
“Abang dapat nilai ‘A’, Yah.” Avez menunjukkan gambar seekor ayam yang di warnai oleh dirinya. Hasil karya entah yang keberapa. Aksa yang sedang mengajari putranya itu untuk belajar membaca dan menulis itu menerima buku yang diberikan kepadanya untuk di lihat.
Untuk ukuran anak-anak, cara Avez menumpahkan warna dalam gambar tersebut cukup rapi.
“Hebat.” Aksa mengacungkan jempolnya ke arah anaknya itu dan tersenyum bangga. Avez pun membalas ayahnya dengan senyuman juga.
“Sekarang kita mulai belajar aja, ya.” Avez dengan patuh mengangguk dan bibirnya memulai membaca. Sebelum dia bersekolah, Love sudah lebih dulu mengajarinya untuk membaca. Mengajari huruf dan angka, tak lupa mengajari menulis juga.
Dan ketika dia sudah duduk di bangku sekolah sekarang, dia benar-benar sudah bisa menguasai semuanya.
Ketika Avez sedang belajar seperti ini, maka Ixy dan Love melipir sebentar ke tempat di mana Ixy tak mengganggu konsentrasi kakaknya. Tapi bagaimana lagi, Ixy yang begitu akur dengan sang kakak dan suka sekali bersekongkol itu, tiba-tiba saja hilang dari pandangan Love untuk menemui Avez.
“Aban, nyemut.” Kaki gemuknya berlari dan bibirnya berteriak untuk menunjukkan jika dia kembali mendapatkan semut yang mungkin saja kini sedang meregang nyawa.
“Adek, dapat nyemut.” Katanya dengan sangat riang. Diletakkannya semut itu di atas buku Avez dan dia bertepuk tangan dengan gembira. Beginilah kakak beradik. Karena Avez yang dulu suka sekali berburu semut, adiknya pun melakukan hal yang sama karena bocah itu mengajarinya dengan suka cita.
Aksa tak kaget melihat itu. Dia selalu saja geli melihat anak-anaknya yang memiliki hobi yang sangat aneh itu. “Adek sama bunda dulu ya, biar abang belajar dulu.” Aksa bersuara. Karena waktu belajar Avez memang belum
berakhir. Dan putrinya sudah mengganggu kakaknya.
“Ayah nyemut.” Begitu Ixy ‘menolak’ keinginan ayahnya untuk tak mengganggu kakaknya. Bahkan mata bocah itu melebar seolah berita yang di bawa itu sangat berharga sekali. Sedangkan Aksa begitu murah sekali jika berhadapan putrinya itu. Dia tak tahan untuk tak mencium bocah itu.
“Kalau gitu, sini belajar sama abang.” Begitu perintah Aksa dengan lembut. “Adek pintar kan?” anggukan itu langsung dilayangkan karena persetujuan. Sedangkan Avez sejak tadi tak mengatakan apapun. Dia melanjutkan
belajarnya ketika sang ayah memintanya untuk melanjutkan.
Sedangkan Love mencari Ixy kemana-mana dan menghela napas lega ketika melihat putrinya itu duduk dengan manis di depan Aksa.
“Dek, kalau pergi bisa bilang dulu nggak ke bunda?” Love ikut duduk di samping sang suami dan menatap Ixy dengan gemas. “Aku ditinggalin loh, Yah.” Adunya kepada sang suami. Namun hanya ditanggapi lirikan saja oleh
lelaki itu. Dan itu membuat Love mencibir di dalam hati.
Waktu belajar sudah selesai untuk malam ini. Seperti yang elalu diajarkan kepadanya, Avez membereskan semua alat yang digunakannya. Buku-buku yang akan dibawanya besok, dimasukkan ke dalam tas. Sedangkan meja
pendek yang dipakai belajar, di kembalikan ke tempat semula.
Kepatuhannya kepada orang tuanya memang sudah terlihat dari sekarang. Meskipun terkadang merajuk, itu sangat wajar sekali untuk anak berumur 4 tahun.
“Kalau mau berburu semut, berburulah.” Begitu kata Aksa kepada kedua anaknya itu. Ixy masih terjaga dan matanya seperti masih memiliki kekuatan untuk tak meredup akibat kantuk. Pun, dengan Avez. Namun Avez memilih untuk bermain lain.
Gadged sangat dibatasi sekali oleh Love. Meskipun semua anak di jaman sekarang ini selalu tak bisa jauh dari yang namanya gadget, berbeda sekali dengan kedua anak dari Aksa dan Love ini. Mereka tak ingin anak-anaknya kecanduan alat elektronik satu itu dan berdampak buruk bagi mereka.
“Nggak ada keluhan dari guru Avez kan?” Aksa tentu tak tahu bagaimana putranya itu ketika di sekolah. Jadi dia harus tahu melalui istrinya.
“Nggak ada. Dia pintar, pendiam, tapi selalu bisa bergaul.” Bangga Love mengatakan itu. “Kok kayak Ayah ya?” Love menyangga dagunya dengan menatap sang suami menggoda.
“Aku jadi ingat pas Ayah muda dulu, diem, baik hati, lama-lama mencuri hatiku.” Aksa tak menanggapi dan justru menatap sang istri lurus-lurus.
“Ngomong-ngomong, itu godaan, ejekan, atau pujian?” begitu tanya Aksa setelah diam beberapa saat.
“Ketiganya boleh.” Love menarik tangan suaminya itu untuk digenggam. “Nggak keberatan kan?” senyum Aksa terbit dan membalas genggaman istrinya. Kemudian menarik sang istri ke dalam pelukannya.
“Mau digoda, dipuji, diejek, kalau sama kamu mah aku ‘yes’ aja.” Kepasrahan itu membuat Love terkekeh saja. Tapi sayangnya, romantisme kedua orang itu terputus karena Avez mendatangi mereka.
“Bunda, Ayah.” Begitu panggilnya kepada mereka. Yang otomatis membuat keduanya mengurai pelukan mereka.
“Ya, Bang.”
“Adek bobok.” Begitu adunya sambil menunjuk ke arah di mana Ixy sedang duduk bersender di dinding dengan kepala terkantuk-kantuk. Membuat Love dan Aksa tertawa.
Ada-ada saja memang kelakuan anak-anaknya itu. Setiap harinya selalu saja tingkah mereka yang membuat orang tuanya tertawa.
Aksa berdiri dan mengangkat putrinya itu untuk di tidurkan ke kamar. Diikuti oleh Avez dan Love di belakangnya. Kedua kakak beradik itu memang sudah ditidurkan di kamar terpisah dengan orang tua mereka. Meskipun begitu, baik Love maupun Aksa akan menemani mereka sampai mereka benar-benar tertidur pulas.
*.*
Ketika waktu senggang seperti ini, Love selalu menyibukkan dirinya dengan hal-hal apapun yang menurutnya bisa mengurai rasa bosannya. Kedua anaknya sedang tidur siang, dan dia tak ada kegiatan lain selain harus mencari kesibukan lain.
Setelah menjemput Avez dari sekolahnya, seperti biasa, bocah itu main sebentar kemudian tidur agar nanti tidak mengantuk ketika malam hari waktunya belajar. Love selalu mendisiplinkan anak-anaknya agar menjadi kebiasaan yang baik untuk kedepannya.
Setelah mati gaya di dalam kamar, sambil menatap kedua anaknya yang tidur dengan damai di atas kamar, kini aksinya di mulai. Membuka lemari pakaian miliknya dan juga Aksa, dia meneliti isinya. Terlihat rapi dan tak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.
Masuk ke dalam ruang pakaian yang berada di dalam kamar miliknya, dia mengecek pakaian milik sang suami. Apakah ada yang tak layak pakai barangkali, yang perlu dikeluarkan dari dalam sana.
“Eh, apa ini?” matanya kemudian menemukan sebuah kotak yang dia belum pernah tahu isinya. Diambilnya kotak tersebut karena rasa penasaran yang dimilikinya.
Dibukanya dengan pelan kotak tersebut dan ada beberapa kotak lainnya di dalamnya. Kotak itu memiliki ukuran yang sama dengan warna yang berbeda. Di atasnya tertulis beberapa kata. Rindu, untuk kotak berwarna pink. O2, di kotak warna hijau. Love, di kotak berwarna putih, dan Future di kotak berwarna merah.
Dengan jantung berdegup tak biasa, Love membulatkan tekadnya untuk tahu isi dalam kotak tersebut. Memilih kotak berwana putih untuk di buka lebih dulu, perempuan itu menelan ludahnya pelan. Ada kertas yang melapisi
barang yang ada di sana.
“Love. Yang berarti cinta.” Dia tahu itu adalah tulisan tangan Aksa. “Jika aku diminta untuk mendeskripsikan apa itu cinta, maka yang muncul pertama di otak dan mataku adalah Love.” Love tak sanggup untuk tak menganga membaca tulisan itu. Namun tak urung dia melanjutkan.
“Love adalah deskripsi cinta itu sendiri. Cinta yang ku bawa sampai ke tempat ini. Cinta yang tak bisa kuabaikan begitu saja, dan cinta yang membuatku memiliki alasan untuk berjuang.” Tulisan itu selesai sampai di sana dan tak ada lanjutannya.
Hanya tulisan seperti itu saja namun mampu membuat Love nyengir tak karuan. Bahkan wajah perempuan itu memerah sempurna. “Dasar.” Begitu katanya di dalam keheningan. Tak sampai begitu saja, karena di sana juga ada foto Love yang sedang berdiri di depan sekolah masih mengenakan seragam sekolahnya. Love tak tahu kapan potret dirinya itu diambil, karena jelas sekali foto itu diambil secara diam-diam. Dan dia akan mengintograsi suaminya nanti untuk meminta jawaban.
Kemudian dia beralih di kotak warna pink dengan tulisan Rindu di atasnya.
“Rindu itu muncul di hatiku dengan goncangan dahsyatnya. Aku tidak bisa menghitung berapa lama kami tidak berhubungan, itu artinya aku juga tak melihat wajahnya selama itu pula. Aku merindukanmu, Love.” Kali ini tulisan
itu ada tanggal sebagai tanda kapan waktu penulisan itu. Dan itu adalah tanggal dan tahun yang bisa Love pastikan jika itu adalah waktu Aksa masih berada di Singapura.
Dan di sana ada jam pasir sebagai penunjuk waktu. Love terharu dengan itu, tapi dia tak menangis sama sekali. Hanya saja, ada perasaan mengambang yang dirasakannya di dalam hati. Sesak yang tak bisa diuangkapkan.
“O2, atau oksigen adalah gas yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Oksigen merupakan unsur
paling melimpah ketiga di alam semesta berdasarkan massa (setelah hidrogen dan helium) dan unsur paling melimpah di kerak bumi, inilah yang di katakan oleh Wikipedia. Dan semua orang membutuhkan ini untuk hidup dan bernafas. Seperti aku yang membutuhkan kamu untuk memenuhi hatiku dengan cinta. Love, aku mengingankanmu.” Love membaca itu dengan haru dan kali ini mata perempuan itu berkaca-kaca.
Dia tak tahu bagaimana caranya Aksa bisa membuatnya menjadi terharu seperti sekarang ini. Tapi kini dia tahu jika
di masa lalu, dimana mereka sedang berjauhan, mereka sama-sama tersiksa satu sama lain. Lagi-lagi, di sana ada gambar dirinya yang sedang tertawa menatap kamera. Dan Love tahu jika foto itu diambil ketika mereka sedang berkencan.
Kotak terakhir yang akan di bukanya adalah kotak berwarna merah. “Aku tidak tahu dengan siapa nanti aku berjodoh. Entah denganmu atau dengan perempuan lain. Hanya saja, setiap langkah kakiku, setiap niatku, dan setiap doaku, namamulah yang terucap di hadapan Tuhan. Aku berharap, masa depanku adalah bersamamu. Love.” Istri Aksa itu tak lagi bisa membendung perasaan senangnya atas semua tulisan yang baru saja dibacanya itu.
Aksa juga menginginkannya sejak dulu. Meletakkan kembali kotak tersebut, Love berencana untuk memberikan
kejutan untuk lelaki kesayanganya itu.
“Aku tungguk Ayang di Akeda’s Palace jam delapan malam.” mengirimkan pesan untuk Aksa, kemudian dia mempersiapkan semuanya.
Kedua anaknya itu di titipkan ke rumah ibunya dan dia akan berpacaran dengan Aksa.
*.*
“Istri saya ada di dalam?” Aksa sudah berada di Akeda’s Palace sesuai yang diminta oleh sang istri.
“Ada, Pak. Ibu sudah ada di dalam menunggu anda.” Seorang kasir kafe itu menjawab dengan ramah. Aksa mengangguk dan naik ke lantai dua di mana Love sudah menunggunya.
Aksa tentu tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh sang istri dengan tiba-tiba memintanya untuk datang ke tempat ini.
Membuka pintu ruang VIP dengan Love yang ada di dalamnya, Aksa melangkah dengan pelan sambil melihat sekeliling. “Selamat datang, Suamiku.” Dengan berdandang maksimal, Love benar-benar membuat Aksa menatap perempuan itu dengan lekat.
Perempuan itu tersenyum dan melangkah ke arah Aksa. Gaun panjang berwarna merah, sepatu bertumit tinggi berwarna hitam, wajah yang terpoles makeup, benar-benar membuat Love begitu mengagumkan.
Setelah Love berada tepat di depan Aksa, tak ada dari kedua orang itu yang mengatakan sesuatu. Aksa masih dengan aksi diamnya, pun dengan Love. Keduanya sama-sama saling menatap tanpa ingin menyudahinya. Aroma cinta tercium begitu semerbak di antara mereka. Semilir angin dari jendela, seperti nyanyian cinta yang didatangkan peri kecil untuk menambah kesan bahagia untuk pasangan tersebut.
“Jadi, ada angin apa tiba-tiba kamu membuat suasan romantis seperti ini?” sepertinya Aksa bosan dengan keheningan yang tercipta beberapa saat lalu. Melayangkan tatapannya dari atas sampai bawah di tubuh sang istri, Aksa memasang wajah datar.
“Berdandan cantik pula.” Love tersenyum kemudian memajukan tubuhkan lebih dekat ke arah sang suami dan
mengecup bibir lelaki itu kecil.
“Karena aku sedang ingin melakukannya.” Jawabnya sangat ringan. “Bisa kita mulai makan malamnya, Tuan? Aku lapar.” Love memang belum makan sesuatu sejak tadi siang, dan sekarang sudah pukul delapan lebih.
“Ayo.” Aksa merangkul pinggang Love dan mereka berjalan beriringan ke meja makan yang sudah tersaji makanan
pembuka. Karena di sana sudah ada chef yang akan memasakkan makanan untuk mereka.
Mereka memulai makannya dengan Aksa yang tak hentinya menatap sang istri. Mereka memang jarang sekali melakukan hal-hal romantis seperti sekarang ini, jadi ada perasaan hangat yang menjalar di hati keduanya ketika mereka melakukan ini sekarang.
“Anak-anak sama siapa?”
“Sama, Bunda.”
“Bunda mana? Bunda Kenya, apa Bunda Sha?”
“Bunda Sha.” Aksa menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian melanjutkan makannya. Chef yang memasakkan makanan untuk mereka sudah keluar dari ruangan tersebut dan tinggal mereka berdua yang berada di sana.
Aksa memfokuskan matanya untuk menatap Love dengan kedua tangan terlipat di atas meja. “Jadi apa maksud semua ini? Karena nggak mungkin kamu akan menitipkan anak-anak kepada Bunda tanpa ada maksud yang terselubung.”
Love mencibir ucapan sang suami dengan memanyunkan bibirnya. Tapi dia tetap mengatakan alasan dia melakukan itu.
“Aku menemukan kotak ajaib, Ayah.” Jawabnya terus terang. Entah apa yang dipikirkan oleh Aksa, karena lelaki itu
tak langsung menanggapi ucapan sang istri. Dahinya mengkerut seolah dia memikirkan tentang kotak yang dimaksud oleh love.
*.*