
Karena kejadian Avez bertengkar dengan temannya, kedua orang tuanya tak mengijinkan putranya itu untuk pergi kemanapun selama satu minggu. Avez yang hanya bisa berpasrah melakukan apa saja yang ibu dan ayahnya katakan. Dia juga tak pergi latihan sketboard. Hal itu juga yang membuat Virgo datang ke kediaman Aksa.
“Jadi Avez berantem sama Alex gara-gara Ixy?” Itu adalah pertanyaan Virgo yang di ucapkan ketika Avez baru saja menceritakan kenapa dia tak diijinkan oleh orang tuanya untuk pergi ke luar rumah selama satu minggu ini. Ini baru hari ke tiga, dan Avez sudah tak betah.
“Iya, Bang. Avez kan nggak mau Ixy cinta-cintaan.” Jawaban polos dari Avez membuat Virgo terkekeh. “Abang berangkat aja, aku nggak boleh keluar sama Ayah, Bunda.” Ada raut sedih yang ditunjukkan oleh Avez yang berusaha ditutupinya.
“Mau latihan di halaman depan nggak? Kita latihan di sana aja.” Usul Virgo mau tak mau membuat Avez tersenyum. “Bisa, Bang?” Itu adalah pertanyaan bentuk dari antusiasnya.
“Bisa. Tapi Avez harus bilang sama bunda terlebih dahulu.Kalau bunda ijinkan, kita akan latihan, kalau enggak berarti untuk satu minggu ini Avez nggak latihan dulu.” Anggukan semangat itu di keluarkan oleh Avez.
“Oke, Bang.” Katanya sambil mengacungkan jempol dan berlari untuk menemui ibunya.
Seperti Avez yang menyukai Virgo, Virgo pun demikian. Mereka memang memiliki usia yang terpaut lumayan jauh. Tapi keduanya sudah seperti kakak adik betulan.
Avez yang sudah menghadap ibunya langsung mengatakan apa yang di usulkan oleh Virgo tanpa mau menunggu lebih lama lagi. “Bunda boleh kan?” Tatapan itu penuh harap.
“Panggil dulu Bang Virgo ke sini.” Perintah Love. Bahkan Avez langsung kembali ke ruang tamu dan memanggil Virgo untuk menemui ibunya.
“Iya, Kak?”
“Kamu nggak papa kalau mengajari Avez di rumah? Kamu kan juga mau latihan?” Love memang belum terlalu percaya dengan Virgo meskipun sudah beberapa kali lelaki itu datang ke rumahnya.
“Nggak papa. Aku ngajari Avez kan juga sambil latihan, memang apa lagi namanya.” Karakter Virgo adalah, dia akan ramah kepada orang yang berlaku ramah kepadanya. Dan Love masih terlihat antipati kepada Virgo dan Virgo juga menunjukkan ketidak ramahannya kepada perempuan itu.
Berbeda jika dengan Aksa. Dia bahkan bisa cerewet dengan lelaki itu karena Aksa menunjukkan rasa ‘persahabatan’ yang kental.
“Oke. kalian latihanlah.” Persetujuan itu membuat Avez tersenyum senang.
“Terima kasih, Bunda.” Begitu katanya dan langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil papan sketboard miliknya.
Ditinggalkan oleh Avez, tak membuat Love dan Virgo melanjutkan ‘obrolannya’. Keduanya sama-sama menutup bibir mereka masing-masing dengan Love yang terus menatap Virgo. Entah apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Love tentang pria muda itu.
Ditatap seperti itu pun tak membuat Virgo gentar, dia bersikap biasa seperti tak terjadi apapun.
“Ayo, Bang.” Avez datang dengan senyum sumringah sambil membawa papan kesayangannya.
“Ayo.” Virgo berdiri dan merangkul leher Avez. Love hanya menatap interaksi kedua orang itu dengan biasa. Perempuan itu terlalu berlebihan sekali memang.
Avez dan Virgo benar-benar berlatih dengan sungguh-sungguh. Sesekali mereka tertawa hanya karena lelucon aneh. Love melihat dari dalam rumah melalui jendela kaca. Perempuan itu mengamati bagaimana interaksi kedua pria beda generasi yang sepertinya nyambung satu sama lain. Dalam hatinya mengatakan jika dia harus ‘menerima’ Virgo sebagai ‘kakak’ Avez.
Dengan menghela napas, dia mengakhiri aksi menguntitnya dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk kedua bocah di depan itu. “Virgo nggak akan berpengaruh buruk untuk Avez.” Itu adalah dumelannya meyakinkan dirinya sendiri. Tapi sayangnya seorang asisten rumah tangganya mendengar.
“Mas Virgo itu anak orang kaya juga loh, Buk.” Tiba-tiba Bibi mengatakan itu di samping Love. Love yang belum mengetahui maksud dari asistennya mengernyit. Sepertinya jiwa ghibah Bibi sedang panas-panasnya sekarang.
“Saya tahu.” Jawaban Love santai. “Dia tinggal di komplek sini juga, jadi saya paham jika dia bukan anak sembarangan.” Komplek perumahan tempat tinggalnya tentu dihuni oleh orang-orang yang berkantong tebal karena
memang perumahan itu adalah perumahan elit.
“Bukan itu maksud saya, Bu. Tapi Mas Virgo itu memang sepertinya kesepian.” Kini Love menatap Bibi dengan ekspresi serius.
“Tahu dari mana Bibi tentang masalah itu?”
Mungkin merasa di luar batas, Bibi tersenyum garing. “Dari pembantu-pembantu tetangga, Bu.” jawaban yang mudah sekali di tebak. Bibi pasti sering sekali merumpi.
“Jadi apa yang Bibi tahu tentang Virgo?” Love melipat kedua tangannya bersidekap di depan dada dan meminta penjelasan apapun yang asistennya itu tahu.
“Mas Virgo itu selalu ditinggalkan orang tuanya bekerja, Bu. Rumah besarnya cuma ditempati sama Mas Virgo dan pembantu-pembantunya. Dia setiap hari berusaha menyibukkan dirinya dan katanya kalau bisa dia pulang langsung tidur aja.”
“Bibi ini dapat berita kayak gini ini Cuma denger dari orang atau dari pembantunya Virgo langsung?” Inginnya Love tak mempercayai apa yang diceritakan oleh Bibi, tapi cara orang itu bercerita seolah semua itu adalah kebenaran.
“Saya juga katanya sih, Bu. Tapi itu bisa dipertanggung jawabkan loh, Bu kebenarannya.” Bibi buru-buru menambahkan ucapannya agar Love percaya kepadanya.
“Udahlah.” Love melanjutkan membuatkan minuman untuk Avez dan Virgo. “Bibi lanjutin sana kerjanya.” Usir Love. Perempuan itu pasti akan menanyakan kepada Aksa tetang kebenaran dari informasi yang diketahui dari Bibi.
“Abang! Minum dulu.” Avez yang sedang serius berlatih melirik ibunya yang berjalan sambil membawa nampan.
“Iya, Bunda.” Begitu jawabnya. Love bisa melihat bagaimana berkeringatnya badan putranya itu. Dia duduk sambil melihat dari jauh aktivitas putranya dan menunggu dua pria tersebut mendekatinya.
Tak lama setelahnya, Avez dan Virgo berjalan di mana Love menunggu mereka. “Bunda.” Avez duduk tepat di samping ibunya dan menyeka keringat yang menetes dari pori-pori kepalanya.
“Terima kasih, Bunda.” Segelas minuman bercampur dengan batu es itu langsung diteguknya oleh Avez.
“Capek?”
Avez menggeleng. “Nggak, Bun.” Terlihat sekali memang jika bocah itu sangat menikmati proses berlatih sketboard.
*.*
“Jadi apa yang Ayah tahu tentang Virgo?” Anak-anak mereka sedang menginap di kediaman Nareswara, dan itu membuat Aksa dan Love bebas menikmati waktu berdua tanpa ada rengekan dari kedua anaknya.
“Memang apa yang kamu ingin tahu dari Virgo?”
“Semuanya.” Love merasa yakin jika Aksa sudah mengetahui sesuatu dari seorang Virgo, jadi dia tak ingin menunda untuk bertanya kepada sang suami.
“Intinya kamu nggak usah khawatir dengan bocah itu. Dia bersih. Jadi baik-baiklah sama dia.” Itu bukanlah jawaban yang diharapkan dari Love. Maka perempuan itu kembali bersuara.
“Tahu juga si Bibi ya. Kamu tanya aja sama dia seberapa banyak yang dia tahu tentang Virgo.”
“Jadi yang dikatakan Bibi itu benar?” Bukan hanya biasa saja Love sekarang, dia sudah benar-benar fokus menatap sang suami.
“Kurang lebih seperti itu.” Aksa menatap Love meyakinkan. “Tenang saja, Virgo itu anak baik.”
“Iya, tapi cerita detailnya seperti apa?” Desak Love lagi.
Aksa tahu jika istrinya tak akan berhenti sampai si sana, maka dia menceritakan seperti apa keluarga Virgo dan seperti apa pula sifat lelaki itu seperti yang diketahuinya selama ini.
“Sekali-kali, kita harus mengajaknya pergi bersama. Kamu tahu? Aku bahkan sudah menganggap dia adalah abang Avez.”
Love mencibir. “Aku kan belum setua itu sampai punya anak sebesar Virgo.” Itu adalah bentuk protes dari Love, tapi dia tak mendebat keras dengan hal tersebut.
“Jadi udah tahu kan apa yang harus kamu lakukan besok kalau dia datang?” Aksa memang tahu jika Love masih antipati dengan Virgo selama ini. Love takut jika lelaki itu membawa pengaruh buruk bagi putranya. Yang bisa Aksa
lakukan adalah meyakinkan Love jika apa yang dipikirkan oleh perempuan itu tidaklah benar.
“Hem.” Hanya itu saja jawabannya yang diberikan kepada Aksa.
Love langsung berbaring dan menarik selimut sampai ke pinggangnya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran memikirkan sesuatu entah apa. Aksa pun sibuk dengan laptopnya. Keduanya diam tanpa ada yang berbicara, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
“Mas!” Tiba-tiba Love berbicara. “Kira-kira nanti Avez mau kuliah ke luar negeri nggak ya?” yang tadinya terlentang, kini dia sudah memiringkan tubuhnya dengan menyangga kepalanya menggunakan tangan kanannya agar dia bisa menatap sang suami.
“Kalau masalah itu biar dia yang menentukan sendiri. Kita nggak boleh maksa dia untuk kuliah di mana nantinya. Kalau untuk sekarang kita memang harus memilihkan sekolah untuk anak-anak karena memang mereka masih butuh itu, tapi kalau nanti mereka udah punya pilihan sendiri ya kita dukung saja kemauan mereka, selama itu baik. Sekali lagi, jika itu baik.” Aksa menekan kalimat terakhir dan menatap istrinya.
“Mas!” Pangilan itu hanya menimbulkan reaksi biasa bagi Aksa. “Bagi, Mas aku ini pilihan terbaik nggak? Aku ini kan cinta pertama dan terkahir, Mas.” Begitu percaya dirinya Love mengatakan hal itu. Membuat Aksa mengggelangkan kepalanya.
“Kamu kan bukan cinta pertamanya aku.” Jawaban spontan Aksaitu membuat Love langsung bangun dari baringnya dan meyakinkan pendengarannya serta matanya menyorot tajam ke arah sang suami.
“Coba ulang!” Perintahnya. Dan bahkan tanpa diminta untuk kedua kali, Aksa mengatakannya lagi.
“Kamu itu bukan cinta pertamanya aku.” Keyakinan itu terpancar dari tatapan Aksa.
“Jelaskan.” Love mana mau mengabaikan begitu saja informasi yang baru saja dia dengar itu.
“Udah nggak penting lagi.” Jawaban Aksa yang seperti tak sungguh-sungguh itu memancing keributan dari istrinya.
“Penting bagi aku.” Love semakin mendekat dan menatap Aksa dalam. “Jelaskan.” Perintahnya lagi. Aku nggak mau ini menjadi misteri.”
“Nggak penting, kan sekarang aku cintanya sama kamu.”
“Tapi aku nggak mau kalau aku nggak tahu.” Love benar-benar serius sekali sekarang. Di genggamnya tangan Aksa dan sedikir meremasnya.
“Siapa orang itu, Mas? Kasih tahu aku.” Rasa penasaran sudah melambung tinggi dan dia tak akan diam sampai dia mengetahui jawabannya.
“Kamu nggak akan kenal. Tapi rasanya masih terus ada di sini.” Wajah Aksa yang seperti itu membuat hati Love serasa hancur. Dia bahkan ingin sekali menangis sekarang. “Tapi aku akan kasih tahu kamu karena aku sudah terlanjur mengatakannya.” Kini Aksa tak lagi menunda.
“Aku menyimpan fotonya di dalam dompetku. Kamu bisa melihatnya.” Bahkan tak perlu menunggu lama lagi, Love langsung turun dari kasur dan berlari kecil ke depan meja rias di mana Aksa selalu meletakkan dompet di sana. Dia membuka semua ruang di dalam dompet tersebut.
“Aku nggak nemu.” Sepertinya Love memang sudah mulai putus asa ketika dia tak menemukan foto yang dicarinya. Jadi dia memberikan dompet tersebut kepada pemiliknya dan meminta untuk orang itu yang mencarinya.
“Hanya ada fotoku dan anak-anak di sana.” Suara Love bahkan tak selantang tadi. Namun matanya masih menyorot begitu jeli.
“Padahal aku taruk di sini selama ini.” Begitu kata Aksa dengan wajah yang panik. “Jadi siapa yang berani mengambilnya.” Ekspresinya menunjukkan jika dia tak ingin kehilangan kenangan terkhirnya.
“Aku bahkan nggak tahu kalau kamu menyimpan foto orang lain di dalam dompet kamu.” Embun di mata Love sudah terlihat. Kedua tangan Love meremas baju yang di pakainya dan menarik napas dalam berkali-kali.
“Maaf karena aku bohong sama kamu.” Aksa menarik tangan Love dan Love berusaha melepaskannya.
“Kenapa?”
“Foto itu masih ada. Aku menyimpannya di tempat teraman. Ikut aku biar aku tunjukkan.” Di dorong rasa penasaran, Love hanya menurut saja dengan perintah sang suami.
Digandenganya perempuan itu masuk ke dalam ruang kerjanya, kaki mereka berhenti di depan sebuah lemari kecil yang Love ketahui untuk menyimpan barang berharga. “Kamu tahu kata sandinya, bukalah.” Begitu kata Aksa dengan pelan.
Love membuka pintu itu dengan kata sandi yang dihafalnya di luar kepala. Love memang jarang sekali membuka lemari tersebut karena dia tahu jika di sana hanyalah ada beberapa dokumen penting saja. Sama sekali tak menyangka jika suaminya itu juga menyimpan foto perempuan lain.
“Ambil buku berwarna biru.” Love mengambilnya.
“Buka.” Tangan yang tadinya biasa saja bergetar dan keraguan menyelimuti hatinya. “Buka.” Perintah Aksa lagi.
Love memejamkan matanya sebelum membuka buku tersebut. Tangannya mengerat memegang buku tersebut dan berbalik agar bisa menatap sang suami. Tapi ternyata Aksa sudah tak berada di belakangnya dan duduk di kursi kerjanya sambil menatapnya.
“Mas ngerjain aku!” Mata Love bahkan melotot. “Ini kan foto aku waktu masih kecil.” Jelas saja kalau Love hapal bagaimana penampakan difoto itu. Seorang anak berumur delapan tahun sedang menangis karena terciprat oli di tangannya.
Love mendekati Aksa yang sedang duduk tenang di kursi kerjanya sambil bersidekap. “Mas ngerjain aku?” Itu adalah pertanyaan penegasan dan dia membutuhkan jawaban.
“Iya. Siapa suruh ngambekan. Udah tua juga, dikit-dikit ngambek. Kapokmu kapan aku kerjain.” Merasa kalah telak dengan sang suami, Love berteriak.
“Mas ini keterlaluan sekali sih.” Dan tangisnya pun ikut keluar. “Aku kan sebel kalau kayak gini.” Tangisnya keras seperti bocah berumur lima tahun. Bukannya menghibur, Aksa malah tertawa kegirangan melihat istrinya seperti itu. Benar-benar dua orang itu.
*.*