
Senyum Virgo mengembang ketika dia melihat kelima temannya sedang berdiri di depan kelas. Entah apa yang mereka obrolkan tapi sepertinya serius sekali.
"Woi!" Katanya mendekati mereka. "Serius sekali sih." Kelima temannya itu menatap Virgo dengan aneh seperti melihat makhluk ruang angkasa.
Tak mengerti dengan apapun yang terjadi dengan teman-temanya, dia menatap mereka dengan pandangan heran.
"Tiga hari ini lo kemana aja?" Edo bersuara lebih dulu. Tatapannya menyiratkan kesungguhan yang luar biasa.
"Ada, gue."
"Lo emang ada, tapi lo nggak ada di rumah." Virgo seolah berpikir dengan keberadaannya beberapa hari ini ketika dia tak sekolah.
Kemudian dia bilang, "Bener sih, gue kemana-mana tiga hari ini. Kalian ke rumah?" Tanyanya dengan santai.
"Jadi lo kemana?" Sam tak puas dengan jawaban Virgo, jadi dia mendesak.
Virgo tahu ini tak akan mudah. Dia bisa saja mengelak dan tak menjawab apa yang menjadi pertanyaan teman-temannya, tapi dia tak mungkin melakukan itu. Maka setelah berdehem, dia menjawab. Mengatakan tempat-tempat yang di datangi selama tiga hari ini, seperti memberikan laporan saja kepada pacarnya.
"Dan keluar sama Libra." Akhir kalimatnya. Awalnya mereka tak bereaksi, tapi setelahnya keriuhan itu terjadi.
"Kalian udah jadian kan?" Suara Baro kencang sekali mengatakan itu membuat rasa penasaran gadis-gadis di sana saja. Bahkan keriuhan itu membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Udah," Jawabnya tanpa beban.
"Tuh kan bener." Suara Rai menggma. " Soalnya nggak mungkin gandengan tangan kalau nggak pacaran." Memang lelaki satu itu benar-benar. Tak ada keme-kelemnya sama sekali. Membuat malu saja.
"Kok lo tahu gue gandengan sama Libra?" Virgo mengungkapkan keheranannya.
"Gue kan mergokin elo, Dodol." Rai melotot namun wajahnya ikut sumringah ketika mendengar fakta itu. "Sekarang, sini duitnya." Semakin tak mengerti, Virgo menyipitkan matanya.
"Duit apa?" Tanyanya penasaran. Pertanyaan Virgo sama sekali tak mendapatkan respon dari teman-temannya, dan mereka malah asyik mengumpulkan uang seratus ribuan dan memberikan kepada Rai. Dan diakhiri sumpah serapah dari Baro namun sumringah di wajah Rai.
"Analisa kalian benar-benar payah. Harusnya kalian dukung gue, tapi kalian sama sekali nggak percaya." Senyum mengejek diberikan Rai untuk teman-temannya.
Virgo kemudian memikirkan sesuatu tentang semua hal yang terjadi kali ini. Uang yang ada di tangan Rai kini berpindah tangan. Virgo yang menyautnya disetai tatapan datar dari lelaki itu.
"Kalian taruhan?" Jika Virgo sudah seperti ini, maka artinya lelaki itu sedang serius. Matanya menatap tajam tanpa berkedip dan juga terang-terangan. Bahkan teman-temannya saja saling melirik satu sama lain.
"Gaguk?" Ketika mereka tak ada yang menjabwab pertanyaan Virgo maka lelaki itu kembali bersuara. Jadi Sam yang menjelaskan.
"Rai kemarin lihat lo sedang gandengan tangan sama Libra dan haha hihi sama dia." Awalnya. "Dia bilang ke kami dan kami nggak percaya. Bisa aja mungkin lo sedang emosi sesaat atau sejenisnya sampai-sampai harus menggandeng tangan perempuan," Virgo mendengus pelan ketika mendengar penjelasan yang belum penuh itu. "Makanya kita pasang taruhan siapa diantara kami yang benar__"
"Dan sayangnya nggak ada yang berpihak ke gue," Rai dengan jumawa mengatakan itu. "Akhirnya gue yang menang." Sombongnya sambil menyeringai.
Tak banyak bicara, Virgo mengantongi uang tersebut kemudian berlalu dari sana. Membirkan Rai yang mencak-mencak tak jelas.
"Gue kan yang susah payah kumpulin itu duit, Vir," Katanya mengekori Virgo. "Kok jadi elo yang pegang." Sambungnya lagi. "Kan harusnya gue yang punya." Bahkan ketika Virgo duduk di kursinya Rai berkacak pinggang seolah menantang.
"Yang lo jadiin bahan taruhan siapa?" Virgo tak kalah menantangnya sekarang.
"Gue." Katanya menunjuk hidungnya dengan telunjuknya.
"Yang membernarkan jawaban lo siapa?"
"Elo."
"Jadi kalau gitu duit ini berhak dong jadi punya gue. Toh kalau gue nggak membenarkan jawaban lo, lo juga nggak bakal dapatin ini."
"Nggak mau gue." Tegasnya sambil melotot. "Enak aja."
"Ya udah kalau gitu. Toh duitnya udah sama gue." Virgo santai saja dengan itu. sedangkan ketiga temannya cekikikan melihat itu.
"Udahlah , Rai, biar itu duit kita pakai buat traktiran. Aja. Merayakan hari jadiannya Virgo dan Libra." Suara itu membahana di ruang kelas dan semua orang tahu.
"Congor lo, Bar!" Virgo melotot menatap lelaki itu karena tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Baro. Namun Baro santai saja dengan hal itu, bahkan dia tertawa-tawa merasa senang semua orang kini tahu jika Virgo sudah memiliki kekasih.
*.*
"Vir!" Seorang gadis satu sekolah dengan Virgo berlari ke arah lelaki itu. "Mau pulang ya?" Virgo menoleh ke samping kanannya dan mendapati Yana lah orangnya.
"Oh! Hai, Yan." Mereka melangkah bersama dengan santi. "Iya, mau balik." Jawabnya.
"Boleh nebeng?" Yana berjalan miring agar bisa melihat Virgo.
"Lo nggak di jemput?" Seperti Libra, Yana setiap hari juga antar jemput sopir.
"Enggak, makanya gue mau nebeng sama lo." Usahanya lagi masih berusaha.
"Bukannya nggak mau kasih tumpangan sama lo, tapi gue__"
"Mau jemput pacarnya." Ekspresi Edo menjengkelkan sekali sekarang. Dia benar-benar puas melihat wajah Yana yang seketika pucat dan matanya seolah tak memancarkan cahaya sama sekali.
"Cewek yang waktu itu?" Senyum yang dikeluarkan oleh Yana tentu hanya basa-basi karena terlihat kaku sekali.
"Iya dong. Virgo kalau udah cinta sama satu cewek kan nggak bakalan pindah ke lain hati." Edo masih bereaksi sedangkan teman-teman yang lainnya hanya menyaksikan saja sambil tersenyum melihat itu.
Bahkan Virgo juga menutup bibirnya tanpa menanggapi apa yang dilakukan oleh Edo. 'Maaf ya, Yan, tapi gue harus segera pergi. Kamu minta jemput aja sama sopir atau bisa minta diantar sama teman yang lain." Kemudian meninggalkan gadis itu tak lama diikuti oleh gerombolannya.
"Gue nggak akan biarin lo pergi gitu aja ya, Vir. Pajak jadian lo harus keluar hari ini." Suara Baro yang menggema dan lagi-lagi menarik orang-orang untuk menatap mereka. Menjadi orang-orang itu penasaran saja dengan kebenaran dari berita tersebut.
"Kok mereka rame-rame ke sini sih, Vir?" Libra yang baru keluar dari gerbang sekolah tentu saja heran dengan keberadaan teman-teman Virgo.
"Mereka minta pajak."
"Pajak jadian pasti." Begitulah Ule yang menyahut ucapan Virgo. Baru keluar sudah membuat rusuh. Itulah Ule. Senyumnya ceria dan tanpa beban.
"Gitu lah." Virgo menganggapi dengan santai dan malas-malasan. "Akeda's Palace. Itu adalah tempat romantic nan nyaman, dan makanannya pun jempolan. Itu adalah rekomendasi dari gue."
"Dan gue setuju." Begitu kata Baro. "Kita ke sana aja." Karena tak ada dari teman-teman lainnya yang memberi komentar dengan usulan tersebut, maka keputusannya adalah mereka akan ke sana.
"Ris, sama aku ya." Riska yang akan berbalik mengikuti Ule karena gadis itu akan mengambil mobilnya dan dihalangi oleh Sam.
"Boleh." Jika ada seorang pembaca raut wajah di sana, maka dia aka mengatakan jika dua orang itu pastilah saling menyukai satu sama lain. Hanya saja entah kenapa mereka belum saling mengungkapkan perasaannya.
Libra naik di atas boncengan Virgo, Riska bersama Sam, sedangkan yang lainnya berangkat sendir-sendiri.
"Kita kepergok," Teriak balik Virgo. "Dia tahu waktu kita kencan waktu itu." Lanjutnya dengan sesekali kepalanya agak menoleh ke kanan, namun masih fokus dengan jalanan.
Libra tak lagi mengajak Virgo berbicara karena tak ingin mereka mengalami hal-hal yang tak diinginkan akibat dari banyak bicaranya.
Mereka sampai setelah lima belas menit menempuh perjalanan. Turun dari kendaraan masing-masing, mereka masuk ke dalam kafe favoritnya. Dari depan sudah ada seorang pelayan yang menyambutnya. Mendapatkan meja panjang yang bisa menampung sembilan orang, kemudian memesan banyak makanan.
Virgo benar-benar tak memberikan uang hasil taruhan yang dilakukan teman-temannya. Dan Rai tentu mencak-mencak tak jelas. Entah nanti akan dibuat bayar makanan kali ini atau tidak biarlah Virgo memikirkan hal itu nanti.
"Abang!" Baru juga Virgo memakan makanannya satu suap, suara yang paling di kenalnya masuk ke gendang telinganya. Matanya mencari tahu keberadaan pemilik suara tersebut namun tak menemukannya. Bisa saja itu hanya seseorang yang memiliki suara mirip orang tersebut.
"Abang!" Kini barulah dia benar-benar percaya jika suara tadi bukanlah suara orang lain.
"Adek?" Virgo melambai untuk meminta Ixy mendekat. "Sama siapa?" tanyanya setelah Ixy duduk di sampingnya.
"Sama Oma, sama bunda, sama, Abang." Katanya. Rambut Ixy di ikat satu di tengah, ada anak-anak rambut yang mencuat menambah kesan manis di sana.
"Mana abang?"
"Main ikan." Pandangan dari teman-temannya tak dipedulikan oleh Virgo. Tangan Libra di tarik halus agar gadis itu sedikit mendekat ke arahnya.
"Adik kenal sama kakak ini nggak?"
"Nggak." Tanpa basa-basi sama sekali gadis kecil itu menjawab.
"Mau nggak kenalan?" Tak langsung menjawab karena mengingat dengan ucapan ibunya yang tak boleh mengenal sembarang orang.
"Tenang aja, kakak ini baik. Adek nggak perlu khawatir." Katanya mencoba meyakinkan.
"Tenang aja, Dek, kakak ini pacar bang Virgo." Sam ikut campur.
Ixy menatap teman-teman Virgo satu per satu entah apa yang sebenarnya di pikirkan oleh gadis kecil itu.
"Adek!" Love berjalan dengan santai mendekati putrinya. "Bunda cariin kemana-mana." Katanya sambil merangkul pundak Ixy.
"Ada bang Virgo, Bun," Adunya. "Bang Virgo mau adek kenalin sama pacarnya." Wajah Virgo hanya bisa memelas ketika Ixy mengatakan itu.
Love tak berekspresi berlebihan mendengar hal itu. Di tatapnya seorang gadis di samping Virgo dengan tangannya yang masih di genggam oleh lelaki itu. Seringaian itu muncul di bibir istri Aksa itu.
"Pacar abang ya, Dek?" Tanyanya lagi hanya sebuah basa-basi. "Coba adek salim sama kakaknya." Perintah Love.
Ixy patuh dan langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Libra.
"Ixy." Ucap Ixy kepada Libra.
"Libra." Jawab Libra sambil tersenyum tulus kepada bocah kecil itu. Namun tak berani berbicara banyak karena melihat Love yang berdiri di sana dengan wajah yang, entahlah, tak bisa di deskripsikan.
"Adek mau sama abang di sini?" Ditariknya tangan Ixy dengan lembut.
"Nggak." Tolaknya. "Adek mau sama abang aja."
"Lah ini kan abang juga."
"Abang Avez." Jawabnya kemudian berlalu dari sana. Yang mendapatkan kekehan dari Love.
"Tahu kan sekarang siapa yang disayangi sama Ixy?" Sungguh, wajah Love benar-benar menyebalkan sekali di mata Virgo. Membuat lelaki itu berdecih.
"Biasanya juga sayang sama aku." Love mengedikkan bahunya tak acuh.
Menatap orang-orang yang satu meja dengan Virgo, Love berbicara, "Makan yang banyak ya, kalau perlu kuras uang Virgo sampai habis, biar saya untung banyak." Itu hanyalah candaan tentu saja. Karna Virgo memang tak tahu jika kafe ini adalah milik keluaga Aksa.
"Apa hubungannya." Malas Virgo berucap. Namun kemudian kepala Virgo menoleh cepat.
"Kafe ini punya, Kakak?" Dengan tampang bodoh.
"Tentu saja." Seringaian itu masih tercetak di bibirnya dengan tingkat menyebalkan yang tinggi.
"Aku pergi dulu." Itu di katakan kepada Virgo. "Saya permisi dulu." Berbeda dengan ketika bersama Virgo yang seolah penuh kejengkelan, ketika berpamitan dengan teman-teman lelaki itu, ketulusan yang ada di dalam hatinya keluar.
Bahkan ketika Love meninggalkan meja Virgo, pandangan dari teman-teman lelaki itu mengikuti Love sampai perempuan itu hilang dari pandangan mereka.
"Sumpah, Vir, luar biasa sekali kakak itu." Rai mengatakan unek-uneknya. "Udah cantik, bicaranya santai tapi menunjukkan kalau dia itu intelektual, dan__" Rai mencari kata yang tepat untuk Love tapi tak bisa menemukannya. "Keren lah pokoknya." Kepalanya bahkan sambil menggeleng.
"Lo nggak tahu aja betapa ngeselin bin menyebalkannya dia." Jawab Virgo.
"Gue nggak peduli, bagi gue dia itu beneran top." Jempolya diacungkan, "Siapa suaminya? Sehebat apa dia?"
"GN Group, lo pernah denger?"
"Huanjir, Aksa Arion Ganendra?" Ule, si sok tahu tapi memang tahu, bersuara.
"Ya, Aksa Arion Ganendra. Dia itu suaminya."
"Oh my God." Ersya nimbrung. "Orang itu tuh ganteng banget. Dia masuk ke majalah-majalah bisnis dengan tampilan yang menawan." Matanya melebar seolah hal itu adalah mengagumkan.
"Dia kan nikah sama pewaris Nareswara group?" Kini Riska yang berbicara. "Jadi itu tadi Lovela Shavel Nareswara?"
"Kalian seantusias itu ya tahu berita ini?" Virgo memutar bola matanya bosan.
"Lo tahu nggak kalau mereka itu pasangan paling hot yang pernah gue tahu?" Ule tak mau mengalah. "Gue mau dong ketemu dia lagi. Ajak main ke rumah dia juga gue mau." Bahkan tatapannya penuh harap.
Mungkin sedikit mengherankan dengan Ule karena dia tak mengetahui jika tadi itu adalah Love. Tentu saja tidak, karena dia hanya melihatnya melalui media. Dia bukan fans, dia hanya sekedar tahu tapi dia menyukainya. Itu saja. Tak lebih.
Sedangkan Libra tak menyambung obrolan teman-temannya karena hatinya tiba-tiba merasa tak nyaman dengan pandangan Love yang diberikan kepadanya.
"Kenapa?" Virgo yang menyadari ada yang berbeda dengan Libra kini bersuara, hanya suara rendah berusaha agar suaranya tak di dengar oleh teman-teman mereka.
"Nggak nyaman aja." Merasa tak perlu menutupi, Libra mengungkapkan isi hatinya.
"Karena kakak?"
"Mungkin. Tapi tatapannya kaya," Libra berpikir mencari kata yang pas. "Nggak suka sama aku?" Libra pun tak yakin dengan semua itu.
*.*