
“Sweety! Akhirnya lo sekolah lagi! Gue kangen banget sama lo!” Cilla belum menghentikan teriakan noraknya sejak pertama melihatku di sekolah pagi ini. Sulit membedakan apakah ia benar-benar senang atau hanya berpura-pura. Anak-anak lain pun ikut-ikutan menyambut kehadiranku setelah sekian lama absen.
Jujur saja aku terharu mengetahui banyak yang menyimpan kepedulian terhadapku, merasa kehilangan saat aku lama tak hadir di antara mereka. Namun semua rasa haru itu, rasa dihargai itu, lenyap saat mendapati ia benar-benar tak ingin menyapaku lagi.
Ia bergeming di tempatnya. Membaca sebuah buku tebal tanpa menoleh ke arahku sedikit pun. Kepalanya menunduk, tenggelam dalam dunianya sendiri.
Saat aku mulai putus asa, akhirnya ia mendongak. Aku tersentak dan terdiam kaku. Menatapnya yang juga tengah menatapku. Tapi tak ada bahasa yang tersirat di situ. Tatapannya kosong. Benar-benar kosong. Ia menatap, namun seperti tidak menatap.
“Lo kenapa, Xa?” tanya Cilla cemas seraya mengikuti arah tatapanku. Seketika ia mengerti apa yang tengah terjadi.
Atau ‘mungkin’ mengerti.
“Alexa, Rifa emang ganteng. Tapi please, jangan segitunya merhatiin dia. Tenang aja, gue gak akan ngerebut dia.”
Aku melotot tak percaya mendengar ocehan Cilla. “Maksud lo?”
“Dari dulu gue bukan tipe teman makan teman. Apalagi sekarang, setelah gue punya Kak Jovan. Gue makin gak berminat sama cowok lo. Biar kata dia ganteng kayak gimana juga.”
Aku menjulingkan mata tak peduli seraya berhenti memperhatikan Rifa. Bagaimanapun, seperti yang dulu ia katakan, semua tidak akan pernah sama lagi. Aku dan Rifa kini hidup di dua alam berbeda. Di dua sisi berseberangan. Jika memang ini yang Unknown inginkan, apa salahnya aku ikut menganggap Rifa fana?
Demi kebaikanku. Demi keselamatanku.
***
Berhubung aku bukan selebriti dan Rifa Maniac belum mengendus kabar terbaru tentang idolanya, berita berakhirnya hubunganku dan Rifa masih sebatas konsumsi anak-anak XII IPA 5. Bukan aku narasumber utama, bukan pula Rifa. Mereka menyimpulkan sendiri. Jika aku dan Rifa yang biasanya tampak seperti lem dan perangko kini justru berjauh-jauhan, maka tidak ada kesimpulan lain kecuali tengah terjadi masalah besar di antara kami. Dan bagi mereka tidak ada masalah besar lain hingga menyebabkan Rifa enggan menatap mataku kecuali kami telah berpisah. Dalam diam kuiyakan hipotesa mereka.
“Sejak kapan, Xa?” tanya Yohanes kepo.
“Apanya?” tanyaku balik, pura-pura tidak tahu.
“Kamu sama Rifa.” Yohanes memperjelas. Cowok satu ini memang pantang bergue-elo. “Sejak kapan kalian jauh-jauhan begini? Apa kalian beneran udah putus?”
Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja, menatapnya tajam, kemudian—lagi-lagi—bertanya retoris, “Apa pedulimu?”
Cowok itu mengangkat bahu.
“Kalian pasti udah putus, kan?” Tahu-tahu Dena si preman cantik sudah berdiri tepat di depan mataku, bertolak pinggang seperti biasa.
Tak lama, nyaris sebagian warga IPA 5 berdiri mengelilingi bangkuku. Penasaran akan fakta yang selama ini hanya mereka terka-terka. Lala si badan tambun merangsek ke barisan terdepan. “Apa bener Rifaldi punya selingkuhan?”
“Gak mungkin lah, Gendut!” bantah Yohanes tegas atas tuduhan Lala. Yang lain membenarkan. “Rifaldi udah insyaf.”
“Alexa, tolong jawab pertanyaan penting ini.” Suara tinggi Allysa menghentikan kegiatan wawancara anak-anak IPA 5. Semua perhatian kontan terarah padanya. “Gue denger dari sebuah sumber, katanya kecelakaan lo kemarin karena Rifa. Makanya orangtua lo nyuruh kalian bubaran. Dan katanya juga ada teror yang menyerang kalian. Apa itu bener?”
Deg!
Pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan tersebut menyentakku tanpa sadar. Mustahil reaksi gugupku sebelum menjawab pertanyaan Allysa luput dari pandangan semua orang. Beruntung aku cepat menguasai diri kembali. “Aku punya saran bagus buat kalian. Gimana kalau kalian coba tanya sama Rifa apa yang sebenarnya terjadi? Be honest, aku gak berhak ngasih tahu apa pun kepada kalian. Dan terima kasih karena kalian udah peduli banget sama aku.”
Terdengar lenguhan kecewa di sana-sini. Mereka tahu, bertanya hal pribadi pada Rifa, apalagi saat suasana hati cowok tersebut terlihat kurang bagus, sama saja seperti minta dibanting. Setahu mereka, anak karate hobinya banting-membanting. Aku pun tahu, yang sebenarnya mereka pedulikan itu Rifa, bukan aku.
Akhirnya mereka bubar tanpa dikomando. Tampak Cilla menatap prihatin antara padaku dan pada orang-orang yang dihantui penasaran tersebut. Ia menyentuh bahuku lembut, kemudian berbisik tepat di samping telinga kananku. “Maafin gue, gue gak tahu pacar lo sebegitu cintanya sama gue sampai rela mutusin lo begitu.”
Aku menatap lelah. “Cilla .…”
“Maaf, gue bercanda,” ujar Cilla terkekeh.
“Lo kan lihat sendiri gimana proses putusnya gue sama Rifa.” Aku mencoba mengingatkan.
“Iya gue inget. Malahan gue udah tahu semuanya dari Rifa. Waktu itu kan dia nyerita di depan seluruh anggota keluarga lo, termasuk gue.”
Aku mengangguk. “Lalu?”
Cilla mengangkat bahu. “Fans Rifa kayaknya girang banget waktu denger berita lo kecelakaan.”
“Masa?” tanyaku malas. “Kok mereka peduli banget sama kondisi gue?”
“Ya gitu, deh,” timpal Cilla. “Mungkin mereka heran kenapa Rifa selalu sendirian belakangan ini, jadi mereka nyari tahu ada apa dengan lo.”
“Dan setelah mereka tahu kalau gue kecelakaan mereka langsung sujud syukur, gitu?”
Aku tersenyum miris. Hei, aku bahkan tidak punya kelebihan selain berat badan, tapi mengapa aku sampai punya haters sebanyak itu? Rasanya konyol sekali dibenci cewek-cewek beken hanya gara-gara seorang Rifa jatuh cinta padaku.
“Mungkin. Pokoknya tetap abaikan mereka. Dan ingat, jangan bermuram durja terus. Badai pasti berlalu. Semua akan indah pada waktunya, dan Rifa akan kembali ke pelukan lo.”
Senyum Cilla merekah. Entah mengapa senyuman tersebut sedikit menetralkan kegamanganku. Tak kusangka sesekali Cilla bisa bijak juga. Kadang kuharap sifat SKSD Cilla hanya candaan belaka. Sesungguhnya ia adalah cewek normal yang tidak mudah ge-er.
“Tapi gue gak tanggung jawab loh ya, kalau sebelum kalian balikan lagi, Rifa keburu kepincut sama gue kayak dulu.”
Namun sayang, harapan hanya tinggal harapan. Sesungguhnya Cilla, dengan segala kekurangan dan sedikit kelebihan yang ia miliki, tetaplah seorang Ratu SKSD.