Blind Love

Blind Love
BAB 5



Sore itu kutunggu kedatangan Jono di halte samping sekolah bersama Cilla. Sekarang Jono tidak lagi menungguiku sepanjang hari. Tugasnya hanya mengantar-jemputku ke sekolah selagi masa cutinya belum berakhir.


Sebuah Kijang Innova—mobil Nenek—berhenti tepat di depan kami sebelas menit kemudian. Tak lama, pengemudi mobil tersebut menurunkan kaca di sampingnya. Memperhatikan kami dari balik kaca mata hitam trendy yang dikenakannya.


“Kak Jovan!” sapa Cilla ceria. “Kapan nyampe ke sini?”


“Kamu ... Cilla?” tanya Jono ragu. Cilla mengangguk kencang. “Belum lama, kok. Seminggu juga belum.”


Aku bergegas membuka pintu belakang mobil dan mendaratkan pantatku di sana. Cilla dan Jono masih berdiskusi cukup panjang sampai akhirnya Jono mempersilakan cewek itu ikut masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di jok depan sedangkan aku sendirian di belakang.


Cilla mengoceh di sepanjang perjalanan dengan riang. Sedangkan Jono bersikap sebaliknya. Ia yang biasanya cerewet kini lebih banyak diam. Sok jaim. Bicara seperlunya dan tertawa renyah saat Cilla melucu garing.


Bosan melihat dua sejoli aneh tersebut, aku menoleh ke luar jendela. Memperhatikan relief-relief pewayangan yang diukir di sepanjang tembok Situ Buleud, juga orang-orang yang tengah bersantai di sekitarnya. Tempat ini memang selalu ramai. Apalagi di hari Minggu. Walau sudah muncul larangan berjualan di trotoar, rupanya masih banyak pedagang yang membandel. Berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan.


Begitu mobil berbelok ke Pasar Jumat, mataku terbelalak lebar. “Uh, sial. Macet.”


***


“Baru pulang?” Raka menyapa dari halaman rumahnya. Tembok pembatas rumah kami sengaja dibuat rendah agar memudahkan komunikasi antar tetangga. Cowok itu menempelkan kedua tangannya di atas tembok pembatas.


“Iya,” jawabku singkat. Kupaksakan mengulas senyum tapi malah tampak seperti seringaian. Saat ini aku sangat capeeek sekali. Lalu lintas macet membuat perjalanan menuju rumah Cilla yang tak seberapa jauhnya dari sekolah menjadi amat sangat lambat. Pantatku sampai keram akibat duduk terlalu lama.


“Alexa, ke sini sebentar coba. Mama nitip sesuatu buat kamu.”


Aku melangkah malas-malasan menghampirinya. “Apa?” tanyaku setelah berada di dekat Raka. Ia memintaku menunggu sebentar sementara ia berlari kecil ke dalam rumah. Begitu kembali, di kedua tangannya telah tersaji sebuah piring berisi makanan. Pasti makanan, mana mungkin ibu Raka menaruh sepatu di atas piring.


“Itu apaan?”


“Bacang, makanan kesukaan kamu.” Raka mengulurkan piring tersebut kepadaku. “Mama beli di Pasar Rebo tadi siang.”


Bacang? Mmmhh ... I love bacang. Dalam sekejap, piring beralih ke tanganku.


“Tumben mama kamu ke pasar? Biasanya juga ke swalayan,” tanyaku setengah menyindir. Rasanya mustahil wanita sosialita macam ibu Raka rela berbecek-becekan di pasar tradisional.


Raka memasang tampang sok imut dan berkata, “Apa sih yang nggak buat kamu?”


“Ya ampun, gombal banget kamu,” kataku berusaha terdengar normal. Namun entah mengapa ucapan Mama semalam terngiang kembali. Kurasa kebaikan ibu Raka sore ini ada sangkut pautnya dengan perasaan Raka padaku.


“Kamu pasti capek,” ujar Raka lembut. “Istirahat dulu sana!”


“Iya, mau. Eh, makasih, ya?” Aku mengangkat piring di tanganku setinggi dada. Raka mengangguk halus dan tersenyum. Senyumannya mengiringi langkahku menuju rumah.


***


Sehabis mandi, segala benda yang berjejalan di dalam tas kukeluarkan. Buku tulis, tempat pensil, buku paket, dan ... gawai. Oh iya, dari tadi aku belum sempat mengecek gawai. Jangan-jangan SMS dari Rifa sudah menumpuk.


Nah, benar kan, ada lima SMS dari Rifa. Masing-masing pesan berisi hal yang sama: ia ingin memastikan aku sampai ke rumah dengan selamat.


Tersenyum, jariku menekan tombol gawai dalam gerakan teratur.


Aku: Maaf, aku lupa dari tadi gak lihat HP. Aku udah nyampe ko, dan masih sehat sentosa:)


“Oke, waktunya belajar,” bisikku pada diri sendiri.


Buku tulis yang baru saja kukelurkan dari dalam tas kini bertengger manis di atas meja belajar. Tidak ada ulangan untuk besok, aku hanya menjalankan kewajiban sebagai pelajar.


Mataku menyapu kalimat demi kalimat yang tertulis di dalam buku paket. Sesekali manggut-manggut, pura-pura mengerti padahal masih bingung. Dalam heningnya kamar, sayup-sayup telingaku menangkap suara lembut Hyde. Alunan Hitomi no Jyuunin serta merta memenuhi seluruh ruangan. Aku terkesiap, ini nada dering khusus untuk Rifa.


“Halo.” Aku menempelkan gawai di telinga kanan.


“SMSku baru dibalas?” tanya Rifa retoris, lupa menjawab sapaanku.


“Oh, itu. Aku kan udah bilang lupa gak ngecek HP. Lagian aku baru selesai mandi.”


“Apa kamu marah karena aku gak nemenin kamu tadi?” selidiknya.


Perutku tergelitik mendengar spekulasi berlebihan Rifa. “Haha, mana mungkin aku marah gara-gara hal sepele kayak gitu?”


Suara desahan napas lega terdengar di ujung sana. “Hmmm … syukurlah kamu baik-baik aja. Oh ya, kamu jangan lupa belajar. Jangan nonton youtube terus!”


“Iya, Fa. Ini aku lagi belajar,” ujarku dengan senyum tersungging lebar. Mendengar petuah Rifa seperti suntikan morfin bagiku. “Kamu juga jangan lupa belajar.”


“Tentu saja, Sayang,” balasnya. “Mmm … besok aku jemput kamu ke sekolah, ya?”


Aku melongo.