
Suasana riuh itu menandakan kebahagiaan. Begitulah istilahnya sekolah. Pengumuman kelulusan yang ditempelkan di mading sekolah dipenuhi oleh murid kelas dua belas. Dan ketika hasilnya memuaskan, dan dinyatakan semua lulus, maka keriuhan itu terjadi.
Saling bergerombol di lapangan, mereka mencoret-coret seragam mereka yang sudah tidak akan digunakan lagi. Sepertinya itu adalah kegiatan yang begitu menyenangkan sekali bagi mereka.
“Vir! gue mau tanda tangan elo.” Banyak teman gadis sekolahnya yang memiliki permintaan yang sama dan jelas saja diterima dengan baik. Bak seorang artis, dia selalu di datangi gadis-gadis itu. Tak lupa juga dengan Yana.
“Lo mau kuliah di mana setelah ini?” Virgo dan Yana duduk di kursi depan kelas berduaan. Yana mendekati Virgo ketika pria itu duduk sendirian di sana sambil menatap teman-temannya yang heboh.
“Di Jakarta aja. Lo?”
“Gue juga. Mau satu kampus?” tawar Yana sambil menatap Virgo di sebelahnya.
“Boleh.” Itu menimbulkan senyum lebar dari Yana.
“Kamu kuliah di Universitas mana?”
“Belum tahu,” bahunya mengedikkan bahunya dengan santai, “Aku pun belum tahu. Aku juga belum cari universitas yang mungkin bisa menerima aku.”
“Kamu pasti di terima di kampus manapun, aku benar kan?” Virgo mengedikkan bahunya tak acuh.
“Mungkin.” Katanya dengan santai. Kemudian keduanya saling diam. Virgo memang tak niat mencari bahan pembahasan lain, sedangkan Yana menikmati waktunya dengan Virgo tanpa ada yang mengganggu. Sayangnya itu tak lama karena Baro datang-datang menarik tangan Virgo.
“Ngapain lo di sini? Ayo! Kita ke depan, setelah ini kita nongkrong dan membahas apapun yang ingin dibahas.” Bahkan tak mempedulikan Yana yang sebal setengah mati.
Markas mereka memang banyak, dan untuk kali ini di rumah Rai. Makanan sudah banyak tersaji di atas lantai halaman belakang dengan minuman dingin sebagai pelengkap. Virgo berbaring di atas lantai itu dengan tangan sebagai bantal, matanya memejam sambil mendengarkan suara Baro bersenandung dengan memainkan gitarnya.
“Gue denger, ada yang mau kuliah di luar kota,” Sam membuka percakapan setelah Baro menyelesaikan satu lagunya.
“Siapa?” Edo yang bertanya, “Kan kita udah sepakat untuk kuliah di tempat yang sama?” lanjutnya dengan wajah kaget.
“Bukan kita kok, tapi diantara mereka.” Masih tak memahami dengan apa yang Sam katakan, Kini justru Rai yang bersuara.
“Siapa sih yang lo maksud?” Sam memberikan tanda kepada ketiga teman-temannya dan melirik ke arah Virgo. Mengatakan secara tidak langsung jika dia membahas tentang lelaki itu.
“Lo dapat dari mana informasi itu?” lanjut Edo, “Jangan hoax aja lo.”
“Gue dapat info akurat sekali. Lo nggak perlu meragukan hal itu.” Sam masih melirik Virgo agar lelaki itu ikut menanggapi obrolan teman-temannya. Sayangnya tidak. Virgo tetap diam tanpa mengatakan apapun. Sam bahkan harus menggelengkan kepalanya kepada teman-temannya untuk tak lagi melanjutkan obrolan masalah itu.
Karena satu hal yang pasti, Virgo tak akan pernah bereaksi. Maka umpan yang mereka berikan tak akan berfungsi. Virgo akan tetap diam dan tak peduli sama sekali.
“Rumah lo beneran buat gue klenger, Rai. Ngantuknya nggak bisa ditahan.” Katanya dengan mengerjapkan matanya. Kepalanya ditekuk ke kanan dan ke kiri untuk stretching.
“Lo tadi tidur, Vir? Segampang itu?” Edo memastikan. Jangan sampai ucapan mereka tadi itu hanya angin lalu. Ketidak ikutan Virgo masuk ke dalam obrolan mereka karena lelaki itu memang sudah terlelap.
“Sedikit aja sih. Mata gue nggak bisa diajak kompromi lagi rasanya. Kampret emang.” Meneguk minuman dan kemudian mengambil cheese cake yang sudah dipotong-potong tipis, Virgo mengunyah dengan sangat santai. Entah berpura-pura atau memang tak peduli dengan apa yang teman-temannya yang sedang menatapnya dengan serius.
“Kenapa?” aaaaa, ternyata dia menyadari jika dia diperhatikan oleh mereka.
“Lo serius nggak denger apa yang kami obrolkan tadi?”
“EnggaK.” Virgo menggeleng dengan pasti tanpa berpikir lebih dahulu, “Emang kalian ngobrolin apa?” tanyanya.
“Haisshhh,” Sam mendesis dengan jengkel karena Virgo. “Tentang Libra.” Tak mau lagi bertele-tele, Sam memilih berterus terang. “Dia akan kuliah ke luar kota.” Dan tak ada ekspresi kaget yang ditunjukkan oleh Virgo, santai saja dia.
“Lo nggak kaget?” Edo yang bertanya.
“Kenapa gue harus kaget?” Virgo balik bertanya dengan wajah heran.
“Oi! Dunia.” Baro bersuara keras karena melihat Virgo yang seperti itu. “Kalau Libra kuliah ke luar kota, otomatis lo nggak akan ketemu sama dia. Dia bisa saja dapat cowok baru di sana. Lo nggak nyesel?”
Virgo mendengar dengan seksama dan menatap teman-temannya satu per satu. Setelahnya dia terkekeh. “Kalian beneran sahabat terbaik gue sih.” Menyamankan duduknya dengan kaki berselonjor, kedua lengannya digunakan untuk menyangga tubuhnya, lelaki itu menjawab,
“Hidup ini berjalan, Guys, nggak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang bukan kehendak kita,” santainya, “Perasaan gue sampai saat ini memang belum berubah. Gue masih sayang dia dan itu nyata. Tapi gue nggak bisa dan nggak mau memaksakan keinginan gue dan akan membuat orang lain sakit hati.”
“Tapi lo tahu nggak kalau lo itu sama sekali nggak berusaha untuk meyakinkan ayah Libra agar kalian bisa Bersatu?” Edo bersuara.
“Gue ngerasa kalau apa yang gue lakuin ini nggak akan buat kalian puas. Karena keinginan kalian adalah gue berusaha keras untuk bisa mendapatkan restu dari ayah Libra,” Virgo meneguk ludahnya dan merubah posisi duduknya dengan bersila. “Tapi lo pernah memikirkan nggak apa yang gue dapatkan dengan berusaha tetap sama Libra?” tak ada jawaban dari teman-temannya, maka dia melanjutkan, “Cinta dan hubungan yang direstui. Tapi setelahnya apa? Apa hubungan kita sekarang akan berlanjut sampai nanti? Apa dengan gue sekarang mendapat itu lantas gue setelah lulus sekolah langsung nikah sama dia?”
Bak seorang motivator yang handal, Virgo mendapatkan perhatian yang fokus dari teman-temannya. “Gue mau aja melakukan itu dan membuat Libra tetap berada di sisi gue, tapi gue nggak mau lebih menjadi lelaki brengsek di mata ayah Libra.”
“Tapi sekarang lo kehilangan dia.” Sam sepertinya sudah tak sabar dengan kelakuan dan sikap ***** sahabatnya itu. Mungkin kalau bisa dia ingin menendang dan menampar lelaki itu. Hanya saja itu tak mungkin dilakukannya.
“Tuhan yang akan menjawab semuanya. Gue nggak perlu memaksakan sesuatu diluar kehendak gue.” Dan memang sepertinya bagaimanapun teman-temannya ‘mendorongnya’ untuk maju, lelaki itu tak akan melakukannya. Maka diam adalah jalan yang baik.
*.*
Hari memang cepat berlalu, Virgo bukan lagi seorang murid sekarang, tapi seorang mahasiswa. Dia sudah diterima di salah satu kampus swasta ternama bersama keempat teman-temannya. Mereka memang satu kampus, tapi jurusan yang mereka ambil memang berbeda.
Itu tentu bukan hanya bualan saja, namun memang Virgo dan Edo adalah sejoli yang akan mewujudkan mimpi yang sudah mereka rajut.
Ospek sudah selesai dilaksanakan, teman-teman baru satu jurusan sudah di dapatkan, bukan hanya satu angkatan tapi juga kakak angkatnya. Kepopuleran sepertinya memang mudah sekali didapat oleh Virgo. Tapi karena memang itu adalah hal yang biasa baginya, dia mana sadar. Ketika dia sudah masuk ke dalam ruang kelas untuk mulai kuliah pertamanya ada rasa semangat yang dirasakannya di dalam hati. Bukan hanya Virgo, tapi Edo juga.
Selama dia menunggu pengumuman kelulusan kemarin, memang dia sudah mencari tahu banyak hal tentang mata kuliah yang akan diambilnya. Dia sudah membaca beberapa buku miliknya yang sempat dibelinya untuk pengenalan.
“Hari pertama kuliah, belum ada hal yang istimewa,” Baro membuka suara lebih dulu. Mereka berkumpul di kantin untuk mengisi perut mereka. Ada beberapa dari mereka yang masih memiliki kelas setelah ini dan ada yang sudah selesai dan tinggal pulang ke rumah. “Masih perkenalan dosen, dan gitu-gitu aja.” Lanjutnya sambil mengunyah makanannya.
“Emang lo mau awal kuliah kita udah di kasih tugas seabrek-abrek? Pemanasan dulu lah pasti.” Edo menanggapi. Ini lah kenapa mereka memilih satu kampus meskipun berbeda jurusan dan mungkin mereka akan sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing nanti, tapi mereka masih bisa saling nongkrong bersama meskipun sebentar.
“Di kelas gue ceweknya masa cuma beberapa biji aja coba,” Edo berceletuk. Dan mendapatkan respon dari teman-temannya.
“Ya iya lah kampret, namanya IT, pasti ceweknya juga cuma dikit.” Bahkan tak lupa toyoran di kepalanya diberikan kepada Rai kepada lelaki itu.
“Kini waktunya beraksi cara pacar lah,” kini Baro menyambung, “Buat semangat kalau mau kuliah.” Katanya sambil menaik turunkan alisnya tak jelas. “Jadi jurusan siapa yang banyak ceweknya ya? Akuntansi lho kayaknya,” namun dia menyadari jika diantara teman-temannya tak ada yang memilih jurusan tersebut, “Haish, kita kan nggak ada yang ambil jurusan akuntansi ya?” lanjutnya dengan wajah bosan.
“Anak-anak kedokteran kan lebih cantik-cantik. Calon-calon dokter hebat. Gue mau lah satu, ibu dokternya,” kini Rai request kepada Baro yang mendapatkan acungan jempol oleh lelaki itu. Obrolan mereka sama sekali tak ada faedahnya sama sekali.
“Kalau macam Sam ini lah nggak usah cari lagi, udah nggak jomblo lagi dia,” Edo memperjelas status yang dimiliki oleh Sam yang memang sudah menjalin hubungan dengan Riska sebelum mereka ujian negara waktu itu.
“Lo udah punya kenalan yang cakep belum?” Virgo mendapatkan bagian untuk diinterogasi oleh teman-temannya.
“Jangan salah,” Edo yang bersuara, “kayanya jiwa idolanya itu udah lengket sama dia.” Kemudian menepuk dadanya pelan, “Gue juga kecipratan menjadi idola dong.” Bangganya dan mendapatkan geplakan dari teman-temannya.
“Ya, Lumayan lah, gue nggak di cuekin sama orang-orang baru itu.” Virgo memang sejak tadi hanya menjadi pihak pendengar karena dia tak tahu harus menanggapi seperti apa obrolan tersebut.
Waktu-waktu seperti ini yang masih belum serius belajar memang selalu dimanfaatkan oleh mahasiswa baru untuk flirting kesana kemari untuk mencari kekasih. Memanfaatkan waktu yang mereka miliki sebaik mungkin. Seperti itulah kira-kira.
Virgo melihat-lihat buku di rak-rak di toko buku. Setelah mengobrol bersama teman-temannya, dia memilih pergi ke toko buku untuk mencari buku yang akan digunakan untuk referensi ketika di rumah. Dosennya sudah mengatakan jika proses pembelajarannya tidak memerlukan buku, karena yang terpenting adalah laptop. Seandainya dia mengambil kuliah seperti Aksa, dia bisa menggunakan buku lelaki itu yang berjejer rapi di rumah Aksa, sayangnya dia memiliki jurusan yang berbeda.
Melihat di bagian alat tulis, dia menemukan pena pensil bergambar lucu-lucu dan senyumnya terbit ketika mengingat Ixy. Gadis cilik itu pasti sangat menyukai benda itu kalau dia membelikannya.
“Vir?” entah kebetulan dari mana, tapi dia bertemu dengan Yana disana.
“Hai! Yana?” katanya. Yana jelas tak satu kampus dengan Virgo karena memang Virgo tak memberitahukan kepada gadis itu dia akan kuliah di mana.
“Sendirian?”
“Iya. Lo?”
“Gue sama temen. Mau gabung? Setelah ini kami mau makan dulu. Mau ya!” tatapan gadis itu memohon dan penuh harap.
“Boleh.” Dan hal itu menimbulkan senyum merekah dari Yana.
“Kalau gitu kita bayar dulu ya bukunya.” Begitu katanya dengan semangat. Virgo hanya mengangguk saja dan memutuskan mengambil beberapa pena yang akan dihadiahkan untuk Ixy dan juga Avez.
Maka disinilah sekarang. Di food court mall dengan Virgo lelaki seorang diri di meja tersebut bersama Yana dan kedua temannya.
“Gue sebenarnya nunggu lo,” kalimat itu berarti ambigu bagi Virgo, “tapi lo nggak kasih tahu ke gue kemana lo akan kuliah.” Virgo tersenyum.
“Anak-anak yang ngatur. Gue sih manut aja mereka akan kuliah di mana.”
“Jadi itu bukan pilihan elo?”
“Sedikit aja sih,” kampus yang sekarang tempat menimba ilmu seorang Virgo adalah jelas pilihan lelaki itu. Dan teman-temannya memutuskan untuk mengikuti Virgo karena mereka tak ingin susah-susah mencari kampus dan membuatnya ribet sendiri.
“Gue hanya merekomendasikan.” Santainya. Virgo merasa tak nyaman sebetulnya dengan ini. Yana bukanlah gadis yang akrab dengannya, hanya saja gadis itu memang menunjukkan dengan terang-terangan jika dia memiliki perasaan lebih kepada Virgo.
Virgo berusaha membuat pertemuan ini menjadi menyenangkan, tapi bagaimanapun juga dia tak merasa tak betah. Maka dengan alibi jika dia memiliki urusan lain, dia pamit kepada Yana dan juga teman-teman gadis itu. Meskipun awalnya Yana mencoba menghalangi, tapi dia bisa keluar juga dari obrolan yang sama sekali tak berfaedah sama sekali itu.
Sampai rumah, dia sudah mendapati kakeknya duduk di ruang keluarga bersama ayahnya. “Kakek!” lelaki itu pastilah agak heran dengan keberadaan lelaki tua itu.
“Cucuku!” katanya dengan senyum merekah, “Gimana sekolahnya?” tanyanya setelah Virgo duduk di satu sofa dengan ayahnya.
“Masih santai sih, Kek. Kan kan hari pertama.” Melihat Virgo yang tadi membawa tentengan, lelaki tua tersebut bertanya,
“Dari mana kamu? Apa itu?” tunjukkan pada kantong plastic yang diletakkan di atas meja.
“Buku. Aku mampir beli buku tadi,” Virgo pamit untuk ke kamarnya dan membiarkan ayah dan kakeknya itu mengobrol yang dia tak tahu sedang membahas masalah apa.
Merebahkan badannya di atas kasur dan melihat sosial medianya. Dan ketika melihat postingan seseorang, matanya terus menatap sedangkan hatinya terasa tak bisa mengelak jika dia sedang merindukan gadis itu.
*.*
Selamat Berbuka Puasa, Ges 🌹🌹🌹