Blind Love

Blind Love
Kisah 31



Virgo menggunakan setelan hitam putih dan melangkah dengan gagah menuju sebuah ruangan dengan membawa tentengan. Namun yang menjadi pusat perhatian bukanlah apa yang di tenteng oleh lelaki itu, tapi siapa yang ada di gendongannya. Ya, El, yang cantik dengan banyak jepit yang menghiasai kepalanya itulah yang membuat teman-teman Virgo yang sedang berjuang bersama lelaki itu lah yang membuat semua mata tertuju padanya.


Duduk di depan sebuah ruangan besar yang akan digunakanannya sebagai sidang skripsi, Virgo menurunkan putrinya. “Adek di duduk di sini, ayah belajar dulu.” Katanya sambil menatap bocah itu. Libra juga ikut datang kesana tentu saja.


Ini adalah ujian akhir suaminya yang sudah ditunggu-tunggu untuk menyelesaikan semua rangkaian dari kuliah selama hampir empat tahun. Libra memang belum sampai dalam tahap ini, tapi tak ada dalam hatinya yang merasa jika dia iri. Bahkan ketika Virgo mengerjakan skripsinya, dia sering menemaninya meskipun itu tengah malam.


Giliran Virgo akhirnya sampai juga setelah menunggu. Virgo menutup matanya dan mencoba agar dia tak gugup. Setelah membuka matanya, wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah sang istri yang menatapnya penuh sayang dan penuh dukungan.


Libra tersenyum dan mengangguk. “Semangat!” hanya itu saja ucapnya. Virgo berdiri dan mengecup kening sang istri kemudian beralih kepada kedua anaknya. Barulah dia masuk ke dalam dan melakukan sidang skirpsi yang sudah dibuatnya dengan sepenuh hati.


Sedangkan di luar Libra berdoa untuk keberhasilan suaminya. “Sayangku!” Edo dan Tere datang dengan pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh Virgo.


“Dari mana?” tanya Libra.


“Ngumpet dulu. Gue perlu konsentrasi belajar.” Entengnya jawaban Tere sambil menciumi El yang benar-benar menggemaskan sekali pagi ini.


Virgo, Edo, dan Tere memang memiliki jadwal sidang yang sama. Itu adalah target yang mereka buat. Mereka berusaha agar target itu bisa tercapai dan inilah hasilnya.


“Gue deg-degan banget lho, Li.” Adu Tere kepada sahabatnya itu. “Semalam gue berusaha untuk baik-baik aja, tapi masih aja gugup.”


“Itu wajah lah, Re. Yang penting nanti pas di dalam pikiran lo nggak ambyar.”


“Tul, itu, Yang. Kamu harus fokus. Tenang.” Edo yang menggendong Al ikut menimpali, “Gugup boleh, tapi nggak boleh ambyar. Fokus. Fokus. Fokus.” Edo sambil mengepalkan tangannya untuk memberi semangat.


Tere mengangguk saja mendengar wejangan yang diberikan oleh Edo kepadanya. Padahal lelaki itu juga tadi sempat mengatakan jika dia juga sama gugupnya.


Virgo keluar dengan wajah yang terlihat lega. Libra langsung berdiri dan mendekati suaminya.


“Oke, kan?” tanyanya dengan rasa penasaran yang menggebu.


Bukannya menjawab, Virgo langsung memeluk perempuan itu dengan erat tak mempedulikan jika dirinya masih ada di luar dan banyak orang.


“Semua berkat kamu.” Jawabnya. Melepaskan pelukannya, lelaki itu menatap Libra dan tersenyum, “Terima kasih nggak pernah lupa coklat hangatnya setiap malam kalau aku lembur bekerja, terima kasih cemilannya, makanannya, dan kamu yang menemani aku kalau anak-anak nggak rewel.”


Libra mengangguk dengan mata mengembun. Tiba-tiba dia merasa terharu dengan situasi sekarang. Maka dipeluknya lagi suaminya dan menangis disana. Tak ada yang menginterupsi aksi Libra dan membiarkan saja perempuan itu melakukan aksinya.


Namun sayangnya tidak dengan El, ketika melihat ibunya menyeka air mata, otak kecilnya terlalu cepat mencerna. Dan yang dia lakukan adalah menangis. Kaget itu jelas terjadi pada kedua orang tuanya.


Melihat El yang menangis, Al akhirnya ikut dan keriuhan itu terjadi. Membuat seperjuangan ayahnya yang melihat adegan itu terkekeh. Virgo dengan cepat mengangkat anak-anaknya berbarengan. Al di sebelah kanan dan El di sebelah kiri.


“Bunda nggak papa. Bunda kelilipan tadi.” Sambil dibawanya pergi dari sana agar tak mengganggu konsentrasi yang lainnya. Libra menyusul di belakang karena harus membawa perlengkapan kedua anaknya yang sempat tercecer.


Pamit kepada Tere terlebih dahulu yang masih menunggu giliran untuk sidang.


*.*


Sampai rumah, Libra dan Virgo berkencan berdua setelah anak-anak mereka tidur. Virgo ingin menikmati waktunya bersama Libra saja kali ini.


“Kamu pasti lega banget.” Libra berselojor, di tangannya ada coklat hangat milik sang suami yang dia ikut meminumnya.


“Banget,” jawab Virgo, “Aku sekarang bisa fokus pada pekerjaanku dan keluargaku.” Tatapan yang diberikan oleh Libra itulah yang membuat perempuan itu tiba-tiba berdehem karena merasa canggung.


“Bukannya harusnya kamu ambil S2?” mereka sudah pernah membicarakan masalah ini, jika pendidikan mereka jangan sampai Sarjana saja. Karenanya Libra memastikan lagi.


“Tentu,” jawab Virgo lagi, “Aku akan tetap ambil S2, dan aku memutuskan mengambil S2 di kampus kita lagi.” Mungkin ada hal lain yang belum Virgo katakan kepada sang istri kenapa dia lebih memilih di kampus yang sama alih-alih ke kampus lain.


“Kenapa?” memang sebelumnya tak ada pembicaraan masalah ini diantara kedua orang itu.


“Karena aku mendapatkan beasiswa dari mereka.” Senyum Virgo secerah mentari pagi. Libra bahkan tak bisa bereaksi lain dengan berita itu selain terbengong, “Pak Arif tadi bilang kalau memang aku mau menerima, beasiswa itu akan diberikan kepadaku.” Lanjutnya menjelaskan kepada sang istri.


“Daripada aku harus mengeluarkan uang lagi, kenapa tidak mengambil kesempatan ini saja kan?” apa yang dikatakan Virgo memang benar. Kesempatan tidak akan datang dua kali, apa salahnya menerima. Begitulah yang di pikirkan oleh Virgo.


“Dimengerti.” Libra tak mempermasalahkan keputusan yang diambil oleh lelakinya itu. Dia pasti akan selalu mendukung. Toh itu bukan sesuatu yang harus di debat.


Virgo merangkak dan mendekati Libra yang ada di ujung sofa sampai tubuhnya bisa menguasi dan mengungkung perempuan itu. Libra yang tak siap dengan apa yang dilakukan oleh sang suami hanya sanggup memundurkan tubuhnya yang memang sudah tak bisa apa-apa lagi.


Bahkan Virgo yang tanpa basa-basi sama sekali itu langsung mencium tepat di bibir Libra. Libra? Dengan reflek menutup matanya dengan kedua tangan masih memegangi secangkir coklat, mempertahankan agar tetap stabil dan tidak tumpah kemana-mana dan mengotori sofa yang didudukinya.


Setelah selesai dengan apa yang dilakukannya, Virgo duduk bersila tepat di depan Libra dan mengatakan hal basa-basi. “Siang ini bibirmu rasa coklat, pagi tadi rasa jeruk. Kalau dicampur pagi dan sore, jadi jeruk rasa coklat, atau dibalik aja, coklat rasa jeruk.” Katanya dengan wajah yang serius seolah sedang memikirkan hal yang sangat sulit.


Pagi tadi memang Libra memakai liptint rasa jeruk. Dan kebiasaan Virgo adalah, dia akan merasakan rasa bibir Libra setelah Libra mengolesi bibirnya menggunakan pewarna atau lipbalm. Kebiasaan itu muncul entah sejak kapan tapi Virgo benar-benar nakal sekali memang.


“Apapun rasanya, enak aja kalau itu bibir kamu, Yang.” Libra benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Selain ‘nakal’ dalam tindakannya, lelaki itu juga ‘nakal’ dalam berbicara. Libra meletakkan cangkir itu ke atas meja dan kembali menatap Virgo.


“Pernah. Apalagi cewek-cewek yang cantik segan jelek tak mau,” Libra terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Virgo tersebut.


“Emang kayak gimana ceweknya?” sungguh, Libra juga tak tahu perempuan seperti apa yang dimaksud oleh Virgo tersebut.


“Ya kaya gitu, Yang. Rambut digerai panjang. Bibirnya dipoles lipstik, sok-sok kayak dia yang paling cantik. Kalau foto bibirnya dimanyun-mayunin. Cewek-cewek kaya gitu itu yang suka sekali sama gombalanku.


“Dan kamu kayak nggak ada kerjaan aja sih ngeladenin cewek kayak gitu?” Libra bukannya cemburu, tapi aneh saja menurutnya, “Pantas aja kalau kamu dijuluki pembuat onar ya. Pembuat onar di hati cewek-cewek.” Ada nada cibiran yang diberikan oleh Libra.


Virgo tak langsung menjawab dan justru menatap perempuan di depannya itu dengan mata fokus. “Ini ceritanya kamu lagi cemburu atau gimana?” pertanyaan itu muncul akhirnya.


Libra menggeleng, “Enggak. Tapi kamu kayaknya mirip kaya cowok-cowok yang ada di sekolahku dulu. Mereka yang suka duduk di tangga, godain cewek-cewek kaya nggak ada hal yang penting yang bisa dilakukan.” Libra tak kalah fokusnya menatap suaminya.


“Ya, begitulah kami, Yang, para lelaki tanggung yang masih menikmati hidup.” Virgo menggunakan kedua tangannya sebagai sangga tubuhnya.


Libra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja menjawab secara tak langsung jika dia memahami apa yang dikatakan oleh sang suami. Hening tiba-tiba menghantam situasi. Libra hanya memainkan cincin kawinnya, sedangkan Virgo hanya menatap lembut wajah Libra sejak tadi.


Sebelum melakukan aksinya untuk kedua kali, Virgo menarik nafas panjang. Kemudian menarik kaki Libra. “Kenapa?” Libra lagi-lagi terkaget ketika Virgo beraksi bar-bar, lagi. Apalagi ketika dia menempel di dada Virgo.


Virgo mana mungkin menjawab pertanyaan yang diberikan Libra kepadanya, itu sangat membuang waktunya. Karenanya dia hanya menyeringai. Memegangi kedua sisi kepala Libra dan menciumi wajah perempuan itu.


“Cinta kamu. Nggak ada yang lain.” Kata Virgo dengan masih melanjutkan aktivitasnya. Libra hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi.


Perempuan itu memilih menenggelamkan wajahnya pada dada Virgo. Detakan jantung Virgo benar-benar menggila. Entah karena kebersamaan mereka, atau karena hal lain Libra tak memahami.


“Dulu kita sama-sama menghindar, siapa yang menyangka kita sekarang sama-sama jatuh cinta satu sama lain.” Itu kata Libra.


“Itulah yang dinamakan takdir. Kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi nanti.”


*.*


“Al El kenapa nggak datang?” itu sebenarnya pertanyaan yang salah dari seorang Ardi. Al dan El jelas masih terlalu kecil untuk datang ke kediamannya kalau tidak diantar ataukah di bawa oleh Jihan ke rumahnya.


Karenanya Jihan menjawab, “Ya nggak mungkin mereka datang tanpa orang tua mereka.”


“Lalu kenapa orang tuanya nggak mengantar mereka kesini?” kalau kata Dilan, rindu itu memang berat kan, dan itulah yang dialami oleh Ardi sekarang. Lelaki paruh baya itu sedang merindukan cucu-cucunya.


“Kenapa mereka harus mengantarkan mereka kesini? Libra sudah bisa menangani dua anaknya dengan sangat terampil sekarang.” Ardi ingin mendebat, tapi sayangnya dia yakin perdebatan itu akan sia-sia. Jihan akan selalu memiliki jawaban atas apa yang dikatakan.


Karenanya lelaki itu berdiri dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Sudah terhitung hampir dua minggu tak ada dari cucu-cucunya yang datang ke kediamannya.


Memang, Libra sekarang lebih memilih membawa dua anaknya itu ke kantor. Dia bisa mengawasi mereka sambil bekerja, begitulah pemikirannya. Selain sibuk dengan bekerja, dia juga ingin membuat anak-anaknya tak merasa kehilangan waktu bersamanya dan lebih dekat dengan nenek kakeknya suatu saat nanti.


Al El juga santai-santai saja berada di sana. Apalagi semua Om dan tantenya sama sekali tak mempermasalahkan keberadaan si kembar. Bahkan jika salah satu menangis, dengan cepat siapa yang mendengar langsung menggendong dan menengangkatnya. Meskipun mereka sedang mengerjakan sesuatu.


Sekarang pun sama, mereka ada di kantor dengan mainan yang ada di sekitar dua bocah tersebut. Lagipula itu hanyalah kantor ala kadarnya, jika mengutip dari apa yang dikatakan oleh Virgo, mereka ini sekarang sedang bekerja sambil bermain. Hanya seperti itulah kantor miliknya.


“Selamat sore!” Shila berdiri dan menatap tamu di kantornya. Otaknya mengingat pernah melihat lelaki itu, tapi lupa siapa.


“Selamat sore! Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Shila juga sudah lulus kuliah sekarang. Dia mendapatkan tawaran bekerja dari Libra di perusahaan milik Virgo. Maka dia tentu langsung menerima tawaran tersebut. Pekerjaannya masih campuran. Terkadang menjadi bagian keuangan, merangkap menjadi receptionist, dan hal-hal lain juga dikerjakan.


“Saya, Ardi.” Lelaki itu memperkenalkan diri, “Saya__”


“Tatek?” belum Ardi melanjutkan ucapannya, suara El sudah terdengar. Ya, kantor mereka memang tak besar, karenanya El yang sedang mengambil mainannya yang menggelinding langsung bisa melihat Ardi di sana.


Ardi menoleh dan bibirnya tersenyum melihat bocah perempuan kecil nan cantik itu tersenyum ke arahnya. Ardi tak lagi mempedulikan Shila dan langsung mendekati El untuk mengangkatnya. Mencium pipi bocah itu dengan perasaan yang bahagia.


“Cucu kakek.” Katanya dengan nada yang sumringah, “Al mana, kok El main sendiri?” El menunjuk di sudut ruangan.


“Al bobok.” Jawabnya, “El main sendiri.” Itu adalah penjelasan singkat seorang bocah berumur dua tahunan. Meskipun begitu tentu jawaban itu sangat mudah dimengerti oleh Ardi.


Shila yang melihat interaksi antara cucu dan kakek itu hanya sanggup menatap mereka saja. Libra sudah pernah mengatakan jika hubungan antara keluarga kecilnya dengan ayahnya belum sepenuhnya membaik, tapi hubungan antara Al El dan kakeknya tentu saja lebih dari yang bisa dibayangkan.


Mereka akur dan baik-baik saja. Dan Shila hanya sanggup menatap itu dengan bibir tertutup rapat. Jika bertanya kemana perginya orang-orang sampai Shila hanya sendiri di kantor? Shila tentu tidak sendirian. Virgo, Edo, dan Tere ada di lantai dua. Karena memang mereka bekerja di sana.


Sedangkan di lantai dua, digunakan bekerja Libra, Shila, dan Sam. Bahkan Sam saja tak tahu akan bekerja apa. Karenanya lelaki itu mencari pekerjaan lain yang sesuai keahliannya. Hukum memang digunakan di perusahaan IT, hanya saja perusahaan kecil itu masih belum terlalu memerlukan dirinya.


Ardi mendekat ke arah box yang melihat Al benar-benar terlelap di sana. Ada perasaan tak tega melihat hal itu. Maka Ardi mendekati Shila, “Kemana Libra?” tanyanya.


“Libra sholat, Pak.” Jawab Shila dengan sopan. Lelaki itu menghela napas panjang dan kembali ke tempat Al tertidur. Menatap bocah yang masih tertidur dengan lelap itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan. El turun dari gendongan kakeknya dan kembali dengan aktifitasnya. Mengabaikan apapun yang sedang orang tua itu pikirkan sekarang.


*.*