
Entah kondisi seperti apa yang sekarang ini sedang terjadi. Tapi El dibuat kaget karena tingkah Rigel. Lelaki itu datang ke rumah El dan kebetulan El ada di depan rumah bersama Orion ketika dia datang. Dan yang membuat El tak menyangka adalah, setelah Rigel turun dari motornya dan jalan kearahnya. Lelaki itu dengan wajah yang terlihat memiliki beban masalah, langsung memeluk El dengan erat.
Orion bahkan terbelalak dibuatnya. Lelaki itu beranggapan, sebenarnya apa yang ingin Rigel tunjukkan kepadanya dengan melakukan itu? El diam mematung tanpa membalas pelukan Rigel namun dia juga sama sekali tak bisa melakukan apapun. Pelukan itu erat dan seolah tak ingin dilepaskan.
“Gel?”
“Tolong jangan tanya apapun dulu, El. Yang sekarang gue butuhkan hanya memeluk lo.” El masih bisa melihat wajah Orion yang tegang melihat itu. Dan setelahnya lelaki itu mengalihkan pandangannya dari El.
“Gel, gue nggak mau nanti RT kesini dan nyangka kita yang enggak-enggak. Dan kita digrebek masa.” El berusaha untuk melepaskan pelukan Rigel dari tubuhnya tapi sungguh tak bisa, “Nggak enak sama Orion.” Bahkan ketika El mengatakan itu saja, Rigel sama sekali tak berkutik.
El menyerah dan membiarkan tubuhnya dikungkung oleh pelukan sahabatnya itu. Tapi, sahabat macam apa yang saling berpelukan dan mungkin saling ‘meyukai’. Setelah beberapa waktu, barulah Rigel menarik tubuhnya dari tubuh El dan melepaskan pelukan mereka.
Menatap El yang masih terlihat kaget, namun dia mengabaikannya. “Terima kasih untuk pelukannya. Gue sekarang masih belum mau cerita. Nanti gue akan katakan semuanya ke elo setelah gue udah siap.” Katanya. Dan kemudian pergi begitu saja tanpa lagi menoleh ke belakang. Bahkan dia sama sekali tak menyapa Orion yang ada di sana.
Asap motor Rigel melayang-layang terbawa angin dan meninggalkan kecanggungan antara El dan Orion. Bahkan El yang memang selama ini tidak bisa berbasa-basi saja, juga tak tahu harus mengatakan apapun.
“Kalau dia bukan Rigel, entah akan gue apain cowok itu.” Orion memecah keheningan. Matanya menatap El yang masih tak bergerak di tempatnya.
El balas menatap Orion, “Lo benar, kalau itu buka Rigel, akan babak belur dia di tangan gue.” El mengehela napas panjang dan mendekati Orion, “Gue minta maaf kalau lo ngerasa nggak nyaman dengan adegan tadi, gue nggak tahu apa yang sedang terjadi sama cecunguk satu itu.”
“Mungkin dia sedang putus cinta?” dan kesadaran menghantam lelaki itu ketika dia sendiri yang mengatakan dugaannya. Kalau Rigel memang putus dengan kekasihnya, bukan tidak mungkin kalau El akan menerima Rigel.
“Gue juga nggak tahu.” El mengedikkan bahunya tak acuh seolah tak peduli.
“Kalau memang iya, gimana tanggapan lo?”
El menatap ke langit malam yang sama sekali tak ada bintang di sana. Entah kemana semua perginya bintang-bintang terang yang biasanya terlihat indah dipandang mata.
“Gue nggak ada tanggapan apapun. Itu bukan urusan gue, dan gue yakin kalau itu terjadi, mereka memang sudah memikirkan keputusan itu matang-matang.” Di akhir kalimat, El menatap Orion dengan senyum kecil.
“Gue bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain kalau bukan gue yang terlibat di dalamnya.” Imbuhnya. El mengatakan itu memang adalah kenyataan.
Orion mengangguk, dan dia berusaha untuk mengerti. Tidak mudah memang menjadi Orion. Dia sedang proses pendekatan dengan El yang memang gadis itu adalah gadis yang paling susah untuk didekati. Ketika kepribadiannya yang hangat itu mampu sedikit melunakkan hati El, justru ada hal lain yang menggagu pikirannya. Dan sepertinya Orion memang harus bersabar lebih lama lagi untuk ini.
“Kalau gitu gue pulang dulu,” pamit Orion, “Udah malam.” Orion datang sebetulnya hanya kebetulan mampir. Tak ada rencana untuk mengajak El keluar atau sejenisnya.
“Oke!” El masuk ke dalam rumah setelah Orion pergi dan langsung ke kamarnya. Mengunci kamar itu dari dalam agar Al tak sesuka hati nyelonong masuk ke kamarnya.
Duduk di meja belajar dan melihat kunang –kunang yang masih ada di toples sambil menyangga kepalanya dengan tangan. Otaknya memikirkan tentang kelakuan Rigel yang memang tak seperti biasanya. Lelaki tu masih menujukkan jika dirinya memang baik-baik saja, tapi El tentu bisa melihat jika wajah Rigel seperti memendam sesuatu yang belum dia ketahui.
Keesokan harinya, ketika mereka sudah berada di sekolah, Rigel justru mengirimkan surat ijin jika dirinya ada urusan keluarga. Entah urusan seperti apa, tapi El bahkan tak mempercayai surat tersebut. El tahu itu hanya akal-akalan Rigel saja.
“Kok tumben dia punya acara keluarga segala?” Odel berkomentar, “Biasanya ada keramaian di rumahnya aja dia nggak peduli sama sekali.” Lanjut gadis itu.
“Coba lo hubungi dia, bisa nggak?” perintah El.
“Enggak, dari tadi juga udah gue coba.” El tahu sebenarnya jika Rigel tak masuk bukan karena mempunyai urusan keluarga, tapi karena masalah yang sedang dihadapi yang dia pun juga belum mengetahui.
“Kalau gitu biar aja dulu dia.” Jawab El, “Mungkin urusan keluarga dia memang lebih penting dari sekolah.” Dan dituruti oleh Odel. El akan pastikan Rigel baik-baik saja setelah pulang sekolah nanti. Dia akan mencoba berbicara dengan lelaki itu apa yang sebenarnya terjadi dengannya sampai dia harus bolos sekolah hanya karena hal tersebut.
Dan El tentu merealisasikan hal tersebut. Dia bilang kepada Al jika dia akan ke rumah Rigel untuk sebuah keperluan. Odel yang awalnya ingin ikut di tolaknya oleh El karena memang mereka butuh berbicara berdua.
“Gue nggak bakalan nggak bilang ke elo kalau memang terjadi sesuatu sama Rigel. Hanya saja, untuk sekarang biar gue pastikan dulu dia baik-baik aja.” Begitu kata El kepada Odel untuk ‘merayu’ gadis itu agar tidak merasa dia diabaikan oleh sahabat-sahabatnya.
“El?” ibu Rigel tersenyum dan menyambut gadis itu dengan senyum lebar ketika mendapati El ada di rumahnya sekarang. “Lama lho kita nggak ketemu.” Ibu Rigel adalah perempuan yang hangat. Pun dengan ayahnya, dan entah titisan dari siapa, mereka justru memiliki putra yang seperti itu.
“Waktu itu kan El pernah datang, Tante. Tapi Tante nggak ada di rumah.”
“Kapan itu?”
“Hari minggu kapan hari itu, Tante.” Meskipun ibu Rigel berusaha mengingat di hari-hari minggu sebelumnya dia kemana, tetap saja dia tak akan menemukan jawabannya.
“Naik aja, Rigel kayaknya emang lagi nggak oke dia.”
“Bisa dipanggilin aja nggaK, Tante? Nggak enak lah kalau ke kamar cowok.” Tolak El. Meskipun dia sudah sering ke rumah Rigel, tapi untuk masuk ke dalam kamar lelaki itu dia tak pernah melakukannya.
“Dia nggak bakalan mau. Soalnya tadi waktu dia nggak mau keluar kamar, Tante bujuk dia pakai nama kamu. Dia mau keluar terus masuk lagi sambil marah-marah katanya pembohongan public soalnya kamu nggak ada di sana.” El menggelengkan kepalanya.
Si bocah tengik itu memang suka sekali kekanakan dengan orang tuanya. Wajah boleh sangar jika ada di luar rumah, tapi kalau di dalam rumah, piyik pun kalah imutnya.
“Udah nggak papa. Masuk aja. Tante percaya kalian nggak bakalan ngapa-ngapain kok. Lagian kalau ngapa-ngapain juga Tante siap tanggung jawab.” Entah kebobrokan seperti apa yang terjadi sekarang ini. Peremuan paruh baya itu seolah memberikan lampu hijau kepada anaknya melakukan hal yang tak seharusnya.
“Tante bercanda.” Bisiknya kepada El untuk merevisi apa yang baru saja dikatakan kepada El. “Kalau Rigel berani macam-macam, habis anak itu nanti.” Lanjutnya dan menarik El untuk diajak naik ke lantai dua rumahnya di mana kamar Rigel berada.
“Gel!” panggilnya, “Gue datang.” Tak ada suara yang terdengar dari dalam sana. El mencoba kembali dan masih tak ada hasilnya.
El benar-benar dibuat kesal oleh pejantan satu itu. kalau seandainya dia tak mengingat jika dirinya sekarang bukan di rumah orang, entah sudah berapa oktaf suaranya dikeluarkan. Hanya saja, dia tak mungkin melakukan itu sekarang.
“Lo tidur?” El tak menyerah, “Bisa gue ketemu lo sebentar?” lanjutnya lagi. Mencoba membuka pintu kamar tersebut, ternyata pintu itu dikunci.
Mencoba menghubungi Rigel dengan melakukan panggilan video, El masih tetap berdiri di depan kamar lelaki itu.
Sayangnya tak ada jawaban. El benar-benar kesal sekarang. Dengan mengetatkan giginya, El kembali berusara. “Rigel, gue datang mau ketemu sama lo. Bisa lo keluar sebentar dan kita bicara? Kami khawatir sama lo karena lo tiba-tiba nggak masuk sekolah sedangkan surat ijin lo itu sama sekali nggak banget. Karenanya gue kesini. Bisa tolong lo keluar sebentar aja, biar gue bisa memastikan dan bisa bilang kepada Odel juga jika lo sehat walafiat?” El berhenti sebentar sambil menunggu siapa tahu lelaki itu bisa merubah keputusannya untuk membukakan pintu kamar tersebut.
Baiklah, sepertinya Rigel benar-benar berulah sekarang. “Oke!” putus El, “Kalau usaha gue kesini sia-sia, berarti lo udah nggak mau ketemu gue lagi. Itu artinya lo nggak mau temenan sama gue lagi. Kalau emang kayak gitu, jangan lagi lo cari gue atau lo temuin gue. Gue nggak sudi.” Katanya keras dan berbalik untuk turun ke lantai satu rumah Rigel.
Namun seperti biasa, Rigel, tak akan pernah sudi kehilangan El begitu saja hanya karena egonya. Karenanya dia dengan cepat membuka pintu kamarnya dan mencekal tangan gadis itu.
“Gue juga nggak sudi kehilangan lo.” Katanya menyuarakan pemikirannya.
“Ngomong sana sama tembok.” Jawab El dengan memicing, “Lepasin! gue mau pulang.” El memang terlihat biasanya saja, tak berusaha juga untuk melepaskan cekalan dari Rigel, tapi ekspresinya kaku dan sebal sekali terlihat.
“Kita belum bicara apapun.”
“Waktu lo udah habis untuk bicara sama gue.”
“El!”
“Lo pikir dengan lo merajuk, gue bakal bujukin lo?” El menyeringai, “Itu nggak akan mungkin terjadi, Dude.” Katanya lagi.
“Lepasin! Gue udah nggak mood lagi bicara sama lo.”
“El!”
“Lo nggak denger gue?” El menarik sampai lepas cekalan Rigel di tangannya, “Gue udah nggak mood lagi bicara sama lo. Kalau udah mau ngobrol sama gue, tunggu sampai mood gue benar-benar baik.” Kemudian El berlalu begitu saja dari sana. Tanpa lagi menoleh ke belakang. Padahal, Rigel bahkan mengejar El yang berjalan cepat.
“El balik dulu, Tante.” Pamit El ketika bertemu dengan ibu Rigel di ruang keuarga.
“Lho!” perempuan itu berdiri cepat karena merasa heran, “Tante udah buatin kamu kue, masih di oven belum matang. Masa udah mau pulang?” ibu Rigel juga menatap putranya itu dengan bingung.
“El udah nggak mood lagi karena seseorang, Tante. Bukan nggak mungkin kalau nanti El bakalan murka dan menghancurkan apapun kalau tetap di sini.” El tak akan menutupi apapun yang sedang dipikirkan dan ibu Rigel memang sudah tahu bagaimana tabiat El yang memang keras.
“Kamu ini gimana sih, Gel.” Beliau menatap putranya, “El pulang sekolah nyempatin kesini buat jenguk kamu, kamunya malah kayak gitu.”
“Udah lah, Tante, nggak papa. El pamit aja. Salam sama Om kalau pulang nanti.” Katanya dan mengambil tangan ibu Rigel kemudian menciumnya.
Keluar begitu saja dari rumah Rigel. Rigel tak tinggal diam, lelaki itu mengejar El dan lagi-lagi mencekal tangan gadis itu. “Gue anterin.” Katanya.
“Gue punya uang kalau cuma pesen ojek ataupun taxi, lo nggak perlu sok baik sama gue.” Sinis El yang sama sekali tak mau menatap Rigel. Beginilah El kalau sudah moodnya hancur, bujukan dalam bentuk apapun tak akan mempan. Meskipun Rigel adalah pawang dari El, tapi pawang itu sendiri yang telah berbuat ulah.
“Gue tahu kalau lo punya duit, tapi__”
“Bye.” El kembali menarik tangannya dengan kasar dan berjalan dengan cepat bahkan berlari kecil untuk pergi dari pelataran rumah Rigel. Masa bodoh dengan Rigel yang kelimpungan karena hal itu. El sama sekali tak peduli.
El tak langsung memesan ojek untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Dia justru tengah berjalan dengan santai untuk sampai di gerbang perumahan Rigel sambil menghubungi Odel.
“Gue beneran marah sama dia.” Adunya kepada kekasih kembarannya itu, “Dikira gue ini pelampiasan kemarahan dia apa, enak aja.” Sepanjang jalan, dia terus mengatakan hal yang tidak-tidak terkait Rigel.
“Masa bodoh sekarang dia punya masalah apa. Nanti, lo aja yang tanya sama dia. Gedek banget gue sama dia.” Setelah itu bahkan tanpa menunggu Odel menjawab, dia mematikan ponselnya begitu saja. Kembali berjalan dan berfikir dia akan pulang naik apa sampai ke rumah. Kalaupun dia mau, dia bisa menghubungi sopirnya, tapi dia tak ingin merepotkan mereka.
Hadangan di depannya membuat El hampir menyumpahi pelakunya. Entah dari mana datangnya, Orion tiba-tiba ada di depannya sekarang.
“Orion?”
“Hai!” kata lelaki itu sambil tersenyum. “Ngapain jalan sendirian? Kalau lo tadi minta temenin, gue bakalan siap nemeni lo kok.”
“Gombalan dari mana itu?” bukannya menanggapi dengan senang, jawabannya malah seperti itu.
“Itu serius, bukan gombalan. Jadi, Tuan Putri, mau saya antar jalan-jalan?”
“Dia pulang sama gue.” Dan Rigel tiba-tiba juga muncul dan menjawab ajakan Orion dengan wajah yang kaku. El benar-benar dihadapkan oleh situasi yang memusingkan sekarang
*.*