Blind Love

Blind Love
Seri 4



"Jadi bro, kenapa lo malah di sini sendirian malam-malam begini?" Perkenalkan, pria yang baru saja bicara itu adalah bernama Edo, tak ada yang special dari dia.


"Nggak ada niat ke sini sih tadi, cuma tiba-tiba pengen, ya datang lah. Bukannya kalian sedang nongkrong di tempat biasa ya?" Biasanya, di jam seperti sekarang ini, mereka masih betah di tempat tersebut bahkan terkadang tempat tersebut akan tutup barulah mereka pergi dari sana.


"Karena nggak ada lo nggak rame?" Itu Rai yang bicara. Jadi, teman-teman satu komplotan Virgo ada lima orang. Jika di sekolah, satu keluar, pasti yang lain ikut keluar juga karena saking lengketnya. Bahkan pernah suatu hari mereka mendapatkan hukuman pun berlima. Luar biasa sekali memang mereka itu.


Dengusan itu keluar dari bibir Virgo. Padahal akhir-akhir ini dia juga jarang ikut mereka nongkrong bersama karena lebih memilih bersama adik-adiknya. Tapi kemudian dia tetap menjawab, "Gue merasa terharu." Begitu katanya dengan santai kemudian kembali berbaring terlentang sambil menatap langit.


Entah apa yang dipikirkan oleh Virgo, sedangkan teman-temannya pun ikut berbaring di sana. Mereka bisa dikatakan bukan segerombolan remaja yang suka berbuat ulah, tapi juga tidak bisa dikatakan jika mereka bersih sama sekali, bahkan sebelumnya, Virgo selalu saja menjadi murid yang sering masuk BP karena kejailannya.


"Main yuk!" Baro, yang sejak tadi diam saja akhirnya membuka suaranya. "Main kartu yang kalah keliling lapangan lima kali setelah itu traktir yang menang makan." Idenya memang sangat tak kreatif, tapi karena otak yang lain sedang tidak memiliki ide untuk melakukan apa, akhirnya mereka mengiyakan saja ide tersebut.


Baro, si pemilik ide mengambil kartu di dalam mobilnya, kemudian kembali ke tengah lapangan basket di mana dia sudah ditunggu oleh teman-temannya di sana. Duduk melingkar, dilelatakkan di tengah, kemudian Sam besuara. "Sebelum kita melakukan Sesutu, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu." Maka dengan dengan anggukan teman-temannya, Virgo yang melanjutkan.


"Berdoa dimulai." Kemudian kelima remaja tersebut menutup matanya masing-masing seolah kekhusukan itu memang perlu dilakukan. "Berdo selesai." Rai yang meutup doa mereka.


"Kocok kartunya." Edo yang memulai. Kegilaan itulah yang membuat masa remaja menjadi semakin indah bagi mereka. Mereka bahkan tak berpikir jika di rumah mungkin orang tuanya sedang mencemaskannya karena di jam sebelas mereka masih menikmati mainnya.


Permainan itu berlangsung seru. Tawa menguar, waktu terus berjalan, dan permainan semakin malam semakin seru. Bahkan tak ada yang menyadari jika seharusnya mereka semua harus kembali ke rumah masing-masing. Tapi masih betah saja di sana.


"Jadi yang harus traktir besok adalah Rai." Rai mendumel tak jelas dan bersumpah serapah di depan teman-temannya.


"Makanya jangan suka bilang 'doa selesai. Kelar kan hidup lo." Cibiran itu datang dari Sam. Dan diikuti tawa dari mereka semua.


"Mati gue, udah jam satu." Diikuti dengan grasak-grusuk dari Edo, mereka semua langsung ikut berdiri dan berlari ke kendaraan mereka masing-masing. "Besok share ya, yang malam ini dapet baku hantam sama mamanya." Virgo berteriak kepada teman-temannya dan langsung menunggangi motornya untuk pulang ke rumah. Diikuti yang lainnya juga.


*.*


Virgo dengan santai masuk ke dalam rumah tanpa merasa bersalah dengan siapapun. Dia tak mendapati kedua orang tuanya di sana yang artinya mereka sudah tertidur pulas. Tak menyadari jika sebenarnya ayahnya sedang melihatnya dari jendela kecil kamarnya.


Paginya, setelah Virgo siap berangkat ke sekolah dan akan sarapan, dia berbicara di telpon sambil berjalan ke ruang makan. Kedua orang tuanya sudah ada di sana, dan dia tersenyum kepada mereka. "Ayolah, Bang. Bilang sama Kakak kalau aku mau ke rumah. Masa marah nggak selesai-selesai sih?" Di piringnya sudah tersaji makanan dan dia menyendokkan makanan dan memasukkan ke dalam mulut sambil mendengarkan jawaban dari suara di seberang sana.


"Haissss." Katanya dengan melotot ke arah ponselnya karena panggilannya di putus oleh Aksa.


"Rumah siapa yang kamu maksud, Vir?" Ibunya yang bertanya.


"Abang." Jawaban itu ringan sekali.


"Abang siapa?" Kini ayahnya yang bertanya, mungkin karena di dorong rasa penasaran.


"Abang Aksa." Virgo menatap ayahnya, "Papa kenal?" Seperti memikirkan sesuatu, ayah Virgo kembali bertanya.


"Aksa Ganendra?"


"Lebih tepatnya, Aksa Arion Ganendra." Revisi Virgo. "Ya, dia orangnya."


"Kok kamu kenal sama dia?" Kini ibunya yang bertanya.


"Dia kan satu perumahan sama kita. Dan aku udah kenal dekat sama keluarganya." Meminum air putih di gelas sampai habis, kemudian dia berdiri. "Aku pergi dulu, Ma, Pa." Pamitnya tak lupa mencium tangan kedua orang tuanya. Lagi-lagi meninggalkan kedua orang tersebut dalam kebingungan yang hakiki.


Ketika sampai ke sekolah, dia sudah ditunggu oleh teman-temannya sambil bertopang dagu. Itu sangat menggelikan bagi Virgo mengingat mereka adalah para lelaki 'garang' penumpas kejahatan, dan hari ini berlaku seperti anak ayam.


"Kenapa lo?" Mata Virgo menatap satu per satu temannya dan ikut bergabung di sana. "Muka kalian nggak cocok sama sekali drama kaya gitu." Lanjutan itu seketika membuat semua temannya merubah raut wajahnya dan berdehem bersama. Membuat Virgo tertawa geli.


"Masuk lah." Kemudian dia berdiri dan dan berjalan menuju kelasnya, diikuti oleh teman-temannya.


"Gue semalam ditatar habis-habisan sama bokap nyokap gue." Sambil berjalan mereka sepertinya ingin mengeluarkan unek-uneknya. Dan Sam lebih dulu bersuara. "Pening lama-lama kepalaku. Kalau rambutku sebentar lagi ubanan, itu menandakan kalau gue lebih banyak berpikir." Ngaco sekali bocah satu itu.


"Apa kata bokap lo?" Edo yang bertanya dengan rasa penasarannya.


"Bokap bilang, gue mau jadi apa kalau remaja gue aja amburadul begitu, gue itu harus jadi bapak pengacara yang sukses, bukan kaleng-kaleng." Dengan meniru gaya ayahnya, Sam sangat mahir mempraktekkan.


"Ibu dosen gue juga bilang kaya gitu." Rai yang ibunya adalah seorang dosen juga sepertinya semalam memberikan kuliah malam kepada putranya, terbukti keluhan dari Rai itu menambah daftar hitam dari kelima remaja tersebut. "Gue itu harusnya belajar biar nanti gue bisa jadi asdos di kampus, kemudian menjadi dosen yang hebat dengan mengeluarkan buku yang bisa menjadikan motifasi anak-anak muda." Langkah kaki mereka pelan dan suara mereka terdengar berisik.


Beruntung, tidak ada yang menimpuk mereka menggunakan penghapus papan tulis karena betapa luar biasanya suara mereka yang seperti suara kumpulan lebah.


Berbelok ke ruang kelasnya, kaki Baro berhenti. Dia menatap ke depan dimana ada sesuatu yang menarik perhatiannya. "Apa sih bro?" Itu adalah Virgo yang bertanya. Dia pun ikut melarikan pandangannya kea rah tersebut.


"Haih." Setelah mengatakan itu, Virgo pergi meninggalkan Baro sendirian di sana. Tapi tak ingin temannya itu seperti orang bodoh, Virgo kembali mendekati Baro kemudian menarik tangannya.


"Kalau lo suka, deketin. Nggak usah Cuma lihat dari jauh." Begitu katanya mengomel seperti emak-emak rempong.


"Bukannya nggak berani, tapi dia udah punya pacar, gimana dong? Gue kan nggak mau jadi orang jahat." Merasa tak suka menjadi bahan olokan temna-temannya, Baro menjawab dengan santai. Membuka tasnya dan mengeluarkan buku pelajaran yang pagi ini akan diajarkan, seolah dia adalah murid yang baik. Semua itu semata hanya digunakan untuk menutupi rasa malunya kepada teman-temannya.


Dan kelakuan Baro itu mendapatkan senyuman mengejek dari teman-temannya yang saling padang satu sama lain. Memang, diantara mereka berlima belum ada satupun yang memiliki kekasih. Kumpulan remaja keren tapi jomblo, itulah yang mereka katakan untuk komplotan mereka sendiri. Tak punya pacar bukanlah masalah besar bagi mereka. Toh bukan karena mereka tak laku, tapi mereka memiliki selera yang tinggi. Ya, paling tidak begitulah apa yang dikatakan Rai waktu itu dan mendapatkan persetujuan dari teman-temannya.


*.*


Pulang sekolah, Virgo lagi-lagi mencari peruntungannya untuk 'berbaikan' dengan seorang Love, kakak tersayangnya. Dia tak ingin permasalahan yang seharusnya bukanlah sebuah masalah malah tumbuh menjadi hal yang menghalangi hubungan baik dirinya dan keluarga tersebut. Lagi pula dia juga tak ingin jika hubungan mereka harus jauh.


Dan dengan tekat yang kuat, Virgo memencet bel pintu rumah Aksa dan di dalam otaknya merencanakan kata apa yang akan dia katakan kepada Love. Dengan keadaan dia melamun, pintu rumah terbuka dan Bibi yang membukakan pintu tersebut.


"Siang, Mas Vir. Kok tumben lama nggak datang?" Ketika lamunannya terhenti, Virgo tersenyum. Kemudian bertanya,


"Ada siapa di rumah, Bi?"


"Nggak ada orang di rumah, Mas. Eh, maksud saya, para majikan saya keluar semua."


"Kemana, Bi?" Tanya Virgo secepat kilat.


"Sepertinya ke rumah tuan, Mas. Tadi setelah anak-anak pulang sekolah, Ibu langsung ajak mereka keluar lagi." Virgo menghembuskan napas kasar. Menggelengkan kepalanya miris dengan dirinya sendiri kemudian pamit dari sana.


Ketika pintu tertutup, dia melihat sekitar. Carport memang kosong, hanya ada motor saja terparkir di sana. Maka dengan lunglai dia keluar dari pelataran halaman rumah tersebut dan kembali pulang ke rumahnya. Dia tak memiliki planning apapun selain tidur saja.


Setiap dia melewati lorong perumahannya itu selalu saja sepi. Semua penghuni rumah yang ada di sana memang adalah orang-orang sibuk, jadi mengharapkan keramaian pun tak akan pernah ada kecuali ada sesuatu yang mendorong ada banyak orang datang.


Ketika sampai di rumah, pandangan berbeda terlihat di ruang keluarga. Ayah dan ibunya berada di sana, duduk sambil menonton televisi berdua. "Papa dan Mama masih di rumah?" Itu adalah bentuk keheranan yang di lontarkan oleh Virgo akan 'ketenangan' kedua orang tuanya yang masih berada di rumah.


"Eh, udah pulang?" Ibu Virgo tersenyum melihat kepulangan putranya dan diikuti oleh ayahnya juga. Virgo ikut duduk di sofa, dan melirik tontonan kedua orang tuanya sebentar kemudian beralih menatap kedua orang tuanya lagi.


"Belum balik kerja?" Biasanya mereka hanya bertahan di rumah semalam saja dan keesokan harinya kembali entah kemana bahkan Virgo saja tak tahu.


"Papa dan Mama akan di rumah beberapa hari ini." Senyuman masih belum pudar dari bibir sang ayah dan reaksi Virgo juga masih biasa saja.


Hanya mengangguk-angguk saja. "Kalau begitu, aku istirahat dulu ya. Capek sekali." Berdiri kemudian meninggalkan orang tuanya untuk pergi ke kamarnya. Selama berapa kali Virgo selalu meninggalkan orang tuanya seperti itu selama mereka berada di rumah?


Virgo sekarang memang berbeda dari beberapa bulan lalu, hidupnya yang santai semakin santai saja dibuatnya. Dia benar-benar tak pernah memikirkan sesuatu dengan keras. Bahkan dulu sering sekali mengeluh dengan ketidak adaannya kedua orang tuanya di rumah karena kesibukan yang mereka miliki. Tapi sekarang tidak lagi.


Merasa tak perlu mengganti seragamnya terlebih dahulu, Virgo langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya. Setelah kesepakatan yang dibuat bersama teman-temannya waktu di sekolah tadi, selama satu minggu ini tidak ada dari mereka yang boleh nongkrong bareng karena insiden pulang jam satu kemarin.


Jadi apa boleh buat, Virgo pun akan menjadi anak baik dengan tetap berada di rumah tanpa mengganggu ketenangan kawan-kawannya.


Hampir saja Virgo terlelap, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Video call lebih tepatnya, dan itu membuat Virgo mengernyit heran. Namun tentu saja dia tetap mengangkat panggilannya dan mengarahkannya di wajahnya.


"Apaan, Sam?" Matanya memang sepertinya tak bisa diajak berkompromi, maka dia ingin menyelesaikan panggilan itu dengan cepat.


"Bentar, gue sambungkan ke anak-anak juga." Dan tak lama setelah itu, muncullah wajah-wajah teman-temannya. Mereka yang satu perjuangan tak boleh keluar rumah kecuali Virgo, mereka yang sama-sama mengeluh karena keputusan yang tidak disukainya.


"Kalian sama kan sama gue? Nggak boleh keluar dan harus belajar agar menjadi anak pintar dan sholeh." Sam yang selalu ngaco dan tak berbobot ketika berbicara memulai pidatonya. "Kalau kaya gini, gue sungguh butuh hiburan dari kalian. Dan sepertinya gue harus cari pacar deh." Dari teman-temannya tidak ada yang menjawab. Mereka hanya menatap Sam bersamaan seolah mereka sedang mendengarkan dongeng.


"Ges, kalian oke kan dengan keputusan yang gue buat?" Seolah teman-temannya selama ini menghalanginya mendapatkan pacar saja.


"Sam!" Virgo yang tadinya matanya tak bisa menahan kantuk, menyala lima watt lagi. "Kalau lo mau cari pacar, lo cari aja. Malam ini lo inget deh target lo siapa yang mau lo jadiin pacar, jadi biar langsung lo tembak."


"Tapi gue nggak ada target loh, Vir." Dan putaran bola mata oleh teman-temannya langsung terlihat di mata Sam.


"Jadi lo hubungi kami Cuma buat basa-basi lo yang memang sangat basi ini?" Rai, sang calon dosen melotot. "Kalau gue deket lo sekarang, gue timpuk lo." Terlihat di mata Virgo jika Rai sedang bergelung dengan selimut tebalnya sedangkan matahari masih terik sekali di luar sana.


"Lo sakit, Rai?" Hampir pertanyaan itu keluar dari mulut Virgo tapi Edo lebih dulu bertanya.


"Enggak."


"Kenapa lo selimutan?" Baro yang bertanya.


"Karena gue nggak pakai baju, kampret. Bisingnya suara hp gue sampai gue nggak sempet pakai baju." Matanya melotot karena merasa entahlah di dalam dirinya.


Dan sumpah serapah langsung dilayangkan oleh teman-temannya dan mereka mematikan panggilan video tersebut secara serempak. Kelakuan mereka memang terbilang selalu minus.


*.*