Blind Love

Blind Love
Kisah 1



Kini giliran Virgo yang datang menemui Ardi. Bukan tanpa alasan lelaki itu nekat melakukannya karena memang itulah yang harus dia lalukan. Meskipun konflik antara dirinya dan calon ayah mertuanya itu belum juga mereda dan belum mendapatkan cara untuk mengakhirinya, tapi adalah kewajibannya untuk menemui lelaki itu secara formal sebagai lelaki yang akan meminang anak gadis Ardi.


“Sebenarnya kamu ini memang tak tahu malu atau apa?” Bahkan tanpa menyuruh Virgo duduk terlebih dulu, Ardi langsung memberondongnya dengan ucapan sinisnya, “Kamu ini tidak diterima disini.” Katanya dengan nada datar.


Virgo sudah menyiapkan kesabaran yang berlebih untuk menghadapi Ardi karena dia juga sudah paham jika lelaki itu memang tak akan begitu saja menerimanya dengan tangan terbuka.


“Terima kasih sudah memperjelas semuanya, Om.” Jawab Virgo dengan tenang, “Tapi lebih tak tahu malu lagi kalau saya menikahi Libra tanpa meminta izin terlebih dulu dengan ayahnya, terlepas Om akan memberi izin ataupun tidak yang terpenting saya sudah melakukan kewajiban saya sebagai orang yang akan menikahi putri, Om.” Virgo masih berdiri di depan meja kerja Ardi dan menatap dengan berani kepada lelaki itu.


“Besok, saya akan bertunangan dengan Libra, Om. Kalau berkenan, Om datanglah__”


“Tidak akan pernah.” Ardi langsung menyela ucapan Virgo ketika lelaki itu bahkan belum menyelesaikan ucapannya.


Namun Virgo bukanlah orang yang akan dengan mudah terintimidasi, maka dengan santai dia melanjutkan. “Dan satu bulan lagi kami akan menikah.” Virgo tak buta sampai tak mengetahui perubahan air muka Ardi yang keruh. Lelaki paruh baya itu sepertinya memendam gejolak di hatinya yang penuh dengan kemarahan.


“Kamu fikir rumah tangga kalian akan bahagia tanpa restu dari orang tua?”


“Tante, orang tua saya, dan kakek, merestui hubungan kami. Hanya Om saja yang masih bersi keras menolaknya. Bukan cinta kami yang salah, tapi mungkin ada yang salah dalam hati Om.” Dengan berani Virgo mengatakan itu seolah menantang terang-terangan lelaki di depannya.


“Kamu benar-benar kurang ajar.” Ketenangan Ardi sepertinya tak bisa bertahan lama menghadapi ‘calon menantunya’ itu, “Apa Sintya tidak mendidik kamu dengan baik dan asyik dengan suaminya saja sampai kamu tumbuh menjadi lelaki yang kurang sopan santun seperti ini?”


Kalau saja memaki seorang yang lebih tua dari dia adalah hal yang tidak mencoreng harga dirinya, maka Virgo akan melakukannya. Bagaimanapun, lelaki itu sebentar lagi akan menjadi ayahnya, jadi tak baik rasanya jika dia kurang ajar kepada beliau.


“Berkali-kali saya berfikir tentang kebencian Om kepada saya, dan berkali-kali pula saya tak paham kenapa kebencian itu sepertinya mandarah daging di tubuh, Om.” Virgo memutuskan untuk berjalan dan mendekat ke depan Ardi. Menarik kursi, dan duduk di sana. ‘Obrolan’ ini sepertinya memang tak akan berjalan cepat. Dan dia tak sanggup untuk tetap berdiri di sana dengan waktu yang lama.


“Dan saya tak medapatkan jawaban dari semua itu kecuali karena saya adalah putra dari seorang Firman dan juga Sintya. Dua orang yang Om anggap sebagai penghianat di masa lalu.” Kedua tangan Ardi yang saling terjalin, menguat mendengar apa yang dikatakan oleh Virgo.


“Saya tidak akan mengkomentari cara kerja Om dalam menghadapi masalah. Tapi yang menjadi penyesalan saya adalah, semua hal itu berpengaruh pada hubungan saya dan Libra. Dan pertanyaan saya, sampai kapan Om akan memendam kebencian itu kepada saya dan kedua orang tua saya? Sedangkan sebentar lagi kita akan menjadi keluarga.”


“Siapa yang akan menjadi bagian keluarga?” decakan itu keluar begitu saja dari bibir Ardi. “Kamu terlalu banyak bermimpi.” Katanya dengan malas.


“Kalau begitu terserah, Om. Saya sudah datang kesini dengan etikat baik. Saya tidak bisa mengakhiri hubungan saya dengan Libra. karena pertama, saya mencintai dia, kedua, karena saya tidak mampu lagi menyakiti dia. Cukup Om saja yang melakukan itu. Dan sekarang, semua terserah Om. Karena dengan ataupun restu dari, Om, kami akan tetap menikah.” Tantangan itu seharusnya sedikit membuat Ardi tergerak hatinya.


Libra adalah putri satu-satunya. Dan tak baik, jika pernikahan gadis itu tanpa restu dari salah satu orang tuanya. Nyatanya, Ardi memang kepala batu, mungkin harus di tempa dulu dengan benda berat barulah hancur.


Virgo merasa jika kedatangannya benar-benar tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Karena itu dia berdiri dari kursi. “Pikirkanlah apa yang saya katakan, Om.” Itu adalah kalimat terakhir yang Virgo katakan karena setelahnya dia berjalan dan keluar dari ruangan tersebut tanpa lagi mempedulikan Ardi.


Dia mendatangi Ardi atas inisiatifnya sendiri karena bagaimanapun Ardi adalah ayah dari gadis yang akan dihikahinya. Dan diusahanya yang terahir ini dia ingin ‘meminta’ Libra kepada ‘pemilik’ yang sah. Sayangnya hasilnya nihil. Meskipun di dalam hatinya dia merasa seperti pencuri sekarang ini, namun itu tak akan membuat dirinya merasa bersalah.


*.*


Pertunangan ini diadakan bukan dengan acara besar-besaran karena merasa itu tak perlu dilakukan. Ardi tak akan datang dan itu akan membuat banyak pertanyaan bagi orang lain jika keluarga mereka mengundang banyak orang. Karenanya semuanya mensepakati agar pertunangan ini diadakan sesederhana mungkin di rumah Virgo.


Hanya ada teman-teman dekat dari Virgo dan Libra dan beberapa orang yang memang harus ada disana untuk menyaksikan awal dari kebahagiaan mereka.


“Bang!” sudah ada sahabat-sahabatnya, tapi dia masih saja mencari Aksa. Dia bahkan harus rela turun ke lantai dasar untuk memanggil suami Love itu dan menimbulkan reaksi dari orang-orang di sana, “Sebentar.” Dan dengan kekanakan, Virgo menarik tangan Aksa agar lelaki itu bisa berdiri dan mengikutinya.


Dan Love yang melihat itu tentu saja tak akan tahan untuk tak berkomentar, “Kamu ini kenapa? Tarik-tarik suami orang.” Ditahannya tangan kiri Aksa agar lelaki itu tak bisa mengikuti apa yang diminta oleh Virgo.


“Deg-degan?” tatapan mengejek itu diberikan kepada Virgo sebagai bahan ejekan.


“Sebentar aja lah, Kak.” Katanya semakin menarik dengan kuat tangan kanan Aksa karena tak mau kalah. Sedangkan Aksa yang menjadi rebutan itu mendengus saja.


“Kenapa, Vir?” kini pak Wondo yang bertanya karena merasa keheranan dengan sikap cucunya. Firman, Aksa, Wondo, Love, mereka sedang mengobrol dan Virgo datang dan memutus obrolan mereka dengan sikap menyebalkannya.


“Pinjam Bang Aksa sebentar aja, Kek.” Katanya dengan wajah memelas.


“Ya tapi kenapa? Kenapa bukan ayah yang kamu Tarik? Kok bang Aksa?” pertanyaan Firman.


“Ya, pokoknya begitu lah, Pa.”Jawabnya. Masih memegangi lengan Aksa dengan kencang.


“Wah! Abang ganteng.” Ixy datang menambah keriuhan suasana tersebut. Sintya datang dan terkekeh dengan gemas mendengar komentar dari putri Aksa tersebut.


Bocah itu menggunakan dress batik yang memang betema sarimbit dengan keluarganya. Rambutnya di sanggul sederhana dengan anak-anak rambut yang mencuat yang memberikan kesan manis.


“Adek namanya siapa?” tanya Sintya.


“Ixy.” Sintya gemas dan mencium pipi gadis itu.


Dan apalagi yang bisa dilakukan selain menyetujui apa yang menjadi permintaan Virgo. Maka Aksa berpamitan sebentar kepada pak Wondo dan Firman.


“Kenapa?” alih-alih ke kamarnya, mereka berbicara di perpustakaan yang ada di dalam rumahnya.


Virgo menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu. Melihat jam yang ada di pergelangan tangannya untuk memastikan waktu yang tersisa sebelum acara di mulai.


“Gini, Bang,” awalnya. Tangannya saling meremas karena merasa perlu mencari kalimat yang pas. Aksa menunggu dengan sabar tanpa mengatakan apapun.


Deheman Virgo keluar. “Sebentar lagi aku menikah,” tatapannya lurus ke mata Aksa seolah mengatakan beban pikirannya. “Apa yang harus aku lakukan, bukan, apa yang harus aku persiapkan dalam rumah tangga yang akan aku bangun?” Aksa kini tahu, jika Virgo pasti memikirkan banyak hal sebelum ini, karena merasa tak bisa menampung sendiri, maka dia pun mengatakan kepada Aksa.


“Aku bingung, Bang.” Lanjutnya, “Setelah rencana pernikahan ini, pikiranku melayang kemana-mana. Aku masih kuliah, aku belum berpenghasilan, aku belum punya apapun, hanya cinta saja andalahku.” Kekehnya. Kemudian kembali melanjutkan, “Menurut Abang apa yang harus aku lakukan?” katanya dengan serius.


“Bagaimana caranya aku memenuhi kebutuhan Libra? sedangkan katanya bedak aja harganya mahal.” Aksa menatap Virgo dengan aneh ketika kalimat terakhir itu keluar dari bibir Virgo. Tak lama setelah itu Aksa terkekeh.


“Bukan hanya bedaknya, semua yang dipakai oleh perempuan itu harganya mahal.” Jawab Aksa, “Jadi, kamu khawatir tentang itu?” Virgo mengangguk.


“Jelas aku khawatir, Bang. Kalau aku nggak bisa menuhi kebutuhan dia, terus kayak yang di tivi-tivi itu dia ninggalin aku gimana?” sepertinya kekhawatiran Virgo sungguh berlebihan sekali, “Beberapa hari ini aku nggak bisa tidur gara-gara memikirkan masalah ini, Bang.” Aduan ini seperti tak akan sebentar.


Aksa melihat jam di pergelangan tangannya, “Lima menit lagi acara akan dimulai, mungkin Libra sudah datang sekarang.” Virgo menghembuskan nafasnya kasar karena curahan hatinya tak mendapatkan tanggapan yang berarti dari Aksa.


“Setelah acara, kita bicara lagi dengan serius. Nggak usah pasang wajah begitu.” Barulah setelah Aksa mengatakan itu, Virgo tersenyum. Belum mereka beranjak, Edo datang.


“Lo udah ditunggu.” Begitu katanya, “Cepetan, Libra cantik banget.” Edo mendapat geplakan di kepalanya dengan Virgo pelakunya.


“Dia udah cantik dari dulu.” Katanya dengan santai dan berjalan lebih dulu, meninggalkan Edo yang memanyun-manyunkan bibirnya karena sebal.


Dan benar apa yang dikatakan oleh Edo, Libra yang tengah duduk di sofa dengan ibunya di sampingnya sebagai pendamping memang benar-benar cantik. Tapi hatinya merasa teriris ketika satu orang yang seharusnya ada di sana nyatanya tak hadir. Virgo tak ingin terlihat bersedih di depan Libra, karena dia tak ingin membuat Libra mengingat kesedihannya juga. Virgo yakin dibandingkan dirinya yang merasa miris, Libra lebih bersedih dari dirinya.


Sepasang cincin yang sudah diletakkan di kotak cincin, Love yang membawa, karena Virgo yang meminta. Libra menatap Virgo dengan malu-malu karena sejak tadi Virgo tak melepaskan dirinya dari tatapan lelaki itu.


Meskipun hanya acara sederhana, Firman tetap menyampaikan sambutan sebelum acara dimulai. Jadi, sebagai perwakilan keluarga, Libra hanya datang bersama ibu dan teman-temannya termasuk dua teman lelaki kampusnya Zidan dan Rion. Aaa, dan juga Kakak Jihan yang datang dari Kalimantan karena mereka memang tinggal disana.


“Sebelum saya memakaikan cincin ini di jari Libra, bisa saya mengatakan sesuatu terlebih dulu?” tatapannya mengarah serius di mata Libra, kemudian menatap ayahnya dan ibu Libra bergantian.


“Boleh.” Kata Firman memberi kesempatan kepada Virgo mengungkapkan apapun itu kepada semua orang yang ada di sana.


Virgo mengangguk dan memberanikan dirinya untuk berbicara. Sebelumnya, tak pernah Virgo merasakan perasaan takut seperti ini. Apa yang ada di pikirannya selalu diungkapkan bahkan terkadang membuat orang lain keki sendiri karenanya. Tapi sekarang rasa itu justru muncul dengan kurang ajanya.


“Li!” Virgo menatap gadis itu dengan serius, “Aku butuh memastikan sesuatu.” Katanya. Bukan hanya Libra yang merasa tegang, tapi semua orang juga merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Suasana hening itu tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam keramaian yang beberapa waktu tadi masih menguasai keadaan.


Libra mengangguk namun tanpa kata.


“Kamu tahu?” awalnya, “Aku bukan orang kaya. Aku bahkan hanya seorang pengangguran dan belum memiliki penghasilan sama sekali. Kamu serius mau menikah denganku? Yang aku punya sekarang ini hanyalah cinta. Selain itu aku tak punya apapaun. Kamu rela, menyerahkan hidupmu kepada lelaki seperti aku?” seperti kekhawatiran yang beberapa saat lalu dikatakan kepada Aksa, Virgo justru mengatakan langsung kepada Libra.


“Aku mau.” Jawab Libra dengan pasti tanpa keraguan sama sekali, “Kita akan menjalani rumah tangga kecil kita mulai dari nol. Kita akan melakukan itu.”


“Kenapa gue jadi inget iklan pom bensin ya, ‘mulai dari nol ya, Kakak’ gitu.” Sebetulnya kalimat itu hanyalah gumaman, tapi sayangnya Ule mengatakannya dengan suara agak keras jadi semua orang mendengar.


Suara kekehan dari semua orang kemudian terdengar dan mengurai keseriusan yang terjadi. Bahkan Libra saja merasa malu karenanya.


“Eh, sorry-sorry, Li. Gue nggak maksud bilang begitu tadi.” Ule cepat-cepat meminta maaf akan mulutnya yang tak bisa diajak kompromi sama sekali, “Lanjutkan saja, Li.” Namun sayangnya, pak Wondo yang lebih dulu bersuara.


“Tak perlu memikirkan hal itu. Kakek bisa mengatasinya.” Tapi bagi Virgo, ini bukan masalah mengatasi dan diatasi. Namun Virgo tak ingat mendebat kakeknya karena akan menjadi panjang. Dan biarlah pembahasan ini akan menjadi pembahasan setelah ini.


Virgo memakaikan cincin di jari manis Libra dan Libra melakukan hal yang sama. Kebahagiaan itu memang tak lengkap, tapi meskipun begitu, mereka semua bersuka cita dengan pertunangan tersebut. Tawa pun menguar bahkan ketika lelucon itu sama sekali tak lucu.


“Pernikahan kalian nanti mungkin akan sesederhana sekarang, Libra nggak masalah dengan itu kan?” Jihan yang mengatakan itu karena memang harus seperti itulah yang terjadi, kecuali ada Ardi di tengah-tengah mereka dan menerima keputusan yang sudah dibuat.


“Kita udah membahas ini, Ma. Aku nggak papa.” Sintya miris melihat itu. Pernikahan ini diharapkan akan menjadi pertama dan terakhir untuk anak-anak mereka. Namun harus seperti ini karena keegoisan satu orang.


“Tak penting meriahnya sebuah acara pernikahan, Ma, jika setelahnya kehidupan rumah tangga itu selalu dilingkupi kesedihan. Lebih baik acara kami sederhana tapi setelahnya rumah tangga kami selalu diramaikan oleh kebahagiaan.” Begitu kata Virgo menjawab ibunya.


*.*