
“Jadi, kenapa menyimpan kotak ajaib itu bertahun-tahun dan aku nggak tahu?” Mereka masih saling berhadapan dan masih menikmati hidangan.
“Kotak apa maksud kamu?” Aksa masih tak paham dengan kotak yang istrinya katakan sejak tadi. “Aku nggak pernah punya kotak ajaib yang kamu maksud.” Tahu, akan seperti ini jadinya, Love memberikan ‘penemuannya’ kepada lelaki itu yang sudah di potretnya.
“Ini.” Katanya dengan santai. Aksa melihat layar ponsel istrinya dan melihat gambar di sana. Kepalanya mengangguk dan mengembalikan ponsel itu kepada Love.
“Jadi kamu menemukan ini, dan memberikan kejutan juga kepadaku?” Aksa tak kalah santainya. Meminum air putih miliknya, lelaki itu kemudian menjelaskan.
“Aku buat itu waktu di Singapura.” Love menatap fokus ke arah sang suami. “Kotak-kotak ini aku buat untuk mengatakan apapun yang aku pendam di dalam hati tanpa bisa melampiaskan kepada orang tersebut. Ketika semua kesibukan yang aku miliki mengikis semua waktuku hingga tersisa sedikit saja, hanya ini yang bisa aku lakukan.”
Aksa yang sepertinya terbawa suasana, kini dia menunjukkan perasaannya tanpa di pendam sedikitpun. Dengan menarik, kemudian menggenggam kedua tangan istrinya, dia bilang, “Kamu tahu?” ucapan itu mengambang seolah
memberikan waktu kepada sang istri untuk rasa penasarannya. “Aku ternyata bucinnya sama kamu. Sampai sekarang.”
Seandainya ini adalah sebuah drama Korea, mungkin akan ada efek menganga yang tanggung-tanggung yang ditunjukan oleh pemeran wanita. Karena setelah Aksa mengatakan hal itu, Love pun melakukannya. Setelahnya,
perempuan itu terkikik geli.
“Jadi, bukan hanya aku yang bucin sama, Price ternyata ya. Prince pun sama bucinnya.” Aksa berdiri masih dengan menggenggam tangan Love.
“Berdansalah denganku.” Begitu katanya tanpa menanggapi apa yang istrinya itu katakan.
“Dengan senang hati.” Jawaban itu membuat kedua orang itu kemudian sama-sama berdiri dan saling memeluk satu sama lain. Love menyenderkan kepalanya di dada Aksa dengan Aksa yang memeluk perempuan itu penuh sayang.
“SAYANG KAMU.” Bisikan itu langsung masuk dalam pendengaran Love ketika Aksa mengatakannya. Tubuh Love bahkan terasa panas ketika dua kata itu terucap dari bibir suaminya. Padahal, mereka sudah memiliki dua anak dan
bukan lagi bocah remaja yang baru saja mengenal cinta.
Love mendongakkan kepalanya dan tanpa pikir panjang mengecup bibir yang dengan ‘kampretnya’ memporak-porandakan perasaannya. “Nakal sekali bibir ini.” Begitu katanya ketika kedua mata mereka saling bertemu. “Sayangnya aku suka sekali dengan ini. Jadi itu adalah balasannya.” Seringaian mematikan itu kemudian terbit di bibir Aksa dengan kurang ajar.
Lelaki itu menempelkan tubuhnya lebih dekat pada tubuh sang istri. Mengamati wajah cantik istrinya tanpa berkedip. “Tak akan ada seorang perempuan yang akan mendapatkan kata itu kecuali kamu.” Bisiknya lagi di depan
bibir Love.
“Karena kata itu sangat berharga sampai Donal Trump aja nggak akan bisa membelinya.” Itu hanya lelucon garing dari orang yang tak memiliki bahan untuk bercanda. Tapi karena memang Love sereceh itu, perempuan itu tetap terkekeh.
“Cuma Love yang mendapatkan dengan percuma kan?” Aksa tak mempedulikan apapun yang sang istrinya katakan, karena dia tak akan menunggu lama dengan tak mencium sang istri habis-habisan.
Aksa seperti orang kelaparan yang tak pernah mendapatkan ciuman dari istrinya saja, dia melakukannya dengan membabi buta dan terus bermain di atas bibir sang istri. Bahkan Love sampai harus mencubit perut Aksa
karena protes.
“Nggak bisa napas.” Ada sedikit pelototan yang diberikan Love kepada lelaki itu. “Doyan juga nggak gini juga lah, Ayang.” Aksa benar-benar tak menanganggapi apa yang dikatakan oleh sang istri. Karena lelaki itu kembali mencium istrinya itu dengan penuh suka cita.
“Kalau kamu nggak bisa napas, aku yang akan memberikan napas buatan buat kamu. Ada suami di sini, nggak usah khawatir.” Seringaian itu kembali di bibir Aksa. Dan membuat Love sebal dan senang dengan bersamaan. Dan
Aksa melakukannya lagi.
*.*
Suara tangis Ixy memenuhi ruangan. Tak ada yang tahu ada apa dengan bocah itu karena Aksa sedang berada di kamar, Avez masih ada di masjid, dan Love sedang membuatkan susu untuk putrinya itu. Love bahkan harus berlari
mencari keberadaan Ixy untuk mengetahu penyebab bocah itu kencang sekali menangisnya.
“ Ada apa?” Love terlihat panik sekali dengan jeritan putrinya yang mengatakan sakit berkali-kali.
“Sakit. Bunda….. Bunda!” Begitu raungnya dengan wajah memerah.
“Adek kenapa?”
“Sakit.” Masih begitu terus jawabannya. Love sudah menggendong Ixy dan membawanya ke sofa. Meneliti tubuh bocah itu. Ixy memegangi kakinya sambil di garuknya kaki gendut itu oleh pemiliknya.
“Adek digigit semut api?” Memang tidak ada apapun yang menempel di kaki putrinya, tapi ada bekas merah yang Love tahu jika itu adalah ulah dari semut ‘kesayangan’ dari Ixy.
“Dek… Dek, ada-ada aja kamu ini.” Kembali digendongnya bocah itu dan dibawanya untuk ke kotak P3K. Bocah itu memerlukan salep untuk meredakan gatal dan sakit yang pasti dirasakan oleh putrinya.
“Udah, jangan nangis lagi ya.” Ixy masih sesenggukan di dalam gendongan Love dan tak mau turun karena merajuk entah kepada siapa.
“Kenapa?” Aksa bergabung dengan kedua perempuan kesayangannya itu di ruang keluarga. Mencium Ixy yang melingkarkan kedua kakinya ke pinggang sang bunda dengan mata yang masih sembab karena habis menangis.
“Ada dunia api menyerang, Yah.” Begitu jawab Love santai. Di tepuk pelan punggung bocah itu dengan sayang.
“Dunia api apa?” Aksa jelas tak paham akan hal itu.
“Digigit semut api.”
“Kok bisa?” Saut Aksa langsung. Dengan reflek Aksa memeriksa tubuh putrinya dan menemukan bekas gigitan semut itu terpampang begitu nyata di kaki Ixy. “Sakit pasti.” Lanjutnya melihat itu.
“Tadi kamu kemana sampai dia di gigit semut api kamu nggak tahu?” begitulah Aksa, jika anak-anaknya mendapatkan ‘masalah’ jika masih di dalam wilayah kediamannya, pasti akan ‘menyalahkan’ Love meskipun tak langsung.
“Aku buatin dia susu tadi, tahu sendiri anaknya kalau lihat semut kaya lihat harta karun.” Tanggap Love.
Aksa menggelengkan kepala saja. “Sini digendong ayah.” Katanya meminta bocah itu agar beralih ke dalam pelukannya. Dan tentu saja Ixy langsung menerima dengan senang hati. Bermanja-manja bersama sang ayah.
“Assalamualaikum.” Suara Avez terdengar dari ruang tamu dan tak lama muncul dengan baju muslim dan pecinya. Di tangannya ada jus amma.
“Waalikum salam.” Love tersenyum melihat putranya kini sudah sebesar itu. Sampai di dekat kedua orang tuanya, Avez mencium tangan mereka, kemudian matanya menatap Ixy.
“Kenapa, Adek?” begitu tanyanya tanda peduli. Bocah itu memang sangat peka dan sangat menyayangi Ixy.
Mendengar pertanyaan itu dari kakaknya, bibir Ixy mengerucut hampir kembali menangis. “Gigit nyemut.” Suara bocah itu parau. Air matanya kembali keluar meskipun suara tangisnya tak terdengar.
“Gigit nyemut, Ban.” Ulangnya dengan menunjukkan kakinya. “Cakit.” Bahkan dengan ayahnya saja tadi tidak mengatakan apapun. Tapi dengan sang kakak, dia malah mengadukan apa yang dirasakan.
beradik itu nantinya akan menjadi saudara yang saling melindungi dan akur.
“Bunda.” Kedua tangan Ixy terangkat untuk meminta bersama Love. Mata bocah itu juga sudah terlihat sayu tanda mengantuk.
*.*
Seragam TK yang dipakainya membuat Avez terlihat menggemaskan bagi orang yang melihat. Apalagi orang-orang yang berada di kantor sang ayah. Love memang sengaja mengajak anak-anaknya ke tempat kerja ayah mereka karena Love memang memasakkan makan siang untuk suaminya itu.
“Avez!” karena memang sampai di gedung GN grup bertepatan dengan istirahat makan siang, para karyawan juga sedang berada di luar ruangan mereka. Jadi karyawan-karyawan itu mengerubuni dan memanggil-manggil bocah itu dengan antusias, seperti Avez ini adalah seorang artis saja.
“Bang Avez baru pulang sekolah ya?”
“Iya.” Jawabnya dengan sopan.
“Abaaan.” Karena Avez lebih dulu berjalan, Ixy ketinggalan dan mengejar kakaknya itu sambil berteriak memanggil Avez. Kedua kaki gemuknya melangkah lebar untuk bisa segera sampai di mana sang kakak berada.
Love sendiri juga baru saja keluar dari mobil dengan membawa paper bag berisi makan siang. “Jangan lari-lari, Dek.” Suaranya juga agak kencang memberi peringatan kepada putrinya karena memang bocah itu sudah lebih
dulu meninggalkan ibunya.
Para gadis yang mengerumuni Avez berbalik menatap sumber suara, senyum orang-orang itu melebar dan merasa gemas dengan putri bosnya itu. “Ixy.” Gigi mereka bergemelatuk karena merasa ingin sekali menggigit bocah itu.
“Capek, Aban.” Cengiran itu ditunjukkan oleh Ixy kepada kakaknya karena napasnya terengah habis berlari. Mata bocah itu kemudian menatap orang-orang di sana. Hanya diam kemudian tangannya menggandeng tangan
kakaknya.
Rambut Ixy di ikat dengan banyak karet dan jepit rambut bergambar kartun-kartun lucu. Dan kecantikan bocah itu benar-benar terpampang nyata sehingga membuat orang-orang sangat gemas dengan dirinya.
“Hai, Ixy.” Sapa salah satu gadis-gadis di sana. Ixy tak langsung menjawab dan menatap kakaknya lebih dulu. “Ixy cantik bangert sih, siapa yang kuncir, Adek?” sahut salah satunya lagi.
“Bunda.” Tanggapan yang diberikan oleh Ixy kepada para gadis-gadis itu membuat mereka senang sekali. Usinya memang masih sangat muda, tapi Ixy adalah anak yang tanggap. Terkadang memang ada malu-malu, tapi kedua
orang tuanya selalu mengajarinya untuk ‘berani’.
“Avez, Ixy.” Love datang mendekati kedua anak-anaknya. Sapaan dari karyawan GN grup juga langsung di dapatkan oleh perempuan itu.
“Siang, Bu.”
“Siang.” Love membalas sapaan mereka dengan senyum kecil. Kemudian matanya beralih menatap kedua anaknya. “Ayah udah nunggu, naik yuk.” Begitu katanya kepada mereka. Kemudian kedua anak itu berjalan dengan masih bergandengan tangan.
“Lucu banget sih.” Begitu suara-suara yang mengomentari dua bocah kecil itu dengan gemas.
“Saya naik dulu.” Begitu kata Love pamit untuk menyusul kedua anaknya dan berlalu dari sana. Love tentu tak mengenal mereka semua. Dia tak mungkin menghafal karyawan sebanyak itu.
Ketika Love datang ke GN grup seperti ini, banyak dari karyawan di sana yang menatapnya dengan kekaguman yang tak akan repot-repot mereka tutupi. Entah itu karyawan lelaki maupun perempuan. Meskipun perempuan
itu sudah mengeluarkan dua anak dari perutnya, tampilannya masih seperti saat dia gadis dulu.
Badannya masih sangat terjaga, apalagi wajahnya yang selalu mendapatkan perawatan mahal. Jadi tentu saja dua anak tak akan ‘merusak’ bentuk tubuhnya. Karena bagi perempuan, perawatan tubuh itu sangat perlu agar sang
suami tak akan berpindah ke lain hati karena tampilan luar sang istri.
“Ayahh!” teriak lagi, Ixy masuk ke dalam ruangan sang ayah dengan berada di dalam gendongan Damar. Bocah itu memang sudah sangat ‘berteman baik’ dengan sekertaris ayahnya itu. Aksa menatap ke arah pintu dan tersenyum
melihat ‘gerombolan’ keluarga kecilnya itu masuk ke dalam ruangannya.
Berdiri dari kursi kebesarannya, dia mengambil alih Ixy ke dalam gendongannya dan mencium pipi bocah itu. “Adek bawa apa?”
“Bunda, bawa.” Tunjuknya ke arah tangan Love.
Senyum Aksa kembali mengembang. “Bunda bawa apa, berat banget kayaknya.” Love mengedikkan bahunya tak acuh.
“Berat emang, Yah. Orang itu milih gendong Ixy dibandingkan bantuin aku.” Hanya bualan saja memang. Makanan yang di bawa oleh Love hanya satu rantang saja. Tapi dia jengkel kepada Damar yang tak mengindahkan katanya
untuk membawakan makanan yang dibawanya dan memilih ‘menyibukkan’ dirinya dengan Ixy.
“Jangan ikut makan kamu.” Begitu peringatnya kepada Damar yang hanya dihadiadi jawaban berupa senyum oleh lelaki itu. Mereka memang dekat satu sama lain, jadi hal seperti itu memang sudah terbiasa terjadi.
Hanya butuh lima menit saja, Love menyiapkan makanan yang dibawanya ke atas meja. Semua orang yang ada di dalam ruangan Aksa itu sudah duduk dengan manis di sofa. Ah, kecuali Ixy yang berdiri sambil mengunyah kentang goreng kesukaannya.
Daging asap, Ayam bakar, Udang krispi, kentang goreng, dan sayuran mentah seperti selada dan daun kemangi juga tersaji di atas meja. Love sudah mengambilkan nasi dan lauk di atas piring untuk Aksa agar lelaki itu segera
mengisi perutnya.
“Enak, Love. Udah pintar masak kamu sekarang. Dulu aja makanan kamu nggak ngalor nggak ngidul.” Damar sudah melahap makananannya. “Udah cocok kamu jadi ibu rumah tangga.” Lanjutnya.
Love mengangkat sendok besar dan digerakkan untuk melempar lelaki itu dengan benda tersebut. “Dasar kampret.” Begitu katanya keceplosan.
“Ampet.” Dan dengan kecepatan otak Ixy, bocah itu menirukan ucapan sang bunda. “Ampet.” Dengan mengunyah makanannya, Ixy mengatakan itu lagi dan kerkekeh lucu.
Kali ini bukan hanya Love yang melotot karena kaget, tapi Aksa juga melotot ke arah istrinya. Love meneguk ludahnya pelan. “Adek, jangan bilang gitu. Nggak baik, Oke.” Ditatapnya bocah itu untuk memperingatkan. “Adek,” panggilan itu bernada tegas karena Ixy tak menjawab peringatan ibunya.
“Adek!” Kali ini Aksa yang memanggil. Dia tak ingin kata-kata itu dikatakan oleh Ixy lagi di kemudian hari. Love sudah menciut rasanya karena Aksa sudah meliriknya berkali-kali dengan pandangan memperingatkan.
“Nggak boleh bilang itu lagi. Oke.” Hanya anggukan yang diberikan bocah itu atas apa yang dikatakan oleh ayahnya.
“Ya.” Baru setelahnya dia menjawab persetujuannya. Sedangkan Avez dengan tenang memakan makanannya tanpa mempedulikan apa yang sedang terjadi. Bocah itu, kadang bersifat manis sekali, tapi terkadang juga
benar-benar mampu mengeluarkan aura cueknya. Bahkan jika asyik dengan dunianya sendiri, benar-benar tak peduli bahkan seandainya ada hal yang menarik sekalipun, dia akan tetap fokus dengan hal yang dilakukannya.
*.*