Blind Love

Blind Love
Kisah 10



Virgo berjalan cepat untuk sampai ke ruangannya. Dia selalu berusaha untuk tak terlambat meskipun memang jam kantor sudah berlalu beberapa jam yang lalu. Orang-orang sedang sibuk bekerja dan suasana kantor juga terlihat lengang.


Masuk ke dalam ruangan yang hanya lima orang itu dia langsung mendapat pusat perhatian. “Siang!” cengirnya kepada orang-orang di sana. Pun dengan Nino yang dengan santai duduk di kursinya. Nino sebenarnya memang sudah menjadi kepala bagian, karenanya dia memiliki ruang yang sedikit lebar dari yang lain.


“Gue telat nggak, Bang?” Virgo duduk di mejanya yang berdekatan dengan meja Nino dan meletakkan tasnya.


“Kalau lo tanya telat, lo udah telat berjam-jam yang lalu.” Jawab Nino dengan santai, “Lo santai sebentar dulu deh. Sebentar lagi kita mau meeting.” Lanjut Nino. Virgo menurut tanpa bantahan sama sekali. Lelaki itu lebih dulu menghidupkan komputernya. Ini adalah kali pertama Virgo mengikuti meeting yang akan dilakukan oleh Nino dan team.


Ada perasaan yang exited dirasakannya karena hal itu. Ada yang bilang, jika tim yang pimpin oleh Nino ini adalah team yang solid. Bukannya di departemen lain tak memiliki kekompakan yang sama, tapi entah kenapa, tim Nino lah yang medapatkan pujian dari banyak orang di perusahaan tersebut.


“Ini adalah kali pertama Virgo ikut dalam meeting kita,” meeting dimulai dengan Nino yang memulai berbicara, “Selamat datang, Virgo, semoga kamu betah bekerja di sini dan menjadi asisten saya.” Dibarengi senyum kecil dari lelaki itu.


Virgo ikut tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, semoga kalian mau direpotkan sama saya yang amatiran ini.” Jawabnya dengan santai.


Kemudian meeiting benar-benar di mulai. “Aplikasi yang kita pakai sebagi bekerja ini sepertinya memang harus ada pembaharuan.” Nino memulai, “Kita harus bisa membuat untuk memudahkan orang lain untuk mengaksesnya. Kita sudah membuat ini mudah dan mendapatkan banyak komentar baik dari pelanggan, dan kita harus lebih meningkatkan lagi.”


“Gue juga setuju, Bang.” Salah satu team menjawab persetujuannya, “Karena ketika memudahkan customer mengakses dan masuk ke perusahaan kita, itu akan meningkatkan daya jual yang baik.”


Virgo mendengarkan dengan seksama apa yang sedang mereka bicarakan, karena pasti dia belum memiliki bahan apapun untuk memberikan komentar. Otaknya masih mencerna banyak hal dengan apa yang sedang mereka rundingkan.


Di sinilah Virgo bisa belajar dengan orang-orang hebat ini. Dia banyak mendengarkan meskipun dia belum bisa mengatakan banyak hal. Virgo sudah mengakui jika dia adalah amatiran. Karena itu semua orang harus menyadarinya.


“Inilah kenapa team Abang selalu mendapatkan pujian dari departemen lain katanya solid.” Mereka sudah berada di kantin karena memang sudah waktunya makan siang. Virgo duduk dengan Nino saling berhadapan.


“Gue sebenernya juga nggak tahu awalnya kenapa tim yang gue pimpin selalu mendapatkan pujian dari orang lain. Tapi gue juga seneng aja sih dapat komentar seperti itu dari mereka.” Kekeh Nino.


“Tapi, Bang, kenapa waktu perusahaan hampir bangkrut, Abang malah menghubungi gue? Kan yang lain pasti lebih hebat dari gue?” itu adalah keheranan Virgo karena merasa tak paham dengan pemikiran Nino.


“Mereka juga bekerja keras. Ketika kita di ruangan Pak Wondo waktu itu, mereka bekerja sangat keras dan mencari pelakunya. Karena sebagai informasi saja, lelaki jahat itu sudah ditemukan oleh mereka.” Virgo jelas tak paham dengan hal itu karena dia tak memikirkan tentang virus tersebut setelah dirasa sudah hilang dari system yang dipakai oleh perusahaan.


“Keren.” Acungan jempol itu diberikan oleh Virgo karena memang dia merasa takjub, “Jadi siapa pelakunya, Bang?”


“Dia hanya orang pintar yang suka sekali berbuat ulah. Tapi lo tenang aja, karena gue dan anak-anak sudah membuat perlindungan agar kita nggak kebobolan lagi, dan gue dapat banyak duit dari Pak Wondo sebagai bonus. Bukan gue aja sih, teman-teman yang lain juga.”


Pekerjaan mereka memang membutuhkan otak yang cerdas, tapi imbalan yang didapatkan jelas tak sedikit. Dan Virgo semakin bersemangat dengan ini sekarang. Dia benar-benar akan bekerja sambil belajar dengan sungguh-sungguh.


*.*


Virgo sampai rumah ketika sudah pukul lima sore. Dia mendapati istrinya duduk di depan rumah sambil bersender di dinding dan memainkan ponselnya. Virgo tak paham apa yang sedang perempuan itu lakukan di sana, maka setelah dia turun dari motornya, dia bertanya pada sang istri.


“Ngapain, Yang?” ikut duduk di samping Libra, lelaki itu mengikuti istrinya yang menyederkan tubuhnya di dinding.


“Nungguin suami pulang.” Libra tersenyum menjawab pertanyaan suaminya, “Ternyata duduk-duduk di sini waktu sore begini, enak juga lho, Yang.” Senyum itu masih melekat di bibir Libra. Sepertinya memang suasana Libra sedang baik sekali sekarang.


Tapi Virgo jelas tak akan puas jika tak bertanya, “Kayaknya kamu seneng, Yang hari ini. Ada yang special?” tanyanya untuk memastikan.


“Nggak ada. Tapi masa kamu datang kerja aku manyunin sih?” jawab Libra dengan santai, “Masuk, yuk.” Libra lebih dulu berdiri dan menarik tangan Virgo agar lelaki itu ikut berdiri. Setelahnya, mereka masuk ke dalam ruamah dan Libra langsung mengambilkan air putih untuk sang suami. Dia benar-benar berperan dengan baik sebagai seorang istri.


“Terima kasih.” Virgo menenggak habis minuman itu dan meletakkan di atas meja, “Sabtu nanti nggak papa kalau aku ikut pertandingan basket?” setelah Virgo memikirkannya, tak ada salahnya jika dia ikut bertanding meskipun hanya pertandingan persahabatan dengan kampus lain.


“Aku udah lama nggak lihat kamu main basket. Mungkin kamu bisa bertading lagi dan memenangkan pertandingannya.” Itu adalah kata perizinan yang diberikan oleh Libra untuk sang suami. Dan Virgo mengangguk sebagai persetujuan.


Maka ketika hari sabtu datang, dan dia sudah memberi tahu kakak tingkatnya untuk ikut serta dalam pertandingan tersebut, dia disambut dengan suka cita oleh mereka. Disinilah mereka sekarang. Libra jelas saja ikut untuk menontong pertandingan. Ditemani oleh Tere dan Edo, tak lupa Sam, Rai, dan Baro juga ikut datang untuk menyemangati Virgo.


Virgo sudah memakai seragam basket dari kampusnya dengan nomor punggung 05. Nomor punggung yang sejak dulu selalu digunakan. Dia tak berganti nomor punggung karena dia merasa jika 05 adalah jiwanya dalam bermain basket. Dan lagi-lagi itu hanyalah pemikiran Virgo saja.


Libra dan teman-temannya sudah duduk di tribun penonton dengan membawa balon untuk penyemangat buat sang suami. Sepuluh menit sebelum pertandingan, Virgo berlari melewati lapangan untuk mencari Libra. Tere yang mengetahui itu memanggil lelaki itu dan memberi tahu keberadaan mereka.


Virgo mengangguk sedangkan teriakan itu semakin menggema karema melihat Virgo yang begitu menawan dengan kostum basketnya. Pakaian itu berwarna biru. Virgo masih menggunakan dalaman berwarna putih karena tidak mungkin dia menunjukkan tubuhnya kepada semua orang. Sejak dulu memang seperti itulah dia.


“Yang!” sampai di samping Libra, dia berjongkok dan dengan otomatis, Tere yang duduk di samping Libra bergeser untuk memberi Virgo tempat.


Libra tersenyum, “Udah siap?” tanya perempuan itu. Jelas saja mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Tak merasa perlu menutupi rasa penasaran mereka, semua orang menatap dua orang itu dengan terang-terangan sambil berbisik-bisik.


Ini adalah dua kalinya Libra menonton Virgo bertanding basket. Pertama kali ketika mereka masih cuek satu sama lain waktu itu, dan ini dua kalinya.


“Rada deg-degan.” Jawabnya dengan mengenggam erat tangan Virgo. Pertandingan seperti ini memang lama dia tak melakukannya, tapi jika berlatih, tentu saja dia sering melakukannya.


“Doaku menyertaimu.” Goda Libra, “Nggak perlu khawatir.” Libra menepuk-nepuk pelan pipi Virgo sebagai penyemangat.


“Cium dong, Yang.” Bisiknya dengna pelan di telinga Libra yang membuat perempuan itu memukul pelan paha Virgo, “Nggak usah macem-macem.” Katanya dengan memicingkan tatapannya.


“Ish, serius aku ini.” Katanya dengan tak tahu malu.


“Kamu harus menag, kalau kamu menang, kamu bisa cium aku sepuas kamu mau.” Itu bagi Virgo adalah tantangan. Karenanya Virgo menyeringai.


Meskipun desisan itu terdengar di telinga Virgo, tapi lelaki itu sama sekali tak peduli dengan hal itu. Berjalan santai sambil tersenyum penuh dengan kemenangan ketika sudah berada di bawah. Jenis senyum menyebalkan di mata Libra.


Mungkin Virgo bisa cuek saja dengan pandangan orang lain terhadap apa yang baru saja dilakukannya, tapi tentu saja tidak dengan Libra yang rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya saja ke dalam tanah agar pandangan penasaran itu tak diberikan kepada dirinya.


Pertandingan dimulai dengan peluit yang berbunyi nyaring. Karena posisi Virgo bukanlah kapten basket, dia tak melemparkan bola di awal pertandingan. Namun dengan cepat tanggap dia bisa menguasai bola dan melemparkan ke ring lawan. 1 : 0 terlihat di layar monitor dan teriakan semangat itu benar-benar menggema.


Virgo lagi-lagi mendapatkan perhatian lebih dari banyak orang karena kelincahan yang dimilikinya. Pertandingan kali ini benar-benar seru sekali. Teriakan para supporter menggema dengan keras tanpa merasa takut suara mereka akan habis karenanya.


Ketika Virgo mencetak skor, gaungan teriakan yang diberikan oleh para supporter benar-benar tak bisa santai. Libra yang melihat itu jelas saja merasa bangga. Dia tak kalah kerasnya suara yang dikeluarkan.


Dan kekonyolan Virgo keluar, dia mendekati tribun dan memberikan pelukan jarak jauh untuk sang istri dan di balas dengan hal yang sama oleh Libra. Melupakan semua orang yang yang menyorakinya. Bagi Virgo, itu bukan masalah besar. Karena dia sama sekali tak peduli sama sekali.


Dan Virgo mendapatkan banyak perhatian lagi ketika pertandingan itu dimenangkan oleh kampusnya dan dia adalah top skornya, atau pencetak skor terbanyak. Dia diagungkan karena hal itu. Ketika pertandingan selesai dan semua orang merayakan kemenangannya di tengah lapangan, Virgo justru lagi-lagi mendekati tribun dan meminta Libra untuk turun dari tempat duduknya.


Libra menggeleng untuk menolak, tapi Virgo bersi kukuh untuk memaksa. Virgo berkacak pinggang dengan mata memicing menatap Libra. Dan hal itu membuat Libra mendengus jengkel. Sam bahkan dengan kampetnya mengompori, “Turun… Turun… Turun…” begitu katanya dengan menyebalkan.


Libra turun dan berdiri di depan Virgo. Dan itu membuat Virgo tersenyum kecil melihat tingkah Libra gadis itu cemberut karena benar-benar merasa jengkel dibuatnya.


“Mana kiss ku?” tanyanya dengan santai. Libra melototi Virgo,


“Nanti kalau di rumah,” ucapannya itu bahkan sama sekali tak terdengar oleh orang lain selain Virgo.


“Kalau begitu biar aku yang melakukannya,” Virgo menarik Libra sampai perempuan itu menabrak dada lelaki itu. Kemudian berbisik, “Adegan kayak gini itu sedang popular di drama Korea kan, Yang?” tentu saja Virgo tak mencium Libra di khalayak ramai, karena lelaki itu hanya membutuhkan pelukan saja dari sang istri.


Sorakan masih mengema karena Virgo. Karena tak ingin sang istri malu jika harus kembali duduk di tribun, maka dia menarik Libra dengan pelan setelah pelukan mereka terlepas.


“Duduk di sini saja.” Katanya dengan ringan. “Kamu pasti akan ditanyai yang enggak-enggak sama orang-orang.”


“Kamu lah lah buat kaya gini,” Libra cemberut. Wajahnya masih memerah keren malu.


Bukannya meminta maaf, Virgo malah terkekeh. “Duh, cintaku. Jadi gemes aku dibuatnya.” Dicubit pipi Libra dengan gemas sambil tersenyum.


“Vir!” Doni, kakak tingkatnya datang dengan beberapa teman yang lain, “Kalau gue boleh bilang, lo beneran jago banget. Sayang banget kalau lo nggak mau masuk ke club basket.” Katanya.


“Gue nggak masuk club basket kan bukan berarti gue nggak Latihan, Bang.” Jawabnya. “Gue masih Latihan terus kok.”


“Gue beneran pengen lo masuk club, Vir, serius.” Katanya masih mencoba peruntungan. Namun Virgo hanya tersenyum.


“Gue belum bisa, Bang. Gue juga serius masalah ini.” Virgo tak akan main-main dengan apa yang dikatakannya. Dia tak suka didesak.


“Oke!” putus Doni mengalah, “Tapi club ini terbuka buat lo.”


“Terima kasih.” Mendapatkan kesempatan seperti itu memang hal yang membahagiakan. Tapi bagi Virgo, dia masih memiliki hal yang lebih penting.


“Lo bersihin badan lo dulu lah kalau gitu, setelah kita makan-makan merayakan kemenangan kita.” Doni terliahat senang sekali dengan kemenangan kali ini. Dan dia juga bangga melihat Virgo sekarang.


Virgo berlalu dari sana sebelum memastikan Libra akan kembali bergabung dengan teman-temannya, atau ikut dengannya. “Kamu mau kembali sama Tere?” tanyanya, “Boleh nggak kalau aku duduk di sana aja?” Libra menunjuk sebuah kursi kosong di dekat tangga.


“Oke. Aku mandi dulu kalau gitu.”


“Aku bawa barangmu ke sana ya.” Libra membawa tas olahraga milik Virgo setelah Virgo mengangguk.


Menunggu suaminya sendirian memang lebih baik daripada harus mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang di sana.


Tere – Ngapain lo di sana sendirian?


Chat masuk dari Tere dan membuat Libra menghela nafas berat.


Libra – Nungguin Virgo mandi. Daripada di sana nanti gue pasti dilihatin orang-orang itu kaya gue ini pencuri aja


Tere – Emang lo jadi topik hangat sih


Libra – Virgo ini gara-garanya


Tere – Nanti gue bilangin mereka bilang apa


Libra hanya mengela nafas saja ketika memikirkan entah perkiraan seperti apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Ini benar-benar membuat malu saja memang.


“Yang, kamu mikirnya gitu amat sih? Sampai mengkerut lho itu dahinya.” Virgo sudah datang dengan wajah segar. Yang hanya dibalas dengusan oleh Libra.


*.*