kalau begitu, saya pamit dulu, Om. Sudah malam.”


“Aa, baiklah.” Orion bersalaman terlebih dulu sebelum pergi, dan setelahnya keluar dari rumah Virgo dan diantar sampai keluar oleh El.


“Gue pulang dulu ya.”


“Iya.”


“Sebetulnya gue pengen ajak lo buat jalan besok, tapi kayaknya harus ditunda dulu. Gue nggak enak sama Om.”


“Kalau gitu lain kali aja.” El pun sepertinya juga tidak mau sering-sering keluar dengan Orion, karenanya dia menyetujui jika ajakan itu ditunda terlebih dulu.


“Masuk, gih.” El berdiri di depan pagar rumahnya dan Orion ada di samping pintu mobil. El menutup pagar rumahnya yang memang masih bisa melihat keadaan luar. Memberikan isyarat kepada Orion agar lelaki itu bisa segera pulang. Orion masuk ke dalam mobil, membuka kacanya, menjalankannya pelan, dan mengklakson El untuk berpamitan. Barulah El berjalan dan masuk ke dalam rumahnya.


Malam minggu ini memang mengesankan bagi El. Mungkin jika Orion berusaha terus mendekatinya dengan cara-cara seperti ini, bukan tak mungkin jika dia akan jatuh di dalam pelukan lelaki itu. Jangan tanya apakah El sekarang sudah merasa jatuh cinta dengan Orion atau belum, karena jawabannya pastilah belum. Tidak semudah itu mencintai seseorang sedangkan kandidat yang pertama masih menguasai penilaian nilai tertinggi.


*.*


Al menelungkupkan kepalanya di meja dengan mata memejam. Kebiasaannya ketika istirahat dan malas untuk keluar kelas.


“Al!” seseorang membangunkannya dan itu adalah hal yang paling dibenci. Kalau saja bukan gerombolannya, entah sudah diapakan orang itu.


“Al, bangun, elah. El berantem lagi noh.” Sayup-sayup Al mendengar tapi dia abaikan saja celotehan temannya itu.


“Woi! Bangun, adek lo berantem lagi.” Tepat di telinga Al, lelaki itu berteriak. Dan itu membuat Al terbangun. Matanya memicing tajam karena acaranya terganggu.


“El berantem lagi noh, di kelasnya.” Adunya dengan wajah yang memang terlihat agak panik.


“Lo kira El nggak bisa nyelesaiin masalahnya sendiri? Dia bahkan bisa menendang mereka kalau dia mau.”


“Tapi masalahnya sama cewek lo juga.” Teman El itu berapi-api karena Al sama sekali tak menggubris apa yang dikatakannya. Mata lelaki itu bahkan melotot-melotot ketika menyampaikan berita tersebut.


“Haish.” Al masih santai saja, “Apa katanya masalahnya?”


“Cewek lo nggak sengaja nyenggol kakak kelas. Bajunya kakak kelas kena ice cream yang dimakan dan dia nggak terima katanya.”


“Masalah kayak gitu aja dibesar-besari.” Al berdiri dan melangkah keluar kelas untuk pergi ke kelas El dan melihat apa yang terjadi. Detik dia keluar kelas, memang sudah terlihat di depan kelas El ada gerombolan orang yang sepertinya sedang adu mulut. Dan Al menghela nafas melihat itu.


Melihat dari jarak dekat, El memasang wajah datar dengan mata yang memicing. Sejak dia di skors waktu itu, dia memang sudah tak lagi mengurusi hal-hal seperti ini. Tapi kali ini sepertinya dia memang harus bertindak.


“Jadi karena lo ngerasa udah jari Ratu di sekolah ini, lo bisa seenaknya gitu? Iya?” suara kakak kelas terdengar keras.


“Gue kan tadi udah minta maaf. Gue nggak sengaja.” Odel sepertinya memang juga jengah dengan kakak kelasnya tersebut.


“Lo bisa nggak, nggak usah cari masalah?” Rigel menatap tajam gadis itu, “Telinga lo masih bisa denger kan kalau dia nggak sengaja?”


“Emang gue peduli?” bukannya menurunkan emosinya, gadis itu justru semakin menjadi, “Mau lo sengaja atau enggak, judulnya lo udah buat baju gue kotor.” Begitu katanya dengan diakhiri dengan bentakan.


“Dasar *****.” Suara El rendah, tapi siapapun bisa sakit hati dikatai seperti itu. Pun dengan gadis yang ada di depannya tersebut.


“Apa lo bilang?” wajahnya bahkan memerah karena kata tersebut.


“Tolol!” santai El, “Lo mau jadi jagoan atau apa sebenarnya sejak tadi? Mau tunjukin ke siapa kalau lo ngerasa berkuasa? Gue sama temen-temen gue? Atau kepada siapa?” seperti biasa, El bersidekap dengan santai dengan menantang.


“Permasalahan seperti ini aja lo besar-besarin. Baju di noda lo juga udah nggak kelihatan. Lo mau apa lagi? Odel juga udah minta maaf. Apa lagi yang lo mau? Tonjok dari gue?” Al memang tak langsung mendekat. Lelaki itu berseder di dinding sambil melihat itu. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana dengan wajah datarnya. Di sampingnya ada teman-temannya yang juga ikut melihat drama tersebut.


“Kalau lo mau urusan ini dilanjutkan, jangan di sini. Kita selesaikan di luar nanti. Gue sama Odel, dan lo bisa ajak siapapun. Ada tempat latihan takwondo atau tinju yang bisa gue sewa buat kita gelud.” Katanya, “Karena kalao lo ajak gue buat tawur di tempat yang nggak pasti, itu bukan level gue. Level gue nggak serendah itu.” El terang-terangan menantang gadis di depannya untuk melihat reaksinya.


Dan jangan berfikir jika El mahir dalam dua olahraga yang di sebutkan tadi. Dia bilang dia hanya akan menyewa kan.


“Gue akan buat perhitungan sama lo.” Tunjuk gadis tersebut karena sepertinya dia merasa sudah tak bisa lagi berdebat. Dia memang dari pihak yang salah membuat masalah dengan Odel.


“Gue tunggu.” Senyum El dengan manis, “Sediakan tempat yang high class. Jangan ajak gue gelud di tempat yang kaleng-kaleng.” Lanjut El lagi. Gadis tersebut kemudian pergi begitu saja dan mendapatkan sorakan dari seisi kelas El.


“Lo tahu? Lo ganggu waktu tidur gue dengan melihat adegan kayak gini.” Al mengatakan itu untuk teman-temannya yang ada bersamanya, “El itu jagoan, nggak perlu khawatir.” Katanya lagi dan menatap Odel yang cemberut.


“Issh, pacar gue.” Katanya dengan pelan namun masih diam di tempatnya. Dan tak lama setelah itu Odel melihatnya dan terbelalak kaget.


“Kok di sini?” katanya dengan kaget juga.


“Ya, udah dari tadi.” Jawab Al dan berjalan mendekat, “You oke?” tanyanya.


“Ya.” Odel duduk di atas meja di deretan depan dekat dengan pintu di kelasnya, “Biang onar.” Lanjutnya lagi dengan malas.


Al menatap El yang sepertinya masih menyisakan emosi, “Udah.” Al meraupkan tangannya ke wajah El, “Orang gila diladeni, bisa ketular kamu nanti.”


“Ya siapa yang nggak marah. Kakak ipar itu udah minta maaf, dia masih aja nyolot. Bilang ini itu kayak nggak pernah sekolah. Dasar kampret.” Odel malu dibuatnya karena panggilan ‘kakak ipar’ yang diberikan kepadanya. El meman sering iseng seperti itu, tapi Odel tentu masih belum terbiasa dengan panggilan tersebut.


“El, panggilan lo, please.” Katanya dengan pelan. Tapi, bukan El kalau peduli dengan peringatan Odel terhadapnya.


“Gue nggak mau ya, kalau sahabat sekaligus kakak ipar gue itu disakiti sama orang. Cukup waktu itu aja.” Bukannya berhenti, dia malah semakin mengatakan hal yang tidak-tidak. Membuat Odel merah padam karena malu.


Melihat kekasihnya yang memohon kepadanya dengan tatapan memberi tanda untuk menghentikan celotehan El, Al membekap mulut El agar gadis itu mengehentikan celotehannya. “Udah, diem. Odel udah kayak kepiting rebus wajahnya sekarang.” Bisiknya di telinga El.


Karena mulutnya tak bisa mengatakan apapun, kaki El yang berbicara. Gadis itu menginjak kaki Al dengan keras sampai Al mendesis sakit. “Betina ini.” Katanya sambil melototi El yang sudah lepas dari kungkungan Al.


“Aku belum selesai bicara. Enaknya kamu bekap-bekap aku.” Siapapun yang menyaksikan itu, pasti hanya melongo saja dibuatnya. El dan Al yang begitu kaku dan menyebalkan, justru berbeda jika sudah bertemu.


Rigel menarik El dan membawa gadis itu keluar dari kelas. Padahal sebentar lagi sudah waktunya masuk kelas. “Apa lagi ini?” suaranya terdengar keras sekali bahkan orang-orang yang sedang santai dibuat beralih menatapnya.


“Lo perlu minuman dingin kayaknya.” Kata Rigel dengan santai.


“Dan lo yang mau beliin kan?”


“Hem.”


“Gue mau es krim juga.”


“Hem.”


“Snack juga.”


“Apapun yang lo mau, ambil lah.” Rigel memang pawang bagi El. Tak banyak bicara memang. Tapi tindakannya itulah yang membuat orang yang melihatnya merasa iri dan ingin menjadi El saja.


*.*