Blind Love

Blind Love
BAB 19



“Bisa bicara sebentar?”


Ini seperti mimpi. Rifa tiba-tiba menghampiri bangkuku dan meminta bicara. Seketika, kami menjadi objek perhatian siswa lain.


“Rifa ….” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Meski hanya berupa bisikan nanar yang nyaris tak terdengar.


Ia menatap lembut. “Ya, Sayang? Bisa kita bicara empat mata? Di dekat gudang, mungkin?”


Aku menelan ludah dengan susah payah. Apa aku tidak salah dengar? Dia baru saja memanggilku sayang?


Tanpa menunggu jawaban, Rifa menarik tanganku lembut. Ia menuntunku menuju gudang sialan itu. Tapi tak apa. Selama bersama Rifa, lubang buaya sekalipun rela kumasuki.


Rifa baru melepaskan genggamannya begitu kami tiba di depan gudang.


Perlahan, ia mendorong bahuku lembut hingga menempel ke tembok. Aku hanya mampu terkesima saat kedua tangannya ikut terentang di tembok yang sama. Membawa anganku melambung tinggi ke angkasa.


Wajah kami hanya berjarak sepuluh senti. Dalam jarak sedekat ini aku bahkan bisa melihat pori-pori yang nyaris tak kasat mata di kedua pipi cowok tersebut.


Napasnya berembus menyapu pipiku. Hangat.


Ia menatap teduh namun terasa mengintimidasi. Maka kucoba menundukan kepala dan mendapati ujung sepatu kami telah bersentuhan.


Namun Rifa tak membiarkannya berlangsung lama. Jemarinya refleks meraih daguku, memaksa untuk tetap mendongak.


Tatapan itu lagi!


Ia memandang kedua mataku secara intens dan dalam. Berpura-pura tidak sadar aku hampir lupa bernapas dibuatnya!


Entahlah... perasaanku mengambang antara gelisah tak nyaman dan berdebar tingkat tinggi.


Perlahan namun pasti, dengan mata yang masih terpaku tajam, Rifa mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Ya Tuhan … apakah ini akan menjadi …?


Deg! Deg! Deg!


Kupejamkan mata erat. Merasakan hangat napasnya tidak lagi menyentuh pipiku, melainkan berbaur dengan napasku yang kian memburu. Sekujur tubuhku mendadak terserang panas-dingin, dan bertambah panas saat kurasakan sesuatu yang lembut mulai menyapu pipiku.


Demi Tuhan, sesuatu yang lembut itu pasti bibir Rifa!


Bibir itu terus bergulir perlahan di pipi kananku hingga berhenti di … telingaku?


Aku membuka mata. Tidak ada lagi wajah Rifa di depan mataku. Hanya rambutnya yang nampak. Tak lama, terdengar serentetan bisikan lirih di udara.


“Aku pasti kembali.”


Hening.


“Tolong jaga hati kamu, Sayang.”


“Fa …."


Rifa melepaskan tubuhku dari rentangan tangannya. Ia mundur beberapa langkah hingga kami dapat saling mengamati lebih jelas. Sungguh melegakan dapat melihat senyuman itu lagi. Senyum manis yang selalu menjadi favoritku.


“Aku sayang kamu.”


Aku hanya bisa melongo. Tak mampu bergerak. Tak sanggup berkata-kata. Bahkan aku lupa bagaimana cara mengatupkan mulut dengan baik dan benar. Benar-benar gila. Rifa membuatku gila! Dan rasanya aku semakin gila begitu mendengar kalimat lain yang keluar dari mulutnya.


“Kita bolos, yuk!”


***


Kesepakatan tercapai. Kami akan meninggalkan bangunan sekolah sebelum istirahat kedua berakhir. Waktu yang kami miliki hanya tinggal lima menit. Kami mesti bergegas jika ingin tetap aman keluar lewat pintu gerbang. Opsi memanjat tembok pembatas atau rute-rute aneh yang biasa dilalui para ‘kaburers’ terenyahkan begitu saja.


Tentu kami tak mau menanggung risiko terpergok atau lebih parah lagi, jatuh kemudian tertangkap basah.


“Sebentar lagi masuk.” Pak satpam menunjuk arlojinya. “Kalian mau ke mana?”


Aku mengerut di belakang tubuh Rifa. Demi Tuhan, aku takut Pak Satpam mengetahui rencana busuk kami.


“Mau ngambil photo copy-an yang tadi pagi, Pak.” Rifa menjawab tenang. “Habis ini ada pelajarannya. Disuruh dikumpulin.”


“Kenapa gak dari tadi?” Pak satpam bersikeras mencegah kami.


“Kan tadi makan dan salat dulu. Bapak pikir waktu istirahat 45 menit itu lama banget ya, sampai bisa menyelesaikan segala macam kepentingan?” tukas Rifa tegas. “Ayolah Pak, jangan membuang waktu percuma. Empat menit lagi bel masuk berbunyi. Apa Bapak mau bertanggung jawab kalau sampai kami dihukum gara-gara gak mengumpulkan tugas padahal kami sudah mengerjakannya?”


Ucapan panjang lebar Rifa membuat Pak Satpam sedikit berpikir. Untunglah tak lama kemudian akhirnya ia mempersilakan kami keluar—karena ini masih termasuk jam istirahat, kami tidak perlu meminta surat izin dari guru piket—dan harus kembali secepatnya.


“Siap. Secepatnya!”


Kami melangkah lebar-lebar dengan kecepatan konsisten selama masih berada dalam radius pandang satpam sekolah. Barulah setelah kami berbelok ke dalam gang di mana tempat photo copy-an berada, langkah kami kembali normal seperti biasa.


“Gila! Aku deg-degan banget, Fa!” seruku masih disesaki adrenalin. Rasa dag-dig-dug melekat kuat di jantungku. Hei, ini kali pertama aku membolos! Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja?


“Aku juga,” kata Rifa. “Tenang aja ya, kita pasti aman. Oh ya, lebih baik kamu SMS Cilla sekarang. Suruh dia jagain tas kamu.”


“Oh, iya!” Aku menepuk jidat. Mengapa aku sampai melupakan hal sepenting tas dan segala isinya? Untung Rifa mengingatkan.


Segera kurogoh gawai dari saku kemeja. Begitu nama Cilla berhasil kutemukan di daftar kontak, langsung kuketik pesan panjang yang pada intinya: gue kabur, jagain tas gue.


Balasan datang tak lama kemudian: tas lo doang, atau…?


Juga tas Rifa, begitu jawabanku.


Cilla: sip


“Udah?” tanya Rifa yang kubalas dengan anggukan. “Oke. Mari kita manfaatkan waktu yang ada!”


“Mau ke mana kita?” Dari tadi kami terus berjalan menyusuri jalan kecil ini. Bahkan tempat photo copy-an sudah jauh terlewat.


“Maunya ke mana?” Rifa balik bertanya, yang kujawab dengan gelengan pelan. “Ke rumah aku aja, gimana?”


Entah mengapa kata-kata Rifa membuatku tersipu malu. Begini kah rasanya canggung di depan ‘mantan’ pacar yang masih kita sayangi? Selalu merasa ada maksud lain di balik ucapan si dia.


Rifa mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. “Bercanda! Jangan baper, please.”


Aku mengerutkan alis. “Baper?”


“Bawa perasaan,” kata Rifa. “Ucapanku tadi jangan dibawa perasaan.”


Ia membisu sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Ceritanya panjang. Sekarang aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”


“Where?”


“Ikut aja. Keren banget pokoknya.”


Anehnya, aku selalu memercayai Rifa.


***


Rifa memang benar-benar berniat bolos!


Langit nyaris menjingga, tapi kami masih asyik menaiki aneka wahana ekstrim yang ada di Dufan.


Ya, ternyata tempat keren yang Rifa maksud itu adalah Dunia Fantasi yang terletak di kawasan Ancol. Jaraknya lebih dari 100 kilo meter dari tempat tinggal kami.


Dari terminal Sadang, kami naik bis. Rifa menyempatkan diri membeli dua buah baju, satu celana, dan satu rok untuk mengganti seragam sekolah yang kami kenakan, sebelum benar-benar meninggalkan Purwakarta.


Bis berhenti di terminal Tanjung Priok 1 jam 50 menit kemudian. Perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan taxi online.


Sepanjang perjalanan dadaku berdebar tak keruan. Aku tahu yang kami lakukan itu salah, tapi tetap saja hati kecilku berteriak, "JUSTRU INI YANG AKU INGINKAN!"


Aku baru bisa kembali tenang saat kami sudah tiba di tempat tujuan, lalu mulai mencoba aneka wahana yang ada di sana.


Wahana pertama yang kami naiki adalah kora-kora. Aku terus berteriak selama wahana yang menyerupai perahu itu berayun semakin tinggi hingga nyaris 90 derajat. Saking takutnya jatuh, kupeluk tangan Rifa erat-erat tanpa memedulikan rasa malu sedikit pun. Cowok itu tidak tampak ketakutan sama sekali. Ia justru tertawa kencang menanggapi reaksi konyolku.


Selanjutnya kami menaiki wahana Halilintar, Ontang-Anting, Poci-Poci, Tornado, Kicir-Kicir, bahkan Istana Boneka!


"Jangan yang ekstrim mulu," kataku saat mengajak Rifa ke Istana Boneka. "Aku pengin rileks sejenak."


Kami masih terus bermain, bercanda, dan tertawa hingga tak terasa matahari mulai turun dari singgasananya. Di momen ini, akhirnya Rifa mengajaku menaiki wahana terakhir di list yang telah ia buat: bianglala.


Detik-detik penuh canda-tawa yang baru saja kami lalui seolah menguap begitu pintu gondola---yang untungnya hanya terisi kami berdua---tertutup.


Rifa seolah tenggelam dalam dunianya dengan kedua mata terpejam. Mulutnya pun terkatup rapat. Belum apa-apa aroma kesedihan sudah menguar dari dalam tubuhnya.


“Fa,” bisikku lirih.


Cowok itu membuka matanya lalu menoleh padaku. “Hehe … maaf malah ngelamun.”


Bibirku tersenyum getir. “Sebenarnya ada apa?”


Iya. Ada apa kamu tiba-tiba mengajakku bolos dan jauh-jauh datang kemari? Bukannya kemarin kamu bilang mau menjauhiku?!


“Apanya?” Rifa mengangkat sebelah alis. “Gak ada apa-apa, kok.”


"Oh, ya?" Aku tidak percaya. "Kenapa ngedadak murung? Bukannya dari tadi kamu ketawa-tawa?"


"Coba kamu lihat itu." Rifa menunjuk air laut di kejauhan sana. Kebetulan saat ini gondola kami sedang berada di puncak bianglala, jadi pemandangan sore Jakarta tampak jelas dari atas sini. "Indah, kan?"


Aku membisu.


“Oh, oke. Jadi begini sikap kamu setelah kita putus?” tanyanya. “Kamu jadi lebih nyaman berdua sama cowok itu dibanding aku, begitu?”


“Aku gak bodoh, Fa …,” kataku akhirnya. “Aku tahu ada hal yang pengin kamu ceritain ke aku. Dan hal itu pasti menyangkut Unknown. Dari tadi kamu cuma nahan-nahan. Sebenernya kamu udah pengin cerita, kan?”


Rifa tampak terperangah mengetahui pikirannya terbaca olehku. “Dari mana …?”


“Kok, kamu jadi oon, sih?”


“Menohok banget kata-katamu itu,” ujarnya sambil tertawa, lalu mengacak rambutku.


“Maaf,” kataku datar. “Kamu bisa mulai cerita sekarang."


Rifa tidak langsung menjawab. Pertama, ia menekan kepalanya dengan dua telapak tangan, menggeleng frustrasi, lalu berteriak penuh emosi, “MOBILKU HANCUR, KEDUA ORANGTUAKU KRITIS DI RUMAH SAKIT, DAN NILAI-NILAIKU TURUN DRASTIS!”


Histeria yang tidak pada tempatnya itu membuatku terperangah. Sama sekali tak kuduga ia akan sehisteris ini. Orang-orang di dekat gondola kami pun terkaget-kaget mendengar teriakan Rifa tersebut. Dan apa katanya tadi? “Orangtua kamu kritis?”


Rifa menghela napas, memutuskan untuk menurunkan nada suaranya lagi. “Seminggu lalu saat pulang kerja mobil mereka tertabrak truk yang melaju kencang dari arah berlawanan. Sementara si tersangka kabur entah ke mana, mobil orangtuaku terbalik dan … dan ….”


Segera kutarik Rifa ke dalam pelukan. Berharap dengan begini kesedihannya sedikit berkurang. Tubuh cowok tersebut berguncang hebat. Hatiku terenyuh. Ikut merasakan kepiluan yang sama.


Momen saling-berbagi-kesedihan ini bertahan hingga beberapa menit. Sampai akhirnya Rifa melepaskan dirinya dari pelukanku seraya mengusap matanya yang memerah.


“I’m sorry,” bisiknya yang kubalas dengan senyuman tulus. “Aku lemah banget ya, gak bisa melindungi kamu dan keluargaku dari kejahatan Unkown?”


“Rifa ….” Aku merajuk. “Tetap semangat, dong!”


Cowok itu tersenyum tipis. “Kamu inget hari ketika aku masuk sekolah dalam keadaan kusut banget?”


Aku mengangguk. Tentu saja aku takkan melupakan saat di mana Rifa Maniac mempermalukanku dengan memajang foto tak senonoh itu di mading!


“Jadi, malam sebelum hari itu seseorang mengabari kalau kedua orangtua aku baru aja mengalami kecelakaan lalu lintas. Aku dan Nenek segera nyusul ke Jakarta saat itu juga. Sebenernya aku bener-bener down melihat mereka tertidur dengan berbagai alat bantu di ICU. Rasanya aku pengin mati aja. Tapi karena Nenek maksa supaya aku sekolah, akhirnya besok paginya—tanpa tidur sama sekali—aku balik ke Purwakarta. Alhasil … ya, kamu tahu sendiri, lah.”


Aku tak bisa menyembunyikan tatapan prihatinku yang kentara. “Mereka dirawat di rumah sakit mana, Fa?”


“Pondok Indah,” jawab Rifa. “Kenapa? Kangen sama calon mertua, ya?”


“Iih, Rifa … calon mertua apaan?”


“Hati-hati nanti mereka minta kita cepet nikah, lho. Hahaha .…”


“Rifa …,” rajukku.


“Tapi, sepertinya aku mulai menemukan titik terang dari teror kejam ini.”


Aku melonjak kaget. “Oh ya? Apa itu?”


“Mungkin aku tahu siapa Unknown.”


“Hah!? Siapa?”


Telunjuk Rifa terangkat. Matanya menatap sesuatu di kejauhan. “Dia.”


Bukan sesuatu. Melainkan seseorang. Tepatnya, seseorang yang mungkin kukenal.