Blind Love

Blind Love
Seri 15



Mereka berjalan sambil menatap sekelilingnya. Ingatan tentang masa SMA mereka masih sangat melekat di ingatan keduanya. Baik Aksa dan Love, keduanya masih sangat mengingat potongan-potongan kejadian masa itu.


Tak terasa, Love mengambil tangan kiri Aksa yang bebas dan mengenggamnya pelan. Langkahnya terhenti karena melihat lorong kelas sepuluh. “Di sana.” Tunjuknya pada sebuah tempat. “Aku pertama kali ketemu sama, Mas.” Sesak di hati Love tiba-tiba menyerbu ketenangan. “Aku yang pertama kali melihat betapa menawannya seorang laki-laki dengan name tag Aksa A.G. Dia membawa buku tebal, dan dia menatapku dengan datar.” Ada senyum yang tersemat di bibir Love dan matanya mengeluarkan cairan bening bernama air mata. Sepertinya perjalanan mereka kali ini benar-benar akan menguras emosi keduanya.


Tak mudah mengingat masa lalu entah itu masa lalu yang baik apalagi masa lalu yang buruk. Ketika kita mengingat ‘masa itu’ masa di mana mungkin kita masih berumur belasan tahun yang belum memiliki beban yang terlalu berat, yang masih sangat santai menanggapi apapun, dan hanya memikirkan yang dinamakan masa depan. Mungkin yang kita pikirkan kala itu hanyalah pertanyaan dari orang lain, seperti, ‘Selesai sekolah kamu mau kemana? Melanjutkan kuliah atau bekerja?’ atau jenis pertanyaan-pertanyaan lain yang terlalu biasa.


Hal itu juga yang terjadi kepada Love. Hatinya melemah ketika dia melihat semua kenangan yang seolah terlihat nyata di matanya. Bayangan masa itu seolah mengkeroyok pikirannya untuk memutar kembali kenangan masa lalu.


“Aku sedih, Yang.” Mereka masih berdiri di tempat yang sama dengan tempat yang pertama tadi.


Aksa menatap Love focus kemudian terkekeh. “Hanya segitu aja nyalimu?”


“Bukan masalah itu, Yang. Tapi aku ngerasa kalau hatiku lemah dengan kenangan waktu SMA.” Para murid memang masih di dalam kelas karena memang jam belajar masih aktif. Jadi kedua orang itu bisa degan tenang meliahat-lihat.


“Kita jalan.” Aksa menggandeng Love dan mengajak perempuan itu melanjutkan perjalanan. Dia tak ingin terlalu lama di tempat satu saja karena perjalanan mereka masih panjang.


Love menurut dan melangkahkan kakinya dengan pelan. “Itu tempat bersejarah loh, Yang.” Tak ada tanggapan dari Aksa. Lelaki itu sibuk dengan pikirannya sendiri mengingat dirinya waktu itu.


“Eh, ini.” Langkah keduanya lagi-lagi terhenti. “Ayang tahu nggak ada apa dengan tempat ini?” Love sok memberi teka-teki kepada Aksa entah dengan apa tujuannya.


“Aku nggak tahu.” Memang Aksa tak tahu jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Love kepadanya.


“Tempat yang aku buat ngintip seseorang.” Jawab Love enteng yang membuat Aksa berekasi.


“Ngintip siapa?” Sepertinya lelaki itu juga penasaran.


“Siapa lagi kalau nggak cinta sehidup sematiku.” Love berjalan menjauh untuk ke tempat itu. Memeragan bagaimana dirinya yang dulu suka sekali mengintip Aksa dari kejauhan.


“Seperti ini.” Katanya. Love berdiri tegak di samping dinding dan sesekali melongokkan tubuhnya ke balik dinding tersebut. “Aku emang keren sejak dulu sih.” Kepercayaan diri itu untuk sikapnya yang tak pantang menyerah mengejar Aksa.


Love kembali ke samping Aksa. Menggenggam tangan lelaki itu dan menarik pelan untuk melanjutkan perjalanan. “Kenanganku waktu SMA memang kebanyakan dipenuhi oleh Aksa A. G aja sih.” Gumamnya yang tak seperti gumaman sama sekali.


Alih-alih ke lantai dua dan tiga, mereka langsung ke halaman belakang sekolah. “Ini sama sekali nggak berubah sih.” Tanggapan Love ketika mereka sampai di sana. “Kursinya udah nggak ada.” Sepertinya kekecewaan itu sangat terlihat. Bagaimanapun, kursi yang ada di sana juga salah satu kenangan bagi keduanya.


“Kursi tempat kamu ngedumel.” Aksa menimpali. Ketika melihat perubahan itu, Aksa pun merasa benar-benar sudah menjadi tua sekarang. Masa itu, masa sekolah, adalah masa yang sangat indah. Dan menyenangkan. Bahkan kalau seadainya bisa, ingin sekali kembali ke masa itu dan mengulag semuanya lagi. Sayagnya hal itu tak akan pernah terjadi.


Meskipun kursi tersebut sudah tak ada lagi di sana, tapi mereka memutuskan untuk tetap duduk dan menikmati semilir angin yang benar-benar menyejukkan. Rumput-rumput hias di tanam di sana dengan rapi dan menjadikan tempat tersebut menjadi cantik. Belakang sekolah yang dulunya belum tertata rapi sekarang sudah benar-benar indah.


Duduk di atas rerumputan, Love langsung menyenderkan kepalanya di bahu Aksa. “Waktu bener-bener berlalu dengan cepat ya, Mas.” Matanya memejam menikmati angina yang berhembus. Aksa ikut menopangkan kepalnya di kepala Love dan ikut memejamkan matanya.


“Begitulah.” Jawabnya dengan santai. “Tapi aku nggak akan lupa meminta kamu untuk bercerita tentang kamu dan Bu Epi.” Rasa penasaran Aksa sudah di ungkapkan.


“Bu Epi dulu punya benjolan di perutnya dan aku nggak paham benjolan apa itu.” Awal cerita Love. “Beliau udah berobat kemana-mana bahkan sampai kehabisan dana untuk berobat. Waktu itu aku nggak sengaja tahu kalau beliau sakit. Kebetulan aku sedang main-main ke rumah sakit Daddy.” Yang dimaksud Daddy oleh Love adalah pamannya, istri dari Melvi.


“Aku lihat beliau nangis di depan ruang dokter sendirian dan aku mendekatinya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Awalnya beliau nggak mau cerita, tapi aku yang keras kepala mengejar beliau bahkan sampai di sekolah.” Kejadian itu tak ada yang tahu. “Sampai suatu hari, beliau pingsan dan mengharusnya beliau untuk segera oprasi.” Love kini menegakkan tubuhnya dan menatap ke depan sambil memutar kejadian waktu dulu.


“Ketika semua orang panik saat beliau di bawa ke rumah sakit, aku lebih panik. Bahkan aku meminta daddy untuk menemui beliau meskipun daddy bukan dokter penyakit dalam.” Aksa benar-benar mendengarkan denga seksama tanpa menginterupsi cerita sang istri.


“Aku meminta daddy untuk menggratiskan biaya oprasinya. Sayangnya semua prosedur itu tetap harus berlaku. Semua syarat harus di penuhi, tapi itu hanya bisa membayar setengah harga. Sedangkan biaya oprasi tersebut nggak sedikit.” Air mata Love keluar dan langsung di usapnya. Kejadian itu sepertinya tak bisa di lupakan sampai sekarang.


“Iuran dari sekolah sudah dilakukan tapi hasilnya masih kurang banyak. Karena aku pemaksa, aku akhirnya memaksa daddy, papa, dan eyang untuk membantu oprasi Bu Epi.” Aksa menatap istrinya dengan dalam dan menggenggam tangan perempuan itu. Dia mungkin merasa terharu dengan apa yang diceritakan oleh perempuan di sampingnya itu.


“Mereka mau. Daddy juga mengeluarkan uang pribadinya untuk membantu beliau. Aku selalu mengeluarkan kata keramat kepada orang-orang yang menolak keinginganku.” Senyum Love terbit namun jejak air mata masih terlihat.


Aksa mengusapnya. “Kalau bukan buat beliau, setidaknya lakukan itu untuk aku, demi aku.” Katanya dengan geli.


“Jadi benjolan apa yang ada di perut Bu Epi?” Aksa sepertinya penasaran dengan penyakit gurunya dibandingkan apa yang dilakukan Love untuk beliau.


“Aku nggak tahu. Kalau bukan kanker, tumor. Aku nggak peduli itu penyakit apa. Yang penting beliau di oprasi dan beliau sembuh. Itu udah cukup.” Aksa merangkum kedua pipi istrinya dan mengelusnya dengan ibu jarinya.


“Aku bangga sama kamu meskipun kamu melakukannya dengan paksaan.” Ucap Aksa. Lelaki itu menatap sang istri dan tersenyum. “Sifat pemaksamu ternyata bagus dan ada nilai plusnya.” Aksa ini benar-benar, mau memuji saja sambil di kasih embel-embel celaan.


Membuat Love langsung cemberut saja. “Ayang mah gitu, muji-muji aja lah, nggak usah dicela juga.” Begitu protesnya. Sepertinya memutuskan untuk datang ke sekolah SMA mereka kali ini benar-benar membuat perasaan keduanya menjadi lebih baik.


*.*


“Ayah, adek dapat 90.” Masih menggunakan seragam, Ixy sudah memamerkan nilai ulangan Bahasa Ingrisnya. Aksa menerima dan melihat hasil ulangan putrinya. Membaca sebentar tulisan yang ada di sana.


“Adek hebat betul sih.” Sejak semester pertama sampai sekarang, nilai Ixy memang tak pernah menurun. Dan tentu saja itu adalah hal membahagiakan bagi kedua orang tuanya. Pun dengan Avez, meskipun dia memiliki banyak sekali kegiatan, kegiatan belajarnya tetap nomor satu. Dan itu adalah keharusan.


“Kalau abang kelelahan dan meninggalkan belajar, lebih baik abang nggak ikut banyak kegiatan.” Itu adalah peringatan yang diberikan Aksa kepada putranya waktu itu. Jangan hanya karena mengejer banyak hal, satu hal penting jadi terbengkalai. Aksa tak ingin itu terjadi. Belajar tetap nomor satu.


Karena itu, Avez kecil tak pernah melalaikan tugasnya. Sebetulnya bukan hanya itu, tapi karena Love dan Aksa selalu menegaskan dengan jadwal yang dibuatnya. Melanggar artinya akan mendapatkan hukuman. Memang jika di pikir, mereka terlalu keras terhadap anak-anaknya. Tapi semua itu demi kebaikan anak-anak mereka. Setiap orang tua pasti memiliki peraturan mereka sendiri-sendiri. Dan beginilah cara Aksa dan Love mendidik anak-anaknya.


“Ayah!” Kini Avez yang mendekat. “Kata ibu guru, minggu depan kita akan jalan-jalan.” Aksa menatap putranya dengan pandangan bertanya.


“Jalan-jalan? Kok nggak ada suratnya?” Biasanya ketika murid akan pergi berwisata atau jalan-jalan bersama guru, guru tersebut mengkonfirmasi dahulu kepada orang tua murid.


“Belum, Yah. Ibu guru baru bilang dulu sama kami.” Sebetulnya yang di katakana oleh ibu guru Avez barulah rencana, karena memang sebentar lagi mereka akan menjalankan ujia tengah semester, dan sebelumnya guru-guru ingin jika anak-anak didik mereka refresing terlebih dulu sebelum sibuk dengan belajar.


“Tapi adek kok enggak, Bang?” Ixy sepertinya sedang iri karena kakaknya akan jalan-jalan, sedangkan dia tidak. Mungkin begitulah yang dipikirkan sekarang, apalagi tambahan bibirnya yang mengerucut.


“Abang juga belum pasti, Dek.” Jawab Aksa.


“Udah, kalian ganti bajunya sana.” Love muncul dari arah dapur entah melakukan apa sejak tadi. “Adek bawa tasnya.”


“Tapi, Bunda, Abang mau jalan-jalan. Adik enggak?” wajah Ixy masih muram ketika mengadukan hal tersebut kepada ibunya.


“Nanti kalau adik nggak jalan-jalan sama teman-teman di sekolah, kita jalan-jalan sendiri.” Dipeluknya Ixy dan mengusap-usap lembut rambut gadis kecil itu. “Kegiatan adek sama abang kan berbeda. Abang udah kelas empat, dan adik masik kelas satu. Abang udah punya kegiatan keluar bersama ibu guru, dan adek belum. Nanti pasti adek juga seperti itu juga, ada kegiatan di luar bersama ibu guru.” Begitulah cara Love memberikan pengeritian kepada putinya agar rasa itu tak timbul di hatinya.


Ajaran di dalam keluarga akan menunjukkan tabiat seseorang di luar sana. Dan seorang ibu adalah tombak dari terbentuknya dari karakter seorang anak dari bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka.


“Adek paham kan?” Pelukannya di lepas dan menatap wajah putrinya sayang. Di kecupnya dahi Ixy dengan sayang. “Adek nggak boleh gitu lagi ya, kan kita sering juga jalan-jalan. Iya kan?”


Meskipun dengan berat hati, Ixy mengangguk. “Ini kan acara sekolah, jadi adek pasti suatu saat nanti akan mendapatkan giliran. Adek kan juga sekolah di tempat yang sama dengan abang.” Love tak akan menyudahi acara ‘merayunya’ kepada putrinya itu sebelum Ixy menyetujui dengan senyuman.


“Udah paham kan?” Hanya senyum kecil, tapi bagi Love itu sudah cukup membuktikan jika putrinya memang sudah paham dengan apa yang dia katakan.


“Iya, Bunda.” Aksa yang melihat itu tersenyum kecil.


“Ganti baju gih.” Perintah Love lagi kepada kedua anaknya. Mereka mengangguk dan naik ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya, menjalankan perintah dari ibu mereka.


Menyisakan sepasang suami istri yang masih saling diam. Karena sebelum ke rumah tadi mereka makan di luar.


“Kita nggak ke kamar juga?” Aksa menapat sang istri dengan menopangkan kepalanya di senderan sofa. “Aku ngantuk ternyata, Yang.” Memang terlihat sekali jejak kelelahan yang ada di mata Aksa.


“Ajak anak-anak sholat. Setelah itu kita ajak mereka tidur.” Love lebih dulu berdiri dan menarik tangan lelaki itu agar berdiri juga.


Aksa berjalan malas-malasan dengan tubuh yang lunglai. “Aku beneran mau tidur lama setelah ini, Yang.” Katanya sambil berjalan. Kelelahan sepertinya lelaki satu itu.


“Ya, biar nanti bunda peluk.” Love yang berada di belakang Aksa dengan memegangi baju bagian belakang sang suami menjawab.


“Adu-duh, baik betul. Makasih, Bunda.” Kini Aksa menarik tangan Love agar perempuan itu bisa berjalan di sampingnya dan dia juga bisa memeluknya. “Gimana aku nggak sayang sekaligus cinta coba.” Love hanya bisa terkekeh saja mendengar gombalan tak berbobot suaminya. Benar-benar tak tertolong dua orang ini.


Sampai di lantai dua, Love dan Aksa masuk lebih dulu ke dalam kamar anak-anaknya untuk mengecek apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Love harus menggelengkan kepalanya ketika dua anaknya sedang tidur di kasur masing-masing masih dengan menggunakan seragam sekolah. Sering memang mereka kepergok seperti ini, tapi Love mencoba memahami jika mereka memang kelelahan.


“Biarkan dulu, satu jam lagi baru dibangunkan.” Aksa mencegah Love melangkah untuk membangunkan anak-anaknya.


Keduanya keluar dan masuk ke kamar mereka sendiri. Entah tertular dengan anank-anaknya atau apa, Aksa pun melakukan hal yang sama. Melemparkan dirinya di atas kasur dan memejamkan matanya.


“Mas mau apa kaya gitu.” Love bersidekap dan menatap Aksa datar. “Mau ngapain?” Sinisnya. “Udah jam berapa emangnya ini? Mau sholat kapan?” Rentetan pertanyaan itu membuat Aksa berkedip pelan, kemudian kembali bangun.


“Oke.” katanya mengela napas panjang. “Daripada aku dapat omelan panjang kali lebar kali tinggi jadinya akan menemukan keliling, aku bangun aja.” Kini Love terkekeh geli mendengar itu dan mendekati sang suami. Menarik lelaki itu masuk ke dalam pelukannya dan mengusap-usap rambut belakang Aksa. Hanya begitu saja. Kenyamanan itu sepertinya sudah bisa mereka rasakan satu sama lain.


*.*