Blind Love

Blind Love
Lanjutan 19



“Masuk dulu, aku ketemu Bunda dulu.” Tanpa menunggu Love, lelaki itu meninggalkan istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah. Sungguh, rasanya berat sekali hidupnya sekarang diperlakukan seperti itu oleh seseorang yang dicintainya.


Dengan lunglai, Love berjalan pelan untuk menyusul suaminya. Dia ingin dunia menenggelamkannya saja sekarang. Entah sampai kapan ini akan berlanjut, karena hatinya sudah tak sanggup lagi. Ketika Love sudah kembali ke rumah tersebut, suara Aksa terdengar mengobrol bersama kedua orang tuanya. Dia tetap ikut bergabung bersama mereka meskipun seandainya pembahasan mereka adalah pembahasan yang mungkin ‘pribadi’ bagi keluarga suaminya itu.


Duduk dengan pelan di samping Aksa namun mengambil jarak yang cukup jauh. Ketika matanya menatap mata Kenya, perempuan paruh baya itu tersenyum dan mengangguk. Meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.


Dia ikut tersenyum meskipun sangat lemah.


“Kita pulang.” Begitu titah Aksa dan lelaki itu sudah berdiri. Love yang kaget langsung ikut berdiri. Mengikuti sang suami yang berpamintan kepada kedua orang tuanya, dia pun melakukan hal yang sama.


“Semua akan baik-baik saja.” Daka berucap pelan kepada Love ketika Aksa sudah lebih dulu berlalu dari sana. Love menatap mata Daka. “Percayalah, dia akan luluh secepatnya.” Daka yang memang sangat mengenal dan memahami putranya itu memberikan ‘semangat’ lebih untuk Love agar bisa meluluhkan hati Aksa.


“Terima kasih, Yah.” Senyum Love mamang sangat lemah, tapi dia memiliki harapan baru ketika mertuanya memberikan dukungan kepadanya. “Saya pamint dulu.” Dan berlalu dari sana setelah mendapatkan anggukan dari kedua mertuanya.


Aksa bersandar  di mobil ketika Love sudah berada di luar rumah. Perempuan itu mendekat dan berdiri di depan Suaminya. “Aku mau jemput anak-anak. Dia di rumah Kla.” Lapornya. “Aku bawa mobil sendiri.” Dia tak meminta Aksa untuk pulang lebih dulu atau sejenisnya. Dia hanya mengatakan itu dan ingin melihat bagaimana reaksi sang suami.


“Anak-anak udah tidur, Kla akan menjaga mereka.” Aksa mengatakan itu ketika Love sudah berbalik untuk mengambil mobilnya. “Tinggal saja mobilmu.” Begitu katanya kemudian masuk ke dalam mobil dan menunggu istrinya untuk masuk juga.


Love benar-benar harus mengulur rasa sabarnya menghadapi Aksa. Jadi dengan patuh, dia pulang bersama Aksa dan meninggalkan mobil miliknya di rumah mertuanya. Dalam perjalanan dilalui dengan keheningan. Baik Aksa maupun Love tak ada yang berbicara, bahkan sampai mereka tiba di rumah mereka.


Aksa yang sudah lelah, langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang, sedangkan Love melakukan ritual seperti biasa. Apalagi dia belum mandi sore tadi.


Setelahnya, Love ikut bergabung di ranjang untuk tidur. Dia memang sudah terlelap sore tadi, tapi tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain memaksa dirinya untuk masuk ke alam mimpi. Matanya terpejam, namun pikirannya melayang kemana-mana. Memunggungi Aksa, Love menatap depannya dengan kosong.


Tahu jika dia tak akan bisa tidur, bangun dari ranjang dan keluar kamar. Kakinya melangkah ke luar rumah dan berdiri di dekat kolam renang. Matanya menatap kolam renang tersebut dan ingatannya tentang Ixy yang tak sengaja tercebur ke sana membuat hatinya berdegup kencang.


Dan entah kenapa, bukannya pergi dari sana, kakinya semakin mendekat dan masuk ke dalam kolam. Kolam itu memang tidak dalam bagi orang dewasa. Pun hanya se dada Love. Matanya memejam dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam sana. Dadanya seolah akan meledak karena dia tak menemukan oksigen di sana. Tapi dia membiarkan. Pasti beginilah Ixy kesakitan kala itu. Karena siapa anaknya mengalami hal itu?


‘Kamu memang bukan ibu yang baik, Love’ itu adalah suara hatinya. ‘Dan kematian akan baik buat kamu’. Suara-suara itu membuatnya semakin tak ingin keluar dari sana, badannya semakin terasa lemas dan  kesadarannya semakin menipis ketika tarikan tangannya itu membawanya menemukan oksigen kembali.


Goncangan di tubuhnya tak serta membuatnya membuka matanya. Rasa berat itu seolah menumpu di netranya sampai dia malas untuk membuka mata kembali. “Bangun.” Suara Aksa masuk ke dalam indera pendengarannya namun diabaikan. Itu adalah suara favoritnya, dan dia ingin terus mendengarnya.


“Aku bilang bangun, Love. Bangun!” indah sekali bukan suara itu? begitu hatinya mengatakan. “Yang, please, bangun.” Suara Aksa yang seperti orang merasa sedih itu membuat alam sadar Love terpukul. Ada apa dengan suara kesukaannya itu? jadi dengan memaksa benda berat itu menyingkir dari matanya, Love bisa membuka mata miliknya meskipun dengan paksaan.


Kebingungan itu terlihat ketika dia membuka mata. Dia bingung dengan keberadaanya. Dengan berkedip pelan, dia mendapati Aksa yang dengan wajah paniknya menatap ke arahnya. Hatinya masih menanyakan kenapa, tapi bibirnya seolah kelu.


“Apa yang kamu lakukan?” suara rendah Aksa kembali terdengar dan Love hanya bisa mengernyitkan dahinya. Namun dalam satu sentakan, pelukan yang beberapa hari ini tak di dapatkannya melingkupi tubuhnya.


Bibirnya tersenyum. “Aku tahu Tuhan maha adil, karena itu aku diberikan khayalan yang indah seperti ini. Kalau Tuhan mau mencabut nyawaku, aku rela. Mimpi ini indah, dan mimpi inilah yang akan mengantarkan ke tempat yang indah juga.” Itu adalah gumaman Love. Yang seketika langsung mendapatkan sentakan di tubuhnya.


Pelukan yang diberikan oleh Aksa terlepas. “Apa yang kamu bilang?” pelototan juga diberikan oleh Aksa. “Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sampai harus melakukan hal yang tidak-tidak?” Love berkedip pelan dan mengais kesadarannya. Mata Aksa masih menajam dan Love menyadari itu sedikit-demi sedikit.


“Yang.” Paraunya. Air mata itu kembali keluar dari matanya dan membuat Aksa menghembuskan nafas lelah. Diangkatnya istrinya itu untuk di bawa masuk ke dalam rumah. Love terus menatap suaminya. Dia sangat merindukanlelaki itu, tapi kerinduan itu sepertinya hanya dia yang merasakannya.


Dibawanya Love ke kamar mandi dan mendudukkannya perempuan itu di atas meja washtafel. Love masih sama, berekspresi sama dan terus menatap suaminya tanpa ingin memalingkan wajahnya.


“Buka bajumu.” Perintahnya. Love terihat meneguk ludahnya pelan dengan kedua tangan saling meremas. “Kamu harus mengganti bajumu kalau nggak mau masuk angin.” Katanya lagi. Kedua tangan Aksa berkacak pinggang dan


matanya menatap lurus ke dalam mata istrinya.


Tak mendapatkan repon dari Love, Aksa bertindak. Dibukanya baju tidur terusan selutut yang masih melekat di tubuh sang istri. “Nggak bisa di buka lah, Yang. Kamu duduki.” Begitu katanya. Tapi tak kehilangan akal, Aksa menurunkan Love dan meloloskan baju itu dari sana.


Melemparkan baju basah itu ke dalam keranjang kotor yang ada di sudut ruangan dan menyahut handuk kemudian melap tubuh Love menggunakan benda itu. “Kalau aku nggak sedang marah, udah ku makan kamu.” Begitu komentar ‘jorok’ yang keluar dari bibirnya ketika melihat begitu sexynya sang istri.


Love benar-benar seperti patung yang tak bernyawa. Dia pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh sang suami terhadap dirinya. Sedangkan Aksa begitu fokus dan telaten dengan apa yang dikerjakan. Setelah selesai, Aksa kembali mengangkat istrinya dan mendudukkannya di tengah ranjang. Kemudian dia ikut duduk di sana dan menatap perempuan itu.


“Apa yang membuat isi kepalamu menjadi seperti ini? Kamu mau bunuh diri?” gelengan kepala Love terlihat.


“Jadi?”


“Aku ingin merasakan seperti apa kesakitan yang Ixy derita karena kecerobohanku. Dia masih kecil dan dia sudah merasakan hal yang tak mengenakkan.” Embun yang terlihat di mata Love membuat Aksa menarik napas panjang.


“Aku minta maaf.” Kalau memang perlu, Love pasti akan mengatakan itu berjuta kali kepada Aksa. “Aku bukan istri dan ibu yang baik. Aku pantas mendapatkan hukuman bukan hanya seperti tadi, tapi mungkin lebih berat.” Love menahan mati-matian suara tangisnya keluar. Mumpung Aksa sedang berbaik hati sekarang, dia kan mengatakan apapun yang terpendam di dalam kepalanya dan hatinya.


“Aku beruntung mendapatkan Aksa, tapi Aksa pasti rugi besar mendapatanku. Aku tahu itu. Tapi aku juga nggak mau kehilangan dia. Aku harus bagaimana?” Bibir Love mencebik karena berusaha menahan tangis itu.


Kepala Love kembali mendunduk dan kedua tangannya menutupi wajahnya. Sesenggukan di sana. Aksa mendekat dan memeluk perempuan itu. “Jangan nangis lagi. Kamu udah bukan kayak istriku karena matamu udah sebesar


kedondong.” Mendapatkan pelukan yang dirindukannya, membuat Love semakin merapatkan dirinya di dada sang suami. Menangis kencang dan meraung di sana. Aksa bisa merasakan basah di dadanya. Tapi dia mengabaikan saja.


“Kalau orang-orang denger kamu nangisnya kenceng begini, nanti dikiranya aku KDRT sama kamu.” Tapi itu tak membuat Love mengecilkan volume tangisnya. Karena perasaan sakit itu sudah mengendap lama di dadanya dan


Aksa menepuk pelan punggung istrinya dan sesekali mencium pelipis perempuan itu. Hampir setengah jam mereka diam sambil berpelukan. “Udah, Yang. Aku capek loh.” Begitu si perusak suasana beraksi. Dan mau tidak mau, Love mengurai kedua tangannya yang membelit pinggang sang suami.


Lelaki itu kemudian mengusap air mata yang masih ada di wajah istrinya, mencium kening, kemudian mengecup bibirnya sebentar. “Tidur?” Tawar Aksa.


Love menggeleng. “Bisa kita selesaikan semua ini dulu? Aku nggak akan bisa tidur sekarang.” Aksa melihat jam yang ada di nakas dan jarum jam menunjukkan pukul 12:30. Dia memang belum mengantuk, tapi besok dia harus bekerja kan.


“Bisa besok saja?” Itu penawarannya. Namun gelengan Love membuat Aksa mengulur kesabarannya.


“Oke.” Putusnya. “Aku akan mengatakan sesuatu dan jangan potong sebelum aku selesai berbicara.” Dengan patuh Love mengangguk.


“Aku tahu, Jo, mencintai kamu sejak dulu.” Tak ada reaksi berlebihan dari Love, tapi dia merasa tak menyangka sama sekali.


“Setelah lulus sekolah, aku masih berhubungan dengan teman-teman sekolah. Tak hanya sekali dua kali kami bertemu dan mengobrolkan banyak hal, dan mereka selalu memberiku informasi tentang kamu tanpa aku


minta.”


“Foto itu?” Sepertinya Love tak tahan menutup mulutnya. Ketika tatapan Aksa memperingati, barulah Love mengangguk dan berusaha untuk diam.


“Aku nggak pernah memusingkan masalah kamu nanti akan berpacaran sama siapa, tapi ada rasa yakin jika kamu adalah jodohku.” Wajah Love bersemu merah dan mendapatkan cibiran dari sang suami.


“Ekspresimu kayak perawan aja.” Yang dengan reflek Love melotot.  Tapi menjadi anak yang baik, dia tetap tak bersuara. Dan itu membuat Aksa geli melihatnya. Patuh sekali.


“Beritanya, dia adalah satu-satunya lelaki yang bisa mendekatimu, dan bukannya itu sangat luar biasa? bahkan dia adalah Jo nya kamu.” Kalimat terakhir terdengar sinis sekali Aksa mengatakan.


“Setelah itu aku sama sekali nggak peduli lagi dengan hal itu. Toh kamu bukan lagi gadis yang berlabel single, tapi sudah memiliki kekasih. Aku fokus dengan apapun yang aku kerjakan dan mengabaikan apapun yang bukan hal penting. Termasuk tentang berita kamu. Aku menutup semuanya sampai hari dimana kita bertemu.” Cerita Aksa panjang.


“Karena itu aku menanyakan terlebih dulu apakah kamu memiliki kekasih atau tidak.” Keheningan itu terjadi. Love tak tahu harus mengatakan apa, sedangkan Aksa sudah selesai menceritakan ‘dongengnya’.


“Udah kan?” begitu akhirnya tanya Aksa. “Udah malam, besok aku harus kerja. Mata bengkak kamu itu pasti akan mengeluarkan biaya banyak untuk kembali seperti semula. Jadi aku harus bekerja keras agar istri aku bisa kembali seperti semula. Harga kulit wajah glowing kan nggak murah.” Ingin sekali Love tertawa, tapi ditahannya karena tak ingin merusak suasana serius.


“Kenapa nggak bilang semua ini ke aku?”


Aksa menggelengkan kepalanya. “Kamu akan percaya kalau akubilang?”


“Memang sejak kapan aku nggak percaya sama, Ayang?”


“Kamu lupa kalau tidak mengindahkan apa yang aku bilang kemarin itu adalah kata lain dari ketidak percayaan kamu ke aku?” Love langsung menutup mulutnya rapat.


“Maaf.” Dan itu lagi yang dikatakan oleh Love.


“Kita harus sama-sama menjaga hati kita dari hal-hal seperti ini. Godaan di luar sana memang sangat banyak, tapi kalau kita nggak mengijinkan mereka mendekat, maka semuanya akan baik-baik saja. Mengerti?” Love mengangguk paham.


“Mulai sekarang, aku akan berusaha untuk mendengarkan apa yang Ayang katakan ke aku dan melakukannya. Aku sangat menyesal kejadian seperti ini bisa terjadi, dan itu gara-gara aku.”


“Udahlah.” Aksa menarik Love ke dalam pelukannya sampai mereka berdua terbaring di atas kasur. “Kita tidur aja sekarang. Ngantuk sekali aku.” Kehangatan seperti ini yang tidak dirasakan Love beberapa hari ini, membuat perempuan itu menyamankan dirinya di pelukan suaminya.


“Aku kangen orang ini.” Begitu gumam Love di leher Aksa. Yang membuat Aksa mengeratkan pelukannya.


“Aku juga.” Balasnya. Tapi tak sampai di sana, karena ada pertanyaan Love yang belum Aksa jawab.


“Yang!” panggillnya.


“Hem.” Love tersenyum karena ternyata sang suami belum terlelap.


“Jadi foto itu dari mana?”


“Foto mana lagi, ibunya Avez.” Sebenarnya Aksa sudah merasa kantuk yang luar biasa. Tapi sepertinya memang Love tak akan berhenti sebelum pertanyaan itu terjawab.


“Foto waktu aku masih pakai seragam sekolah itu, yang ada di kotak ajaib.” Jelasnya.


“Dari temen-temen. Katanya waktu itu mereka lewat depan sekolah dan foto kamu pas lihat kamu berdiri di sana.” Love tersenyum dan mengeratkan lingkaran lengannya di perut suaminya.


“Hebat. aku bangga dengan itu.” Racaunya yang tak dipahami oleh Aksa.


“Bangga kenapa?” Diantara rasa kantuk yang menyerangnya, Aksa masih meladeni istrinya.


“Karena ada stalker yang menyempatkan dirinya untuk mencaritahu tentang aku.” Bangganya. Yang tak mendapatkan respon dari Aksa karena lelaki itu sudah terlelalap.


*.*