Blind Love

Blind Love
Episode 49



Libra menatap langit-langit kamar kosnya dengan sendu. Entah berapa kali dia mengganti posisi tidurnya namun semua posisi tersebut seolah tak ada yang terasa nyaman.


Begini kata hatinya, ‘Aku yakin kenapa ayah sempat seperti orang ketakutan seperti kemarin itu adalah karena ancaman dari Virgo’


‘Tapi kenapa ayah terpengaruh dengan apa yang dikatakan Virgo?’ tambahnya lagi seolah pertanyaan itu akan segera terjawab dengan mudah nyatanya tidak sama sekali.


Hari ini tak memiliki jadwal kuliah, jadi dia dengan santai masih berbaring di atas kasur kamarnya setelah mengguyur kepalanya dengan air ketika mandi tadi. Otaknya terus memikirkan tentang ancaman yang diberikan Virgo kepada ayahnya dan kenapa lelaki itu mendengarkan apa yang kekasihnya itu katakan.


Sungguh, dia sama sekali tak memiliki jawaban atas semua pertanyaan itu sejak semalam.


Ponselnya mengeluarkan bunyi notifikasi chat. Gadis itu membuka masih dengan berbaring, dan membaca isinya.


Virgoku – Pulang kuliah aku mampir.


Senyum Libra mengembang ketika membaca itu. Bagai manapun dia begitu mencintai Virgo, jadi kenyataan yang diungkapkan oleh Virgo semalam sama seolah tertutup dengan perasaan cinta yang dimilikinya.


Libra – Aku tunggu. Bawain aku cilok yang ada di kantin lepas.


Balasnya kepada Virgo. Kantin lepas adalah kantin yang hanya menggunakan tenda-tenda di belakang fakultasnya yang menjual makanan ringan seperti sosis bakar, cilok, mie instan dan sejenisnya.


Virgoku – Sebagai gantinya, masakin aku nasi goreng.


Libra adalah gadis yang paling ahli dalam memasak nasi goreng, karena itu adalah masakan yang paling bisa dia buat dengan rasa yang tak hancur. Virgo memang belum pernah mencicipi bagaimana rasa masakan Libra, tapi memang dia sedang ingin memakan menu itu.


Libra – Dengan senang hati


Virgo – Oke! Masak yang enak, sayangku


Libra memang terlalu receh, hanya seperti itu saja senyumnya sudah mengembang. Melihat jam yang berada di dinding kamarnya, Libra menghitung waktu yang tersisa sebelum Virgo datang ke kosnya. Pasti lelaki itu masih di dalam kelas. Kelas akan berakhir pukul setengah sepuluh dan sekarang masih pukul delapan. Tapi dia harus membeli nasi terlebih dahulu sebelum membuatnya membuat nasi goreng.


Kalau dia harus memasak nasi, akan membutuhkan waktu yang lama. Turun ke lantai bawah, dia mencari asisten rumah tangga kosnya untuk membeli nasi beliau. Perempuan itulah yang selalu menjadi andalan jika dia merasa lapar dan malas untuk keluar rumah.


Setelah dapat, dia masuk ke dalam dapur dan mulai meracik bumbunya. Hanya ada sosis dan telur sebagai pelengkapnya. Dan dia hanya menggunakan dua bahan makanan itu saja sebagai campuran. Dan mulai sibuk dengan aktifitasnya.


Libra memang baru bisa memasak makanan itu setelah dia tinggal di kos. Sebelumnya dia sama sekali tak bisa melakukannya karena dia di rumah dilayani oleh asisten rumah tangganya. Dan bertekad hidup mandiri di tempat kos inilah yang membuat dia memiliki kesempatan untuk belajar.


Dan makanan sederhana itulah yang bisa dibuat untuk sekarang ini.


Nasi goreng ala Libra siap dengan bau yang harum. Jika dia mencicipinya tadi memang rasanya enak di lidahnya, tapi dia tak tahu dengan penilaian Virgo nanti.


Sambil menunggu kekasihnya tiba, dia memotret hasil karyanya dan mengirimkan hasil fotonya kepada Virgo.


Libra – Nasi goreng sudah siap. Dia menunggu pemiliknya datang.


Kirimnya kepada lelaki itu. Dia tak mengharapkan balasan dari Virgo dan mencari kesibukan lain dengan berselancar di dunia maya. Namun tak lama setelah itu, sebuah pesan kembali masuk.


Virgoku – Si pemilik nasi goreng udah datang


Seyum Libra mengembang dan langsung keluar rumah untuk menemui Virgo lebih dulu. Lelaki itu sedang menyenderkan tubuhnya di motor sambil mengotak-atik ponselnya.


“Yang!” gadis itu mendekat. Virgo mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada Libra.


“Kunyel banget sih.” Tangan Virgo sepertinya tak akan bisa jika tak menyentuh Libra. Dan kali ini mengusap wajah gadis itu dan mencubit pipinya.


“Hmm.” Begitu kata Libra dengan ikut menyandarkan tubuhnya seperti yang dilakukan oleh Virgo.


“Udah bisa dimakan kan nasi gorengnya?”


“Udah. Tapi kalau rasanya kurang oke, jangan diejek ya.” Katanya dengan wajah yang masih terlihat kuyu.


“Iya. Ayo!” Virgo menarik Libra untuk masuk ke dalam ruang tamu dan tanpa ada bantahan dari gadis itu.


Dua porsi nasi goreng sudah terhidang diatas meja. Dua gelas teh dingin melengkapinya. “Kamu coba.” Kata Libra memerintah Virgo.


Dan tanpa banyak kata lelaki itu menyetujui untuk menyendokkan makanan tersebut dan menyuapkan ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dan meresapi rasa yang keluar dari sana.


Libra menunggu dengan was-was penilaian dari Virgo dalam diam. Sayangnya Virgo tak mengatakan apapun dan kembali menyendokkan lagi nasi goreng tersebut dan mengunyah kembali.


“Gimana rasanya, Yang?” Libra jelas saja tak sabar untuk tidak bertanya. Karena Virgo sama sekali tak mengatakan apapun sejak tadi.


“Yang jujur apa yang bohong?” tanya balik Virgo.


“Yang jujur.”


“Enak.” Virgo nyengir karena berhasil mengerjai kekasihnya. Terkekeh, lelaki itu mencubit gemas pipi gadis itu. “Tegang banget sih, kaya mau dinikahin sekarang aja.” Ucapnya yang membuat Libra cemberut. Nafasnya dikeluarkan dengan keras untuk menunjukkan jika dia kesal kepada Virgo.


Lelaki itu masih terkekeh, “Makan.” Katanya, agar Libra bisa segera menyantap makanan tersebut.


“Cilok ku mana?” teringat pesanannya, Libra bersuara.


“Lupa aku, Yang.” Virgo benar-benar tak tertolong lagi sepertinya. “Buru-buru mau ke sini, sampai lupa.” Kali ini Virgo sama sekali tak berbohong. Dia benar-benar melupakan pesanan dari sang kekasih.


Padahal Libra sudah ingin sekali memakan itu. Karenanya dia hanya membuat porsi kecil nasi goreng.


Libra jelas saja menyetujui saja. Jadi setelah mereka selesai makan, Libra langsung mengganti bajunya dengan pakaian yang layak dan pergi ke sana. Tentu setelah membersihkan bekas makanan dan mencuci piring terlebih dahulu.


Antrian lumayan panjang ketika mereka sudah sampai di sana. Virgo sama sekali tak membiarkan Libra seorang diri dan ikut mengantri di samping gadis itu.


“Vir!” sapaan itu datang dari temannya, “Tadi gue lihat udah pulang lo.” Katanya.


“Gue lupa beliin pesanan ibu negara, jadinya datang lagi.” Ucapan itu mendapatkan kekehan dari lelaki yang menyapanya.


“Calon suami yang baik,” lelaki itu mendramatisir, dan memang tak mengetahui jika kekasih Virgo ada di sampingnya.


“Gue kira lo orang yang bebas, ternyata punya cememew juga ya.”


“Emang gue harus akting jadi orang yang bebas, biar bisa dapat tambahan satu lagi. Aduh!” mendengar itu jelas saja membuat Libra langsung menginjak kaki Virgo dan mencubit punggung Virgo dengan keras. Libra tahu jika Virgo tentulah bohong akan hal itu, tapi geram juga mendengarnya.


“Sakit, Yang!” dan tanpa dikomando, teman Virgo melihat Libra karena mendapatkan panggilan sayang dari Virgo.


“Sama pacar lo?” matanya melotot menatap Virgo dan Libra bersamaan, “Kampret, gue dari tadi lirik-lirik dia ternyata pacar lo? Suek lo, nggak main-main selera lo.” Virgo menyeringai mendengar ucapan temannya.Sedangkan Libra hanya memasang datar tanpa mengatakan apapun.


setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Libra pergi begitu saja tanpa membayarnya. Dan itu akan menjadi tugas Virgo untuk membayarnya.


“Gue balik dulu, bahaya kalau dia ngambek nanti.” Virgo menepuk pundak temannya dan berlalu dari sana. Mengejar kekasihnya yang dengan santainya menusukkan cilok sambil berjalan.


“Aku nggak dibeliin, Yang?” begitu katanya melihat bungkusan yang dibawa Libra hanya satu, “Aku kok bayarnya sepuluh ribu?” katanya.


“Udah aku jadiin satu. Makanya jangan mikir cari pacar lagi aja.” Libra yang mendumel seperti itu membuat Virgo gemas dibuatnya.


“Kalau ngomel gitu itu rasanya pengen ku cubit aja,” Libra tak menjawab dan terus makan cilok sesekali menyuapi Virgo meskipun hatinya terasa dongkol.


“Ikut aku!” ditariknya tangan gadis itu dan dia lebih dulu berjalan di depan Libra.


“Mau kemana?” kantin lepas itu memang berada di belakang fakultas Ekonomi dan Teknik, maka Virgo dan Libra memang tak perlu berjalan jauh kalau memang ketika di kampus akan bertemu. Sayangnya karena hubungan mereka berjalan selama dua hari, hal itu belum pernah dilakukannya.


“Biar aku tunjukkan fakultas aku.” Libra memang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya ke fakultas lain selain fakultas sendiri, jadi ketika dia diajak Virgo pergi ke sana, dia hanya menurut saja.


“Anggap aja kalau sekarang ini kita lagi study tour.” Terkadang pemikiran Virgo memang sesimple itu. Bukan terkadang, memang kepribadian lelaki itu yang seperti itu. Mereka berjalan dengan santai sambil sesekali bercanda, ketika dekat dengan lobi yang memang kebanyakan dari mereka mengenal Virgo, jelas saja hal itu menjadi perhatian yang cukup menarik bagi yang lain.


Virgo berjalan dengan seorang gadis, dan sambil terkekeh, terkadang juga tertawa karena berhasil mengusili gadis itu. Dan apa yang mereka lihat kali ini adalah adegan yang langka.


“Selamat datang di fakultas kami,” begitu masuk, Virgo langsung menyambut Libra ala karyawan minimarket yang mendapatkan kekehan dari Libra, “Inilah tempat aku mencari ilmu biar bisa mendapatkan pekerjaan yang keren, dan nanti bisa mengumpulkan bongkahan berlian, lalu melamar pacar aku yang sekarang, biar bapaknya merestui.” Suara Virgo cukup keras sampai orang-orang yang sedang duduk di sana pun mendengar celotehan unfaedah dari lelaki itu.


Dan itu mengatakan secara tak langsung jika dia memperkenalkan Libra kepada semua orang jika gadis itu adalah kekasihnya. Libra tak bereaksi berlebihan dengan kelakuan Virgo terhadapnya kali ini. Merasa tersanjung memang dengan ucapan kekasihnya itu.


“Duduk dulu, Yang. Makan masa sambil jalan, nggak baik.” kemudian keduanya duduk di kursi panjang yang berada di lobi tersebut. Membiarkan Libra melanjutkan menikmati cilok kesukaannya. Virgo bahkan sama sekali tak ingin menutupi perasaannya lewat tatapannya kepada gadis itu. Karena tak mempedulikan tatapan orang-orang, lelaki itu tanpa sungkan terus saja menatap Libra yang sedang mengunyah jajanannya.


Jelas saja mengundang reaksi dari orang-orang di sana karena memang Virgo adalah lelaki yang dikenal hampir semua orang di fakultasnya. Apalagi satu angkatannya.


“Yang!” panggil Libra pelan, “Nggak usah ngelihatin aku kaya gitu kenapa sih. Nggak malu kamu diliatin sama yang lain? Tingkah kamu itu kaya orang paling aneh di dunia tahu nggak?” Libra mengatakan itu bahkan sambil menatap sekeliling agar tidak menimbulkan reaksi yang lebih menyebalkan dari orang-orang di sana.


“Biarin aja. Yang lihat mata aku ini. Repot amat mikir reaksi orang.” Pemikiran Virgo yang terlalu sederhana itu memang berbanding terbalik dengan Libra yang terkadang tingkat keseriusannya sungguh berlebihan.


“Terserahmu lah.” Libra memutuskan untuk menyerah tanpa perlawanan terlebih dahulu karena jika dia menyerang, Virgo akan berbuat lebih menyebalkan sekali.


gadis itu sungguh sudah mengenal sekali tabiat kekasihnya. Maka diam adalah keputusan yang baik. Virgo mengambil plastik bekas tempat cilok setelah isinya sudah hilang sama sekali beralih ke perut Libra. Melemparkan ke tempat sampah dengan jarak yang agak jauh dan masuk dengan sempurna.


“Thanks, akhirnya aku nggak perlu lagi susah payah untuk membuangnya.”


“Itulah gunanya punya pacar pemain basket.” Libra geli mendengar jawaban lelaki itu.


“Jadi bisa main basket itu banyak keuntungan ya, salah satunya nggak perlu bergerak kalau mau membuang sesuatu. Hebat.” Libra mengacungkan ibu jarinya di depan Virgo dengan malas.


“Udah ah, perjalanan kita masih panjang. Kita lanjutkan sekarang. Udah kenyang kan?” Libra berdiri terlebih dulu dan mengangguk.


Virgo ikut berdiri dan berjalan di samping Libra. Meskipun dia mendengar dirinya langsung menjadi bahan gosip tapi hal itu dianggap hal yang sangat biasa. Apalagi kehebohan itu terjadi ketika kedua orang itu bertemu dengan sepasang kekasih Tere Edo dan juga teman-teman mereka sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu di lantai dua.


“Li? lo ngapain kesini?” tanyanya namun dengan senyum sumringah, “Sini-sini.” Libra juga tersenyum ketika melihat keberadaan Tere di sana. Mendekati Tere dan ikut duduk di samping gadis itu. Virgo pun mengikuti gadisnya.


“Wah, ada angin apa ini Libra datang di mari?” logat betawi yang entah keturunan dari siapa keluar dari bibir Edo.


“Anggap aja gue lagi study tour,” jawabnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Virgo tadi.


“Huasem.” Celetuk Edo sambil terkekeh, “Gue suka gaya lo.” Dan kedua orang itu bertos ria. Kekanakan sekali.


“Yang! Cabut.” Virgo menarik tangan Libra dengan pelan untuk mengajak gadis itu pergi dari sama.


“Baru juga duduk, Vir.” Tere protes.


“Kalau kalian mau ngerumpi nanti aja di kos. Gue mau ajak dia jalan dulu.” Tangan Virgo lebih menarik dengan agak kuat agar Libra bisa segera berdiri. Libra menghembuskan nafas kasar ketika Virgo bertingkah seenaknya. Namun tak urung dia mengikutinya juga. Kalau tidak, urusan akan menjadi panjang. Dan Libra tak ingin itu terjadi.


“Oke!” Libra berdiri dan pamit kepada Tere. “Gue balik dulu ya. Kalau mau ngerumpi, di kos aja.” Katanya mengikuti ucapan Virgo beberapa saat lalu. Kemudian pergi dari sana. Meninggalkan rasa penasaran dari teman-teman Tere di sana. Karena setelahnya, mereka bertanya tentang Libra dan Virgo. Begitulah perempuan, tak akan menunda terlalu lama jika ada yang mengganjal di dalam hatinya.


*.*