
Pagi penuh semangat, begitulah gambaran dari seorang Libra sekarang. Sejak semalam, suasana hatinya begitu baik sampai-sampai dia seperti orang gila karena cengar cengir sendiri. Selesai sarapan, gadis itu bersiap pergi ke sekolah. Keluar dari rumah, Libra dikagetkan dengan keberadaan Virgo di depan rumahnya.
"Vir?" Tanyanya kaget.
"Selamat pagi!" Sapa Virgo sambil tersenyum. "Pagi ini aku akan antar kamu ke sekolah. Dan nanti siang, aku yang jemput juga."
"Kamu masih di skors?"
"Tinggal hari ini. Karena itu aku mau antar jemput kamu." Harus cinta, begitulah gambaran dari kedua remaja itu. Meskipun tanpa di tunjukkan, tapi terasa sekali jika aura kebahagiaan mereka begitu terpacar.
"Kamu repot-repot banget sih." Kata Libra. Keduanya berjalan untuk keluar halaman rumah Libra.
"Nggak repot sih. Dari pada nanti aku pengen ketemu kamu terhalang sama jam sekolah kan lebih repot lagi." Entah itu sebuah gombalan atau apa, tapi Virgo mengatakannya terdengar meyakinkan sekali.
Di geplaknya lengan lelaki oleh Libra. " Bisaan banget sih ngomongnya." Katanya dengan senyum yang penuh kebahagiaan. Virgo tersenyum melihat betapa Libra ini sangat baik sekali sepertinya suasan hatinya.
Pagi di jam 06.00 jalanan Jakarta sudah memulai tanda kemacetan yang luar biasa. jika Virgo sekolah, dia juga akan berangkat pagi untuk menghindari macet. Dia tak ingin menghabiskan waktunya di jalanan dan terjebak dengan kendaraan-kendaraan lain.
"Kamu tadi berangkat jam berapa dari rumah?" Mereka sudah berada di atas motor dan membelah jalan Jakarta. Meskipun tadi ada sedikit drama antara Libra dan Virgo yang terlihat seperti drama Korea KW 9. Bagaimana tidak kalau Virgo meminta Libra untuk memakai celana panjang agar pahanya tak terlihat ketika naik di atas motor Virgo yang memang adalah motor sport.
Libra yang awalnya tak mau karena harus naik lagi ke kamarnya mendapat protesan keras dari Virgo. "Kamu rela paha kamu di lihat sama mata-mata tak bertanggung jawab dibandingkan naik sebentar dan memakai celana panjang?" Begitu kata Virgo tadi.
"Bukan gitu, Vir. Tapi kan malu kalau sampai sekolah nanti nggak rapi. Harus lepas celana lagi baru masuk, repot lho." Libra menolak perintah Virgo kepadanya beralaskan repot. Tapi bagi Virgo itu bukan alasan yang masuk akal.
"Kalau kita berdebat di sini dan kita nggak cepat beragkat, kemudian terjebak macet, lalu kamu terlambat, kamu yang akan lebih repot." Semua yang dikatakan Virgo itu adalah demi Libra. Dia ingin melindungi kekasihnya dari hal-hal yang buruk.
Lagipula dia juga tak suka melihat gadis yang suka sekali berpakaian yang mengundang mata lelaki untuk memandang. Mereka baru berpacaran kurang lebih 24 jam, tapi Virgo sudah bisa mengendalikan keadaan antara dirinya dan juga Libra.
Maka mau tak mau gadis itu menurut. Meskipun dengan wajah cemberut.
"Aku berangkat jam 06.30. Kalau pagi kan nggak macet, jadinya cepat sampai." Jawab Virgo. Lelaki itu hanya mengendarai motornya dengan kecepatan standart karena dia ingin berlama-lama bersama Libra.
"Jadi nanti kalau kamu sekolah nggak akan jemput aku dong?" Tanya Libra lagi.
"Enggak!" Tanpa berpikir jawaban itu keluar dari bibir Virgo. "Kalau pulang mungkin aku bisa jemput kamu, itu pun kalau aku nggak sibuk dengan ekskul." Gamblang dan tak bertele-tele dengan memberikan janji palsu. Itu bukan Virgo sekali.
"Basa-basi kek, Vir, sedikit biar aku itu seneng." Sanggah Libra dengan manja.
"Basa-basi itu nggak baik. Dari pada aku buat janji palsu nggak ada wujudnya, kan lebih baik aku bilang 'tidak' meskipun nantinya aku bisa." Libra mencerna ucapan Virgo tanpa kata. Mungkin karena lelaki itu tak ingin menyakiti hatinya karena janji yang dibuatnya.
Libra merasa jika apa yang dilakukan oleh Virgo itu adalah untuk kebaikannya. Maka dia hanya memeluk pungung Virgo dan merasa bersyuk dipertemukan oleh lelaki seperti Virgo.
"Terima kasih." Katanya dengan berbisik di samping telinga lelaki itu. Entah Virgo mendengarkan atau tidak, tapi Libra tak peduli.
Sampai di sekolah, Libra turun dari motor dengan diikuti oleh tatapan dari orang-orang di sana. Bisa saja tatapan itu karena Libra yang memakai celana panjang training, atau karena orang orang yang mengantarkan dirinya.
"Baru boleh di lepas celananya kalau udah mau masuk kelas. Tapi nanti di pakai lagi waktu pulang." Libra tersenyum dan melepas helm yang dipakainya.
"Siap, Bos." Katanya sambil hormat kepada lelaki itu.
"Aku balik dulu, belajar yang rajin. Nggak usah liri-lirik cowok lain. Kalau perlu jangan mau kalau dilirik." Nadanya rendah tapi penuh dengan peringatan dan itu menandakan kesungguhan.
"Iya, Baginda raja." Patuhnya namun sambil terkekeh geli. Helm yang dipakai oleh Virgo memang tak di lepas, maka orang-orang hanya melihat postur tubuh Virgo yang tergolong oke dan tatapan lelaki itu yang lembut namun tajam.
"Bye." Katanya, kemudian menyalakan mesin motornya dan meninggalkan Libra di sana yang masih meihatnya sampai motor yang membawa kekasihnya itu tak terlihat lagi.
Senyum terkulum Libra tercetak di wajahnya. Bahkan kalau dia bisa melihat bagaimana wajahnya, mungkin dia akan melihat perubahan wajahnya yang memerah karena blushing.
"Cie!" Libra tak tahu kalau sejak tadi dia sudah di pergoki oleh ke tiga temannya yang melihat tingkahnya yang berbeda dengan sebelumnya.
"Udah taken pasti." Itu adalah Ule – gadis paling sok tahu di dalam pertemanan mereka.
Libra tersenyum tanpa bisa menutupi rasa bahagianya. Tapi bibirnya seperti hanya bisa digunakan tersenyum saja, karena dia tak menjawab dugaan dari teman-temannya.
"Li! Lo nggak mau cerita ke kami? kan belum satu bulan, kok udah aja sih?" Riska mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, dan menginginkan jawaban. Rasa penasaran teman-temannya sepertinya sudah memuncak tapi Libra membiarkan saja.
Bahkan ketika mereka sudah sampai di dalam kelas, Libra masih saja diam. "Li!" Kini Ersya yang mendesak. "Gue nggak mau ya kita main rahasia-rahasiaan." Begitu katanya.
"Siapa juga yang mau main rahasiaan? Nanti kan gue juga bakalan cerita."
"Tapi mengulur waktu itu nggak baik." Riska kembali bersuara.
"Kalian serius penasaran ya?" Godanya kepada teman-temannya. "Tapi bisa nggak kalian tahan dulu rasa penasarannya? Gue lagi kasmaran banget ini." Wajahnya seperti orang yang baru saja mendapatkan uang milyaran rupiah.
Kemudian dengusan itu keluar dari bibir ketiga temannya. Mereka membalikkan badan dan duduk menghadap depan dengan hati yang gondok. "Gitu aja ngambek. Kaya janda kembang aja, sensitive." Yang seketika mendapatkan pelototan dari seorang Riska.
"Oke-oke, gue cerita. Tapi kalau udah ada guru ya apa boleh buat." Kemudian ketiga temannya itu sontak memasang senyum dan menghadap ke arahnya.
"Mulai." Begitu katan Ersya. "Gue siap mendengarkan cerita lo dengan si ganteng itu." Yang langsung mendapatkan geplakan dari Libra.
"Please, ya!" Katanya memperingatkan. Yang seketika mendapatkan sorakan dari teman-temannya.
"Huee, posesif ni ye." Kata Ule dengan wajah sumringah.
*.*
Ekspresinya biasa saja ketika dari lirikan sampai menatap terang-terangan di layangkan kepadanya. Itu sudah biasa bagi dirinya dan sudah tak tabu lagi.
"Dor!" Libra datang dengan kostum yang sama seperti waktu berangkat tadi. Virgo tersenyum melihat itu.
"Gimana sekolah hari ini? Baik, baik sekali, atau baik-baik saja?"
"Baik sekali." Jawab Libra dengan mantap. "Lalu, apa yang kamu lakukan seharian ini nggak sekolah?" Virgo berlagak berpikir mendapatkan pertanyaan tersebut.
"Sedang berpikir," jawabnya
"Berpikir tentang apa?"
"Berpikir tentang kamu." ******* senyum itu terlihat lagi di bibir Libra. Membuat gadis itu tak bisa berkutik. Gombalan pasaran itu nyatanya bisa membuat Libra kelimpungan karena bahagia.
"Baru sehari, tapi kamu udah berulah." Mimic muka Libra serius. Tapi Virgo hanya menatapnya dengan datar.
"Berulah?" Yakinnya.
"Ya." Libra sambil mengangguk. "Berulah dengan gombalan tak berkwalitas tapi mampu membawaku terbang." Keduanya tak sanggup mengalihkan netra mereka satu sama lain. Virgo tersenyum lebar seolah Libra adalah poros dunianya.
"Pulang sekarang?" Mereka tak mungkin berpacaran dan saling menggombal di depan sekolah, karena itu Virgo memutuskan untuk menawari Libra agar mereka bisa segera pergi dari sana.
"Boleh makan siomay dulu?" Libra menawar. "Aku laper, dan aku pengen makan siomay." Lanjutnya lagi. Yang tentu saja mendapatkan anggukan persetujuan dari kekasihnya.
Kekasih. Kenapa kata itu terdengar mendebarkan sekali ya? Bahkan Virgo dan Libra yang menyadari jika mereka sekarang sudah memilik satu seperti orang lain saja, tiba-tiba dadanya berdetak kencang. Maka nikamat itu benar-benar dirasakannya sekarang.
Libra makan dengan lahap karena makanan keinginannya itu di dapatkan. Virgo juga makan makanan yang sama dengan Libra dan dia merasa senang ketika melihat betapa kekasihnya itu sangat menikmati makanannya.
"Setelah antar aku, kamu mau kemana?"
"Nggak ada planning sama sekali," Jawab Virgo. "Bisa langsung pulang, bisa nongkrong bersama bocah-bocah tengik itu, atau melakukan hal lain. Kenapa?"
"Pengen ikut." Katanya dengan pandangan yang penuh harap. "Di rumah sepi. Karena aku sekarang punya pacar, boleh dong ngerocikin pacar." Libra menurun naikkan alisnya menggoda Virgo.
"Kamu tahu nggak base came aku itu di mana?"
Libra menggeleng. "Nggak tahu."
"Di rumah Bang Aksa," katanya memberi tahu. "Setiap pulang sekolah, aku selalu minta makan sama mereka. Setelah itu aku main sama adek-adek sayangku, baru setelahnya aku pulang." Libra memang baru mengetahui hal itu dan dia tak beraksi apapun.
"Kamu udah kenal lama sama keluarga mereka?"
"Belum terlalu lama. Awalnya dulu karena sketboard. Avez yang mau belajar, dan di sana kita bertemu. Singkat cerita setelah itu kita dekat satu sama lain." Kemudian Virgo menceritakan semua tentang dia dan keluarga Aksa dari A-Z.
"Boleh aku ketemu mereka?" Hati-hati sekali Libra mengatakan itu takut tak mendapatkan izin dari Virgo.
"Kalau kamu tahan sama kakak yang mungkin masih antipati sama orang asing, nggak masalah." Virgo menghabiskan minumannya dan menggeser minuman dan gelas kosong ke kirinya. "Bahkan pertama kali aku kenal sama mereka saja, kakak itu jutek sekali sama aku." Virgo hanya ingin memberikan gambaran atas apa yang terjadi ketika Libra ingin bertemu dengan keluarga Aksa.
"Sejutek itu ya?" Sepertinya Libra sedikit khawatir dengan penjelasan Virgo.
"Kamu bisa lihat sendiri kan waktu itu, ketika kita membuat kesalahan? Aku bahkan nggak langsung dapat maaf dari dia." Jelas Virgo mengingat masalah yang pernah dibuat kepada keluarga Aksa waktu itu.
"Jadi berapa lama kamu dimaafkan?"
"Hampir dua minggu kalau nggak salah. Aku nggak boleh main sama anak-anaknya, nggak boleh datang ke rumahnya, begitulah." Virgo mengedikkan bahunya seolah cerita itu benar-benar cerita ringan. "Berbeda sama Bang Aksa. Kalau dia orangnya nggak sekaku kakak, tapi tapi tegas. Pokoknya keren lah abang aku yang satu itu." Bangganya kepada Aksa.
"Kalau gitu nanti aja deh," Putus Libra. "Pulang juga nggak papa." Katanya melanjutkan. Virgo menganggung mengiyakan.
"Lagi pula kamu kan baru pulang sekolah. Istirahat dulu. Kalau nanti malam mau jalan, biar aku jemput." Libra setuju dengan menganggukkan kepalanya semangat. Dia senang dengan ucapan Virgo meskipun itu bukan sebuah janji.
*.*
Hari pertama masuk sekolah setelah mendapat skors, Virgo masuk dengan wajah cerah tanpa beban. Ketika dia baru tiba di tempatnya mencari ilmu itu, dia sudah disuguhkan wajah guru BP yang memberikan hukuman kepadanya.
"Bapak kemarin kasih surat buat orang tua kamu. Kenapa mereka nggak datang?" Seharusnya ketika waktu skorsing kemarin, orang tua Virgo harus datang karena panggilan peringatan dari sekolah. Tapi Virgo abai akan hal itu.
"Orang tua saya nggak ada di rumah, Pak," Jawabnya dengan kebenaran 100%. "Nggak ada yang mewakilkan untuk datang. Saya nggak mungkin cari orang untuk berpura-pura menjadi wali saya sedangkan Bapak tahu dan sudah hapal wajah kedua orang tua saya." Keterus terangan itulah yang kadang membuat orang lain sebal tapi juga menyetujui apa yang di katakan oleh Virgo.
Mengetahui jika memang orang tua Virgo adalah orang yang sibuk, maka mau tak mau beliau mencoba mengerti. "Baiklah," katanya. "Kamu jangan mengulangi itu lagi ya, kalau samapai kamu ulangi, kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat." Lanjut pak guru memperingatkan.
Virgo mengangguk sambil tersenyum "Akan saya usahakan, Pak." Kemudian mengambil tangan lelaki paruh baya itu dan dan menciumnya. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Menganggukkan kepalanya, Virgo pergi dari hadapan guru BP tersebut.
Guru tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya saja ketika melihat Virgo yang tak seperti murid-murid lainnya. Jika murid-murid lain masuk ke ruang BP akan membuat janji dengan tak membuat ulah lagi, atau tak akan megulangi perbuat jeleknya, Virgo bahkan tak mau mengatakan janjinya meskipun hanya basa-basi. Itu terkadang yang membuat guru-guru di sana merasa sebal.
Tapi 'kenakalan' yang dibuat oleh Virgo, tak akan ada apa-apanya dibandingkan prestasi yang ditorehkan untuk sekolahnya. Banyak piala yang dia dapatkan dari basket, sibuknya dia berlatih olahraga tak pernah sekalipun membuat guru yang mengajarnya mengeluh karena nilai Virgo yang buruk. Dan jika menginat itu, guru-guru pasti akan mencoba bertoleransi dengan ketambengan yang dilakukan oleh anak didiknya itu.
*.*