
Mereka sudah selesai dengan perayaan kemenangan yang diadakan di sebuah kafe. Keramaian jelas terlihat dan menjadi pusat perhatian. Tip basket, dengan orang-orang yang memiliki paras tampan pastilah banyak orang yang menatap mereka. Apalagi para perempuan.
“Kami terima kasih banget sama lo, Vir. Lo udah mencetak poin terbanyak dan kemenangan itu kita dapatkan sekarang.” Doni yang mengatakan itu, “Dan kami masih berharap agar lo bisa masuk ke club basket.” Lanjut Oni.
“Gue merasa beruntung karena kalian nerima gue di club ini, Bang. Mungkin kalau waktunya agak longgar, gue akan gabung.” Lugas Virgo mengatakan itu. Dia tak mungkin dengan langsung menolak tawaran tersebut. Sombong sekali kalau dia melakukan itu.
“Kami akan menerima lo dengan tangan terbuka kalau memang lo mau bergabung.” Libra sejak tadi hanya berbicara saja seadanya karena merasa masih canggung. Dan sekarang dia memilih diam.
“Waw!” Doni yang berseru, namun yang lain juga ikut melihat ke layar ponselnya masing-masiing, “Kalian jadi topik hangat di kampus.” Lanjutnya. Adegan yang dilakukan oleh Virgo dan Libra ketika di lapangan basket itu adalah penyebabnya.
“Siap-siap aja besok kalau kalian masuk kuliah, udah kaya artis aja ya. Dipandangi orang-orang.” Oni berkomentar sambil menyeringai.
Libra merasakan detakan jantungnya tiba-tiba menggila ketika mendengar itu. Melirik Virgo dengan pandangan menghakimi seolah mengatakan, ‘Ini ulah kamu’. Sejak di sekolah, Libra memang terbilang salah satu siswa yang menjadi pusat perhatian meskipun dia sama sekali tak paham akan itu.
Mereka sampai di rumah ketika sudah siang. Libra langsung berbaring di sofa ruang keluarga sambil memejamkan matanya. Diikuti oleh Virgo yang duduk di sana.
“Perasaan aku yang tanding kenapa kamu yang capek, Yang.” Begitu kata Virgo sambil memijat kaki sang istri.
“Enaknya, Yang.” Kata Libra. Merubah posisi dengan telentang, dan menumpukan kedua kakinya di paha Virgo. Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya saja ketika melihat tingkah Libra.
“Tidur di kamar, yuk!” ajak Virgo karena dia juga merasa kelelahan ingin ikut berbaring juga. Namun hampir mereka berjalan ke kamar, suara bel terdengar. Sebelum ini memang jarang sekali ada tamu yang datang, ketika sekarang ada yang memencet bel rumahnya, itu jelas saja menjadi tanda tanya besar bagi dua orang tersebut.
Merek saling pandang, sebelum Virgo memutuskan untuk membuka pagar rumahnya.
“Bang Aksa!” senyumnya melebar ketika melihat Aksa dan keluarganya datang berkunjung ke rumahnya. Pasalnya, ketika dia pindahan waktu itu, Aksa memang tak bisa datang karena ada urusan yang harus diselesaikan di rumah mertunya.
“Adekku, cantikku.” Virgo langsung bertos ria dengan Ixy dan juga Avez. Senyum Virgo benar-benar mengembang ketika kedatangan tamu yang tak pernah dia duga sebelumnya.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah dengan Love yang langsung menjadi komentator design rumah tersebut. Libra pun terkaget ketika melihat Love masuk ke dalam rumahnya, sedangkan dia hampir saja tertidur tadi.
“Kak!” sapa Libra dengan senyum.
Love pun juga membalas senyuman Libra. Mereka duduk di sofa ruang keluarga dan Libra langsung berlalu dari sana untuk ke dapur dan membuatkan minuman untuk tamunya.
Virgo yang sudah lama tak bertemu adik-adiknya itu seperti tak mau pisah dengan mereka. Ixy dipangkunya dan tak diizinkan pergi kemanapun.
“Abang, aku mau main.” Ixy yang tak mau terkungkung di pangkuan Virgo itu berontak untuk melepaskan diri. Sedangkan Avez sudah berada di samping rumah yang memang ada taman kecil di sana.
“Rumah kamu memang kecil, Vir, tapi nyaman sekali rasanya.” Itu adalah komentar yang diberikan oleh Love ketika sedari tadi menatap ke segala penjuru ruangan.
“Udah langsung direnovasi sama papa, Kak.” Jujurnya. “Awalnya emang nggak kaya gini bentukannya.” Renovasi yang dilakukan beberapa waktu lalu itu memang merubah banyak. Karena jelas saja Firman harus memberikan yang terbaik untuk anak dan menantunya.
Libra datang membawa minuman. Ada sirup dingin di teko kaca, dan ada minuman hangat juga. Ada beberapa kudapan untuk melengkapi minuman yang disajikan.
“Silahkan, Kak, Bang.” Libra duduk di samping Virgo dan mempersilahkan untuk mereka menyantap kudapan yang disajikan.
“Terima kasih.” Jawab Aksa. Libra menatap Ixy dan Avez yang asyik entah memainkan apa. Perempuan itu berdiri dan berjalan mendekati kakak beradik itu.
“Hai! Abang, Adek.” Sapanya.
“Hai! Kakak Libra.” Meskipun belum mengenal dengan dekat, seperti mereka mengenal Virgo, tapi keduanya sepertinya menyukai Libra.
“Main apa?” tanyanya sambil ikut duduk di depan mereka.
“Main ABC, Kak.” Jawab Ixy dengan semangat, “Kakak mau ikut?” sungguh, Libra bisa melihat binar cerah di mata Ixy. Gadis itu cantik sekali. Benar saja kalau suaminya sangat menyukai gadis cilik itu. Matanya beralih ke arah Avez dan melihat bocah itu juga benar-benar memiliki paras yang tampan. Perpaduan kedua orang tuanya benar-benar menjadikan perpaduan yang begitu sempurna.
Kini Libra jadi membayangkan bagaimana perpaduan antara dirinya dan juga Virgo. Dan kenapa pula dadanya tiba-tiba bergetar ketika membayangkannya? Dia sudah ingin memiliki anak kah? Takut pikirannya melantur kemana-mana, maka dia harus mengalihkan fikirannya.
“Kakak ikut, deh.” Putus Libra, “Jadi kita akan menyebutkan nama apa ini?”
“Nama hewan!” Ixy semangat sekali mengatakan itu. Bahkan suaranya saja melengking keluar.
“Oke. Abang setuju?”
Avez mengangguk, “Setuju, Kak.” Dan maka permainan itu kembali di mulai.
“Gajah.” Avez yang lebih dulu menebak ketika huruf yang keluar terakhir adalah huruf ‘G’.
“Gorilla.” Itu adalah jawaban Libra. Sedangkan Ixy masih berfikir untuk mencari jawaban.
“Itu kan kambing, Dek. Bukan Gambing.” Protes Avez, “Berarti Adek kalah.” Putus Avez, “Adek harus dihukum.” Ekspresi Avez benar-benar mengerikan ketika mengatakan itu membuat Ixy cemberut dibuatnya.
“Iya.” Pasrah Ixy, “Apa hukumannya?” tanyanya dengan memanyunkan bibinya.
“Nyanyi lagu cecak diganti huruf ‘O’ semua.” Avez sepertinya bersemangat sekali dengan itu. Sedangkan Libra hanya terkekeh dengan tingkah kakak beradik itu. Mengabaikan tiga orang di dalam rumah dan asyik dengan anak-anak itu.
Ixy melakukan hukuman yang diberikan sambil berjoget. Anak-anak itu memang suportif setiap bermain. Itu adalah didikan yang memang ditanamkan oleh Love sejak kecil.
“Di dalam ada minuman, Abang sama Adek nggak mau coba?” Ixy sudah selesai melakukan hukuman yang diberikan oleh Avez kepadanya. Dan Libra mengajak anak-anak itu untuk masuk ke dalam rumah.
“Nanti aja, Kak.” Avez menolak, “Kami masih mau main.” Namun mendapatkan penolakan dari sang adik.
“Aku mau masuk aja, Kak. Nggak mau main lagi.” Katanya yang tanpa menunggu Avez, dia masuk ke dalam rumah meninggalkan kakaknya dan juga Libra. Tingkah menyebalkan itu sepertinya memang menurun dari Love sepenuhnya.
Dan itu membuat Libra geli melihatnya. Sedangkan setelah Ixy sudah masuk ke dalam rumah, Avez berkomentar, “Kalau kalah main pasti kaya gitu.” Dan kemudian menyusul adiknya untuk masuk ke dalam rumah.
Libra tentu tak mungkin berada di sana sendirian, karenanya dia ikut masuk ke dalam rumah dan berkumpul dengan tamu-tamunya dan juga sang suami. Mereka mengobrol banyak hal, dan entah bagaimana, kini Libra dan Love justru duduk di karpet di depan pintu samping sambil menselonjorkan kakinya seperti orang-orang desa yang sedang ngerumpi.
“Kisah kamu itu tak jauh beda dengan kisah kami, Li.” Libra menatap Love tanpa mengatakan apapun terlebih dulu. “Namun kamu pasti tahu, akhir dari pernikahan kami adalah kebahagiaan.” Lajut Love mengatakan dengan sungguh-sungguh.
“Memang, perjalanan kalian ini benar-benar sulit. Tapi tak akan mungkin terus seperti ini. Ayah kamu pasti akan luluh kalau kalian tak menjauh.” Love memberikan nasehatnya kepada Libra.
“Virgo bilang, kemarin kalian berkunjung ke rumah orang tua kamu tapi justru kamu pulang dengan menangis karena ayah kamu berkata kasar?”
Libra mengangguk, “Iya, Kak. Ayah itu memang keras kepala sekali.”
“Sejujurnya aku malah salut banget sama kalian. Kalian berani memutuskan untuk menikah di usia yang sangat muda sedangkan waktu aku dulu menikah ketika baru saja lulus kuliah sudah dianggap kemudaan.” Libra terkekeh ketika mengingat masa lalunya.
“Keputusan itu awalnya berat, Kak. Aku takut dan memikirkan banyak hal. Tapi aku juga nggak mau kalau harus kehilangan Virgo lagi. Aku esois nggak sih, Kak? Aku tahu aku salah banget dengan ayah karena hal ini. Tapi ayah juga nggak seharusnya melakukan ini.”
“Pertama ayah kamu pasti kecewa.” Libra bukan tipe orang yang akan menutupi apa yang sedang dipikirkannya, karena itu dia mengatakan hal yang blak-blakan, “Karena ‘kehilangan’ anak gadisnya yang belum puas dia mengasuhnya, tapi harus kehilangannya karena terjerat cinta lelaki lain itu sangat menyedihkan.”
Libra meneguk ludahnya dengan pelan mendengar hal itu. “Kita akan memikirkan hal yang positif dulu kenapa ayah kamu kenapa melakukan hal itu.” Libra lagi-lagi mengangguk dengan pelan dan berusaha mendengarkan untuk memahami kira-kira apa yang sedang dipikirkan ayahnya.
“Terlepas dari dia memiliki masa lalu dengan orang tua Virgo, dia pasti merasa sedih. Dia pasti menginginkan lebih lama lagi bersama dengan kamu, melihat kamu menjadi seorang sarjana, memulai menapaki karir dalam hidup kamu dan barulah mengantarkan kamu ke sebuah kehidupan baru bernama rumah tangga. Aku fikir semua ayah akan memikirkan hal tersebut termasuk ayah kamu. Kenapa aku mengatakan ini? Karena beitulah pemikiran Aksa yang selalu dikatakan ke aku setiap melhat anak-anaknya.” Senyum Love terbit ketika dia selalu mendengarkan keinginan suaminya terkait Avez dan Ixy.
“Tapi ketika aku mendengar ayah kamu menyodorkan lelaki lain untuk menemani kamu kuliah di luar kota untuk menjaga kamu, aku juga berpikiran lain. Yaitu jika ayah kamu memang masih memendam benci dengan orang tua Virgo dan berimbas pada ketidak sukaan beliau dengan suami kamu itu.” Love memang sudah mengetahui semua cerita Libra dan Virgo dan dia bisa menerka-nerka tentang masalah ini.
“Kamu nggak perlu memikirkan ini dan menjadikan beban yang teramat berat buat kehidupan kamu. Bisa menyatukan ayah kamu dan Virgo adalah tugas kamu. Meluluhkan hati ayah kamu adalah keharusan kalian. Karena sangat tidak baik jika hubungan suami kamu dan ayah kamu akan terus memanas seperti ini.”
“Aku tahu, Kak. Tapi untuk sekarang ini rasanya aku belum sanggup. Ayah masih keras kepala dan kalau ngelihat aku seperti musuh saja bagi dia.”
“Pelan-pelan saja. Kalau menurut Virgo, sering mengunjungi ayahmu adalah jalan yang ampuh, tapi strategi kalian juga harus matang. Sekali tempa, batu itu harus terkikis seperempatnya.”
“Caranya?” Love mengedikkan bahunya tak acuh.
“Itulah yang harus kalian cari jalan keluarnya. Aku hanya bisa berharap masalah kalian dengan ayah kalian segera terselesaikan.” Ucapan Love seolah doa yang membuat Libra bersyukur karena bagaimanapun, dia masih memiliki teman bicara yang bisa membuat dirinya tak berkecil hati. Orang-orang mengetahui masalahnya tak sepenuhnya menyalahkannya. Dia bersyukur akan hal itu.
“Tapi jangan sampai kamu terus mencari cara untuk mengakurkan ayah kamu dan Virgo justru malah kamu mengabaikan Virgo, itu akan lebih buruk.” Tambahan dari Love.
“Jangan sampai lah, Kak. Amit-amit.” Katanya dengan serius. Yang membuat Love terkekeh mendengarnya, “Kasih tips dong, Kak, biar rumah tangga kami baik-baik aja.” Libra menatap Love dengan sempurna untuk mendengarkan dengan seksama tips-tips yang barang kali akan diberikan oleh istri Aksa tersebut
“Bukan hanya aku, semua orang yang dimintai tips seperti itu pasti akan menjawab, kejujuran adalah salah satu pondasi utama dalam rumah tangga. Dan itu memang benar adanya. Apapun yang terjadi pada kalian harus kalian bicarakan berdua. Jangan memiliki pemikiran jika setelah kalian berterus terang pasangan kalian akan marah. Kalaupun dia akan marah, paling tidak nggak ada ganjalan dalam rumah tangga kalian. Karena lebih menyakitkan lagi, bau bangkai itu tercium baru kita menemukan sumbernya daripada kita menemukan bangkai itu lebih dulu namun setelahnya tak ada bau yang menyerbak di dalam rumah.” Super sekali Love ini sekarang.
Pengalaman berumah tangga bersama Aksa mengajarinya banyak hal, sampai dia bisa seperti motivator kelas atas.
“Kakak benar.” Libra menjawab, “Bau bangkai yang sudah keluar tapi kita masih mencari sumber bau itu dimana, lebih menjengkelkan.”
“Jalankan peran istri dengan baik,” lanjutnya, “Itu salah satunya. Aku dulu juga nggak tahu apa yang harus aku lakukan menjadi seorang istri, tapi mamaku mengajarinya seperti itu dan aku melakukannya.” Love menyamankan duduknya dan menatap Libra dengan sungguh.
“Bisa menenangkan suami ketika dia emosi, melayani dia dengan baik. Contoh kecilnya adalah makanan, kalau mau masak, tanya lebih dulu dia mau makan apa, pijat dia ketika dia lelah. Misalnya kalian sama-sama kesal satu sama lain, kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu. Ingatlah perjuangan kalian sampai di tiitik ini. Jangan sampai satu kalimat pedas menghancurkan semuanya.” Kalimat Love memang tak bisa di catat di dalam buku, tapi Libra pasti mengingatnya.
“Kejujuran itu memang sangat perlu, tapi jangan sampai kamu mengatakan sebuah kejujuran itu ketika dia masih lelah. Misalnya ketika dia baru pulang kerja misalnya? Jangan pernah kamu melakukan itu. Emosi orang yang lelah itu bisa terpancing dengan gampang. Jadi tunggu kepalanya dia dingin terlebih dulu, baru kalian berdiskusi apapun yang ingin kamu katakan.” Itu adalah tambahan dari nasehat yang Love berikan Libra.
*.*