Blind Love

Blind Love
Kisah 5



Virgo duduk di depan penghulu dengan ketegangan luar biasa. Jantungnya seolah ingin melompat dari rongganya dan bersembunyi di dalam lemari. Mata-mata orang yang berada di sana seolah menghakiminya. Entah sudah berapa kali dia menarik napas panjang agar ketenangan itu di dapatkan.


Ardi tak ada tanda-tandanya untuk datang dan menyaksikan acara yang sacral tersebut. Ibu Libra bahkan sudah menyerah dan perceraian sudah diambang mata. Tapi sepertinya, Ardi lebih takut kehilangan istrinya dibandingkan kehilangan putrinya. Karena nyatanya, gertakan yang diberikan oleh Jihan benar-benar ampuh untuk membawanya ke tempat ini.


Bahkan bukan hanya Jihan yang terkaget karena hal itu, semua orang yang mengetahui masalah itu pun tak menyangka jika orang yang sedang masuk ke dalam rumah dengan wajah datar itu adalah Ardi. “Maaf, saya telat.” Begitu katanya. Teman-teman kedua mempelai tersenyum melihat itu dan mereka ikut lega.


Ardi duduk di belakang penghulu di dekat kakak iparnya. “Silahkan dimulai pak penghulu,” katanya. Virgo tertegun sejenak, namun kembali focus karena dia harus segera menghalalkan Libra.


“Saya terima, nikah dan kawinnya Libra Hirmawan binti Ardi Hirmawan dengan mas kawin sebesar uang satu juta rupiah dan seperangkat alat shalat di bayar tunai.” Dalam satu tarikan nafas, Virgo mampu menghalalkan Libra.


Cinta mereka sudah menyatu dalam ikatan pernikahan, Virgo sudah menjadi imam, kewajibannya sudah bertambah menjadi lebih berat, tapi di dalam hatinya begitu lega luar biasa. Apalagi ketika gaungan kata ‘sah’ itu diucapkan bersama-sama, dadanya seperti dialiri air zam-zam, segar sekali terasa.


Libra datang dengan diapit Tere dan Riska. Di belakangnya diiringi oleh teman-temannya. Kebaya yang dipakainya terlihat pas dan cantik. Dia sudah mengetahui jika ada ayahnya di sana, karena itu dia menyempatkan melirik lelaki itu namun kembali menundukkan kepalanya karena Ardi hanya meliriknya dengan malas.


Dia tahu jika memang dirinya adalah anak yang pembangkan, karena itu dia tak mempermasalahkan jika Ardi melakukan hal seperti itu.


Buku nikah sudah di tandatangani oleh kedua mempelai dan kartu nikah sudah diserahkan sebagai bukti jika mereka sudah halal satu sama lain. “Silahkan di pakaikan cincinnya, Mas Virgo.” Begitu kata bapak penghulu dan Virgo langsung memasukkan cincin itu ke dalam jari manis Libra sebelah kanan. Pun dengan Libra.


Gemuruh tepuk tangan dan antusiasnya teman-teman Virgo membuat suasanan yang tadinya khidmat menjadi riuh. Karena memang acaranya bukan acara formal nan resmi, mereka seolah tak menahan mulutnya untuk tak membuat kegaduhan.


Namun itu sama sekali tak mendapatkan teguran dari tetua di sana, karena mereka sudah paham bagaimana tabiat dari teman-teman Virgo. Kecuali satu orang yaitu Ardi. Lelaki itu masih dengan aksi diamnya.


Libra tak tahan untuk menangis. Bahkan dia berusaha untuk menahan, namun air mata itu keluar tanpa bisa dicegah. Shila memberikan tissue kepadanya untuk menghapus air matanya namun masih saja keluar. Virgo ingin memeluk Libra untuk menenangkan, namun ditahannya karena dia akan menjadi bulan-bulanan orang-orang yang ada di sana pasti. Karena itu dia hanya mengelus punggung istrinya.


Istri. Kata itu memang belum terbiasa terlintas di kepalanya, tapi ketika kata itu keluar dari fikirannya, ada euphoria tersendiri di dalam hatinya. Tangis Libra mereda, namun tangannya seolah tak mau terlepas dari genggaman Virgo.


“Terima kasih sudah mau datang, Om.” Virgo dan Libra mendekati Ardi yang tengah duduk sendiri di sofa. Hanya tatapan sekilas yang diberikan, kemudian sibuk kembali dengan ponselnya.


Jihan datang dengan senyum kelegaan menatap pasangan yang baru saja menikah itu. “Mama bahagia sekali melihat kalian sudah bersatu. Mama juga senang karena mama sekarang sudah memiliki putra. Kalian harus bahagia.” Jihan memang tak mempedulikan suaminya yang duduk di sebelahnya, karena dia akan menuntaskan urusan dengan anak-anaknya itu sekarang.


“Kalau kalian memiliki masalah, kalian bicarakan berdua. Jangan karena kalian tak menerapkan komunikasi yang baik, masalah yang tadinya kecil akan menjadi masalah besar. Ingatlah perjuangan kalian sebelumnya, bagitu susah dan penuh air mata. Doa mama akan selalu menyertai kalian.” Libra kembali menangis ketika menatap ibu dan ayahnya.


Meskipun Ardi sepertinya sama sekali tak peduli dengan obrolan ini, Libra tetap terharu karena lelaki itu datang ke pernikahannya meskipun dia tahu jika Ardi melakukan itu tanpa iklas sama sekali.


“Aku sudah melakukan apa yang menjadi keinginanmu, sekarang kamu harus menepati janjimu.” Ardi menatap istrinya yang berada di sampingnya dengan tegas untuk mengingatkan apa yang harus Jihan lakukan setelah ini.


“Aku bukan orang yang akan melanggar apa yang sudah aku katakan,” Jihan ikut menolehkan kepalanya di mana sang suami berada dan mengatakan ketegasannya. “Setelah acara mereka selesai, aku akan kembali ke rumah.” Yang di jawab Ardi dengan anggukan.


Acara berlanjut sampai pukul satu siang. Gaun yang tadinya akan dipakai Libra ketika setelah ijab qabul selesai akhirnya tak terpakai karena Libra memutuskan untuk tetap mengenakan kebaya. Toh tak ada pesta dan hanya makan-makan saja.


Ketika gadis itu masuk untuk pertama kalinya ke kamar Virgo, dia hanya duduk di pinggiran ranjang sambil menatap ke sekeliling ruangan. Virgo masih di luar entah apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Tak ingin terlihat bodoh, dia berdiri masih dengan kebaya yang melekat di tubuhnya. Hal pertama yang Libra lihat adalah meja belajar Virgo. Buku-buku tersusun rapi di rak, ada lampu belajar, buku catatan, dan foto yang terpajang di sana, dan laptop.


Foto seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah dan tersenyum ke arah kamera. Di belakangnya berdiri seorang lelaki dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, dengan ekspresi datar. Tentu saja itu adalah foto dirinya dan Virgo yang diambil ketika mereka masih ada di sekolah.


Libra tersenyum memandangi foto itu. “Yang!” Virgo masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya, dan mendekati istrinya.


“Ye, kirain kan udah beres-beres.” Virgo sudah segar dengan rambut basahnya sehabis mandi, sedangkan Libra masih mengenakan pakaian yang sama sejak tadi.


“Lah, kok kamu udah mandi?” Virgo menatap Libra dengan heran.


“Ya aku kan keluar tadi bersihin badan. Kamu kira aku ngapain? Mau mandi bareng?” ringan sekali ucapan Virgo sampai membuat Libra berdecak.


Virgo hanya terkekeh melihat Libra yang memanyunkan bibirnya. “Ya, udah mandi sana.”


“Tapi rambutku ini susah lho, Yang.” Mendudukkan Libra di depan kaca rias, Virgo mencoba mengurai rambut yang penuh dengan hiasan.


“Kamu lapar nggak, Yang?”


“Kan udah makan tadi.” Libra melihat Virgo dari kaca rias.


“Kalau gitu habis ini kita tidur. Ngantuk banget aku semalaman nggak bisa tidur.” Mungkin untuk calon pengantin, malam hari H, adalah malam yang paling mendebarkan. Mereka akan melangkah dan masuk ke dalam kehidupan yang baru, maka hal itu akan membuat jantung tak bisa berdetak normal karena saking tegangnya.


Selesai dengan pekerjaannya, Virgo segera menyuruh Libra untuk membersihkan badannya sedangkan dia langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur yang penuh dengan kelopak bunga.


“Yang!” teriak Libra dari kamar mandi.


“Apa sih, Yang?” Virgo kembali membuka matanya.


“Belum sholat kan?”


“Udah. Tadi aku sekalian sholat.” Tak acuh mengatakan itu seolah dia sekarang ini tak memiliki makmum. Maka dengan jengkel Libra keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk.


Duduk di atas ranjang dengan mata yang masih menatap Libra. “Yang!” kini giliran Virgo yang memanggil, “Kamu sadar apa nggak sadar?” tanyanya, “Kamu bangunin macam tidur lho ini.” Libra mana paham dengan apa yang dikatakan oleh Virgo. Dengan bodohnya dia bertanya,


“Aku cuma mengingatkan. Masa iya kamu marah?” Libra memicing menatap Virgo karena merasa tak terima karena Virgo menegurnya cuma karena dia mengingatkan tentang status mereka dan kewajiban saat ini.


Sedangkan pemikiran mereka jelas berbeda. Melihat Libra yang dengan sembrono hanya menggunakan handuk bahkan itu sama sekali tak menutupi pahanya. Jadi, sealimnya Virgo dengan hal-hal yang berbau paha dan dada, tetap saja akan terpengaruh. Apalagi mengingat jika di depannya adalah orang yang dicintainya.


“Yang, seriusan ini masih siang. Jangan godain orang kek.” Virgo kembali terlentang di atas kasur dengan mata ditutupi oleh lenganya.


“Apa yang__” otak Libra bekerja dengan cepat dan langsung masuk kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Mendesis menyadari kebodohan yang dilakukannya. Malu kan di jadinya.


*.*


Libra membantu ibu mertuanya memasak di dapur. Sambil belajar, begitulah pikirnya.


“Libra belum bisa masak, Ma.” Libra tak akan menutupi apapun kekurangan yang dia miliki kepada keluarga barunya.


“Seusia kamu dulu, mama hanya bisa masak mie instan saja bahkan. Belum bisa masak itu bukan masalah, yang penting kamu mau belajar.” Sintya memahami akan Libra, dia paham jika di rumahnya dulu, gadis itu pasti semuanya di layani oleh asisten rumah tangga.


“Kalau begitu, boleh aku minta resep masakan, Ma? Biar nanti aku yang catat di buku.”


“Ide bagus.” Sintya tersenyum mendengar inisiatif dari menantunya, “Semua resep masakan yang mama punya akan mama turunkan ke kamu, kamu nggak perlu khawatir.” Sepertinya Sintya memang senang sekali karena memiliki putri sekarang. Dulu dia ingin sekali memiliki putri, ketika dia hamil, dia bahkan harus mengalami keguguran.


Setelahnya, dia mencoba untuk program keluarga berencana karena merasa trauma dengan kehilangan janinnya.


“Selesai.” Makanan sudah siap di atas meja makan, dan siap untuk disantap. “Kamu panggil suamimu, biar mama panggil suami mama.” Libra tersenyum dan mengangguk. Naik ke lantai atas, Libra masuk ke dalam kamar dan mendapati Virgo duduk di kursi meja belajarnya.


“Yang!” mendekati Virgo, Libra melihat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya, “Ngapain?” Virgo sedang berada di depan laptopnya dengan kode-kode yang Libra sama sekali tak paham.


Virgo hanya melirik Libra sebentar kemudian beralih kembali ke laptopnya. Yang itu membuat Libra jengah luar biasa.


“Baru juga kemarin nikah, udah dicuekin aja akunya.” Kemudian akan berlalu dari sana namun Virgo lebih dulu mecekal tangan istriinya.


“Kenapa, Yang?” tanyanya dengan lembut, “Aku lagi kerja. Bukan, aku lagi buat sesuatu.” Katanya memegangi kedua tangan Libra dengan mata mendongak menatap mata sang istri.


“Makan dulu.” Singkat Libra mengatakan itu. Bibirnya masih mengerucut dan masih terlihat sebal.


Virgo terus saja menatap Libra, “maaf, kamu mulai sekarang harus memahami kalau aku udah di depan computer, itu benar-benar bisa menyedot perhatianku.”


“Dan diselingkuhi dengan benda mati itu lebih menyakitkan loh, Yang.” Jawab Libra cepat.


“Nggak diselingkuhi lah, Yang. Bahasa kamu pedes banget.” Virgo membantah.


“Jadi apa?”


“Di duakan.” Yang seketika mendapatkan pelototan dari Libra. Virgo terkekeh dan tersenyum dengan manis dibuat oleh sang istri.


Berdiri, Virgo memeluk pinggang Libra. Mencium kening perempuan itu, pipi, kemudian bibirnya. “Aku pernah denger kalau omelan istri membuat para suami tak betah di rumah, tapi kayaknya aku semakin betah di rumah karena kamu pandai sekali mengomel.” Libra mencebikkan bibirnya mendengar komentar yang sama sekali tak faedah itu.


Tak urung dia tetap tersenyum. Meyenderkan kepalanya di dada Virgo dan semakin mengeratkan pelukannya. “Aku itu nggak akan ngomel kalau kamu mau kerja sama dengan baik, Yang.” Bantahan itu diberikan oleh suaminya karena dia memang tak ingin dibilang perempuan yang suka mengomel.


“Kayaknya mama papa udah nunggu kita lah, Yang.” Libra mengingat tujuan dia ke kamar adalah untuk memanggil Virgo agar mereka bisa makan siang bersama. Bahkan Firman saja sengaja tak bekerja karena hari ingin menghabisakan waktu bersama anak-anaknya.


“Ayo turun. Kalau enggak, mama bakalan dobrak pintu kamar kita nanti.” Karena Virgo pernah mengalaminya sendiri bagaimana bar-barnya ibunya yang membangunkannya dengan membawa kentungan yang terbuat dari bamboo yang biasanya dipakai untuk orang ronda, dan mengetuknya tepat di samping telinga Virgo sampai dia terkaget tak karuan.


Makan siang pertama di rumah Virgo bersama suami dan mertuanya. Meskipun masih agak canggung, tapi Libra selalu mencoba untuk bisa masuk dalam obrolan mereka. Bukan lagi waktunya terus menutup bibirnya dan bersikap pendiam. Dia sudah menjadi bagian dalam keluarga Virgo, dia tak ingin dibedakan antara anak kandung dan anak menantu.


“Keberatan atau tidak kalau papa meminta kalian untuk tinggal di sini beberapa hari lagi. Paling tidak satu minggu sebelum kalian pindah ke rumah kalian.” Setelah menyelesaikan makannya, mereka bersantai di luar keluarga dan Firman langsung mengatakan usulannya.


“Kenapa, Pa? kan rumahnya udah siap untuk ditinggali?” Memang beberapa hari lalu, rumah tersebut benar-benar di renovasi. Tak memerlukan waktu lama karena Firman mengingikan agar rumah itu cepat bisa ditinggali.


“Kalian kan baru saja menikah. Kalau di rumah sini, kalian bisa santai karena tak perlu memikirkan masak, dan hal-hal lain dalam urusan rumah tangga. Kalau di rumah kalian, kalian pasti nggak akan bisa sesantai itu. Harus mengurus ini itu sendiri.”


“Kan semua sekarang bisa serba cepat, Pa. Kalau mau cepat makan, bisa delivery order, cuci baju bisa laundry, hal-hal kayak gini nggak perlu difikirkan dan dibuat menjadi beban.” Sintya terkekeh melihat suaminya yang mencebikkan bibirnya tanpa sepengetahuan putranya.


“Apa aku bilang, kamu pasti gagal.” Entah apa yang dikatakan oleh ibu Virgo itu sebelumnya, bersama sang suami. Karena wajah perempuan itu mengejek sekali ke arah Firman.


*.*