Blind Love

Blind Love
Lanjutan 9



Mood Love terjun bebas  kali ini. Bahkan seorang Aksa saja belum mampu meluluhkan hati perempuan itu. Dengan apa yang terjadi siang tadi membuat Love tak mampu menahan rasa kesalnya. Apapun yang tak mencocoki hatinya dia marah dan meledakkan emosinya.


“Bisa kamu tahan amarah kamu?” Aksa tak tahan dengan kemarahan sang istri. “Mbak, nggak terlibat dalam masalah yang perempuan tadi bawa, jadi kenapa dia juga ikut mendapat semprot dari kamu?” selesai makan malam, Aksa menumpahkan semua kata yang ditahannya sejak tadi.


“Kalau kamu mau marah, marahi saja aku. Jangan orang lain yang bahkan nggak tahu apapun.”


“Mas juga nggak tahu apapun.” Bahkan dia tak mau menatap Aksa.


“Dari sisi mana aku nggak tahu?”


“Kalau, Mas tahu, Mas pasti akan membela aku. Mengeluarkan kata yang akan menyakiti orang itu. Tapi, Mas diam saja, nggak seperti biasanya


yang akan membelaku.” Aksa menatap perempuan itu dalam tak memahami kenapa kali ini dialah yang bersalah.


“Jadi kali ini aku yang salah?” lelaki itu hanya meyakinkan dirinya jika tuduhan yang istrinya berikan kepadanya itu hanyalah perkiraan


saja.


“Bukan.” Kali ini Love benar-benar menatap sang suami dengan mata memerah. “Ini salahku karena aku meladeni orang seperti itu. Yang mungkin saja nggak akan pernah ketemu lagi atau bahkan dia hanya membual. Tapi


sayangnya perasaanku mengatakan hal yang sebaliknya. Dan aku benci ketika aku harus merasakan perasaan tak nyaman seperti ini.”


Ini kali pertama Aksa melihat istrinya yang tak seperti biasa. Jika Aksa bisa bersikap biasa saja, mungkin itu wajar, karena dialah yang diincar. Seandainya Love yang diincar, mungkin lelaki itu pun akan melakukan hal yang sama.


“Tenanglah.” Ditariknya perempuan itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. “Semua akan baik-baik saja.” Aksa mampu menenangkan istrinya akan hal itu untuk kali ini, tapi ketika ucapan perempuan itu diwujudkan olehnya, Aksa bahkan tak tahu harus berbuat apa untuk membuat sang istri tenang.


Karena ternyata, perempuan asing itu merealisasikan ucapannya.


Namanya Windy, dia perempuan berumur 27 tahun yang artinya seumuran dengan Love. Dia adalah putri dari pemilik perusahaan sebuah aplikasi ‘News and Life’ yang selalu meliput kehidupan orang-orang hebat Ibu kota.


Dan tanpa kesulitan, dia mencari tahu tentang kehidupan Aksa dan Love lewat orang-orang ayahnya. Membuat gossip yang menyebarkannya lewat media online dan dengan cepat, media tersebut di tonton oleh jutaan orang.


‘Pewaris dari perusahaan besar, sedang menjalin hubungan dengan perempuan lain dengan berselingkuh’


‘Aksa Arion Ganendra, diduga berselingkuh dengan perempuan lain.


Ketika satu media meluncurkan satu berita, maka media lain juga akan melakukan hal yang sama dengan memberitakan masalah yang sama tanpa ada bukti yang dicari terlebih dahulu. Dan ketika berita itu menyebar bak virus


mematikan, GN grup benar-benar mendapatkan masalah besar.


Bahkan saham yang selalu naik kini turun dengan tak tanggung-tanggung.


“Apa yang sebenarnya terjadi.” Kedua orang tua Aksa langsung mengadakan meeting kecil-kecilan untuk mengetahui asal muasal berita tersebut. Dan kini Daka yang bersuara terlebih dahulu.


Love hanya diam dengan wajah kaku dan rahang mengetat. Dia belum mencari tahu bagaimana berita ini dapat menyebar dan dia juga belum tahu siapa yang menyebarkan berita tak berdasar seperti ini. Tapi hatinya menduga dan mengatakan jika perempuan itulah yang melakukannya.


Orang asing yang sanggup melakukan ini.


“Ayah sudah meminta orang untuk menyelidiki asal muasal berita ini dapat menyebar seperti ini. Dan mereka masih berusaha.” Lanjut Daka


lagi.


Yang dikhawatirkan Aksa hanyalah istrinya, ketidak tenangan itu juga yang dirasakannya sekarang.


“Aku nggak punya musuh seingatku. Tapi kalau ada berita seperti ini, mungkin adalah ulah orang-orang yang tidak menyukaiku.” Mendadak Aksa terlihat tolol sekarang.


“Love!” itu adalah suara Kenya. Pasalnya menantunya itu tak kunjung membuka suaranya, karena itu dia berinisiatif untuk berbicara terlebih dahulu.


“Aku baik-baik aja, Bun.” Ditatapnya dengan mata yang terlihat menahan luka. “Aku tahu ini akan menyakitiku, tapi aku akan nggak akan


tinggal diam. Aku tahu siapa yang melakukannya.”


“Kamu yakin?”


Anggukan yang diberikan oleh Love itu tak membuat Kenya maupun Daka lega. “Sayangnya ini akan sulit. Dia hanyalah orang asing.” Kedua mertua Love itu saling menatap satu sama lain dengan apa yang didengarnya.


“Maksud kamu?” Daka yang berucap.


Kemudian cerita hari itu mengalir begitu saja dari Love. Kedua mertuanya mendengarkan dengan seksama tanpa menyela sedikitpun. Dan ketika cerita itu selesai, suasana di ruangan itu hening seolah mereka tengah bersemedi.


“Ayaaah!” dan suara itu datangnya dari Avez yang tengah berlari untuk menunjukkan seekor binatang kecil yang berhasil ditangkapnya.


“Mut.” Katanya sambil menunjukkan seekor semut yang sedang kejang-kejang di berikan kepada Aksa, bahkan sambil terkekeh juga bocah itu. Seolah dengan mendapatkan binatang kecil itu, adalah hal yang luar biasa.


“Adek dapet semut dari mana?” Aksa menanggapi dengan gemas.


“Ono. Ojok.” Tunjuknya di manapun yang ayahnya bahkan tak akan tahu karena dia menunjuk secara random.


“Cari semut lagi ya.” Perintah Aksa secara halus dan mendapatkan anggukan dari putranya.


Mereka akan membahas hal yang penting, dan lebih baik Avez tak mendengarkan pembahasan mereka. Meskipun bocah itu tak akan paham tentang apa yang para orang tua itu rundingkan, tapi Aksa tak mau putranya mendengarkan pembicaraan yang seharusnya memang tak boleh dia dengarkan.


*.*


“Jadi ini kantor anda.” Sungguh luar biasa sekali perempuan bernama Windy itu. Dengan tekat yang kuat, dia seolah menjadi perempuan yang bersedia menjadi bahan gosip untuk orang-orang yang bekerja di GN grup dengan


kedatangannya di gedung tersebut.


Aksa hanya memandangi perempuan tersebut dengan tatapan datar dan tajam. Meskipun perempuan  itu dengan gaya sok anggunnya, tapi Aksa sama sekali tak tertarik.


“Anda pasti memiliki uang yang sangat banyak, penerus dari kerajaan bisnis GN grup,” Windy bertepuk tangan seolah itu sangat menakjubkan


baginya. “Tapi sayangnya, berita tak mengenakkan itu pasti benar-benar


mengganggu anda, terutama istri anda.” Seringaian itu tercetak jelas di wajah perempuan itu.


“Saya memang tak memiliki kerajaan bisnis sebesar ini, tapi saya bisa membuat kerajaan bisnis sebesar ini menjadi kalang kabut.” Windy


melipat kakinya dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.


“Astaga, anda benar-benar tampan, pantas saja istri anda begitu takut kehilangan anda.” Kekaguman perempuan itu memang tidak bisa


tertutupi oleh apapun.


“Sebenarnya apa yang membuat anda berpikir datang kemari?” show time, begitulah pikir Aksa. Dia diam sejak tadi, dan kali ini dia akan meladeni perempuan tersebut.


“Menjalin silaturrahmi?” wajah Windy benar-benar menyebalkan di mata Aksa, dan dia ingin sekali melemparkan apapun yang ada di mejanya rasanya saking kesalnya. Namun tidak, dia tak boleh melakukan itu. Perempuan


itu bermain dengan halus, dia pun harus melakukannya dengan lembut juga.


Windy mengedikkan bahunya tak acuh. “ Entahlah,” katanya santai. “Sejak saya melihat anda waktu itu, saya merasa jika saya benar-benar merasa ada yang berdegup di jantung saya. Jatuh cinta kah saya kepada anda?” untuk perempuan ‘normal’ pertanyaan seperti itu memang akan sangat memalukan. Tapi bagi Windy? Entahlah apa yang sedang ada di dalam otak perempuan itu. Mungkin


saja apa yang dikatakan oleh Love memang benar, jika perempuan itu memang butuh


dibawa ke rumah sakit untuk memeriksakan kepalanya.


“Begitu?” Aksa seolah tak sedang berbicara dengan orang yang sedang mendekatinya. “Jadi apa yang anda inginkan dengan mengatakan hal itu kepada saya?” tantangnya.


“Ini yang saya suka dari orang-orang berkelas tinggi seperti anda.” Pandangannya tak putus di wajah Aksa. “Saya belum menginginkan apapun dari anda, mungkin nanti saya akan mengatakannya apa yang saya inginkan.” Windy


berdiri.


“Sepertinya sudah cukup pertemuan kita kali ini, saya akan kembali lagi nanti.” Pamitnya dengan wajah sok polos. Berbalik dan melangkah


untuk keluar dari ruangan Aksa diikuti pandangan datar dari lelaki itu.


Aksa sama sekali tak merasa gentar dengan masalah yang perempuan itu buat untuknya, dia merasa cukup kuat untuk menghadapi perempuan seperti itu. Kata orang, ujian paling berat dalam rumah tangga adalah munculnya orang ketiga, atau terjadi perselingkuhan. Tapi dia tidak melakukan hal itu, jadi untuk apa dia takut.


Tapi sayangnya, ketidak peduliannya dengan masalah yang dihadapi sekarang berbanding terbalik dengan Love yang begitu marah ketika


Damar—sekertaris Aksa mengatakan jika ada seorang perempuan datang ke ruangan


Aksa. Ketika Love menanyakan apakah Damar pernah melihat perempuan itu sebelumnya? Jawaban Damar adalah tidak.


Jadi dari sisi mana Love tidak merasa ubun-ubunnya panas mendengar hal itu.


“Jadi dia datang ke kantor?” Love langsung menelpon suaminya untuk mengkonfirmasi kebenaran berita yang didapatnya dari Damar.


“Iya.” Bagi Aksa, dia tak perlu menutupi hal itu dari sang istri. Kalaupun bukan Damar, pasti istrinya memiliki mata-mata lain di kantor.


“Apa yang kalian bicarakan?”


“Apa kita akan membahas ini sekarang, ketika masih jam dua siang?” maksud Aksa adalah dia masih harus bekerja, dan mengatakan secara tidak langsung agar istrinya itu juga bisa mengerti.


“Iya. Aku mau tahu sekarang.” Putus Love keras kepala.


Aksa memijat pangkal hidungnya karena merasa lelah, tapi tak


tahu dia lelah di bagian mana. “Dia bilang, dia suka sama aku.” Itu adalah awalan saja. “Dia juga akan kembali lagi nanti ke sini.” Love mencengkram ujung kursi yang di dudukinya.


“Apa dia harus mengatakan segamblang itu? Sialan.” Bahkan tanpa sadar Love mengatakan ucapan ‘kasar’ yang selama ini tak pernah sekalipun dia ucapkan. Apalagi sekarang di dengar langsung oleh suaminya, seolah dia


mengatakan itu untuk Aksa.


“Kita bicara lagi nanti.” Aksa tanpa meminta persetujuan dari istrinya memutus sambungan telponnya. Dia tidak ingin kehilangan kendali


juga karena ucapan kasar Love. Meskipun sekarang dia merasa ikut marah, tapi


jangan sampai emosi menguasai dirinya.


Di seberang sana, Love merasa bersalah karena membiarkan pengendalian dirinya lepas begitu saja. Merutuki bibirnya yang mengatakan hal kasar kepada sang suami. Tak ingin Aksa semakin murka, dia mengirimkan pesan kepada


lelaki itu, ‘Aku minta maaf, aku kalut dan aku bersalah. Maaf’. Begitu tulisnya.


Menunggu hari ini terasa lama bagi Love, yang ada di dalam otaknya adalah dia ingin segera bertemu dengan sang suami, meminta maaf, dan kemudian berbaikan, barulah dia mengintograsi lelaki itu secara detail


pembicaraan suaminya dengan Windy. Dia benar-benar merasa sangat penasaran


sekali rasanya. Seharian ini dia bahkan tak konsentrasi melakukan apapun. Hanya


bersama putranya dan menuruti kemanapun bocah itu berjalan.


Aksa akhirnya datang ketika waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Bertindak seperti biasanya dan mengabaikan Love begitu saja.


“Aku minta maaf.” Love pasti sudah tahu jika dia memang bersalah, dan solusi tepat dari memiliki kesalahan kepada orang lain adalah


dengan meminta maaf. “Pikiranku ruet sekali hari ini mendengar dia datang ke kantor kamu.” Pandangan Love sangat tak main-main kepada Aksa.


“Jadi kalau kamu merasa ruet di pikiran kamu, kamu akan mengucapkan kalimat larangan yang kita benci?” Aksa tak kalah tegas mengatakan


itu. “Kamu tahu sendiri jika kalimat kotor seperti itu haram bagi kita untuk diucapkan sesakit apapun hati kita. Dan kamu melanggarnya.” Ketajaman mata Aksa


membuat Love tak sanggup untuk menatap mata lelaki itu. Karena Aksa seperti siap membantai siapapun.


“Aku tahu kalau kita dalam masa sulit sekarang, jangan lagi kamu menambahi dengan hal-hal yang tidak perlu. Kalau kamu merasa marah dan ingin melampiaskan kepada semua orang, aku pun bisa melakukan hal sama. Tapi


itu bukan sebuah solusi dan lantas masalah akan selesai begitu saja. Kamu harus


pahami itu.” Aksa berlalu dari hadapan istrinya dan naik ke atas ranjang meskipun tak biasanya di jam sembilan malam lelaki itu mengantuk.


“Jadi sekarang kita juga akan bertengkar dan menambah masalah baru?” sepertinya Love memang tak terima dengan perlakuan Aksa kepada dirinya kali ini. “Kenekatan perempuan itu datang ke kantor kamu, itu membuat


aku ingin sekali menjambaknya. Mas tahu kenapa dia datang ke sana? Karena dia


ingin membuat gossip itu semakin kuat dan biarlah dia dianggap sebagai wanita


yang sedang menjalin hubungan di belakangku. Dia memang sudah nggak waras.”


Love berdiri tak jauh dari ranjang dengan mata menatap ke arah dimana suaminya itu sedang berbaring.


“Mas nggak masalah jika mendapatkan gossip seperti itu?”


Aksa lelah sejujurnya, tapi sepertinya sang istri memang tak akan berhenti sampai di sana. “Aku nggak.” Lanjut Love. “Sejak gossip itu muncul, aku bahkan ingin segera bisa mengakhiri ini semua. Aku nggak mau, suamiku namanya menjadi buruk dengan berita yang tak berdasar seperti ini.”


Aksa bangun dan duduk diatas ranjang dengan menghadap ke Love. “Berita ini akan segera berakhir. Jadi kita tidak perlu lagi


memikirkannya.” Jawaban enteng Aksa membuat sang istri semakin geram.


“Mas yakin? Kita buktikan saja diantara kita siapa yang benar. Karena aku bisa menebak jika masalah ini akan semakin menjadi karena


kemunculan perempuan itu. Bisa saja dia membawa wartawan untuk membuat masalah


ini semakin runyam.” Love kemudian berlalu dari sana dan keluar dari kamar. Dia sangat memikirkan masalah ini, tapi suaminya justru santai saja dengan nama baik yang sudah tercoreng karena pemberitaan yang tidak-tidak.


*.*