
Keesokan harinya ketika El sudah sampai di sekolah, dia berjalan santai seperti biasanya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Masuk ke dalam kelas dan mendapati Rigel sudah duduk di kursinya dan dia hanya meliriknya kemudian mengalihkan tatapannya begitu saja. Dia sama sekali tak peduli.
“Lo kenapa?” tanya Odel ketika melihat keanehan itu, “Tengkar sama si Rigel?”
“Kagak. Lagi malas aja gue.” Masih memasang ekspresi datarnya dia menjawab pertanyaan dari Odel. Mengeluarkan buku mata pelajaran pagi ini dan berusaha sok sibuk dengan membuka halaman per halaman buku tanpa di bacanya.
“Jadi, kita udah mulai saling rahasia-rahasian?” El menghentikan aktifitasnya dan menatap gadis di sampingnya.
“Gue nggak merahasiakan apapun. Gue lagi bad mood, dan gue nggak mau bahas apapun.” Katanya dengan datar. Namun sepertinya dia memiliki pemikiran lain, berdiri, kemudian berkata, “Gue keluar dulu.” Katanya kepada Odel dan langsung melesat pergi dari sana.
Rigel menutup matanya merasakan frustasi karena kelakuan sahabatnya tersebut. Namun dia tak melakukan apapun dan membiarkan saja El redam dengan amarahnya. Menjelaskan dan mendekati El sekarang pun sama sekali tak akan membuahkan hasil.
“El kemana?” ketika seorang guru yang akan mengajar di kelas tersebut langsung bertanya ketika mengabsen murid-muridnya.
“Dia keluar sebentar, Pak, katanya.” Jawab Odel. Gadis itu mencubit punggung Rigel kecil untuk meminta bantuan. Rigel menggeleng mengatakan kepada Odel secara tak langsung jika dia tak bisa.
Guru tersebut mengangguk dan kembali mengabsen yang lain agar belajar mengajar hari ini bisa segera dilaksanakan. Odel berkali-kali melihat jam di pergelangan tangannya dan menunggu El kembali masuk. Dan sialnya ketika dia akan menghubunginya, ponsel El terdengar bergetar di tas milik gadis itu. Odel ingin sekali mengumpat kalau saja dia tak mengingat ada guru di depan sana.
Sedangkan El yang dicarinya dengan santai duduk di sudut perpustakaan dan membaca sebuah buku. Bukan buku pelajaran tentu saja, dia lebih memilih sebuah buku sastra. Dia hanya mencoba mencari bacaan yang tidak membuat kepalanya pusing.
“Jangan menunda. Jangan habiskan separuh hidupmu untuk menunggu waktu yang tepat. Seringnya, saat kau sadar, waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu, kau cuma bisa menyesal.”
― Windry Ramadhina,
El membaca beberapa kutipan dari buku-buku novel yang sekarang sedang dipegangnya. Dia bukan penyuka novel, tapi dia suka membaca quote-quote yang membangung.
Gadis itu berfikir, selama delapan belas tahun ini, apakah sekiranya dalam hidupnya yang terabaikan begitu saja? Apa yang belum dikejarnya? Tidak, selama ini bukankah dia tidak pernah mengejar apapun? Dia santai dan tenang dalam hidupnya. Dan lebih banyak, dia ‘menendang’ orang yang tidak disukainya.
Tiba-tiba dia merasa hidupnya semakin tak berguna. Entah itu hanya pemikiran sesaat ataukah pemikiran tersebut akan melekat di dalam pikirannya.
Dia berdiri dan mendekat ke arah dinding kaca yang bisa memperlihatkan semua kegiatan di luar sana. Perpustakaan sekolahnya memang berada di lantai dua, jadi dia bisa puas melihat kearah luar tanpa orang luar tahu mereka sedang diperhatikan.
Bel berbunyi dan menandakan pergantian jam mata pelajaran. Dia tak mungkin terus berada di perpustakaan dan tak mengikuti pelajaran kedua. Karena setelah mengembalikan buku yang tadi di bacanya, dia turun ke lantai satu dan berjalan menuju kelasnya. Dia sudah mengabaikan perasaan galaunya dan kembali memasang wajah datar miliknya.
“El?” ternyata dengan tak sengaja dia bertemu dengan guru yang baru saja mengajar di kelasnya. Alih-alih kaget, dia justru hanya mengehela nafas.
“Maafkan saya karena saya tidak ikut pelajaran, Bapak.” Dibandingkan dia harus mendengar ceramah, El memutuskan untuk lebih dulu meminta maaf.
“Dari mana kamu?” tanya guru tersebut.
“Saya dari perpustakaan, Pak.”
“Ngapain?”
‘Nggak mungkin aku di sana mau isi bensin, Pak’ itu dikatakan di dalam hati. “Baca buku, Pak.” Jawabnya singkat. Dan sebelum lelaki paruh baya itu kembali bertanya, El menjelaskan, “Saya baca buku sastra, saya menbaca quote-quote dari orang-orang hebat.” Tak merapa perlu menutupi, dia berbicara dengan sangat gamblang.
“Kamu sepertinya nggak takut mati, El.” Guru tersebut tersenyum tipis. Jika murid lain, pasti mereka akan berdalih begini dan begitu, tapi tidak dengan El.
“Saya tahu saya salah, jadi untuk apa menutupi kesalahan saya yang jelas-jelas terlihat di depan mata.” Jawabnya santai. Dan karena itulah, guru tersebut tak memberinya hukuman.
“Saya acungi jempol keberanian kamu mengakui kesalah. Kali ini saya tidak akan memberikan kamu sanksi, tapi kalau kamu mengulanginya lagi, beda cerita tentu saja.” El sama sekali tak bereaksi kaget atau sejenisnya.
“Terima kasih, Pak.” Jawabnya dengan tenang. Guru tersebut berlalu dari hadapannya, dan dia melanjutkan jalannya sampai masuk ke dalam kelas.
Odel bahkan langsung berkacak pinggang melihat dirinya yang masuk dengan santai seolah tak terjadi apapun. “Lo dari mana aja sih? Lo tadi dicari sama guru.” El menyeringai.
“Gue udah ketemu sama beliau. Tenang aja, gue nggak akan berbelit dengan tak mengakui kesalahan gue.” Katanya dengan tak acuh.
Odel merasa khawatir jika El akan mendapatkan hukuman, justru El santai saja. Benar-benar gadis itu.
“Kampret emang lo.” Begitu kata Odel mengumpati sahabatnya tersebut.
“Santai, Del. Lo paham siapa gue.” Bangganya sambil terkekeh. Rigel hanya menjadi pihak pendengar tanpa ikut masuk ke dalam obrolan mereka. Dia tahu ucapannya pasti tak akan dipedulikan oleh gadis tersebut.
*.*
“Jadi sekarang kita akan seperti ini?” Rigel sepertinya tak bisa menahan lebih lama untuk tak segera menyelesaikan ‘permasalah’ antara dirinya dan juga El. Karena nya dia malam ini datang ke rumah El dan berbicara dengan gadis itu.
“Seperti ini gimana?” tanya El menatapa Rigel, “Lo yang ambil jalan untuk jauh dari gue kan?”
“Tapi bukan seperti itu, El!” Rigel serius menatap El. Mereka tidak ada di dalam rumah El, tapi duduk di ayunan di depan rumah agadis itu.
“Lah, lo yang bilang waktu itu kan?” Ngotot El.
“Gue udah menajadikan orang lain tameng biar gue nggak jatuh cinta sama lo, gue Cuma nggak mau persahabatan kita berakhir menyedihkan kalau sampai cinta itu nggak berujung bahagia.”
El diam mendengar itu. Rigel yang duduk di ayunan sebelahnya menatap dirinya, tapi gadis itu hanya diam dengan memainkan kedua tangannya.
“Gue nggak tahu kenapa gue bersikap kekanakan seperti ini,” jawab El akhirnya, “Entah karena gue benci lo yang nggak percaya sama gue, atau seperti apa gue nggak paham, “Gue sepertinya harus mengalihkan hal ini dengan memiliki kekasih.”
Mendapatkan jawaban seperti itu dari El, Rigel yang sekarang merasa tak terima. Lelaki itu diam saja dengan mata yang masih fokus menatap depan. “Ide itu seperti lebih bagus.” El tiba-tiba tersenyum mengeluarkan idenya sendiri. Sedangkan Rigel hanya sanggup menelan ludahnya dan kebingungan dengan dirinya sendiri.
Masa bodoh dengan siapa yang pantas dan tidak, begitu kira-kira pemikiran El. “Oke!” El berdiri, “Kita jalan!” Rigel kini mengernyit dengan ajakan El, “Anggap aja kita udah baikan.” Seringaian itu muncul di bibir El.
“Ayo, kita cus.” El sudah bersikap biasa, tapi Rigel sepertinya merasa jika gadis itu hanya berusaha untuk baik-baik saja di depannya.
Motor Rigel sudah melesat pergi dan membawa dua orang itu membelah jalanan kota Jakarta. “Gue mau makan jagung bakar, Gel!” teriak El di telinga Rigel. Lelaki itu memang tak menjawab dan dia paham kemana dia harus membawa El pergi.
Ada suatu tempat favorit mereka untuk menikmati jagung bakar. Biasanya mereka akan pergi bertiga kesana, dan pengecualian untuk hari ini.
“Udah agak lama kita nggak kesini.” Mereka sudah berada di tempat tersebut dan sudah memesan jagung tersebut, “Udaranya enak ini.” Meskipun angin malam berhembus, tapi tidak membuat El merasa kedinginan.
Mereka duduk di bawah pohon dengan duduk di atas batang pohon yang memang sudah tumbang, dan melihat penjual dengan sibuk membakar jagung-jagung tersebut.
Aromanya benar-benar membuat El merasa senang. Namun dia jelas tak berkomentar. Dua orang itu hanya saling diam tanpa mengatakan apapun. Sesekali Rigel melirik El dan merasa masih ada ganjalan di hatinya.
“Lo pernah ngerasain nggak sih, Gel, kalau selama ini hidup lo itu santai-santai aja? Nggak ada sesuatu yang harus lo perjuangin.” El membuka percakapan.
“Ada kalanya gue juga mikir gitu, tapi gue nggak terlalu mempedulikan pemikiran itu. Apa yang ada di depan gue, itulah yang harus gue hadapi.” Sambil menggigiti jagung dan menikmatinya, “Kenapa tiba-tiba lo tanya kayak gitu?”
“Nggak ada, cuma mikir kayak gitu aja.” Katanya dengan santai.
“Boleh kita bahas masalah kita?” Rigel seperti memancing emosi El.
“Lo mulai lagi.” Ada nada malas yang terdengar dari suara El. Namun sama sekali tak dipedulikan oleh lelaki tersebut.
“Gue hanya ingin memastikan kalau lo nggak ada masalah kalau gue punya pacar sekarang.”
“Sejak kapan gue mempermasalahkan itu?” alis El terangkat satu seolah menantang, “Gue mulai paham sekarang. Karena gue merasa selalu elo yang ada di samping gue, selalu elo yang menjadi sahabat gue, karenanya gue merasa hanya elo yang pantas untuk gue. Pemikiran itu gue rasa akan berlalu seiring berjalannya waktu.”
“Lalu sekarang, pemikiran itu masih ada?”
“Tentu.” Cepat sekali El menjawab, “Gue masih menempatkan elo di atas dari banyaknya cowok yang ada di muka bumi ini.” Rigel harusnya merasa tersanjung bukan, El mengatakan itu dengan gamblang tanpa ada filter sama sekali. Khas El sekali.
Lelaki itu akhirnya hanya diam saja, “Tapi lo nggak perlu khawatir, gue nggak akan ganggu lo kalau lo sama pacar lo. Karena sekarang, gue bukan lagi prioritas dari siapapun.” Entah kenapa Rigel merasa tersentil jantungnya ketika mendengar itu.
“Kenapa lo jadi berfikiran seperti itu?” Rigel sudah sepenuhnya menatap gadis itu dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
“Lo punya pacar, Al juga punya Odel sekarang, itu sudah menjawab semua pertanyaan elo kan?” El memang sekarang sepertinya sedang merasa sendirian, tapi dia sama sekali tak menunjukkan jika dia bersedih.
El masih menggigiti jagung yang dipegangnya dan menikmatinya. Namun Rigel hanya menatap jagung itu dalam diam. Perasaannya tiba-tiba terasa tersakiti dengan apa yang dikatakan oleh El. Bahkan rasanya dia merasa tak berani menatap gadis itu.
“Gue masuk dulu. Lo mau masuk lagi?” sudah pukul setengah sepuluh, dan El harus sudah pulang di jam itu. Karenanya Rigel mengantarkan gadis itu pulang. Dia tahu semua aturan yang harus dipatuhi.
“Enggak, salam aja sama Om dan Tante.”
“Al, enggak?”
“Gue tahu dia nggak akan peduli.” El terkekeh dan mengangguk-anggu.
“Oke, lo hati-hati, gue masuk dulu.” Melambaikan tangannya, El membuka pagar rumahnya dan memberikan isyarat kepada Rigel untuk segera pergi, dan dijawab anggukan dari Rigel. Lelaki itu langsung melesat pergi dan meninggalkan kepulan asap motor di belakangnya.
El masuk ke dalam rumah, menyapa orang tuanya yang sedang asyik menonton televisi, kemudian naik ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memainkan ponselnya.
“Mana jagungnya?” Al muncul di kamarnya, dan ikut berbaring di bagian lain kasurnya.
“Di penjual jagung lah.”
“Teganya, nggak bawain ke rumah.”
“Nanti lah kita ke sana.” Decakan itu diberikan oleh Al kepada El,
“Minggu besok, kita harus ke rumah Kakek. Kita udah lama nggak kesana dan tadi aku ditelpon dan diomeli.” El menyeringai mendengar itu. Benar, entah sudah berapa lama dia tak mengunjungi para orang tua itu. Pasti ketika mereka datang nanti, entah berapa panjang omelan itu dari keempat nenek kakeknya.
“Kita pasti nanti bisa meluncurkan buku yang judulnya, Omelan kakek nenek.” Kata El santai.
“Benar.” Al juga paham jika itu pasti akan terjadi, “Tapi kamu bisa mengatasi mereka.” Al selalu mengandalkan El yang bisa membuat kekek neneknya diam ketika sedang mengomel.
“Kamu bisa mengandalka aku.” Bangga El.
El memang tidak pernah kekurangan kasih sayang. Semua orang menyayanginya, bahkan Rigel pun tak bisa berkutik jika dia sudah bersuara dan meminta sesuatu. Tapi gadis itu sudah merasa semuanya agak berubah sekarang. Namun dia hanya memendamnya saja sekarang apa yang dirasakannya.
“Jadi sekarang, ada yang kena boomerang ya? Senjata makan tuan. Istilahnya begitu.” Al melirik El sambil menyeringai, sepertinya lelaki itu sudah mengetuahui apa yang terjadi pada El dan Rigel. Karena perubahan antara El dan Rigel terlihat di matanya.
“Enggak ada yang seperti itu,” sanggah El, “Slow down, Baby.” Katanya balas menyeringai.
Namun Al tak lagi mendesak El tentang perubahan yang dilihatnya. Dia tak ingin adiknya itu merasa tak nyaman dan kemudian mengomelinya. Kalau El sudah mengomel, bisa berabe dunianya.
“Si Ares ini, suka sekali ngelike foto gue,” El sedang melihat media sosialnya, dan mendapati Ares berkomentar di salah satu postingannya dan juga menyukai fotonya.
“Dia bersih,” kata Al, “Gue udah selidiki dia, dan gue tahu dia dua tingkat di bawah Rigel, Rigel memang tentu lebih unggul dari cowok itu. Tapi dia bisa kalau lo mau.” El sama sekali tak berkomentar.
*.*