Blind Love

Blind Love
Episode 35



Libra berbaring di kamar kosnya setelah pulang kuliah. Jadi jika ada yang memastikan apakah Libra jadi kuliah di luar kota, maka jawabannya adalah tidak. Tapi dia memilih hidup di tempat kos agar dia bisa hidup dengan caranya sendiri.


Alasan kenapa dia tak jadi kuliah di sana karena sang ayah bersikukuh untuk melibatkan Edzard di dalam kehidupan gadis itu. Jihan sudah mengatakan jika dia yang akan menemani putrinya untuk memastikan jika Libra masih dalam pantauan orang tua. Sayangnya lelaki itu sama sekali tak mengindahkan ucapan istrinya sama sekali. Dia tak ingin ditinggalkan oleh istrinya tapi dia juga tak ingin putrinya berada di luar kota ‘sendirian’.


Perdebatan itu terus terjadi selama beberapa kali karena Libra tak terima dengan keputusan yang diberikan oleh ayahnya tentang itu. Tapi Libra tak ingin menjadi anak yang lebih berani dan menjadikannya anak durhaka, maka dia mengeluarkan persyaratan lainnya. Yaitu dengan tinggal di kos yang jauh dari rumah.


Sekuatnya dan sekukuhnya Libra mendebat ayahnya, tapi dia tetap seorang anak yang masih takut dosa.


“Li!” ketukan pintu kamar kosnya di ketuk oleh seseorang dari luar dan membuatnya mendengus jengkel. Berdiri dari baringnya dan berjalan untuk membuka pintu tersebut.


“Ya?” gadis di depan kamarnya itu nyengir, Libra mengernyit heran, “Kenapa?”


“Lo udah makan?” tanyanya dengan senyum yang masih melekat di bibirnya. “Kalau belum, mau beli makan bareng?” Libra memang bisa merasakan perutnya lapar, namun tak sampai berbunyi nyaring.


“Boleh,” Libra memang tak sekaku ketika dia baru saja putus dengan Virgo waktu itu. Sekarang meskipun terkadang dia masih agak jutek, tapi senyum itu masih sesekali melekat di bibirnya.


Kedua gadis itu keluar kosnya dan Tere – nama gadis yang tadi mengetuk pintu kamar Libra, berjalan untuk membeli makan tak jauh dari rumah kosnya.


“Lo betah nggak, Li, kos di sini?” makanan sudah ada di depan mereka siap untuk disantap, dan Tere membuka obrolan.


“Kayanya betah sih, lo?”


“Ini pertama kali gue hidup di luar tanpa orang tua,” Tere sepertinya ingin bercerita, “gue harus betah kalau nggak mau di jemput paksa sama orang tua gue.” Senyum Tere terlihat sekali kaku.


“Kalau lo nggak siap kenapa harus kos?” tentu itu adalah hal yang aneh, tapi semua itu pasti ada alasannya.


“Gue nggak mau diejek sama orang anak manja terus-terusan,” senyum kecut itu keluar, “gue harus bisa mandiri, meskipun orang tua gue awalnya menentang habis-habisan.”


Libra merasa jika cerita Tere ini mirip dengannya, hanya saja berbeda masalah. Libra menyodorkan tangannya, “teman.” Katanya dengan tulus, “gue bersedia menjadi teman lo. Tapi lo harus mau gue repotkan.” Maka dengan itu Tere mengangguk dan menerima uluran tangan Libra.


“Gue juga sangat merepotkan,” kata Tere dengan semangat, “Kalau kita saling merepotkan satu sama lain, maka nggak perlu lah kita sungkan.” Tawa itu kemudian menguar. Baik Tere maupun Libra sama-sama menyadari jika keduanya akan menjadi teman yang saling membutuhkan satu sama lain.


“Lo udah punya pacar?” Pertanyaan Tere itu sedikit menyentil hati Libra.


“Gue nggak punya, lo sendiri?”


“Gue mau punya,”


“Proses PDKT?”


“Bukan,” Tere nyengir garing, “Gue pengen punya pacar pas kuliah ini, ada nggak ya, Li, yang mau sama gue?” pertanyaan itu sama sekali tak masuk di akal bagi Libra.


“Lo itu ngerasa muka lo itu kaya apa sih, Re?” tanya Libra.


“Biasa banget lho, Li. Kalau lo sih cantik, jadi pasti akan disukai banyak cowok.” Libra menggelengkan kepalanya.


“Kalau gue bilang sesuatu, lo bakalan percaya?”


Tere mengangguk, “tentu,” ucapnya dengan yakin dan pasti.


“Lo itu cantik, Re, percaya deh sama gue, lo akan dapet pacar secepatnya.”


“Lo yakin, Li?”


“Iya.” Meyakinkan Tere adalah hal yang harus dilakukan karena gadis itu sudah mengalami yang namanya ‘ejekan’ dari orang-orang. Dan ketika lagi-lagi Tere tersenyum, itu artinya Libra sukses dengan aksinya.


“Gue juga akan carikan cowok yang oke punya ke elo. Karena elo harus dapat cowok yang oke, Li, bukan kaleng-kaleng.” Libra tak menjawab dan hanya terkekeh saja. Untuk saat ini dia akan fokus dengan kuliahnya, masalah pacar bisa dipikirkan belakangan.


Mereka cepat sekali akrab karena tidak ada dari kedua gadis itu yang sok-sok’an menutupi apapun yang ada di dalam pikiran mereka. Meskipun rahasia tetap menjadi rahasia.


Dan dari sanalah pertemanan mereka di mulai. Awalnya mereka memang hanya sebatas kenal saja. Karena kamar mereka bersebelahan. Kalau bukan Tere yang memulai untuk lebih dulu mendekat ke arah Libra, mungkin mereka akan menjadi tetangga kamar yang biasa-biasa saja.


“Gue seneng karena dapet temen sekarang,” Kembali berjalan mereka pulang ke kos mereka.


“Di kampus udah punya temen kan tapi?”


“Udah dong,” bangganya, “gue harus aktif kalau nggak mau kesepian. Lo tahu kan kalau di jurusan gue itu dominannya cowok.”


“Bener juga sih,” jika dulu, Libra kemana-mana menggunakan fasilitas yang penuh dari ayahnya. Kalau dia tak membawa mobil, maka supir akan stand by untuk mengantar jemputnya. Namun sekarang berbeda. Dia akan memanfaatkan transportasi umum dan hidup dengan sederhana ala anak kos.


*.*


Aktivitas kuliah sudah benar-benar aktif sekarang. Tugas-tugas kuliah sudah juga menumpuk setiap minggunya. Karena itu, kesibukan itu mulai kentara sekali sekarang. Virgo pun demikian. Lelaki itu juga sudah dipusingkan dengan beberapa presentasi. Ini belum jika sudah praktikum. Namun karena ini adalah jiwa Virgo yang memang menyukai di bidang tersebut, maka hal itu tak berarti apapun.


“Vir!” Edo berbisik di telinga Virgo ketika matanya memperhatikan sesuatu. Namun hanya deheman saja yang keluar dari tenggorokan Virgo.


“Menurut elo, cewek baju merah kotak-kotak itu cakep nggak?” Virgo sedang benar-benar konsentrasi dengan penjelasan dosen sedangkan Edo entah kemana-mana isi pikirannya.


“Mungkin cantik,”


“Ya lo lihat dulu dong, kampret.”


“Gue lagi konsen, nanti aja lo tunjukin ke gue.” Dan tanpa menatap Edo sama sekali.


“Haish,” Edo mendesis karena tak mendapatkan respon yang cukup bagus dari sahabatnya itu. Namun tak urung dia menatap ke depan meskipun matanya masih sesekali melirik ke arah dimana gadis itu duduk.


Virgo melihat arah yang ditunjukkan oleh Edo kepadanya, meneliti gadis itu dalam diam dan ketika mendapat jawabannya, “Cocok kayaknya kalau sama lo.” To the point sekali, “Kalau lo memang mau deketin dia, gercep lo, ditikung orang berabe.


“Suek lo.” Katanya sambil berdiri, dan dengan bodohnya Edo mendekati gadis itu.


“Hai!” sapanya. Sedangkan Virgo hanya melihat dari jauh dan menggelengkan kepalanya miris, ‘sengebet itu dia mau punya pacar?’ batinnya. Tapi itu lebih baik ketimbang harus bersembunyi dan diam-diam meminta nomor ponsel gadis itu, men-chatnya sambil bilang ‘hai’ kemudian si gadis bersikap jual mahal dengan membalas ‘kamu siapa? Dapat nomorku dari siapa’ dan hasilnya berakhir menyedihkan.


Entah apa hasilnya, tapi Edo dan gadis itu sepertinya sudah saling mengenal dilihat dari senyum keduanya.


Virgo tak akan mengganggu kebahagiaan Edo, karena dia keluar lebih dulu dari kelas.


“Hai, Vir!” bahkan baru sampai di depan pintu, tapi seseorang sudah menyapanya.


“Hai!” bersikap sombong bukanlah sifat dari Virgo, setiap sapaan yang diberikan kepadanya selalu mendapatkan timbal balik dengan baik darinya.


“Vir!” kini seorang kakak tingkatnya yang dulu menjadi pembimbing ospeknya mendatanginya. “Lo masih ada kelas setelah ini?” tanyanya sambil mereka berjalan beriringan.


“Enggak, Bang, kenapa?” lelaki itu hanya berjarak umur dua tahun, tapi bagai manapun dia harus berlaku sopan kepadanya.


“Ikut nongkrong bareng yuk, gue denger lo jago beberapa olahraga, kalau mau lo bisa masuk klub kami.”


“Boleh.” katanya dan mendapatkan respon senang dari kakak tingkatnya.


Mereka ke kantin fakultas dan duduk di salah satu meja panjang yang sudah ada beberapa orang di sana. Kebanyakan memang diisi oleh para mahasiswa di kantin tersebut, sedangkan hanya ada sedikit mahasiswi di sana. Berbeda lagi kalau di kantin pusat yang memang dari jurusan apa saja datang ke sana.


Doni – adalah nama kakak tingkat yang mengajak Virgo tadi, dan lelaki itu memperkenalkan teman-temannya kepada Virgo.


“Gue denger, lo mantan kapten basket, Vir?” begitu awal pertanyaan yang diberikan kepada Virgo.


“Iya, Bang.” Jawabnya kalem.


“Bagus.” Si penanya terlihat senang dengan informasi yang didengarnya. “Lo mau nggak ikut gabung dengan klub basket kampus?” tawaran itu sepertinya menyenangkan, maka Virgo menjawab.


“Gue sebenernya mau libur dulu sih, Bang, pengen coba fokus dulu sama kuliah.”


“Ini nggak akan ganggu kuliah lo,” informasi tentang Virgo sepertinya cepat sekali menyebar.


“Boleh gue pikir dulu, Bang? Bukannya nolak, tapi mau memastikan sesuatu dulu,” tak ada sebetulnya yang harus dipastikan, itu hanyalah alasan saja.


“Lo nggak akan nolak kan, Vir?” tanyanya memastikan.


“Gue belum bisa memutuskan, Bang. Mungkin nanti gue bisa kasih kabar ke Abang,” katanya dengan terus terang. Maka mereka berusaha memahami hal itu, Virgo keluar dari sana dan meninggalkan kantin tersebut.


Saat melewati taman kecil di fakultas tersebut, matanya melihat Edo sedang mengobrol dengan gadis tadi yang satu kelas dengannya yang diajak berkenalan dengan lelaki itu.


Virgo mendekat, “Udah pacaran?” tanyanya kurang asam. Bahkan ekspresinya menyebalkan sekali. Edo mungkin sudah kebal dengan kelakuan lelaki itu, tapi tentu tidak dengan gadis di sampingnya,


“Lo gue gorok tahu rasa,” begitu kata Edo, “Pergi sana, lo.” Tak tanggung-tanggung Edo mengusir Virgo yang mendapatkan gelengan sok dramatis dari temannya itu.


“Lo gitu ya, Do, dapet cewek, temen lo cuekin,” sepertinya tingkah menyebalkan Virgo akan ditunjukkan sekarang.


Karena dengan kampretnya, lelaki itu bertanya kepada gadis di samping Edo, “Lo mau nggak jadi pacarnya Edo?” dan Edo berdiri untuk menggeplak kepala lelaki itu, sayangnya Virgo lebih dulu berlari dan tertawa-tawa karena sudah berhasil membuat temannya mati kutu.


Edo mendesis dan sumpah serapah keluar dari mulutnya. Malu sekali sepertinya lelaki itu.


*.*


“Di fakultas lo ada yang jadi primadoni kampus nggak, Li?” Tere sedang berada di kamar Libra sambil berbaring di kasur milik Libra dengan adu kepala. Libra berbaring menghadap ke barat, sedangkan Tere berbaring menghadap ke timur. Kedua gadis itu terlentang dengan tangan berada di atas perut mereka masing-masing.


“ Primadoni apaan?” Libra baru mendengar kata itu.


“Cowok idola. Kalau cewek kan Primadona, kalau cowok kan berarti Primadoni.


Libra mengeluarkan napas panjang merasa aneh namun tetap menjawab, “Gue kira ada sih, cuma nggak terlalu tahu masalah kaya gitu.” Keduanya saling menghela napas Panjang bersamaan, kemudian menyadari kekonyolannya, mereka terkekeh.


“Gue tadi di ajak kenalan sama temen sekelas gue,” Tere mulai bercerita, “setelah itu kita ngobrol bareng dan dia lucu. Nyambung juga lagi kita ngobrolnya, kan gue jadi seneng.” Wajah Tere merona karena mengingat hal itu.


“Bener kan apa kata gue, lo pasti akan dapat pacar sebentar lagi.” Tere tak menjawab dan hanya memandang langit-langit kamar Libra.


“Dan lebih nggak nyangkanya gue, temen dia yang ganteng banget dan menjadi ‘idola’ di fakultas gue, godain gue dengan tanya, ‘gue mau nggak pacarana sama si Edo?’ katanya__” dan lanjutannya Libra tak lagi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tere karena gadis itu sudah tertidur.


“Li!” panggil Tere karena tak mendengar suara gadis itu menyahut ucapannya, “Li! Lo tidur?” Tere terduduk dan mengguncang tubuh Libra pelan. Tak ada jawaban dari gadis itu dan Tere mendengus dengan pelan. Turun dari ranjang Libra, gadis itu kemudian keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya sendiri.


Keesokan harinya, Libra yang tak ada kelas hanya menghabiskan waktunya dengan tiduran di kamarnya. Rencananya dia akan mengerjakan tugas yang memang sudah mulai ada. Sayangnya rasa malas itu muncul terus menerus dan hanya kantuk saja yang terus muncul.


Memutuskan mencari panganan ke minimarket tak jauh dari kosnya, dia keluar dengan jaket hoodie dan kerudung jaket menutup kepalanya. Panas siang ini begitu terik. Dan dia menginginkan yang segar-segar. “Es campur kayaknya enak nih,” begitu gumamnya sambil berjalan menuruni tangga karena kamarnya berada di lantai dua.


Berjalan dengan santai, dia membayangkan es dingin mengaliri tenggorokannya. Rasanya pasti nikmat sekali. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, dia melebarkan langkah kakinya. Di depan komplek perumahan kosnya memang ada banyak sekali penjual panganan karena memang dekat dengan kampus. Libra memilih kos yang memang tak jauh dari kampusnya.


Masuk lebih dulu ke minimarket, entah berapa banyak makanan ringan yang dimasukkan ke dalam keranjang belanjaannya. Minuman kaleng pun tak lupa diambilnya. Kegiatan seperti ini adalah hal yang sangat disukai oleh Libra. Memilih makanan dan memasukkan ke dalam keranjang belanjaannya, membayarnya, kemudian berlalu dari sana.


Melihat cahaya Mentari yang benar-benar terik, membuatnya malas untuk pulang ke kos. Dia lebih dulu duduk di depan minimarket dan membuka satu botol minuman dan menenggaknya sampai habis. Kemudian membuka snack dan memakannya. Kepalanya mengangguk-angguk karena rasa gurih itu benar-benar menggoyang lidahnya.


*.*