
Jihan tak lagi mempedulikan Ardi yang sejak tadi melamun entah sedang memikirkan apa. Sejak cucu-cucu mereka pulang, Ardi memang diam saja tak berusaha mengatakan apapun yang mungkin sedang dia pikirkan. Dan Jihan juga tak merasa perlu ingin tahu tentang itu.
Ibu Libra itu menarik selimutnya dan akan memejamkan matanya, ketika Ardi memanggilnya. “Ma!” suara itu memang tak keras, tapi Jihan masih bisa mendengar dengan sangat jelas.
Mengurungkan niatnya untuk berbaring, Jihan menatap suaminya. “Kenapa?” ada kernyitan di dahinya.
“Sepertinya aku sedang tak enak badan.” Katanya dengan sambil menatap Jihan. Tentu saja istri Ardi itu tak akan mengabaikan suaminya begitu saja. Maka perempuan itu turun dari ranjang dan mendekati Ardi yang masih duduk di sofa kamarnya.
“Nggak panas lho, Yah.” Jihan yang menempelkan telapak tangannya di dahi lelaki itu merasakan suhu tubuh Ardi memang normal.
“Badanku rasanya nggak enak, dadaku juga.”
“Kalau begitu ayo ke rumah sakit.” Jihan tak menginginkan lelaki itu kenapa-napa, namun sayangnya sebelum terealisasikan, Ardi bernafas terengah.
“Yah!” Jihan panik bukan main. Dengan panik pula dia menghubungi sopirnya agar segera memanbantu dirinya untuk membawa Ardi ke rumah sakit.
Tak ada riwayat penyakit asma di dalam diri Ardi, karena itulah Jihan kaget ketika melihat suaminya yang seperti itu.
Sopir memacu mobilnya dengan cepat agar bisa segera tiba di rumah sakit. Malam kota Jakarta memang tetap ramai meskipun kemacetan itu tak terjadi.
Masuk ke dalam UGD, Jihan benar-benar kalut melihat suaminya yang seperti itu. Menjauh dari ranjang sang suami agar dokter bisa memerikasa kesehatan Ardi. Oksigen sudah diberikan, selang infuse juga sudah menempel di tangan kanannya.
Jihan melihat itu dari kejauhan sambil berdoa agar semua akan baik-baik saja. Perempuan itu tak menghubungi siapapun dan memilih untuk menunggu hasil dari pemeriksaan dokter. Bahkan mengurus semuapun sendiri.
“Sepertinya Pak Ardi sedang stress, Bu.” Pemeriksaan sudah selesai di lakukan, dan Ardi sudah berada di kamar rawat inap. Dan dokter memberitahukan hasil pemerikasaan kepada Jihan, “Beliau mengalami yang namanya psikosomatis.” Informasi ini membuat Jihan terkaget. Dia baru mendengar tentang penyakit tersebut
“Psikosomatis?”
“Benar, psikosomatis merupakan penyakit atau gangguan yang menyebabkan munculnya rasa sakit pada fisik. Karena itu beliau tadi mengeluh dadanya terasa sakit dan sesak nafas, karena mempengaruhi kesehatan jantungnya.” Lanjut dokter menjelaskan.
“Apa yang harus dilakukan sekarang?” Jihan bergumam namun masih bisa didengar oleh dokter.
“Beliau harus tenang dan sedikit demi sedikit melepaskan beban itu.” Jihan sama sekali tak menyangka ini akan terjadi kepada sang suami, “Ibu juga harus mencoba untuk bisa menenangkan beliau ketika kalut.”
Dia tahu semuanya tak ada masalah. Perusahaannya baik-baik saja. Apa ini terkait dengan dirinya yang selama ini sudah tak lagi mempedulikan suaminya? Tidak, Jihan merasa masih mengurus Ardi dengan baik. Memang semuanya tak lagi sama setelah pernikahan Libra dan Virgo yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
“Terima kasih, Dok. Saya akan kembali ke kamar suami saya.” Jihan tahu ini memang tak mudah, tapi dia tetap harus melaluinya.
*.*
Ardi terbangun ketika tubunya sudah merasa lebih baik. Matanya mengerjap dan menatap sekelilingnya untuk melihat dimana dia sekarang. Tangannya terpasang selang infuse, dan sudah pasti dia langusung tahu jika dia menjadi pasien rumah sakit.
“Mau minum?” Jihan menawarkan setelah melihat suaminya itu sudah siuman.
Hanya anggukan saja yang diberikan sebagai jawaban. Jihan tak akan mungkin bertanya terlebih dulu kenapa suaminya memiliki penyakit seperti itu. Apa yang dia pikirkan sampai beban pikiran itu membuatnya sekarang harus dirawat.
“Apa yang dikatakan dokter.” Ternyata Ardi lebih dulu bertanya karena merasa penasaran dengan sakit yang dideritanya.
“Kamu sembuh lah dulu, baru nanti aku akan bercerita.” Menolak untuk tak memberi tahu tentang penyakitnya mungkin akan lebih baik bagi kesehatan Ardi, “Kalau kamu sembuh kan nggak perlu tahu sakit yang sekarang menyerangmu.” Enteng Jihan seperti biasanya.
“Aku serius, Jihan.” Masih sakit, tapi masih saja kolot.
“Aku juga serius. Kamu pikir aku sedang bercanda apa?” seharusnya bukanlah sebuah perdebatan yang terjadi sekarang. Tapi karena dua orang tersebut memang benar-benar sama-sama kolotnya, itulah yang terjadi.
“Udahlah, kamu fokus saja pada kesembuhan kamu, nggak perlu memikirkan hal lain yang tidak penting.” Suara Jihan melembut tak ingin membuat suaminya meradang.
“Jangan mengatakan kepada siapapun kalau aku sedang sakit.” Ardi sudah memberi wanti-wanti. Namun Jihan belum mengatakan kepada siapapun jika suaminya sedang dirawat, bahkan Libra pun belum diberitahunya. Dia tak ingin membuat putrinya khawatir namun yang dikhawatirkan tak ingin ditemuinya, itu akan menyakiti hatinya.
“Kalaupun aku mengatakan kepada siapapun juga tak akan ada pengaruhnya kan?” entah kenapa Jihan tak menghentikan celotehan tak pentingnya kepada suaminya mengingat Ardi sekarang sedang dalam keadaan tak berdaya.
Ardi tak menjawab dan memilik diam. Dia tak ingin istrinya semakin menjadi. Karena jika dipikirkan memang benar. Belum tentu seandainya dia mengatakan itu kepada orang lain lantas mereka akan peduli akan itu.
Lelaki itu kembali memejamkan matanya agar dia tak kembali mengingat tentang cucu-cucunya. Atau dia akan kembali merasakan sakit di dadanya.
Jihan menatap suaminya dari sofa yang tak jauh dari ranjang. Lelaki itu terlihat sekali memikirkan sesuatu sekarang. Mata lelaki itu tertutup, namun tak lama setelahnya kembali terbukan, kemudian tertutup lagi.
Maka Jihan mencoba untuk mendekati lelaki itu hanya sekedar bebicara. Dia hanya berharap jika dia tak akan tersulut emosi ketika menghadapi suaminya itu.
“Ayah!” panggilnya dengan pelan, “Sebenarnya apa yang sedang Ayah pikirkan sampai dada Ayah sakit seperti tadi.” Sepertinya pertanyaan itu tak bisa lagi ditahan oleh mulutnya.
Ardi menoleh dan menatap Jihan yang juga menatapnya. Kemudian kembali menatap langit-langit kamar rawat inapnya, namun tanpa ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
“Aku akan berpura-pura jika kamu tak memiliki pemikiran berat selama ini kalau memang kamu nggak mau kasih tahu apa yang sedang terjadi.” Jihan penasaran, tapi dia tak ingin memaksa suaminya itu untuk menjawab pertanyaannya.
“Istirahatlah, aku juga udah ngantuk.” Dia datang ke rumah sakit hanya menggunakan daster tidur panjang, dan dia meminta sopirnya untuk mengantarkannya pagi saja. Dia kasihan kalau harus meminta sopirnya bolak balik sedangnya ini sudah cukup malam untuk bekerja.
Jadi, dia sekarang hanya tidur di atas sofa tanpa selimut atau sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya. Ardi sebetulnya merasa kasihan kepada istrinya, tapi dia tak bisa berbuat apapun.
*.*
“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang, Ma?” Libra mendapatkan panggilan dari ibunya dan merasa terkaget ketika beliau mengatakan jika ayahnya dirawat di rumah sakit. Perempuan itu menangis karena takut ayahnya memiliki penyakit yang parah. Jihan berusaha untuk menjelaskan barulah dia sedikit tenang.
“Aku akan kesana, Ma, boleh?”
“Kalau Mama setuju aja. Tapi kamu tahu sendiri ayah kamu.”
Meskipun lama menjawab, Jihan akhirnya mengiyakan saja permintaan putrinya. Dia tak akan sejahat itu kepada Libra dengan menolak permintaan sang anak.
Dan sekitar pukul satu siang, Libra dan Virgo datang untuk menjenguk dan melihat keadaan Ardi. Libra tak langsung masuk dan memilih menghubungi ibunya terlebih dulu. Tangannya mengenggam lengan Virgo karena merasa gugup. Dia tak sedang menghadapi ujian atau menghadapi preman kan sekarang? Tapi entah kenapa dia benar-benar merasa takut.
“Mama bilang, kita masuk aja, Yang.” Sambungan Libra sudah terputus dan langsung mengatakan apa yang dikatakan ibunya beberapa saat lalu.
“Ayo!” Virgo melangkah lebih dulu dan membuka pintu ruangan tersebut. Libra mencoba biasa saja tapi sayangnya cengkraman di lengan suaminya semakin erat. Membuat Virgo sedikit meringis.
“Yang, nyeri lho.” Katanya berbisik di telinga Libra untuk memberi tahu.
“Maaf.” Libra memasang wajah tak enak hatinya kepada sang suami. Yang ditanggapi dengan senyuman oleh lelaki itu.
“Semua akan baik-baik saja.” Virgo mencoba menenangkan Libra yang sejak tadi meringis dengan ekspresi gugupnya.
Mereka bisa melihat jika ibunya sedang menyuapi ayahnya. Langkah kaki mereka memang tak terdengar, namun tetap saja mereka harus mengucap salam terlebih dulu kan? Maka Virgo melakukannya.
“Assalamualaikum.” Tidak langsung mendekat, kedua orang itu berdiri agak jauh dari ranjang Ardi. Bisa dilihat jika Ardi kaget melihat itu, namun sekian detik wajahnya terlihat datar.
“Waalikum salam.” Itu adalah jawaban dari Jihan, “Kemari.” Panggil perempuan tersebut agar anak dan menantunya itu mendekat.
Libra dan Virgo melangkah mendekat menuruti apa yang dikatakan oleh Jihan. “Ayah, udah lebih baik?” Libra memberanikan diri bertanya.
“Ya.” Jawaban singkat itu diberikan Ardi dengan susah seolah satu kata itu begitu mahal harganya. Namun Libra tak akan menyerah,
“Ayah memang butuh istirahat. Setelah pulang dari sini Ayah ambillah libur panjang agar tidak kecapekan.” Usaha Libra hanya ditanggapi oleh keheningan. Dan Virgo menanggapi,
“Mama akan kelelahan kalau harus menungui Om sendirian, kami bisa menggantikan Mama. Kita bisa bergantian.” Dan hal itu sanggup membuat Ardi menoleh dan mengatakan dengan tatapannya jika ucapan lelaki itu begitu kalimat yang teraneh di muka bumi ini.
“Nggak papa kalau kalian menggantikan Mama?” tanya Jihan memastikan.
“Iya, Ma.”
“Tapi kalian kan harus kerja, kuliah, belum lagi Al dan El yang pasti akan mencari kalian.”
“Kan bisa diatur, Ma,” jawab Virgo lagi, “Mama bisa menjaga di siang hari, aku sama Libra malam hari ketika anak-anak sudah tidur. Mama bisa kembali waktu pagi hari.”
“Saya tidak mau,” tanggap Ardi.
“Ini bukan tentang pilihan, Om. Tapi sebuah kerjasama tim yang baik.” Bukan Virgo kalau tidak kurang ajar ucapannya, “Saya melakukan ini bukan untuk, Om. Tapi untuk Mama. Saya nggak mau Mama kelelahan dan berbalik sakit.” Begitu katanya dengan wajah datarnya.
Suasana seketika hening saat Ardi terdiam tak menjawab. Libra mencubit lengan Virgo yang sejak tadi dipeluknya tanpa ada yang tahu. Namun Virgo hanya diam saja.
“Kalau kamu capek, biar Santo yang jagain disini sana Bibi,” Santo adalah nama sopirnya.
“Kamu memilih diurus orang lain dibandingkan anakmu?” Jihan menjawab, dan Ardi hanya menatap istrinya dengan pandangan protes.
“Kalau begitu, besok malam kalau memang Ayah kalian masih belum diizinkan pulang, kalian bisa menggantikan Mama menjaga Ayah.” Itu adalah putusan dari Jihan. “Kalau memang dia berulah, kalian bisa melakukan apapun sesuka kalian.” Dan itu semakin menambah rasa jengkel dari Ardi.
Sedangkan Virgo menyeringai seolah rencana buruk yang sudah dia rencanakan berjalan dengan sangat sempurna.
“Kamu yakin, Yang?” Libra bertanya ketika mereka sudah keluar dari ruang rawat inap Ardi. Keduanya berjalan untuk turun ke lantai dasar dan akan kembali pulang.
“Yakin.” Hanya itu jawaban dari Virgo.
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa?”
“Alasan kamu yakin seperti itu.”
“Nggak ada alasan.”
“Ish, Yang!” karena jengkel dengan jawaban Virgo, Libra melepaskan pegangannya di tangan Virgo dan agak berteriak ketika merajuk dan membuat beberapa orang menoleh kearahnya. Membuat Virgo sedikit tak enak.
Menarik tangan istrinya, Virgo berjalan cepat. “Suaramu itu kenceng lho, Yang.” Katanya.
“Ya lagian kamu jawabnya gitu amat.” Masih dengan nada sedikit emosi, Libra menjawab.
“Maju dulu aja, masalah menang nggak menang itu urusan belakangan.” Jawab Virgo yang tak dimengerti oleh Libra.
“Maksudnya?” tanya Libra meminta penjelasan.
“Aku hanya berfikir jika ini adalah waktu yang tepat untuk mendekati ayah kamu,” Virgo membukakan pintu mobil untuk Libra karena memang mereka sudah ada di parkiran. Setelah dia sudah di belakang kemudi barulah melanjutkan, “Di hari biasa, kita pasti akan susah mengobrol dengan beliau. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan untuk kita memperbaiki hubungan dengan beliau.” Libra menatap Virgo dengan lekat.
Dia tak tahu harus mengatakan apa kepada lelaki itu, karena setelahnya dia mengeluarkan nafas keras sebelum mengatakan jawabannya, “Kita udah punya dua anak, tapi menikah saja belum diresetui,” katanya terdengar nada lelah di sana.
“Bahkan orang diluar sana ada yang sampai seumur hidup nggak direstui, Yang.” Virgo yang sibuk dengan stir menjawab santai, “Namanya juga ujian hidup. Kalau ujian di kampus kadang open book, lah kalau ujian hidup, book nya siapa yang mau di open.” Membuat Libra terkekeh geli mendengarkan jawaban Virgo.
“Ya kita memang harus cari sendiri buat menyelesaikannya,” Libra menyederkan tubuhnya dan menghadap fokus kepada Virgo.
“Nah, itu pinter. Sini cium.” Genitnya si Virgo ini. Bahkan langsung mencium istrinya ketika lampu merah menyala. Libra hanya mencebikkan bibirnya saja melihat tingkah suaminya yang benar-benar aneh.
*.*