
Al duduk dengan satu cup cake dan jus mangga. Menatap Odel yang juga tengah menyantap strawberry cake yang dipesannya.
“Permainan lo bagus, dan gue yakin lo udah mahir dalam hal itu.” Al sedang membicarakan masalah permainan biola yang dilakukan oleh Odel ketika di toko alat music tadi.
Al benar-benar membeli gitar yang tadi di jajalnya, dan seperti sangat puas dengan gitar tersebut.
“Ya, begitulah,” jawab Odel, “ Gue suka biola sejak SD, dan gue mulai les sejak kelas satu SMP.”
Al mengangguk, “Kayaknya kita perlu berduet, kapak-kapan.” Katanya dengan sungguh-sungguh.
“Lo bisa alat music apa aja?” tanya Odel.
“Drum, gitar, dan piano. Nggak mahir banget sih, Cuma sekedar bisa aja.”
“Benar, kayaknya memang kita harus berduet, kapan-kapan.” Setuju Odel dengan apa yang diusulkan oleh Al.
Hanya kembali mengangguk, “Mau ke rumah?” tanya Al lagi, “El sama Rigel lagi seru banget di rumah.” Cerita Al yang juga mendapat kekehan dari Odel.
“Gue tahu.”
“Lo tahu ceritanya?” Odel bisa menangkap maksud dari pertanyaan dari Al dan itu membuat Odel bercerita. Bagaimana Rigel bisa ‘murka’ kepada gadis itu, dan bagaimana centilnya El yang seolah sedang menggoda Rigel habis-habisan.
“Tapi gue nggak tahu setelah itu gimana, karena mereka nggak diijinkan buat masuk ke kelas.”
Decakan Al keluar, “Suka banget mancing masalah, kalau sampai Rigel baper, kapok dia.” Katanya dengan miris.
“Kalau seandainya iya, El dan Rigel pacaran, lo oke?”
“Dan pertanyaan lo ini beneran kayak gue itu sekarang sedang mencintai El.”
Odel mengibaskan tangannya, “Bukan itu maksud gue, siapa tahu lo nggak setuju sama dia kan?”
Al melipat tangannya di atas meja dan menatap mata Odel tajam sampai gadis itu merasa gugup. “Mungkin untuk sekarang, orang yang paling pantas kalau menjalin hubungan dengan El, orang itu adalah Rigel. Tapi gue nggak tahu kalau nanti.” Al benar-benar keterlaluan sekali sekarang. Matanya terus saja menatap Odel sampai gadis itu menyerah dan bilang,
“Oke-oke,” kata Odel, “Bisa lo nggak ngelihat gue kayak gitu? Lo kayak pembunuh berdarah dingin.” Bukannya menurut, Al malah semakin menatap gadis itu dalam.
“Al!” peringat Odel dengan sungguh-sungguh, “Jangan sampai gue khilaf dan nyolok mata lo ya.” Al menyeringai mendengar hal itu.
“Mau balik?” justru kalimat tanya itu yang keluar dari bibir Al, “Gue yakin Rigel masih ada di rumah gue.” Al sudah bersiap untuk membawa gitar barunya dan mengangguk kepada Odel.
“Boleh.” Katanya menyetujui ajakan Al. Kemudian keduanya keluar dari mall dan pulang ke rumah Al.
Semua hal pasti ada yang pertama, dan ini adalah kali pertama Odel berada di belakang Al dengan posisi berboncengan di motor Al. Gugup itu pasti ada, dan Odel merasakan itu. Dia membawakan gitar baru Al dan berusaha duduk dengan tenang.
‘Nggak usah baper, Del.’ Itu adalah mantra yang dikatakan kepada otaknya agar hal yang sangat sederhana ini sama sekali tak mempengaruhi hatinya.
Hanya perlu waktu sebentar mereka sudah sampai di kediaman Al. Jika dilihat dari garasi rumah Al, di gazebo sana masih ada dua orang yang sepertinya sedang sibuk. Dan Odel tersenyum melihat itu. kedua temannya itu sepertinya serius sekali mengerjakan tugas mereka.
“Ayo.” Al sudah memarkirkan motornya dan mengajak Odel untuk menghampiri dua orang itu. “Gue bilang apa, Rigel belum pulang kan?” kata Al sambil berjalan beriringan dengan Odel.
Seolah merasakan ada yang datang, El tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan mentap ke arah Al dan Odel yang berjalan ke arahnya. Ekspresi El benar-benar tak bisa di deskripsikan. Tak ada senyum di sana.
Bahkan ketika dua orang itu sampai tepat di depan gazebo pun wajahnya masih sama. Tak ada kata yang dikeluarkan dari bibirnya tapi matanya penuh dengan tanya. Namun setelah mengendurkan pikirannya, dia sendiri yang mengawali ucapannya, “Gue tahu kalian pasti ketemu di suatu tempat.” El tak mau menduga yang tidak-tidak.
“Sok tahu.” Tangan Rigel menulis tapi mulutnya masih menyahut, membuat El mendecih.
“Gue kan emang tahu.” Katanya dengan bangga.
Rigel menegakkan tubuhnya dan menatap El, “Bisa aja kan memang mereka janjian?” Rigel menyudutkan, “Mau apa lo?” tantang Rigel.
El tak sungkan menjambak Rigel, dan itu membuat Rigel mendesis. Sayangnya seperti semua orang ingin mengerjai gadis itu sekarang. Karena Al dengan santai merangkul Odel, dan mencari tahu bagaimana reaksi El terhadap itu.
“Kita memang janjian.” Katanya dengan santai, tak meminta izin terlebih dulu kepada Odel. El memicing menatap Al.
“Kalian serius?” tanyanya tak main-main.
“Iya.” Jawab Al.
“Gue tanya Odel. Bukan lo.” Percayalah, hati Odel sudah entah seperti apa sekarang, karena disisi lain dia gugup karena kontak fisik dengan Al, namun El juga benar-benar seperti ingin mengajaknya tawuran. Al dengan pelan mencubit pundak Odel untuk melancarkan ‘drama’ ini.
“Iya, Del.” Katanya dengan pelan. Odel seperti pencuri yang ketahuan oleh pemiliknya sekarang. Dan El mengartikan jika Odel benar-benar takut dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.
El tak mengatakan apapun. Wajahnya menunduk, entah apa yang difikirkan oleh otaknya. “El!” panggil Odel, “Lo nggak papa?” tanyanya dengan serius, gadis itu takut sebetulnya dengan El yang seperti itu.
Maka Al yang beraksi, “Kamu nggak setuju kalau aku sama Odel?” tanyanya.
“Sejak kapan?” wajah El kembali mendongak dan menatap Al, “Setahuku, kalian nggak sedekat itu selama ini. Odel berkali-kali datang ke rumah ini tapi nggak ada interaksi yang berlebihan. Kalian serius?” El benar-benar tak bercanda sekarang.
“Kalau memang kalian serius, aku bisa apa. Odel adalah sahabatku, aku tahu dan paham dia dengan banyak. Dan Al? Kamu adalah aku. Aku mengerti kamu dengan sangat baik.” Odel mendengar itu dengan terharu dan hampir dia mengatakan jika gadis itu tengah dikerjai olehnya namun Al lebih dulu memberi isyarat agar Odel tutup mulut.
“Terima kasih, sudah memahami aku.” Begitu kata Al dengan wajah yang serius. Al sepertinya juga terharu karena Al tak bereaksi berlebihan ketika dia bersama Odel meskipun itu hanya candaan.
“Ya, ya. El memang baik.” Dan otaknya kembali bermasalah lagi ketika dia membalas Al, “Lalu gimana kalau aku sama Rigel?” hampir Rigel meneriaki gadis itu kalau saja tidak mengendalikan dirinya.
“El!” peringat Rigel kepada gadis bengal tersebut.
“Gusti Allah.” Rigel bahkan sampai nyebut ketika mendengar ocehan El.
“Kenapa sih, Gel? Nggak mau lo sama gue? kalau lo nolak gue, kemenyan yang datang ke rumah lo. Gue pagerin lo dengan jamoi-jampi biar jadi perjaka tua sampai aki-aki nggak laku.” Dan itu benar-benar membuat Al tertawa mendengar ucapan El.
*.*
Malam nanti adalah malam puncak dari ulang tahun sekolah. Hari ini adalah hari ketiga semua kelas melakukan pertandingan-pertandingan yang diadakan. El dan Odel sudah ada di lapangan basket untuk melihat Al bereaksi di lapangan. Namun masalahnya bukan itu sekarang, karena kelas Al dan kelas El sedang menjadi lawan.
Rigel ikut serta dalam pertandingan tersebut melawan Al. El berdecih ketika melihat dua lelaki jangkung yang ada di tengah lapangan sebelum pertandingan dimulai.
Dan dengan tak tahu dirinya ketika sesi berdoa selesai, El berteriak sampai membuat penonton lain kaget dan menatap gadis itu dengan menganga.
“AL, LO HARUS NGALAH SAMA RIGEL. INGAT! DIA CALON ADIK IPAR LO. SEBAGAI KAKAK IPAR YANG BAIK, LO HARUS NGALAH SAMA ADIK IPAR.” Ocehan El itu benar-benar membuat Rigel melototi gadis itu sedangkan Al tertawa sambil memukuli punggung Rigel berkali-kali.
“El beneran kongslet, Al.” Bahkan pertandingan tak langsung dilakukan karena teriakan itu. Menjadi pusat perhatian memang bukan pertama kalinya El mendapatkannya, tapi teriakan mengenai mengalah dengan adik ipar itulah yang menjadikan ribut banyak orang.
Odel bahkan harus pura-pura tak mengenal El dengan menatap ke arah lain sambil menutupi Sebagian wajahnya. Jelas saja, yang menontong pertandingan itu bukan hanya satu atau dua kelas, tapi sembilan puluh persen semua murid sedang berada di sana. Maka sebenarnya kemana urat malu si El ini sekarang?
Karena ucapan yang blak-blakan itulah, yang membuat orang lain segan dibuatnya. Dia tak sungkan untuk berteriak jika memang itu diperlukan.
Dan setelahnya, El menoleh ke kanan dan kirinya dan bilang, “Kenapa kalian lihatin gue kaya gitu?” tatapan tajamnya itu mengunus dan membuat yang lainnya seketika mengalihkan tatapannya. Sayangnya bukan dengan lelaki yang diam-diam duduk di undakan bawahnya.
Lelaki itu bertanya, “Lo serius, El?” katanya dengan mendongak menatap Al.
“Gue benci sekali sama orang yang kepo.” Jawabnya sambil masih memicing. Namun Ares bukanlah orang yang akan menyerah begitu saja sepertinya, karena lelaki itu kembali bersuara.
“Karena gue udah pernha bilang ke Al kalau gue mau deketin lo.”
“Jadi lo sekarang nantangin gue atau gimana ceritanya?” matanya sudah tak fokus, karena pertandingan sudah dimulai dan dia harus melihat aksi kedua lelaki yang saling melawan itu sekarang.
Dan mendesis ketika Al memasukkan bola ke ring dan tim lelaki itu otomatis mendapatkan skor, “Kampret si Al, beneran nggak mau kalah dia.” Dan mengabaikan Ares yang masih mendongak menatapanya.
“Gue nggak nantangin lo, tapi gue hanya berusaha jujur ke elo.”
“Lo bisa diem dulu nggak, berisik tahu…. Masuk!” diakhir kalimat itu dia melihat Rigel yang dengan tangkas memasukkan bola ke dalam ring.
“Rigel! Rigel! Rigel!” teriaknya dengan semangat yang gigih. Dia lebih berisik dari yang lainnya. Namun siapa yang peduli. Kebanyakan orang sedang meneriakkan nama Al, sedagkan hanya dia dan teman sekelasnya yang menyebut nama Rigel.
Namun sayangnya, skor yang didapatkan oleh tim kelasnya kalah dari tim Al setelah beberapa menit pertandingan. Istirahat selama sepuluh menit membuat El ingin beranjak dari tempatnya tapi Odel mencekal tangan gadis itu.
“Mau kemana lo?” tanyanya.
“Gue mau lihat bentukan dari dua laki-laki itu.”
“Nggak usah. Tunggu aja di sini. Kalau nanti udah selesai pertandingan, lo boleh kesana.”
“Kenapa sih, Del?” El sepertinya tak terima dengan larangan sahabatnya itu.
“Lagian lo mau ngapain kesana? Udah duduk aja.” Odel menarik tangan El agar gadis itu kembali duduk, membuat El mendesis. Tak ayal menyetujui, namun sambil bilang,
“Baiklah, Kakak ipar.” Dengan menundukkan kepalanya seolah dia adalah penurut yang baik. Dan ucapannya itu tentu di dengar oleh banyak orang sekarang.
Membuat mereka berbisik-bisik satu sama lain. Ada yang tidak menyangka, ada pula yang iri dengan itu. Tapi tak ada yang berani untuk bertanya langsung untuk mengkonfirmasi ucapan gadis itu. Bisa kejang-kejang mereka kalau sampai El murka.
El memang masih tidak mengetahui jika sebenarnya dirinya sedang dikerjai oleh Al tentang hubungan lelaki itu dengan Odel, karena kejadian waktu itu benar-benar tak ada konfirmasi ulang dari Al maupun Odel.
Permainan kembali berlanjut, dan keseruan kembali terjadi. Dan keriuhan terdengar karena Al tentu memenangkan pertandiangan tersebut. El diam saja melihat skor yang terlihat dan bibirnya cemberut. Odel mengelus punggung El tanpa mengatakan apapun. Pantas saja kalau itu terjadi kan? Al adalah ahli dibidang itu, sedangkan Rigel jauh berada di bawah Al.
“Kecewa gue, Del.” Ucapnya dengan wajah sedih.
“Nggak sudah kecewa, El, kan perbandingan mereka itu jauh. Al udah level sepuluh sedangkan Rigel hanya di level lima, mana bisa ngelawan kan.”
“Kan dia bisa ngalah dulu, Del. Dia kan selalu menang, nggak bosen apa.” Dumel El.
“Ini kan bukan rebutan makanan antara anak-anak. Mana bisa main mengalah.” Sepertinya ada orang yang tak tahan mendengar dumelan El, karenanya orang itu menyahut.
El dan Odel saling menatap. Kemudian Odel melihat undakan tribun di atasnya dan menatap gadis yang baru saja berbicara. Sayangnya gadis itu sama sekali tak menatap Odel dan lebih fokus menatap puncak kepala El.
“Lo jangan terlalu egois dengan Al, apa yang lo mau lantas minta dituruti oleh dia. Dia juga punya kehidupannya sendiri.” El masih dengan duduk menyeringai. Hatinya sedang tidak terlalu baik, dan ada orang yang sendang memancing masalah dengannya.
Maka dengan cepat dia berdiri dan menatap gadis itu. Diawali dengan tersenyum, El bersidekap di dada. Mengamati wajah gadis itu, mengorek ingatannya, karena dia merasa pernah ‘berhadapan’ dengan gadis itu. Butuh berapa saat ketika dia kembali mendapatkan ingatan itu kembali.
“Aaa,” awalnya, “Gue tahu siapa lo.” Dengan senyum manisnya, El berucap. “Lo yang nggak kuat menahan perasaan lo sama Al, kan?” jawabnya. El melihat name tag yang terpasang di sebelah kanan dadanya dan membacanya, “Helen.” El membaca salah satu nama yang mungkin itu adalah nama panggilan gadis tersebut.
“Sejujurnya gue nggak perlu komentar dari lo mengenai apa yang gue lakukan kepada Al. Karena gue sama sekali tak butuh.” Ekspresi El masih bersahabat sekali, “Lo nggak tahu apapun dengan kehidupan kami, jadi lo nggak bakalan paham.”
“Gue tahu bagaimana lo terlalu berlebihan dengan Al. Bahkan lo menyeleksi cewek yang harus sama Al.”
“Lalu kenapa dengan itu? Gue berhak melakukanya selama Al nggak protes.” El benar-benar menusuk menatap gadis itu sekarang, “Gue dan Al adalah satu, ketika gue merasa cewek itu nggak pantas buat Al, maka hati Al juga berpendapat sama. Lo harus pahami itu.” El memberikan seringaiannya kepada Helen sebelum pergi dan menarik tangan Odel untuk meninggalkan tempatnya.
*.*