Blind Love

Blind Love
Lanjutan 23



“Abang!” Panggil Love ketika putranya akan meninggalkannya. Entah kenapa putranya itu seperti itu hari ini, dan tentu saja hal tersebut membuat Love sedikit heran.


“Ya, Bunda.” Kembali memutar badannya, bocah itu menatap Love. Masih dengan tatapan tak bersalah dan tegas yang terpancar dari sana.


“Abang dari mana? Adek udah pulang dari tadi.” Love ingin mengetes apakah bocah itu akan jujur kepadanya atau sebaliknya. Dia sudah mengajari anak-anaknya untuk jujur, dan dia tak ingin bibit bohong itu mulai ada di dalam diri mereka.


Avez terlihat menghela napas panjang sebelum mengatakan jawabannya. “Abang dari melihat Abang-abang main sketboard, Bun.” Mengatakan kebenarannya, rasa lega muncul di hati Love.


“Kenapa Abang nggak pulang dulu dan baru balik lagi?” Love tak akan berhenti mengintograsi putranya sampai dia puas dan memastikan Avez tak mengulanginya lagi.


“Soalnya kalau jam setengah enam udah selesai, Bunda.” Avez benar-benar tak gentar menjawab pertanyaan ibunya. Bahkan dia menatap Love terang-terangan. “Kalau abang pula dulu, abang akan ketinggalan.”


“Abang tahu kalau salah kan?” Dengan wajah murung, Avez mengangguk.


“Iya, Bunda. Abang salah.” Jawabnya tanpa takut. “Abang minta maaf.” Sungguh, Love merasa jika rasa bangga itu begitu terasa di dalam hatinya.


“Abang nggak akan mengulanginya lagi?” Avez hanya diam dan ragu untuk menjawab. Dia seolah berpikir jika dia tak bisa untuk tak mengulanginya lagi.


“Abang!”


“Tapi abang masih pengen nonton itu, Bunda.” Dia mengatakan isi hatinya dengan gamblang. “Abang suka sekali.” Lanjutnya dengan ekspresi memohon. Love tak langsung menjawab. Dia tidak ingin putranya melanggar aturan yang sudah di buatnya, tapi melihat ekspresi Avez yang seperti itu juga tak tega.


Beruntung Aksa datang di saat yang tepat. “Ada apa ini? Tegang sekali kayaknya.” Begitu tanyanya dengan santai. Tapi jelas Love tak akan mengatakan apa yang terjadi, karena dia tahu jika suaminya kelelahan setelah seharian bekerja.


“Abang ke kamar, nanti kita bicara lagi. Oke?”


Avez mengangguk. “Iya, Bunda.” Dengan bahasa tubuh yang lelah. Love menatap putranya yang sedang menaiki tangga itu dengan sayang. Kemudian beralih menatap Aksa yang sudah menatapnya.


“Kenapa sih?” itu pertanyaan Aksa.


“Naik dulu lah, nanti diceritain.” Tak perlu berbicara dua kali, Aksa langsung naik ke lantai dua dengan Love di sampingnya yang membawa tas kerja suaminya.


“Jadi?” Bahkan Aksa baru saja masuk, tapi lelaki itu langsung menanyakan apa yang terjadi.


“Bersih-bersih bandannya dulu kenapa? Nanti kalau kepala, Mas, udah adem barulah bahas yang lain.”


“Banyak alasan banget sih kamu, Yang? Nanti kalau udah santai kamu mau buat alasan apalagi?” Aksa membuka kemejanya dan menatap sang istri. “Kayak masalahnya itu besar aja.” Kemudian berlalu untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sebentar lagi magrib dan dia harus segera membersihkan tubuhnya.


Love mengambilkan baju ganti suaminya sambil menggelengkan kepalanya. “Rasa penasarannya itu loh buat orang sakit kepala.” Begitu dumelnya.


Menunggu sang suami keluar dari kamar mandi, dia mengambilkan minuman ke lantai satu rumahnya. Balik dari dapur, dia mendengar obrolan anak-anaknya.


“Abang dimarahi Bunda ya, Bang?” Kepo Ixy. Dengan pelan Love mengintip dari celah pintu yang tak tertutup itu. Dia bisa melihat kedua anaknya sedang duduk berdua di ranjang Avez.


“Nggak, Dek. Tapi nanti pasti akan di marahi.” Begitu jawab sang kakak. Ixy yang memeluk boneka itu kembali memberi tanggapan.


“Abang suruh adek pulang dulu tadi, kalau Abang pulang sama adek, Abang pasti nggak akan dimarahi bunda.” Sok tahu bocah kecil itu membuat Love tersenyum. Dia ingin tertawa tapi ditahannya. Love bisa melihat anak pertamanya itu tak menjawab. Bocah itu murung.


“Tapi abang kan mau nonton mereka main sketboard, Dek.”


“Abang suka papan itu ya?”


Avez mengangguk. “Ayah kan bilang mau beliin abang papan sketboard tapi nggak dibeliin sampai sekarang.” Love yang mendengar itu tercenung. Suaminya itu pasti lupa. Begitu pikir Love.


“Abang nggak bilang beliin ke ayah?” Berbeda dengan adiknya, Avez lebih memendam keinginannya, sedangkan Ixy, dia akan mengatakan apa yang dia inginkan kepada kedua orang tuanya.


“Ayah kan sibuk, Dek.” Dan itu pula yang membuat Love terharu, Avez bisa memikirkan ayahnya yang kelelahan dan tak ingin membuat lelaki itu semakin lelah dengan keinginannya, mungkin itulah yang dipikirkan oleh Avez.


Tak ingin lebih lama lagi menguping percakapan dua anaknya, Love berjalan pelan menuju kamarnya. Membuka pintunya dan mendapati sang suami sudah segar dengan rambut basah. Sudah memakai baju panjang dan sarung untuk siap-siap berangkat ke masjid saat adzan magrib.


“Dari mana?” Begitu tanyanya.


Love meletakkan minuman yang di bawanya dari dapur di atas meja. “Mas ada janji apa sama Avez?” Tembaknya langsung tak ingin bertela-tele.


Kening Aksa tentu menandakan jika lelaki itu bingung dengan berkerut seperti itu. “Aku nggak menjanjikan apapun.” Seperti tak memiliki salah sama sekali lelaki itu dengan mengatakan hal tersebut.


“Ada. Coba ingat-ingat.” Desak Love. “Mas tahu?” belum juga Love mengatakan apa yang didengarnya dari curhatan anak-anaknya, adzan sudah berkumandang. Dengan memberi tanda untuk istrinya berhenti berbicara, Aksa bilang, “Jeda dulu ceritanya, aku ke masjid dulu.” Kemudian berdiri dan mengajak Avez ikut serta pergi ke tempat ibadah tersebut.


*.*


Selesai makan malam adalah waktunya untuk kedua bocah itu untuk belajar. Naik ke lantai dua, mereka duduk di lantai dengan meja pendek di depannya. Bukannya mereka tak memiliki meja belajar, tapi memang keduan anak


Aksa lebih suka seperti itu.


Aksa ikut duduk di depan mereka untuk membantu anak-anaknya belajar. Tapi dia akan menuntaskan ‘masalah’ yang sangat kecil itu hasil dari cerita dari sang istri.


“Abang!” itu adalah awalan. Dia menatap Avez tegas dan itu ampuh membuat putranya merubah raut wajahnya menjadi agak pucat.


“Ada yang ingin Abang bilang ke ayah?” Aksa tak akan menembakkan masalah yang terjadi secara langsung kepada anaknya, dia ingin Avez mengetahui kesalahan apa yang baru saja dia lakukan.


Bocah itu menuduk tanpa berani menatap mata ayahnya. Kedua tangannya meremas satu sama lain dengan gugup. Mengumpulkan keberanian, sedangkan matanya sudah memerah. Dia benar-benar ketakutan sepertinya.


“Kenapa Abang melanggar peraturan yang ayah dan bunda buat untuk Abang dan Adik?” Sejujurnya suara Aksa tidak bernada marah apalagi tinggi, tapi Avez sudah benar-benar ketakutan dengannya.


Avez sepertinya memang tak memiliki kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang dilemparkan kepadanya. Dirinya hanya diam dengan jantung yang sejak tadi bergemuruh.


“Abang!” itu adalah panggilan peringatan dari seorang Aksa untuk Avez. “Kenapa Abang diam?” Dengan pelan, Avez mendongak dan menatap mata sang ayah.


“Abang menonton Abang-abang latihan sketboard, Yah. Latihannya selesai setengah enam, jadi abang nggak pulang dulu karena nggak mau ketinggalan.” Sama persis penjelasan itu diberikan kepada ibunya tadi sore.


“Jadi, Abang memilih untuk melanggar peraturan demi menonton latihan sketboard?” Avez masih duduk di sekolah dasar, tapi Aksa sudah bersikap ‘keras’ kepada bocah itu. “Abang benar atau salah?”


“Salah, Yah.” Sejak tadi pun dia mengakui jika dia memang bersalah.


“Berarti Abang siap di hukum kan?” Anggukan itu memang tak diberikan kepada Avez, tapi dia juga tak bersuara. Tak menunggu lebih lama lagi, Aksa memberikan hukuman kepada putranya.


“Hafalkan surat ‘Abasa ayat satu sampai empat dua malam ini. Sampai hafal dan Abang belum boleh tidur kalau belum hafal.” Love hanya menarik napas panjang mendengar apa yang dikatakan suaminya itu. Avez memang salah, tapi hafalan itu juga membutuhkan waktu yang lumayan lama.


“Iya, Yah.” Kemudian bocah itu masuk ke dalam kamar untuk memulai hafalannya.


Dan seperginya Avez, Love menatap Aksa. “Jangan terlalu berat lah, Yah.” Begitu ucapnya merasa tak tega mungkin melihat putranya yang sepertinya lemas sekali.


“Aku percaya otaknya tak setumpul yang kamu bayangkan, Bun. Nggak perlu khawatir.” Aksa memang tahu kemampuan otak putranya itu. Jadi dia tak mengkhawatirkan apa yang sang istri khawatirkan.


Melihat itu membuat Love menggelengkan kepalanya. Ada desakan dalam hatinya untuk menyusul putranya ke dalam kamar bocah itu tapi dia menahannya. Baginya, jika seorang anak membuat kesalahan dan mendapatkan hukuman dari salah satu orang tuanya, maka orang tua satunya tak boleh menolongnya atau memberikan pembelaan di depan sang anak. Karena hal itu akan menimbulkan rasa tinggi hati dari anak tersebut karena mendapatkan dukungan dari salah satu orang tuanya.


Begitulah salah satu cara Love dan Aksa mendidik anak-anaknya. Toh Aksa juga tidak melakukan hal yang keterlaluan. Hukuman seperti itu dirasa lebih bermanfaat dibandingkan harus menyuruh berdiri di sudut ruangan selama berjam-jam. Itu baginya cara mendidik yang kurang memiliki manfaat.


Ixy sudah selesai belajar. Bocah itu sudah membuat pekerjaan rumah yang diberikan kepada gurunya, mengaji pun sudah, dan Ixy sekarang sedang bermain Barbie miliknya dengan menyisir rambut dan mengganti pakaian boneka


tersebut. Avez keluar dari kamar dengan mata yang seperti habis menangis.


Kedua orang tuanya tahu itu tapi belum mau menanyakan terlebih dulu. “Sudah, Bang?” Aksa menatap putranya yang berdiri di samping sofa dimana tempat ayahnya duduk.


“Sudah, Yah.” Aksa menatap jam dinding yang berada di depannya untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan Avez untuk menghafal tugasnya.


‘Hampir satu jam’ itu adalah perkataan Aksa di dalam hati. Mengangguk, dia  tahu jika putranya cukup mampu untuk menampung pelajaran atau tugas yang di dapatkan.


“Mulai.” Perintah Aksa untuk bocah itu menghafalkan di depannya. Aksa fokus mendengarkan dan menunggu jika mungkin ada yang salah. Memang bacaannya ada yang kurang benar, tapi itu hanya beberapa saja. Yang


lainnya sudah benar.


Tepuk tangan Ixy mengakhiri ‘ketegangan’ yang ada di dalam ruangan tersebut. Avez selesai dengan hukumannya dan mendapatkan nilai delapan puluh lima dari Aksa. “Duduk!” dengan patuh, Avez menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya.


“Abang nggak akan mengulanginya lagi kan?” Kali ini Love memang tak banyak bicara. Dia menyerahkan semuanya kepada sang suami dan biarkan lelaki itu yang menangani.


“Tapi abang suka dengan itu, Yah.” Itu bukanlah jawaban persetujuan ataupun penolakan. Dia hanya mengungkapkan apa yang dia senangi di dalam hatinya.


“Abang suka melanggar peraturan ayah dan mendapatkan hukuman?”


“Bukan, Yah.” Sepertinya Avez akan menangis lagi melihat matanya yang sudah mengembun.


“Abang suka sama papan, Yah. Ayah belum beliin.” Celetukan yang Ixy katakan membuat suasana hening. Bocah itu benar-benar merusak suasana. “Iya kan, Bang?” Di tambah begitu pula, jadilah semakin hening saja. Love menahan mati-matian agar tawanya tak pecah, bukan hanya Love saja, tapi Aksa juga mengulum senyumnya.


Tabiatnya benar-benar mirip dengan adiknya, Kla. “Adek, jangan ikut pembicaraan orang tua.” Itu adalah teguran dari Love. Dia tak mau putrinya menjadi bocah yang ikut campur urusan orang lain dan nantinya akan menjadi kebiasaan. “Bisa?” tambahan dari ibunya.


Ixy mengangguk. “Iya, Bunda.” Kemudian bocah itu menyibukkan dirinya dengan boneka barbienya. Mungkin berusaha untuk tak terlihat peduli dengan apa yang mereka obrolkan, tapi telinganya masih berjaga-jaga. Benar-benar bocah itu.


Beralih kembali ke Avez, Aksa melanjutkan. “Abang boleh melihat kakak-kakak latihan sketboard, tapi dengan syarat, Abang harus pulang lebih dahulu.” Tak ada perubahan dari ekspresi Avez. Bocah itu masih saja diam dan tak mengatakan apapun. Mungkin dalam otaknya dia sedang berfikir jika waktunya hanya sedikit saja mellihat permainan itu.


“Kenapa Abang nggak jawab?” Kini Love yang bertanya. “Abang.” Perempuan itu duduk di samping sang putra dan membelai kepalanya dengan sayang. “Abang kalau memiliki keinginan apapun, bilang sama ayah dan bunga. Abang jangan diam aja dan mendam keinginan abang di dalam hati.” Sepertinya memang Avez tak memiliki tanggapan dari apa yang dikatakan sang bunda.


“Bang!” Aksa lagi yang berbicara. “Ayah pernah bilang kepada Abang kalau ayah akan membelikan sketboard kan?” Barulah mendengar hal tersebut Avez menatap ayahnya, kemudian mengangguk. “Kenapa Abang nggak mengingatkan ayah kalau begitu? Ayah lupa, Nak.” Aksa menyesal dengan itu. dia merasa dia sudah mengecewakan putranya.


“Benar kata bunda, kalau Abang menginginkan sesuatu, Abang bilang sama ayah tau bunda. Jangan dipikirkan sendirian. Bisa?” Barulah setelah itu, Avez tersenyum.


“Iya, Yah.” Begitu jawabnya. Kemudian merasa jika ada yang mengganjal di pikirannya, dia langsung melanjutkan. “Abang mau melihat kakak-kakak latihan sketboard agak lama, Yah.” Dia sangat berharap jika kedua orang tuanya memberinya kelonggaran waktu untuk menonton apa yang di sukainya itu.


“Nanti kita beli sketboard, baru Abang bisa bergabung sama mereka. Bagaimana?” itu usulan sang ayah. Bagaimanapun, atas dasar apapun, mereka harus tetap mematuhi aturan yang sudah di buat. Dan tak ada yang namanya kelonggaran waktu itu, kecuali Avez benar-benar serius dengan apa yang menjadi


kesukaannya dengan mempelajarinya. Dan aturan tetaplah aturan, tak boleh dilanggar.


“Iya, Yah.” Avez menyetujuinya, meskipun dia tahu dia tak bisa dengan puas melihat, itu bukan masalah.


“Jadi kenapa Abang menangis?” Aksa masih belum mengakhiri hal ini. Aves sepertinya ragu mengatakan apa yang sebenarnya, tapi dia tetap menjawab.


“Karena Abang salah.” Hanya itu saja jawaban yang diberikan oleh bocah itu. Dalam pikiran Aksa, memang anaknya itu menyesal tapi juga tak tega jika harus melewatkan sesuatu yang disukainya secara bersamaan. Menyudahi masalah ini dan memerintah kedua anaknya untuk pergi ke kamarnya.


“Udah malam, kalian tidur.” Yang di jawab anggukan oleh Avez, sedangkan Ixy berlalu dengan membawa mainannya. Diikuti pandangan dari kedua orang tua mereka.


*.*