Blind Love

Blind Love
BAB 9



Menjelang UTS pertama di kelas XII, Yohanes si genius sudah sibuk membuka les gratisan bagi teman-teman sekelas yang ingin belajar bersama. Sebenarnya aku ingin ikut, tapi Rifa bilang ia lebih suka belajar berdua denganku daripada ramai-ramai begitu. Aku senang-senang saja jika memang itu maunya.


“Pokoknya setiap malem Minggu aku datang ke rumah kamu. Kita berjuang sama-sama,” kata Rifa saat jam olahraga.


“Mau belajar apa pacaran?” ledek Cilla.


“Keduanya,” tukas Rifa sebelum akhirnya kembali ke zona cowok, ikut bermain bola.


Hidup kami yang sempat terguncang gara-gara ancaman memo aneh tempo hari seolah menguap begitu saja. Kami menyimpulkan si pengirim hanya menyampaikan gertak sambal. Buktinya, sudah dua minggu berlalu sejak surat tersebut kami terima, hidup Rifa masih baik-baik saja. Bukannya aku berharap ia celaka, hanya saja ....


“Lupain,” bisikku pada diri sendiri.


Sementara anak-anak cowok bermain bola, para cewek justru ribut menjerit-jerit saling mengejar satu sama lain. Guru olahraga kami sedang sibuk mempersiapkan pemilihan ketua OSIS yang akan dilaksanakan minggu depan. Jadi kami diberi kebebasan dalam menentukan olahraga apa yang akan dilakukan, dengan catatan tidak ada yang berdiam diri di kelas. Berhubung lapangan basket digunakan kelas XI dan matras dipakai kelas X, maka kelas XII memutuskan untuk bermain kucing-kucingan. Sebenarnya masih banyak alternatif olahraga lain, tapi mayoritas memilih main kucing-kucingan. Berlari-lari termasuk olahraga kan?


“Lo udah kena, La! Lo curang!” protes Ridha menunjuk rekan setimku, Lala. Permainan kali ini membagi anak-anak cewek yang berjumlah 20 (minus Vera. Cewek ambisius ini lebih sudi mampir ke perpustakaan daripada main kucing-kucingan. “Yang penting gak di kelas,” katanya datar) ke dalam dua kubu. Bisa dibilang timku lebih lemah dibanding tim lawan. Rekan kami sudah tumbang enam, sedangkan lawan kami baru tumbang dua. Kyaaa ... kami pasti kalah!


Lima belas menit kemudian permainan berakhir. Timku terbahak-bahak menerima kekalahan. Tidak ada yang protes, merasa dicurangi, dan lain-lain. Toh ini cuma game, menang-kalah sudah biasa.


“Senang bekerja sama dengan anda.” Kedua tim saling berjabat tangan mengakhiri sesi pertarungan hari ini.


“Gue haus, ke kantin dulu ya?” kataku pada Cilla sambil mengusap-usap tenggorokan. Tanpa menunggu jawabannya, aku berlalu menuju kantin yang terletak di belakang lapangan olahraga.


Saat tanganku sibuk memilih-milih minuman di lemari pendingin Pak Parman, tiba-tiba dari arah pintu masuk muncul seorang cowok berkulit kecokelatan diikuti tiga orang pasukannya.


Jantungku bergemuruh seketika. Orang itu Andre. Sampai detik ini aku masih merasa bersalah sempat mengingkari janji bertemu dengannya dua minggu yang lalu. Ia pasti marah karena merasa tertipu olehku.


Setelah memilih satu minuman di kulkas, lalu membayarkan sejumlah uang pada Pak Parman, aku berbalik. Sampai di situ, aku mematung. Bingung mesti kabur ke mana. Satu-satunya jalan ke luar tengah dikuasai Andre. Apa yang harus kulakukan sekarang?


Hal yang kutakutkan pun terjadi. Andre memergokiku. Ia mengerutkan kening dalam, lalu tersenyum lebar begitu mengenali wajahku. Dihampirinya aku dengan langkah gesit. “Alexa, kamana wae anjeun?” tanyanya ramah. (Alexa, kemana aja kamu?)


Aku mengernyitkan kening, kemudian tersenyum simetris. Well, tampaknya Andre tidak marah padaku. “Baik. Gue ada terus, kok.”


“Oh ....”


“Kumana bejana?” (Apa kabar?)


“Alhamdulillah, rada gelo!” (Alhamdulillah, agak gila). Ia dan kedua rekannya tertawa geli. Menyadari kebengonganku, ia pun berkata, “Sori, Xa. Gue emang begini orangnya. Maklumin aja, ya?”


“It’s okay. Lo ke kantin mau jajan atau …?”


Andre terdiam. Ia mengalihkan pandangan ke tempat lain, tampak ragu untuk berujar. Tangannya bergerak gelisah di dalam saku celana.


“Kenapa lo? Gak lagi grogi karena ada di deket gue, kan?”


“Hah!?” serunya kaget. Tapi tak lama, seringai jahilnya muncul ke permukaan. “Cieee ... gak nyangka ternyata pacar Rifaldi bisa narsis juga!”


Kurasakan mukaku memanas mendengar ungkapan terlalu jujur Andre.


“Gak usah malu gitu, kalau suka bilang aja,” katanya tidak nyambung. “Eh, tapi bener kan, lo ceweknya Rifaldi?”


“Iya ....” Aku mengangguk ragu, entah mengapa firasatku mendadak tidak enak.


“Titip ini buat dia, ya?”


Aku tak ingin percaya, namun apa yang kutakutkan justru terjadi. Amplop itu datang lagi. Meski belum melihat isinya, aku yakin si pengirim pasti orang yang sama.


“Siapa yang ngasihin ini ke lo?” tanyaku lambat-lambat.


Aku menggeleng kalut. Otakku mendadak tidak dapat memikirkan apa pun. Seperti diselimuti kabut tebal. Bahkan untuk sekadar menggeleng pun aku harus berpikir keras. Ada sesuatu dari ucapan Andre yang benar-benar mengganjal hatiku. Ya, ia menyebut nama kakaknya, Kevin Salawijaya. Jika Kevin yang ia maksud adalah Kevin Salawijaya yang itu, berarti si pengirim termasuk orang yang berbahaya.


Kevin alumnus sekolah swasta yang di dalamnya berisi berandalan tukang tawuran. Dengan demikian bisa dipastikan Unknown—pengirim tak dikenal—merupakan bos dari anak-anak bandel sekitar sana, dan bisa jadi Kevin merupakan salah satu anak buahnya.


“Alexa, lo mau gue balikin surat ini ke abang gue?”


“Jangan! Biarin Rifa baca dulu,” gumamku. “Ini cuma memo, Dre.”


“Oh, jadi begini kelakuan kamu di belakang aku?”


Aku serasa membeku di tempat saat mendengar suara itu. Andre pun tidak kalah kagetnya denganku. Ia buru-buru melepaskan tangannya dari bahuku begitu tahu siapa yang baru saja berbicara.


“Rifa, sejak kapan kamu di sini?”


“Kenapa?” Rifa balas bertanya. “Tenang aja, aku belum lihat yang lebih buruk dari ini!”


Rifa menatap aku dan Andre bergantian kemudian berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia pergi meninggalkan aku bersama kekalutanku.


***


“Rifa, Alexa cuma nerima amplop ini dari Andre. Dia gak ngapa-ngapain selain itu.” Cilla berusaha membujuk agar Rifa mau memaafkanku. Aku nyaris pasrah terus didiamkan olehnya seperti ini.


Aku menatap penuh harap. “Maafin, ya?”


Bukannya menjawab, ia malah menatapku datar. Namun tiba-tiba tawanya meledak. Ia terbahak sambil menunjuk-nunjuk wajahku. Bukan hanya aku, Cilla pun tampak keheranan. “Ya, ampun muka kamu pucat banget, Sayang! Aku gak marah kok, tadi cuma pura-pura.”


Aku begong sejenak. Kemudian, “Ahh ... Rifa jahat!” Kupukul punggung Rifa bertubi-tubi.


Rifa pasrah menerima pukulanku. Kendatipun demikian, tawanya tak kunjung lenyap, membuatku semakin gemas.


“Oke, oke, udahan mukulnya,” ujar Rifa. “Hahaha ... sini, mana amplopnya? Kita baca bareng-bareng.”


***


Jauhin Alexa kalau lo gak mau nyesel


Kalimat tersebut terus terngiang-ngiang di kepalaku. Rasa cemas, waswas, hingga takut kembali memenuhi batin.


“Alexa, kamu kenapa?” tanya Raka dari halaman rumahnya. Ia merangkak naik ke tembok pembatas untuk menghampiriku.


Aku menggeleng dan tersenyum. “Aku gak kenapa-kenapa, kok.”


“Tapi muka kamu pucat. Kamu lagi ada masalah sama mantan ketua MPK itu, ya?” selidik Raka curiga. Aku mesam-mesem mendengar ia menyebut Rifa sebagai mantan ketua MPK. Sebegitu sulitnya kah menyebut nama Rifa secara langsung?


“Raka, aku mau nanya, deh.”


“Apa? Tanya aja.”


“Dari angka satu, dua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh akan dibentuk menjadi empat bilangan. Peraturannya tidak boleh ada angka yang berulang. Jadi, berapa kemungkinan bilangan yang dapat dibentuk?”


“Hah!?” Raka melongo.


“Lo gak bisa jawab, kan? Ayo kita belajar!”


Meski bukan anak cerdas, belajar bisa mengalihkan perhatianku dari segala sesuatu. Setiap habis dimarahi Mama, musuhan dengan teman, atau dapat nilai jelek, aku pasti selalu melampiaskannya lewat belajar. Tekanan dalam jiwa rasanya berkurang setelah aku melakukannya. Semoga hal tersebut masih berlaku hingga kini.