Blind Love

Blind Love
Seri 21



Langkah lebar Virgo ternyata tak membuahkan hasil di detik ini karena dia tak menemukan Libra dimanapun. Kepalanya menoleh kesana kemari untuk usahanya menemukan gadis itu. Ada banyak orang di sana, ada banyak orang yang memakai baju dengan warna yang sama dengan orang yang dicarinya. Maka kesulitan itu diambang mata.


“Please, Li.” Gumamnya dengan langkah kaki yang tak berhenti sejak tadi. Kini hatinyabenar-benar menginginkan bertemu dengan Libra dan mengatakan kesungguhan perasaan yang dirasakannya terhadap gadis itu.


Sayangnya semua itu tak terjadi. Libra dan Edzard tak ditemukan dimanapun dan dia pulang dengan kehampaan.


Moodnya buruk ketika sampai di rumah. Otaknya berpikir apa yang harus dia lakukan dengan keadaan seperti ini. Namun yang dikeluarkan oleh hatinya adalah dengan ‘mengejar’ gadis itu sampai ke rumahnya.


Maka dia menyetujui apa kata hatinya. Kembali keluar dari kamarnya, Virgo pergi kerumah Libra. Ketika dia di jalan, otaknya memikirkan apa yang akan dikatakan kepada gadis itu nanti. Bagaimana mengawalinya? Harusnya dia basa-basi terlebih dahulu, ataukah langsung mengatakan apa yang memang harus diakatakan? Atau seperti apa?


Virgo kebingungan. Ketika motornya sampai di depan rumah Libra, dia tercenung seorang diri di sana. Kepalanya di telungkupkan di atas stir motor, sambal berpikir.


Semesta seolah mendukungnya, Libra yang sudah berada di kamarnya keluar untuk ke balkon. Matanya seketika menatap ke arah bawah tepat di depan rumahnya. Jantungnya tak bisa berdetak biasa ketika mengenali dengan jelas siapa orang tersebut.


Turun dengan cepat, Libra menemui Virgo. Pintu pagarnya di buka dan seketika mata kedua orang itu bertemu. Bukan hanya Virgo, Libra juga hanya bisa meneguk ludahnya pelan berkali-kali. Tak ada yang bergerak. Tak Virgo apalagi Libra. Masih dengan posisi yang sama, mereka masihsama-sama saling menatap.


Virgo turun. Mendekat ke arah Libra dan berdiri di depan gadis itu.


“Kenapa sama Edzard?” Tak terbesit sedikit pun pertanyaan itu keluar dari bibir Virgo. Mungkin itu hanya spontanitas saja. “Ada Sesuatu di dalam diriku yang membenci hal itu, Li. Aku nggak suka dan aku ingin berontak. Aku ingin marah, tapi rasanya nggak adil buat kamu kalau aku melakukan itu.” Tatapan itu seolah menghakimi Libra dan gadis itu bisa merasakannya.


“Aku tahu kenapa seperti itu.” Gedoran hati Libra kembali kencang memikirkan lanjutan kata yang akan di sampaikan oleh Virgo kepadanya.


“Aku cinta kamu. Akung gak tahu berapa kapasitas cinta yang aku miliki ke kamu. Berapa persen cinta itu tumbuh di hati aku. Tapi intinya cinta itu sudah ada di dalam hati aku.” Virgo memang benar-benar tak ingin memberi kesempatan Libra untuk menjawab. Bisa jadi kenyataan tak bersahabat dengan keinginannya.


Dan entah keberanian dari mana, Libra memeluk Virgo dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu. Virgo membeku dan tak tahu harus melakukan apa.


Tak lama pelukannya di urai oleh Libra. Gadis itu menatap Virgo dengan senyum mengembang. “Aku senang kamu bilang itu. Waktu sebulan memang masih lama berakhir, dan kamu sudah menemui aku lebih dulu dan melanggar kesepakatan yang kamu buat sendiri. Aku juga cinta kamu.” Jawab Libra dengan santai.


Mengatakan isi hatinya bukanlah sebuah dosa, maka untuk apa menutupinya.


“Jadi apa yang harus kita lakukan ketika kita sama-sama sudah mengetahui isi hati kita masing-masing?” Libra tak ingin menyimpulkan sendiri tentang hubungan yang akan berlanjut nanti karena itu harus dengan kesepakatan berdua.


“Apalagi kalau tidak pacaran.” Tangan Libra masih di pinggang Virgo dengan santainya. Maka Virgo melakukan hal yang sama dengan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Libra. “Kemudian merealisasikan apa yang direncanakan keluarga kita, yaitu tunangan, kemudian menikah. Mudah saja bukan?” Seringaian itu muncul di bibir Virgo dan itu membuat Libra gemas. Gemas dengan ucapan lelaki itu dan juga gemas dengan mimic wajahnya.


“Udah mikir sampai sana?” Libra terkekeh dan melepaskan pegangannya di pinggang Virgo. “Tapi aku mengamini.” Tawa bahagia kemudian keluar dari bibir keduanya. Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya.


*.*


Alih-alih masuk ke dalam rumah, mereka memilih duduk di depan pagar rumah. Duduk di bawah dengan memegang lutut masing-masing. Tak ada minum apalagi cemilan yang disuguhkan untuk kekasih barunya itu dari Libra.


“Jadi kenapa tadi keluar sama Edzard?” Virgo tak akan melepaskan pertanyaan itu begitu saja untuk mendapatkan jawabannya.


“Nggak sengaja sebenernya,” Mulai Libra. “Edzard emang waktu itu pernah ajak jalan, tapi kebetulan hari ini kita pulang pagi, jadi yaudah, kita pergi aja.” Penjelasan Libra terlalu gamblang, maka tak ada dari kata itu yang susah dicerna oleh Virgo.


“Dia juga mencitai kamu?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari Virgo karena dugaannya itu pasti benar.


“Aku nggak tahu,” Edzard tak pernah mengatakan hal seperti mengucapkan cinta kepada Libra atau sejenisnya. Jadi Libra pun tak paham.


“Kalau iya?” Desak Virgo.


“Aku cintanya sama kamu. Aku nggak mau yang lain.” Aaaa, luar biasa sekali memang mulut orang yang sedang jatuh cinta ini. Bahkan rayuan itu keluar begitu saja tanpa di komando. Dan itubenar-benar membuat seorang Virgo tak bisa membendung perasaan bahagianya. The power of Love kalau kata orang bijak.


“Tapi, Vir?” Ada keanehan yang harus Libra ungkapkansepertinya. “Kok kamu tadi nggak sekolah? Pulang pagi juga?”


Virgo menatap Libra sambil berkedip pelan. Dia ragu akan mengatakan yang sesungguhnya, tapi juga tak mungkin untuk menutupinya. Maka dia mengatakan kebenaran. “Aku di skors.” Jelas saja hal itu membuat Libra terkaget.


“Vir!”


“Tiga hari. Nggak apa, semua akan baik-baik saja. Hanya kesalahan kecil dan guru BP sedang sensitive.” Dengan santai Virgo menjawab yang membuat Libra semakin mengerutkan keningnya.


“Kalau sampai di skors, berarti bukan kesalahan ringan dong, Vir.” Libra kini serius menatap Virgo. Dia tak ingin lelaki itu menanggapi semua hal menjadi tak serius.


“Aku serius, Li.” Tak kalah seriusnya lelaki itu mengatakan kebenarannya. “Aku hanya bermain basket dan aku di tegur, masuk ke dalam ruang BP, Kemudian di kasih surat skors.”


“Aku yakin kamu main basket waktunya yang nggak tepat. Waktu udah masuk kelas mungkin?” Sepertinya obrolan ini tak akan berakhir begitu saja. Maka Virgo mengakui hal yang belum di ceritakan kepada Libra. Reaksi Libra geleng-geleng kepala mendengarnya.


“Jangan ulangi lagi, Vir, bisa?” Virgo tak pernah membuat persetujuan dengan orang lain dengan mudah, di saat sekarang di hadapakan oleh perkataan orang yang dicintainya, maka dia tak bisa langsung menjawab.


“Akan aku usahakan.” Jawabnya sambil tersenyum. “Mau jalan?”


“Kemana?”


“Pengennya kemana?”


“Mutet-muter aja naik motor.” Virgo melihat pakaian yang di pakai oleh Libra.


“Ganti baju dulu gih. Pakai celana Panjang, pakai jaket.” Perintahnya. Pasalnya gadis itu memang hanya menggunakan kaos pendek dan celana pendek. Libra menyanggupi dan masuk kedalam rumah untuk berganti pakaian.


Virgo menunggu di depan rumah, dia diajak mampir oleh Libra tapi menolaknya. Senyum Virgo mengembang ketika Libra sudah tak terlihat lagi. Hatinya terasa lega karena semua berjalan dengan baik. Dirinya dan Libra sudah resmi menjalin hubungan. Dia sekarang sudah memiliki kekasih dan Libra adalah orangnya. Rasa-rasanya hatinya tak memiliki beban sama sekali setelah mendapatkan Libra.


“Aku siap.” Libra sudah selesai berganti baju, dia keluar menenteng sebuah helm yang dibelikan Virgo waktu itu. Virgo menilai Libra dari atas sampai bawah. Merasa dandanan Libra sudahsesuai, Virgo mengacungkan jempolnya dan menggandeng tangan gadis itu untuk naik ke atas motor. Dan kemudian setelahnya mereka berangkat meskipun tak memiliki tujuan kemana mereka akan pergi.


“Pegangan!” Virgo mengatakan itu ketika laju motor Virgo lumayan kencang. Tak ingin sesuatu terjadi , karena itu Virgo memerintahkan hal tersebut.


Jujur saja masih ada kecanggungan bagi Libra meskipun tadi dia berindak berani dengan memeluk Virgo terlebih dahulu. Tapi ketika Libra hanya memegangi pinggiran jaket Virgo, lelaki itu menarik kedua tangan Libra untuk di lingkarkan di pinggangnya.


Libra tak ingin melepaskannya. Dia suka dengan itu dan itu adalah milliknya. Sikap posesifnya mulai muncul untuk lelaki yang sedang memboncengnya itu. Dengan gerakan pelan, kepalanya di sandarkan di Pundak Virgo sambil memejamkan mata. ‘Nyaman sekali’ pikirnya.


Sedangkan Virgo yang asyik dengan stirnya hanya tersenyum di balik helm full face miliknya.


*.*


Mereka berhenti di sebuah kafe kecil untuk mengisi perut mereka. Virgo pastilah lapar karena makanan siang tadi yang di pesannya hanya berkurang sedikit sekali karena tiba-tiba bertemu Libra bersama Edzard.


“Aku beripikir,” Libra membuka obrolan, “Harus nggak kita bilang ke keluarga kalau kita sedang menjalin hubungan?” Virgo menguyah makanan miliknya dan menyuapkan satu sendok kemulut Libra.


“Biar aja mereka tahu sendiri.” Libra yang mendapatkan suapan itu menerima dan mengunyahnya. “Yang penting kita nggak menutupi. Jalan aja seperti biasa.” Libra setuju saja dengan apa yang dikatakan oleh Virgo.


“Kita nikmati saja hubungan kita. Nggak perlu melibatkan orang lain.” Virgo menyampaikan dengan santai tapi Libra bisa merasakan memang itu adalah kesungguhan dari hati lelaki itu. Libra tahu jika Virgo adalah orang yang santai, jika dia melibatkan orang lain dalam hubungan mereka, maka bukan tak mungkin hal-hal buruk akan terjadi. Orang-orang yang tak menyukai mereka bersatu bisa saja membuat agar hubungan mereka berantakan.


“Oke.” Jawab Libra memahami apa yang di katakan oleh Virgo.


Mereka mengobrolkan banyakhal kali ini. Tawa mereka bahkan sering terlihat jika Virgo mengatakan hal yang membuat Libra geli mendengarnya.


Nyaman. Adalah satu kata yang pantas mereka sematkan untuk kebersamaan mereka kali ini. Berawal dari sebuah rencana keluarga untuk mempersatukan mereka kesebuah hubunganserius, ternyata membawa mereka benar-benar tertarik satu sama lain tanpa desakan atau dorongan dari pihak keluarga.


“Kemana lagi kita?” Mereka sudah berada di atas motor dan siap untuk melanjutkan perjalanan.


Tanpa pikir Panjang, Libra menjawab, “Aku mau ke taman.” Maka Virgo menyanggupi. Di jalankannya motor miliknya untuk pergi ke taman dan duduk-duduk saja di sana.


“Suka mancing nggak?” Duduk berhadapan di atas rumput, Libra bertanya.


“Nggak, aku nggak pernah memacing.” Tak pernah sedikit pun terbesit di dalam pikiran Virgo ingin melakukan kegiatan satu itu. “Kalau mau makan ikan tinggal ke pasar atau ke restoran seafood urusan beres. Nggak perlu duduk bengong di kolam pemancingan nunguin ikan makan umpan kita dan endingnya nggak dapet juga. Buang waktu.” Tangannya sambil mengibas malas.


Menimbulkan reaksi kekehan dari Libra dengan hal itu. “Nggak mau rugi, ya.” Jawab Libra geli. “Tapi katanya asyiklho. Kaya penuh perjuangan gitu kalau melakukannya.” Lanjutnya lagi.


“Tapi aku nggak minat sama sekali.” Jawabnya lagi.


“Kalau demi cinta?”


“Cinta nggak perlu pembuktian dengan cara memancing kan?” Ekspresi Virgo terlihat seakan mengatakan, ‘Lo nggak suruh gue ngelakuin itu atas nama cinta kan?’ begitulah kira-kira.


Tawa Libra terdengar. “Aku nggak akan suruh kamu mancing lho, Sayang!” Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Virgo, Libra menjawab geli.


Tapi tunggu dulu, panggilan itu, panggilan yang baru itu, jelas saja masuk ke gendang telinga Virgo dan membuat lelaki itu tak bereaksi. Namun di dalam hatinya dia merasakan euphoria yang luar biasa.


“Coba panggil aku gitu lagi, Li.” Katanya.


“Panggil apa?” Sepertinya Libra juga reflek memanggil ‘sayang’ kepada Virgo. Nyatanya dia memasang ekspresi yang keheranan di depan Virgo.


“Panggilan tadi itu lho.”


“Apa sih?”


“Nggak ingat, sengaja nggak ingat, atau apa ini?” Virgo benar-benar menatap Libra denganserius.


“Beneran nggak ingat.” Tegas Libra.


Jadi Virgo menghela napas dan menirukan apa yang Libra katakana tadi. “Aku nggak akan suruh kamu mincing lho, Sayang.” Yang seketika membuat Libra melebarkan matanya.


“Aku bilang gitu, Vir? Serius aku nggak sengaja tadi.” Bibir Virgo mencebik dengan ekspresi malasnya.


“Sengaja juga aku seneng aja. Ngapain juga nggak di sengaja.” Katanya yang bisa jelas di dengar oleh Libra.


“Jadi kamu mau dipanggil itu?” Libra mengalah. “Panggilan itu kan banyak sekali sekarang.”


“Iya, bahkan Bang Aksa aja punya panggilan entah berapa biji buat kakak.” Jawabnya memberi informasi.


“Kamu mau panggil aku apa emangnya?” Kini Libra yang bertanya.


“Aku nggak ada ide.” Jawabnya dengan santai. Benar-benar santai tanpa beban. “Biar aku cari di google nanti.” Putaran bola mata itu diberikan oleh Libra dan membuat Virgo terkekeh.


“Bener aja kadang Bang Aksa sering gemas sendiri kalau kakak lakuin itu. Orang kamu aja ngegemisin gitu kok kalau ekspresinya kaya gitu.” Gombalan pertama ketika status mereka menjadi sepasang kekasih.


Membuat si gadis blushing saja. Bahkan Libra mengulum senyumnya sambil menutup wajahnya sampai di bawah mata. Merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Virgo kepadanya.


Di hari pertama jadian, mereka sudah bisa di katakana dekat meskipun kecanggungan itu tanpak jelas.


“Pulang?” Waktu sudah semakin sore, “Aku ngantuk.” Jujur sekali Virgo mengatakan itu.


“Biasanya kamu emangnya tidur kalau jam segini?”


“Biasanya enggak juga sih, Cuma kalau kantuknya kumat itu nggak sering-sering.” Kegiatan Virgo bisa di katakan banyak, jadi dia tak pernah tidur siang. Mungkin hanya sesekali saja.


“Kamu ngantuk malah mau ajak aku pulang. Bahaya tahu.”


Menggeleng. “Enggak, ngantuknya kan nggak ngatuk berat.” Jawabnya. Libra mengalah dan ikut saja bersama Virgo untuk pulang ke rumahnya.


*.*