
Rigel memutuskan untuk menemui El di rumah gadis itu. Dia harus segera menyelesaikan salah paham ini agar El tak lagi marah kepadanya. Dia mengaku dia salah, El yang peduli dengan dirinya justru diabaikan begitu saja.
“El nggak mau ketemu sama lo.” Bukannya El yang datang menemui dirinya, justru Al lah yang muncul untuk memberi tahukan jika El tak mau menemuinya. Al duduk di depan Rigel dan menatap lelaki tersebut. “Dia nggak bakalan seperti ini kalau lo nggak buat masalah.” Tembak Al langsung.
“Kita emang sempat cek-cok waktu itu.”jujur Rigel tak menutupi, “Karena itu, gue datang mau bicara sama dia.”
“Kalian ini kayak orang pacaran aja.” Heran Al sambil menggelengkan kepalanya.
“Temenan kan juga ada cek-coknya juga, Al.” Jawab Rigel sambil memutar bola matanya.
“Daripada lo di cuekin sama El, mending ayo kita main basket di luar.” Ajak Al. meskipun Rigel bukan anak basket, tapi sedikit-sedikit dia paham permainan itu.
“Males banget gue.” Tolaknya, “Lo tolong bujuk El buat turun lah, Al. Gue kalau nggak ngomong sama dia sekarang, mana bisa tidur gue nanti malam.”
“Itu sih derita lo. Siapa suruh buat si tengik itu ngambek.” Al benar-benar tak berperasaan sekali memang. Dia tahu jika jika Rigel sekarang sedang galau, tapi malah dikompori. “Lo tunggu aja sampai ayam bertelur menetas jadi burung, El kalau udah begini mana bisa dibujuk.” Al berlalu dari sana untuk keluar rumah dan meninggalkan Rigel sendirian, karena memang lelaki itu akan bermain basket di halaman rumahnya.
Rigel mengacak rambutnya dengan frustasi karena otaknya terasa buntu. Dia tak mungkin nyelonong masuk ke dalam dan memanggil El ke dalam kamarnya. Bisa dibantai sampai mati dia sama Virgo. Dengan menyenderkan tubuhnya di senderan sofa, tangannya mengetikkan chat kepada El.
Rigel : El, please! Lo temui gue ya, kita harus bicara.
Chat itu dikirimkan kepada El dan menunggu jawabannya. Satu menit menunggu, tak ada jawaban. Dua menit menunggu, tak ada jawaban, bahkan sampai sepuluh menit menunggu pun, El sama sekali tak merespon. Ada keterangan ‘Online’ di sana, tapi chat Rigel sama sekali tak di buka.
Rigel berdecak karena merasa putus asa. Ingin sekali dia marah, tapi mana mungkin dia bisa melakukannya. Bahkan meskipun dia membrondong dengan banyak chat, El sama sekali tak membukanya.
“Rigel!” duduk Rigel kembali tegak ketika Libra datang menemuinya, perempuan itu tersenyum dan ikut duduk di depan lelaki itu. “El kayaknya memang sedang ngambek luar biasa sekarang. Tante nggak bisa bujuk dia.” Mengetahui Rigel datang ke kediamannya, dan putrinya tak mau menemui tamunya itu, bukan hanya Al yang meminta El untuk menemui Rigel, Libra juga membujuknya. Tapi El keras kepala dan bersi keras untuk tetap berada di kamar.
Sepertinya dia memang membalas perlakuan Rigel waktu itu yang tidak mau menemui dirinya dan bahkan dia harus menggunakan ancaman untuk bertemu dirinya.
“Memang saya yang salah sih, Tante.” Jawab Rigel dengan nada sedih.
“Semua orang memang punya salah, Gel, termasuk kamu. Nggak perlu dipikirkan. Kalau El udah sembuh dari ngambeknya, dia pasti mau diajak bicara sama kamu.” Rigel juga mengharapkan hal yang sama, hanya saja dia ingin semua ini segera berakhir.
Rigel menunduk sambil menatap kakinya, masih belum beranjak dari sana entah sedang memikirkan apa. Libra pun menatap remaja di depannya itu dalam diam.
“Kalau begitu, saya pamit aja, Tante.” Putusnya. Dia berdiri dan merapikan pakaiannya. “Mungkin besok saya bisa datang lagi.” Lanjutnya.
“Iya. Kamu boleh datang sesuka hati kamu.” Libra mengelus punggung Rigel sambil mereka berjalan sampai pintu. Rigel pamit, dan benar-benar keluar rumah. Mendekati Al yang sedang bermain basket di sana. Duduk di kursi taman sambil melihat aksi temannya itu.
“Pulang lo?” tanya Al. Lelaki itu mengelap keringatnya dengan handuk dan ikut duduk di samping Rigel.
Rigel yang melirik ke balkon kamar El yang bisa dilihatnya dari bawah itu menatap Al, “Ya, daripada yang dicari nggak mau ketemu sama gue.” Jawabnya dengan lesu.
Namun bukannya menenangkan, Al justru kembali memanasi. “Lo tahu El kayak gimana. Lo paham dia, tapi lo masih melakukan hal yang buat dia marah. Terima aja lo digiiniin kalau gitu.” Ucap Al dengan santai sama sekali tak memahami jika lelaki disampingnya itu sedang geram.
“Gue bukannya adem kepala gue sama lo, makin tambah panas aja.” Rigel berdiri diiringi tawa oleh Al karena merasa sukses membuat Rigel berang.
“Ambekan lo!” katanya kepada Rigel yang sudah menaiki motornya dan bersiap untuk pergi. Deruan suara motor sudah terdengar, helm sudah terpasang, dan menjalankan motornya dengan pelan sama sekali tak peduli dengan ocehan Al.
Si kembar itu benar-benar membuat kepala pusing karena ulah mereka. Sifat keduanya yang hampir mirip itu benar-benar membuat orang lain kewalahan.
Sedangkan El yang ada di dalam kamar itu sama sekali tak peduli dengan apa yang dikirimkan oleh Rigel kepadanya melalui chat lelaki itu. “Lo fikir enak dicuekin?” gumamnya dan memejamkan matanya untuk menyelami alam mimpinya. Kantuk itu butuh disalurkan ketimbang harus mengurusi Rigel. Begitulah mungkin kira-kira yang sedang dipikirkan oleh El sekarang.
Bahkan ketika mereka bertemu di sekolah pun, El masih saja mengbaikan Rigel. Odel yang melihat tingkah dua sahabatnya itu hanya menggeleng saja. Rigel yang berusaha untuk menarik perhatian El dan mengajak gadis itu untuk berbicara, tapi sama sekali tak dipedulikan oleh gadis itu.
“Udah lah, nggak perlu diterusin ngambek lo tu. Kayak bocah aja tahu nggak?” Odel sepertinya memang tak tahan melihat kelakuan dua orang tersebut. Karenanya dia membuka suara.
Tapi El tetaplah El yang keras kepala. “Emang gue masih bocah.” Jawabnya santai kepada Odel dengan ekspresi yang menyebalkan.
“Gue jites juga, lo.” Odel mengeratkan giginya sambil mau menjitak El karena geregetan. Yang tak ditanggapi serius olah El. Tingkah menyebalkan itulah yang kadang benar-benar membuat orang mati kutu. Jika dalam mood baik pun dia memang menyebalkan, apalagi jika dia sedang dalam mood yang tidak baik, El akan semakin menyebalkan seratus kali lipat.
Rigel mengambil ancang-ancang untuk menyeret paksa El agar bisa berbicara dengan gadis itu ketika waktu istirahat. Dan itu terealisasikan. Dia berdiri di samping meja El, ketika El masih sibuk dengan tasnya karena akan memasukkan barangnya ke dalam sana.
“Ikut gue!” titahnya dengan memegangi tangan gadis itu. El menolak dan berontak. Tapi jelas itu tak berpengaruh sama sekali dengan Rigel. Kekuatan lelaki itu jelas lebih besar dibandingkan rontaan El.
“Gue nggak mau. Lepasin!” El mengeratkan giginya dengan kencang namun tak diindahkan oleh Rigel.
“Lo denger gue nggak sih?” kaki El tertatih mengikuti langkah lebar Rigel yang sekarang ini sedang menariknya. Rigel juga tak mengatakan apapun. Masa bodoh dengan pandangan orang-orang terhadap dirinya, dia hanya ingin segera menuntaskan urusannya dengan gadis yang sekarang sedang ‘diseretnya’ itu.
Sampai di belakang sekolah yang sepi, barulah Rigel melepaskan tangan El. Matanya menatap gadis itu tegas namun lembut. “Gue nggak mau lo marah sama gue.” Begitu katanya. “Gue nggak suka itu.” Tatapan Rigel sama sekali tak beralih dari mata El.
“Dan gue nggak peduli.” Jawab El dengan sangat berani. “Mau lo suka mau enggak, itu bukan urusan gue.”
Keduanya saling pandang dengan mata memicing. Tak ada salah satu yang mau mengalah.
“Gue akan mengatakan apa yang terjadi sama gue, kenapa gue seperti waktu itu.”
“Dan gue udah nggak butuh penjelasan itu.” El bersidekap di depan dada, dan menatap Rigel menantang, “Gue mau lo bilang itu ketika gue datang ke rumah lo, bukan sekarang. Telat.” Katanya masih dengan memicing.
“Gue putus sama Liondra.” Tak mempedulikan penolakan El, Rigel berterus terang. Ekspresi El memang tak menunjukkan kekagetan atau hal lainnya, dan itu membuat Rigel sedikit kecewa. “Lo tahu kalau gue udah berusaha mati-matian untuk bertahan dengan dia, tapi dia nggak mau semakin menyakiti dirinya sendiri dengan tetap bertahan dengan gue yang dia tahu kalau gue memang mencintai orang lain.” Rigel tak menemukan perubahan apapun di wajah El.
“El!” panggilnya.
“Gue nggak ada sangkut pautnya dengan masalah itu. Itu adalah keputusan yang lo sama dia buat, nggak perlu melibatkan gue.” Jawab El.
“Gue nggak akan ngelibatin lo.”
“Tapi dengan lo nggak mau bicara sama gue waktu itu menunjukkan kalau lo sebenarnya menyalahkan gue dengan putusnya hubungan lo dengan pacar lo.” Entah pemikiran dari mana itu berasal, tapi Rigel semakin pusing dibuatnya.
El tak bisa menanggapi hal tersebut. Ini memang keputusan yang diambil oleh dua orang yang sedang berhubungan yang tak lain adalah Rigel dan Liondra, tapi El tahu, dia terlibat di dalamnya.
“Gue sayang sama lo, bukan, gue cinta sama lo, lo pasti tahu itu kan?”
“Gue nggak tahu.” Jawab El cepat. “Dan lo putus dengan pacar lo, nggak akan merubah apapun.” Tegas El, “Bukan berarti karena lo putus lantas gue sama lo tiba-tiba menjalin hubungan cinta, lo salah,”
“Gue tahu.” Potong Rigel. “Tapi setidaknya, jangan ngebuat gue jauh dari lo.”
“Lo yang lebih dulu melakukannya.” Entah sudah berapa kali mereka bertengkar seperti ini. Benar-benar bertengkar dengan serius.
“Gue minta maaf.” Rigel menarik tangan El yang terbebas dan menggenggamnya. El membiarkan saja tanpa berontak. “Gue salah banget sama lo. Gue sangat paham.” Rigel menatap El lurus tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis tersebut.
“Perasaan lo sama gue, masih sama?”
“Gue nggak pernah menutupi kalau kandidat terkuat di hati gue masih sama, yaitu, lo. Tapi Orion, sudah mampu membuat gue merasa nyaman.” Ucapan blak-blakan itu menampar Rigel habis-habisan. Meskipun EL tak mengatakan jika Orion sudah mampu menggeser dirinya dari hati gadis itu, tapi kenyamanan itu lebih mengerikan dari apapun.
“Biar waktu yang menjawab semuanya nanti. Hati gue masih memilih lo sebagai kandidat terkuat, atau akan ada orang yang lebih pantas untuk menggeser posisi lo.” El melepaskan tangannya dari genggaman Rigel, dan pergi meninggalkan lelaki itu mematung di tempatnya.
Rigel tahu perasaannya sekarang sedang tak baik-baik saja. Lebih sakit dibandingkan mendengar kata putus dari Liondra tempo hari. Jantungnya menggedor dengan kuat, matanya terasa ambyar ketika menatap apapun yang ada di depannya, dan kakinya terasa tak bisa digerakkan. Ini sungguh sangat sakit sekali.
Kemudian kata ‘seandainya’ muncul dalam benak Rigel.
‘Seandainya dia tak gegabah mengambil keputusan untuk berpacaran dengan gadis lain hanya karena takut akan merusak persahabatan mereka, semua ini tak akan terjadi’
‘Seandainya putusnya hubungan dirinya dengan Liondra waktu itu membuatnya tak mengabaikan El, mereka pasti sekarang akan baik-baik saja’
Rigel mengeratkan giginya dan melampiaskan emosinya pada dinding di sampingnya. Dia menendang dinding itu yang menyaksikan bagaimana hancurnya perasaannya sekarang. Lelaki itu tak pernah kehilangan kendali seperti ini sekarang. Hanya El yang mampu membuat hatinya berantakan.
Dia sungguh tak tahu apa yang harus diperbuat sekarang. Semuanya memang masih menjadi misteri, siapa pilihan El di masa yang akan datang. Dan itu membuatnya tak tenang.
Sampai di kelas, El meletakkan kepalanya di meja dan memejamkan matanya. Odel tak ada di sana dan dia juga tidak akan sibuk menanyakan keberadaan sahabatnya satu itu.
Entah apa yang dirasakan oleh hatinya, tapi dia merasa tak tenang. Jika biasanya Rigel yang sanggup menenangkannya, tapi kali ini penenang itu justru yang membuat hatinya berantakan.
El tentu tak menangis. Sesakit apapun perasaan itu, sepertinya air matanya seperti tak ingin keluar.
Dan entah kenapa, tiba-tiba Orion mengirimkan sesuatu kepadanya. Sebuah gambar kunang-kunang di kegelapan malam.
Orion : Tubuh mereka lembek, tapi cahanya terangnya membuatnya terlihat cantik.
Itulah yang tertulis di sana. Masih dengan menyenderkan kepalanya di atas meja, El membaca dan tersenyum. Di saat sepertin ini, Orion justru muncul dan membuatnya tersenyum.
Menegakkan tubuhnya, tangannya membalas chat dari lelaki itu.
El : Mereka terlalu indah untuk diabaikan.
Layangan, kunang-kunang, adalah kenangan sendiri bagi El yang diberikan Orion kepadanya. Dan dia menyukainya.
Chat mereka tak lagi berlanjut. El memilih diam di kursinya sambil menatap ponsel dengan pandangan tak terlalu fokus. Bahkan ketika Al dan Odel masuk ke dalam kelasnya dan mendekatinya, gadis itu abai saja.
“El!” panggil Odel kepadanya. Namun tak ada sahutan sama sekali.
“El!” panggilnya lagi dan mendapatkan lirikan saja.
“Apa?” katanya dengan wajah tak bersahabat.
“Gitu amat lo.” Odel mengernyit, “Mana Rigel? Bukannya lo tadi sama dia?”
“Gue balik duluan.” Jawabnya singkat. Kemudian matanya menatap Al.
“Bang!” panggilnya tak biasa, “Jajanin dong.” Al mendesis geli ketika kembarannya itu memanggilnya, ‘Bang’ yang memang sangat jarang sekali dilakukan.
Dan Al paham, jika El sedang tak baik-baik saja. Dibandingkan berbuat ulah, Al menyetujui.
“Ayo!” katanya. Dan membiarkan El lebih dulu berjalan dan dia mengikutinya dari belakang. El memang masih terlihat angkuh, tapi Al tahu persis jika kembarannya itu memiliki beban. Terbukti dari panggilan yang diberikan kepadanya jika memang gadis itu sedang tidak bisa membendung perasaannya.
*.*
Thanks to you guys……!!!!
Udah mau baca dan memberi dukungan buat Blind Love. Mulai dari kisah fenomenal Love dan Aksa, Virgo dan Libra, dan sekarang AL dan El. Saya tahu pasti kalian akan bilang, ‘WOY! INI GANTUNG’
‘EL JADINYA PACARAN SAMA SIAPA?’
‘AL BELUM TAHU KALAU HOSHI ITU KAKAKNYA RIGEL’
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang pasti akan kalian berikan ke saya. Ya, memang alur ceritanya ini pelan sekali. Saya juga tahu kalau ini memang belum tuntas.
‘TERUS KENAPA NGGAK DI TUNTASIN?’ begitu tanya pembaca.
Karena lanjutannya insyaallah ada, tapi entah dimana saya tulis. Intinya, saya betul-betul terima kasih karena kalian sudah setia dengan kisah mereka.
Udah, sepertinya segitu aja catatan dari saya, sekali lagi terima kasih.
Yoelfu.