Blind Love

Blind Love
Kisah 23



Libra berjalan cepat ketika mendapatkan telpon dari Nino jika Virgo harus dibawa ke klinik perusahaan karena tiba-tiba pingsan ketika bekerja. Kepanikan itu tak lagi bisa ditahan oleh perempuan itu. Dengan mendorong stoller bayi dengan anak-anaknya di dalamnya, dia segera masuk ke dalam gedung dan berjalan cepat ke arah klinik yang berada di bagian kanan.


Dia tak mempeduilikan apapun dan langkahnya panjang-panjang memperlihatkan jika memang dia terburu-buru.


“Li!” panggilan itu dia dapatkan dari Firman yang baru saja keluar dari lift.


“Pa!” sapanya sedikit memberikan senyuman,


“Kita kesana bareng.” Ajak ayah mertuanya yang hanya dijawab dengan anggukan saja. Libra jelas merasa penasaran dengan yang terjadi pada Virgo karena selama mereka menikah, sama sekai tak pernah melihat Virgo yang sakit sampai pingsan.


Hampir dia masuk ke dalam ruangan klinik ketika dia mengingat jika dia membawa anak-anaknya. Dia tak mungkin membawa bocah-bocah itu masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Papa masuk duluan saja, anak-anak nggak mungkin di bawa ke dalam.” Firman menyadari hal itu dan mengangguk.


“Kamu tunggu sebentar di sini.” Firman langsung masuk ke dalam sana untuk melihat kondisi putranya. Libra yang berada di luar ruangan meremas tangannya karena gugup. Dia juga ingin segera mengetahui apa yang terjadi dengan suaminya, tapi sepertinya memang dia harus menunggu sebentar lagi.


“Li!” panggilan itu langsung membuat Libra menoleh dan melihat Nino berdiri di depan pintu.


“Bang! Gimana keadaan Virgo?”


“Dia baik-baik aja. Kecapean katanya.” Lelaki itu menatap Libra kemudian menatap Al dan El yang sedang memainkan mainannya, “Kalau kamu mau masuk, biar aku yang jagain mereka.” Nino sudah berjongkok dan mengajak bicara bocah-bocah menggemaskan itu.


“Nggak papa, Bang?”


“Iya. Mereka ini gemesin banget sih.” Nino memainkan pipi El yang gembul dan mencubitnya dengan pelan, dan kemudian beralih pada Al.


Libra mengangguk dan langsung masuk ke dalam sana meninggalkan anak-anaknya bersama Nino. “Kenapa?” Libra langsung menanyakan apa yang terjadi kepada suaminya ketika dia melihat lelaki itu berbaring di ranjang klinik. Tangannya mengecek suhu tubuh Virgo dan memang merasakan agak hangat tubuh lelaki itu.


“Kecapekan aja.” Jawab Virgo. Mengenggam tangan Libra. Firman yang melihat itu tersenyum, kemudian memilih pamit dari sana.


“Papa ke depan dulu. Anak-anak sama siapa?”


“Sama bang Nino, Pa.” Libra menjawab, dan lelaki itu keluar begitu saja memberikan ruang kepada anak dan menatunya untuk berdua tanpa ada gangguan.


Libra duduk di samping ranjang dan mengelus lengan Virgo, “Makanya kalau kamu kerja itu tahu waktu lah, Yang. Udah tahu malam, masih aja kerjanya nggak selesai-selesai.” Libra sepertinya sekarang ini sudah pandai mengomel.


Virgo bangun dan duduk dengan bersandar di sandaran kasur, “Nggak papa, aku udah oke kok.” Jawaban itu memang terdengar seperti, ‘aku kerja malam nggak ada pengaruh apapun’ setidaknya begitulah pemikiran dari Libra. Karena dia mencebik dengan sebal.


“Nggak bisa dibilangin?” matanya sambil melotot ketika mengatakan itu dan membuat Virgo terkekeh.


“Bisa kok. Aku ini kan anak yang baik.” Goda Virgo kepada istrinya, “Jangan marah lah, Yang, masa aku sakit kamu malah marah. Kan nggak seru.” Lelaki itu bahkan menambahkan kesan imut yang dibuat-buat membuat Libra geli melihatnya.


“Kamu bukan Al ya, Yang.” Ya, Virgo memang sering menirukan putranya itu yang membuat ekspresi lucu.


Virgo kemudian merubah ekspresinya menjadi biasa saja. “Iya deh aku nggak bisa niruin putraku yang ganteng itu.” Jawabnya mengalah, “Tapi kamu sayang aku kan?” tanyanya dengan serius.


Libra semakin geli melihatnya, namun tak ayal dia menjawab. “Ya, aku cinta kamu, sayang kamu,” yang mendapat senyuman dari Virgo. Lelaki itu memeluk istrinya lama sebelum dia meminta untuk keluar dari klinik.


“Serius nggak papa, Dok?” Libra memastikan lagi jika suaminya memang tak memiliki penyakit yang parah.


“Iya, Mbak. Mas Virgo sudah baik-baik saja. Hanya butuh istirahat pasti sudah bisa main basket lagi.” Canda dokter tersebut. Memang bukan lagi rahasia jika Virgo memang menyukai basket.


“Terima kasih, Dok. Kalau gitu kami pergi dulu.” Bahkan seharusnya tak perlu memapahnya, tapi Libra memperlakukan Virgo seperti orang sakit keras. Karena gemas, maka Virgo menumpukan tubuhnya sepenuhnya ke tubuh Libra sampai perempuan itu merasa berat.


“Berat, Yang.” Mengatakan seperti itu tapi tetap saja di papahnya suaminya.


“Makanya, aku kan bisa jalan sendiri, Yang. Ngapain pula kamu mapah aku kayak aku sakit keras aja.” Itu hanyalah complain yang diberikan kepada istrinya. Karenanya, Libra merubah posisinya dengan hanya menggandeng lelaki itu dan keluar sepenuhnya dari sana.


Dan Libra dibuat kaget ketika melihat ada orang-orang berkumpul di sana dengan mengerubungi stroller bayi miliknya. Mereka yang sedang sibuk dengan anak-anak Libra itu langsung mengalihkan tatapannya ke arah pintu.


“Mas Virgo udah baikan?” salah satu dari mereka menyapa. Kejadian teguran yang pernah Virgo berikan kepada beberapa karyawan waktu itu memang tak pernah lagi terulang. Mereka menutup mulutnya rapat karena merasa segan.


“Udah, Kak.” Jawaban itu diselingi dengan senyuman. Firman juga masih di sana sambil menggendong si cantik El. Bocah itu menggunakan bandana berwarna pink yang membuatnya semakin imut dan cantik.


Namun Al yang melihat Libra menggapai-gapai untuk digendong dengan bibir mencebik ke depan. Sepertinya dia sedang ingin mendapatkan asupan dari sang bunda.


Libra mengangkat bocah itu dan menciumnya dengan sayang. “Adek kenapa?” Libra menepuk bokong besar putranya dan mencoba menenangkan. Tapi sepertinya bukan itu yang dibutuhkan. Karena itu sama sekali tak mempan. Al malah semakin menangis.


“Aku kasih asi dulu ya, Yang.” Bocah itu sepertinya tak suka dikerumuni oleh banyak orang. Karena ketika tadi hanya dengan Nino dan kakeknya masih baik-baik saja.


Berbeda dengan Al, El sama sekali tak menangis, dan menyandarkan dengan nyaman di pundak sang kakek. Mungkin saja Al merasa iri dengan El yang mendapatkan pelukan dari kakeknya tapi dia tidak.


Nino menarik Virgo dengan pelan agar lelaki itu duduk di kursi karena sejak tadi hanya berdiri saja. “Lo nanti pingsan lagi. Libra bisa-bisa ikut pingsan.” Komentar Nino karena melihat Libra yang tadi terlihat panik karena suaminya itu pingsan.


“Namanya juga istri, Bang. Pasti khawatir lah kalau suaminya kenapa-napa. Makanya Abang cepet nikah, biar ada yang khawatirin.”


“Ngapain nikah kalau cuma mau buat anak orang khawatir.” Nino membalasnya dengan lancar tanpa memikirkan terlebih dulu apa yang dikatakan.


“Serahmu lah, Bang.” Virgo tak lagi menanggapi apa yang dikatakan Nino. Nino adalah satu-satunya orang yang dekat dengan Virgo di kantor. Orang yang tahu tentang diri Virgo layaknya seperti kakaknya sendiri, meskipun posisi kakak yang akan di pilih oleh Virgo jelaslah Aksa.


Sepasang gelang couple untuk Al dan El. Dan dipakaikan sampai saat ini. Namanya juga anak Sultan, maka memberikan hadiah pun tak akan yang biasa saja.


*.*


Virgo sudah sembuh sepenuhya. Tapi sayangnya, semua orang sekarang sedang sibuk. Ibu Virgo harus menghadiri pembukaan bisnis barunya di Bandung. Jihan menghadiri salah satu acara kerabatnya di Surabaya, Nenek dan Kakek sedang pergi Umroh, dan baby sitternya sedang pulang kampung. Sedangkan Virgo dan Libra harus tetap kuliah.


Maka yang terjadi adalah, Al dan El sekarang ini ikut ke kampus orang tuanya. Memang inilah resiko yang harus mereka dapatkan dari keputusan menikah muda dengan status sebagai mahasiswa. Sedangkan Libra mana mungkin menitipkan anak-anaknya ke penitipan anak meskipun tempat itu sudah terpercaya.


“Aku jam pertama ini ada kuis, Yang.” Libra memberi tahu. Karena mereka harus bergantian menjaga anak-anak mereka.


“Aku kuliah biasa, tapi nggak bisa kalau harus nggak masuk.” Mereka sudah ada di dalam mobil dan sudah berangkat menuju kampus.


“Jadi gimana, Yang?” Libra juga kebingungan sekarang.


“Anak-anak ada yang kosong nggak ya?” ucapnya bergumam. Kemudian menanyakan kepada teman-temannya lewat chat.


Sayangnya tak ada jawaban sama sekali dari mereka yang membuat Virgo menghela nafas. “Nggak ada yang jawab, Yang.” Katanya memberi tahu istrinya.


Libra ikut menghela napas tanpa menjawab. Dia berarti harus meminta izin kepada dosennya untuk membawa anak-anaknya ikut masuk ke dalam kelas. Itupun kalau beliau mau, kalau memang tidak, terpaksa dia harus tidak ikut ujian.


Mobil Virgo sudah terparkir di parkiran. Dia keluar lebih dulu untuk menurunkan stroller dan hal itu langsung saja menjadi pusat perhatian semua orang.


“Vir! Lo bawa anak?” tanya salah satu temannya yang melihat. Lelaki itu ikut mendekat untuk melihat lebih dekat.


“Iya. Nggak ada temennya di rumah. Pada sibuk semua.” Libra turun dan mengambil anak-anaknya yang ada di kursi belakang dengan kursi bayi mereka yang memang khusus untuk di mobil.


Setelah Al dan El duduk dengan aman di stoller, Libra mendorongnya untuk berjalan. “Wah! Mereka beneran keren.” Itu adalah komentar dari teman Virgo yang tadi bertanya.


“Terima kasih,” Virgo tersenyum dan menatap anak-anaknya. Kemudian melanjutkan jalannya. Baik Virgo dan Libra sekarang berfikir bagaimana dengan anak-anak mereka. Dalam kebingungan itu mereka selalu mendapatkan sapaan- sapaan dari banyak orang karena mau tak mau hal yang sedang dilakukan sekarang ini akan menarik perhatian banyak orang.


Sampai di fakultasnya, Libra masih berfikir keras tentang anak-anaknya. Shila yang melihat Libra sudah datang bersama Al dan El, langsung menghambur dan meraup El dalam gendongannya.


“ponakan onty,” katanya yang langsung mencium bocah gendut itu. Zidan dan Rion juga melakukan hal yang sama. Zidan yang lebih dulu mengangkat Al dan mneggendongnya. Zidan mengangkat bocah itu tinggi dan membuat Al tertawa merdu.


Orang-orang yang melihat itu tentu saja langsung berkerumun. Namun Shila jelas melindungi keponakannya itu dengan protective. “Kalian jangan pegang-pegang kalau tangan kalian habis pegang yang lain ya. Ini anak Sultan, kulitnya sensitive.” Yang membuat Libra merasa tak enak dengan teman-temannya. Namun dia sama sekali tak mengatakan apapun.


“Udah mau masuk, Shil. Gimana sama Al El?” sejak tadi dia tak memiliki ide untuk menitipkan orang yang bisa dipercayainya.


Edo dan Tere datang. Tanpa basa-basi, Tere merampas El dari gendongan Shila. “Anakku sayang.” Begitu katanya sambil menicumi bocah itu. Tak mempedulikan Shila yang cemberut. Kedatangan Al dan El sepertinya memang benar-benar membawa kehebohan.


“Biar gue aja yang ajak mereka.” Sam datang dengan napas lelah, “Gue nggak ada dosen pagi ini. Biar anak-anak sama gue.”


“Lo nggak mungkin sendirian ngajak si kembar.” Virgo menjawab.


“Rai akan segera datang. Sambil gue nunggu Rai, kalian masuk aja.” Sam sudah mengambil alih Al dari Zidan dan meletakkan bocah itu ke atas pundaknya sambil menepuk bokong bocah itu.


“Lo seriusan bisa, Sam?” Libra sejujurnya tak tenang dengan menitipkan anak-anaknya ke tangan teman-temannya, tapi mau bagaimana lagi, dia harus melakukannya.


“Gue seriusan bisa lho, Li. Ini proses belajar gue kalau nanti nikah sama Riska.” Katanya dengan senyum lebarnya.


“Kamu tenang aja, kerjakan kuis kamu, dan anggap aja si kembar diasuh oleh tanggan-tangan berpengalaman.” Virgo mencoba menenangkan istrinya.


Dan akhirnya kerumunan itu bubar ketika Al dan El sudah dibawa oleh Sam. Libra beberapa kali melihat ke belakang untuk memastikan jika anak-anaknya baik-baik saja. Bahkan ketika dia mengerjakan kuisnya saja, pikirannya melayang kemana-mana. Begitulah seorang ibu.


“Kak, kenapa si kembar manis-manis banget sih?” salah satu temannya yang seharusnya adik tingkatnya itu bertanya di sela-sela ujian.


“Ujian dulu, baru nanti tanyanya.” Kata Libra menjawab, dan membuat gadis itu tersenyum canggung.


Sedangkan Sam yang sedang bersama si kembar juga mendapat perhatian dari banyak orang sekarang. Rai yang harusnya baru masuk di jam ketiga, yaitu setelah jam makan siang harus datang ke kampus demi si kembar.


“El!” panggilnya kepada El yang dengan santai berseder di bantal yang ada di stoller tersebut. Bocah itu hanya menatap Rai tanpa memberikan ekspresi imut seperti biasanya.


“Kayaknya lo emang nggak ada kemisteri dengan mereka deh, Rai.” Kata Sam. Dan Rai mendengus mendengar itu merasa membenarkan apa yang dikatakan oleh temannya.


Pasalnya, ketika Sam mengajak berbicara dua bocah itu dengan tak pelit, memberikan senyum senangnnya.


Rai mengangkat El dan digendongnya bocah itu, melihat-lihatkan apapun agar gadis cilik itu tertawa. Meskipun dalam usaha keras, tapi akhirnya Rai berhasil. Karena tak ingin membiarkan anak-anak itu bosan, kedua lelaki itu menggendongnya mengajaknya jalan-jalan.


“Gue kok ngerasa jadi bapak beneran ya, Rai.” Sam bersuara, “Anak-anak ini beneran deh. Perpaduan dari Libra sama Virgo jadi begini gembulnya ya?” sam mengangkat Al tinggi dan merunkannya lagi sampai membuat bocah itu terkikik.


“Taruhan sama gue, Sam, kalau El ini nanti pasti akan jadi primadona.” Mereka memang bukan kembar idektik. Maka hanya beberapa bagian wajahnya saja yang terilhat mirip.


“Al pasti nanti kayak bapaknya, jadi idola dimanapun.” Rai mengangguk dengan pasti ketika mendengar hal itu. Karena dia sendiri yang mejadi saksi bagaimana Virgo yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang ketika dimanapun.


*.*