Blind Love

Blind Love
Kisah 40



Al benar-benar berekspresi aneh ketika melihat kembarannya dan juga Rigel saling berteriak sambil berlarian di koridor kelas. Al menoleh kesana kemari barang kali ada yang lain yang ikut serta dalam permainan lari ini sekarang. Kurang satu lagi kan personilnya? Mungkin seperti itulah batin Al. Sayangnya Odel tak ada di sana.


Berarti yang terlibat dalam permainan ini adalah hanya dua orang saja sekarang. Dan Al sama sekali tak paham dengan itu. Maka daripada dia pusing memikirkan kekonyolan kembarannya, maka dia hanya berlalu saja dari sana dan masuk ke dalam kelasnya.


Sepertinya matanya mengantuk, tapi sebentar lagi masuk kelas. Karena itu dia hanya duduk di kursinya dengan tenang sambil menatap sekeliling kelasnya.


Sedangkan El dan Rigel? Tentu saja El sudah tertangkap karena gadis itu kelelahan. Dengan garangnya Rigel mengempit kepala El sambil bernafas tersengal.


“Gel, gue capek sumpah.” Katanya sambil duduk di depan kelas orang lain. Beralih mencekal tangan El, Rigel juga merasa kelelahan.


“Beli minum, El. Haus banget gue.” El memeotkan bibirnya.


“Beli sana. Layani calon istri dengan baik, kisana.”


“Hei!” lagi-lagi Rigel meneriaki El dan membuat gadis itu tertawa. Tawa lepas yang jarang sekali keluar dari bibirnya.


“Beli dong, Gel. Gue juga seriusan haus ini.” Kalau tidak malu, bisa saja El berbaring di lantai sekarang. Sayangnya urat malunya masih terpasang dengan baik.


“Kita ninggalin Odel lho.” Kata El. Dan merangkak untuk berdiri.


“Harus banget merangkak?” tanya Rigel dengan geli. Tangannya masih memegangi tangan El dan barulah mereka berjalan untuk merealisasikan ucapannya untuk membeli minuman. Percayalah, sebetulnya sekarang kelas mereka sudah ada guru yang mengajar.


Karena itu, mereka benar-benar mendapatkan hukuman karena telat masuk kelas. Apalagi di tangan mereka memegangi botol minuman. Beruntung sekali mereka karena kebetulan yang mengajar adalah guru killer.


“Setelah jam pelajaran selesai, kalian akan mendapatkan tugas dari saya.” Itu yang dikatakan oleh guru tersebut sebelum mereka di usir keluar dari kelas.


El menarik nafas dan menghembuskan nafas keras karena selama dia sekolah di sana tak perna sekalipun dia mendapatkan hukuman. Pun dengan Rigel, toh mereka memang sama-sama anak baik kan? Maka ini adalah pengalaman mengesankan bagi keduanya.


“Ini beneran keren kan, Gel.” Ucap El dengan lunglai, “Pengalaman dalam hidup gue dapat masalah kayak gini.” El meletakkan kepalanya miring dan menatap diding tak jauh darinya. Rigel melakukan hal yang sama dan menatap El lurus.


“Gara-gara lo lah. Kita jadi badung banget sekarang.” El berkedip dengan pelan menatap mata Rigel yang juga sedang menatap matanya.


Mata tajam Rigel benar-benar seolah menusuk jantungnya. “Lo ternyata beneran ganteng lho, Gel.” Mulut El memang sejak dulu tak bisa dikendalikan. Dia akan mengatakan dan mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang.


Rigel tak menyahut. Tangannya dilarikan untuk mencubit pipi El pelan dan setelahnya dielusnya lembut. Tempat mereka memang berada di sudut perpustakaan. Karenanya apa yang mereka lakukan tak akan ada yang tahu.


“Jangan sampai candaan elo menjadi senjata makan tuan ya, El.” Begitu kata Rigel dengan pelan. El tak menjawab dan masih saja menatap Rigel dengan serius, “Kalau gue beneran cinta sama lo, dan lo yang nolak gue, gue bakalan kirim kemenyan ke rumah lo buat santet lo.” El terkekeh dan kemudian menegakkan tubuhnya.


“Lo tahu gue, Gel. Gue nggak pernah menahan apa yang ada di kepala gue. Apa yang gue fikirkan, itu yang gue ucapkan.”


“Dan maksud lo, apa yang lo katakan tadi itu betulan?”


El mengangguk, “Iya. Mungkin beberapa tahun lagi gue bisa culik lo buat gue jadiin suami kan?”


Rigel mengapit kedua pipi El dengan ibu jari dan telunjuknya. “Jangan main-main sama ucapan lo, El. Jadi boomerang buat lo nanti.”


“Gue nggak keberatan sama sekali tahu.” Entengnya, “Gue nggak bakalan rugi apapun kalau gue nikah sama lo.” Rigel dibuat keki dengan gadis satu itu.


“Serah lo.” Begitu katanya dengan tenang tapi merasa frustasi juga lama-lama kalau El seperti itu terus-terusan,


Lelaki itu melihat jam dipergelangan tanganya. Masih satu jam lagi kelas selesai, maka dia menyamankan duduknya. Memainkan buku yang tadi diambilnya asal agar terlihat mereka sedang belajar.


“Jadi gimana sama pacar lo yang kemarin?” tanya El.


“Mantan.” Tegas Rigel, “Apanya yang gimana?”


“Lo serius masih sayang sama dia?” Rigel menatap El dengan kening berlipat.


“Memangnya kenapa?” tanyanya dengan sungguh-sungguh.


“Kalau kita mau menjalin hubungan, lo nggak boleh masih sayang sama dia. Ingat itu, Kisana. Gue nggak mau hati lo terbagi jadi dua.” El mulai lagi.


Rigel benar-benar tak bisa menangani ini sekarang. El suka sekali memancingnya. Dalam hatinya dia mensugesti jika apa yang dikatakan oleh El itu adalah lelucon. Ya, itu adalah lelucon. Jangan diambil hati. Seperti itulah kira-kira mantra yang diberikan kepada dirinya agar tidak terpancing dan membuat El menertawakannya.


“Baiklah, calon istri.” Dan satu-satunya cara adalah dengan mengimbangi permainan El yang sudah terlanjur dimainkan.


El terkekeh. Wajah Rigel yang terlihat sungguh-sungguh itu membuat El geli. Mana ada orang yang mengeluarkan gombalan dengan wajah yang seperti itu. Maka obrolan tentang mantan Rigel itu lagi-lagi tak dilanjutkan.


Lagipula waktu mata pelajaran sekarang akan segera berakhir. Dan mereka berdua harus segera kembali ke kelas kalau tidak mau hukumannya lebih banyak lagi.


*.*


“Besok pagi pukul 07.30 kalian harus sudah mengumpulkan tugas yang saya berikan ini.” Kalimat itu seolah terngiang di kepala El dengan jelas. Entah kenapa dia harus mendapatkan guru yang seperti itu? maka ketika dia menanyakan hal itu kepada ayahnya maka jawaban Virgo adalah, ‘Untuk mendisiplinkan muridnya, kayak Adek yang main kejar-kejaran padahal harus udah masuk kelas’ yang membua El mendengus saja.


“Makan dulu, nanti dikerjakan lagi.” Libra datang dengan membawa cemilan dan minuman di gazebo samping rumah.


Sebagai informasi saja, jika sejak Al dan El sudah tumbuh semakin besar, dan Virgo sudah mampu membangun rumah yang lebih besar pula, maka mereka pindah dari rumah kecil tersebut ke rumah yang lebih besar.


“Kepalaku mumet, Bunda.” Adu El kepada Libra.


“Makanya, kalau di sekolah itu jangan main kejar-kejaran, kena akibatnya kan.” Begitu kata Libra menyalahkan putrinya. Perempuan itu tak mungkin membela El yang memang salah sekarang.


“Aku makan ya, Tante,” Rigel mencomot satu potong ayam goreng krispi dan mencolekkannya di saos. Mengunyahnya pelan kemudian berkomentar, “Ini enak banget, Tante.” Katanya dengan wajah datarnya. Hal itu membuat El mencibir.


“Bilang aja lo lapar.”


Yang mendapatkan anggukan dari Rigel. “Memang gue laper. Ngrangkum segini banyaknya manalah nggak laper.” Beruntungnya, mereka tidak melakukan kesalahan ketika mata pelajaran seperti Akuntansi ataupun Ekonomi. Kalau sampai itu terjadi, entah sampai kapan El akan mengeluh lelah dan lelah.


Mereka sekarang sedang merangkum mata pelajaran Sosiologi. Dan menulis sebanyak satu buku dengan bacaan, ‘Saya tidak akan mengulangi lagi’. Itu adalah hukuman seperti anak SD, tapi memang itulah yang harus El lakukan.


Libra sudah kembali masuk ke dalam rumah hanya tinggal El dan Rigel saja di sana. Buku-buku tercecer di samping mereka, alat-alat tulisnya pun sama.


Odel : Semangat kawan-kawan


Kedua ponsel mereka sama-sama mengeluarkan bunyi nofifikasi karena chat grup mereka berbunyi. “Haih, si Odel ini.” Begitu kata El sambil menggigiti daging ayam yang ada di tangannya.


El : Hem.


Jawabnya singkat. Rigel tak menjawab dan memilih melanjutkan tugasnya. El memotret lelaki itu dan mengirimkan ke grup agar Odel tahu betapa ‘semangatnya’ Rigel mengerjakan tugas tersebut.


Odel : Kawan satu itu bener-bener deh.


El : Perutnya udah penuh, makanya semangat lagi dia.


Berisiknya notifikasi tak membuat Rigel pecah konsentrasi. Dia harus segera menyelesaikan ini. Tugasnya masih lumayan banyak dan mungkin tak akan cukup waktu jika dikerjakan di rumah El.


Al muncul dengan santai dan ikut nimbrung di sana. Mengamati dua orang itu dalam diam dan tak menyangka jika ulah mereka tadi siang ternyata benar-benar berdampak buruk bagi mereka. Al memang tak mengatakan apapun, tapi tatapannya seolah mengatakan, ‘Enak nggak lo’ begitu.


“Al mending masuk deh.” El akhirnya bersuara, “Jangan ganggu kami yang sedang menjadi anak baik sekarang.”


“Aku dari tadi diam aja. Nggak ada cerita aku ganggu kalian.” Bukannya pergi, Al justru menselonjorkan kakinya untuk menyamankan duduknya.


“Ya tapi__”


“Lo yang berisik dari tadi.” Rigel menyahut dengan santai namun tangannya masih sibuk menulis, dan itu membuat El kesal dibuatnya. Gadis itu merengut dan kembali melanjutkan aktifitasnya.


Membiarkan dua orang itu berkutat dengan tugasnya, Al meninggalkan mereka dan menunggangi motornya.


“Mau kemana kamu?” teriak El.


“Kemana aja yang penting aku bahagia.” Jawab Al sambil berteriak pula, dan membuat El kemballi berteriak.


“Issh, kampret.” Yang di dengar oleh Al namun tak lagi di jawab. Hanya kekehan saja yang diberikan tertutupi helm full facenya.


Al menjalankan motornya kemana saja dan berfikir kemana kira-kira dia akan pergi. Tak ada ide sama sekali. Dan ketika dia melihat mall, maka dia membelokkan motornya untuk ke sana.


Setelah memarkir motornya, Al masuk ke dalam mall dan berjalan santai. Kakinya melangkah ke bioskop dan melihat apakah mungkin ada film yang bisa ditontonnya. Dan ya, film action tentu menjadi pilihan Al. lelaki itu membeli sebuah tiket. Menungguk selama lima belas menit untuk masuk, tak lupa pop corn dan minumanya.


Setelah waktunya film diputar, dia masuk dan duduk dengan tenang di kursinya. Al memang sedang tak ada kegiatan, kerena itulah dia melakukan hal suka-suka dia. Dan hal-hal seperti ini memang sering sekali dilakukan. Biasanya dia akan menarik El untuk menjadi temannya, tapi karena El sedang sibuk dengan kegiatannya, maka dia melakukannya sendiri.


“Kak Al?” ada empat gadis yang tiba-tiba ‘menghadangnya’ ketika dia baru saja keluar dari bioskop. Keningnya mengernyit dan wajahnya datar.


“Kenapa?” tak ada ramah-ramahnya sama sekali lelaki itu.


“Nggak ada, Kak, nyapa aja.” Katanya dengan senyum malu-malu mereka.


Al mengangguk. “Oke!” katanya kemudian pergi begitu saja tanpa banyak kata yang diucapkan meskipun itu hanya basa-basi.


Bahkan hanya seperti itu saja, mereka merasa senang sekali kareana bisa bertemu dengan Al dan bertegur sapa dengan lelaki itu. Ya, begitulah takdir seorang lelaki tampan. Untung saja Al bukan tipe pria yang suka sekali tebar pesona, karena kalau itu terjadi, entah sudah berapa banyak perempuan yang akan termehek-mehek dibuatnya.


Al akan berbelok ke toko buku, ketika ada orang lagi yang menyapanya. “Al?” matanya mendapati Ares berdiri di depannya. Mata lelaki itu mencari-mencari sesuatu dan kembali menatap Al setelah tak mendapatinya. “Sendirian?” tanyanya.


“Iya.”


“El?”


“Dia di rumah.” Ares mengangguk. Lelaki itu memberikan isyarat untuk minggir agar bisa mengobrol dan tak menghalangi jalan orang.


Al menyetujui dan mereka berdiri di pembatas lantai dua. “Gue serius tertarik sama El.” Ucapnya gamblang seolah dia memang harus mengatakan kepada Al sebelum melanjutkan langkahnya untuk mendekati El.


“Minimal gue bisa deket sama dia, gue udah seneng. Apalagi kalau gue sampai bisa pacaran sama dia.”


Bukannya terharu, Al mendesis dengan geli. “Kalau gitu lakukan saja.” Kata Al seolah menantang Ares.


“Lo ini beneran kasih ijin gue, atau gimana? Karena yang bisa gue tangkap, lo seperti menantang gue.”


“Terserah lo mau mengartikan apa,” jawab Al santai mendengar apa yang diucapkan oleh Ares kepadanya, “Masalah asmara El adalah urusan dia, beda lagi kalau ada orang yang nyakiti dia, itu akan menjadi urusan gue.” Tatapan Al benar-benar penuh keyakinan.


“Udah selesai kan? Gue harus pergi.” Al menaikkan alisnya dan mendapatkan anggukan dari Ares. Seperti pemeran antagonis dalam sebuah film, Al menatap depan dengan tajam dan otaknya berfikir. Dia harus mulai mengawasi Ares mulai sekarang. Mulutnya bisa mengatakan jika dia santai menghadapi orang yang akan mendekati kembarannya, tapi jelas saja dia harus bertindak secara diam-diam.


Melihat dari jauh tabiat orang tersebut. Begitulah memang cara kerjanya. Jika El secara terang-terangan ‘melibas’ siapa saja yang mendekati Al dengan mengatakan hal yang mungkin menyakitkan, maka Al adalah kebalikannya. Dia santai di luar, namun bekerja kerja tanpa sepengetahuan orang lain.


Tidak jadi ke toko buku, dia lebih tertarik masuk ke dalam toko music. Alat-alat music terjejer rapi di sana membuat Al menyeringai karena merasa senang. Mengambil gitar yang terpajang, dia mencoba memainkannya.


“Itu gitar terbaru, Kak.” Salah satu karyawan lelaki mendekatinya dan langsung berpromosi.


“Bagus,” katanya dengan santai. Dan kembali memainkan lagi. Karyawan yang masih di sana tersenyum ketika melihat mahirnya Al yang memainkan alat music tersebut.


“Anak band, Kak?” tanyanya.


“Bukan, Bang. Saya anak baik.” Candanya kepada lelaki tersebut. Yang membuat si karyawan terkekeh.


“Betul-betul.” Katanya.


Al kembali berdiri dan melihat-lihat lagi alat music yang lain. Suara biola dimainkan, membuat Al menatap kearah orang tersebut. Langkah kakinya mendekat, dan bibirnya tersenyum. “Odel!” panggilnya yang membuat gadis yang dipanggil tersebut membuka matanya untuk melihat si pemanggil.


*.*